---------- Forwarded message ---------- From: <[email protected]> Date: 2009/3/2 Subject: [buddhavacana] Sharing: Pemakaman Afuk (alm) & Update Kondisi Ibu Afuk To: Milis SamaggiPhala <[email protected]>, Buddha Vacana < [email protected]>
Namo Buddhaya, Mohon maaf karena baru sempat share soal Afuk (alm) sekarang, karena saya Jumat kerja setengah hari, sabtu cuti, dan baru masuk hari ini. Setumpuk tugas di kantor menuntut untuk diselesaikan terlebih dahulu. Hari Jumat, ketika saya sampai di Ponorogo, hari sudah gelap. Saya sudah ditunggu oleh teman asal Madiun yang membackup Weiwei di Ponorogo. Kami segera menuju kamar mayat di mana Afuk disemayamkan. Dalam perjalanan saya mengupdate beberapa info mengenai pemakaman Afuk. Segala keperluan sudah diatur. Sampai di tempat persemayaman, Weiwei menyambut. Terlihat lusuh dan capek. Weiwei berterima kasih karena saya mau datang. Lalu kami pun terlibat dalam pembicaraan yang cukup panjang, terutama mengenai kondisi Afuk pra dan pasca operasi. Weiwei menjelaskan bahwa sebelum masuk kamar operasi, Afuk sempat minta berbicara empat mata dengan Weiwei. Saat itu Afuk meninggalkan pesan, 'jika terjadi apa-apa, tolong jaga ibu'. Demikian yang dipesankan Afuk. Weiwei mengatakan saat itu dia sudah merasa tidak enak, tapi segera dia usir jauh-jauh perasaan itu. Hanya menguatkan Afuk bahwa semua pasti baik-baik saja, jangan bicara yang nggak-nggak. Tapi Afuk bersikeras meminta Weiwei untuk berjanji padanya. Weiwei pun berjanji menyanggupi permintaan Afuk. Operasi berlangsung sekitar 4 jam, dan sejak keluar dari kamar operasi, Afuk dimasukkan dalam ruang pemulihan intensive care. Tidak banyak kesempatan untuk bisa masuk dalam ruang pemulihan, dan Afuk sendiri juga tidak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal pada hari Kamis sore. Sepertinya permintaan Afuk itu adalah firasat bahwa dirinya tidak akan mampu bertahan. Anehnya dokter menyatakan sama sekali tidak menemukan komplikasi atau infeksi berarti yang dapat menyebabkan kematian. Setelah mengupdate info tentang Afuk, kami pun membahas bagaimana menginformasikan meninggalny Afuk pada ibu Afuk. Tidak banyak yang dapat direncanakan, selain kesepakatan bahwa ibu Afuk berhak untuk diberi tahu paling telat sebelum keranda ditutup. Kami tidak ada yang bisa menanggung kesalahan jika tidak memberikan kesempatan pada seorang ibu untuk melihat (jenazah) anaknya untuk terakhir kalinya. Siapa yang akan menyampaikan hal tersebut? Tidak ada pilihan lain juga selain Weiwei dengan didampingi saya. Sabtu pagi, sekitar jam 7 pagi, kami sudah sampai di daerah rumah Afuk. Kami sengaja mampir ke rumah pak RT untuk mengajak Bu RT. Setelah kami ceritakan semuanya, ibu RT mengajak seorang ibu tetangganya untuk menemui ibu Afuk bersama kami. Kami membawakan sarapan bubur ayam untuk ibu Afuk. Rencananya setelah ibu Afuk makan pagi, baru kami akan memberitahukan meninggalnya Afuk. Ketika kami sampai, ibu Afuk terduduk di lantai ruang tengah, seorang perempuan muda merangkulnya. Ibu Afuk terlihat terisak dan sesekali memanggil nama Afuk. Perempuan tersebut juga terlihat matanya memerah. Ternyata kami terlambat. Seorang tukang di tempat Afuk dulu bekerja sudah mendengar informasi meninggalnya Afuk, dan istri pekerja itu pagi tersebut setelah belanja ke pasar, menyempatkan diri melihat ibu Afuk sekaligus menyampaikan turut berduka cita. Perempuan yang merangkul ibu Afuk di lantai itu adalah istri tukang rekan kerja Afuk. Secara tidak sengaja dia telah menginformasikan meninggalnya Afuk pada ibu Afuk. Setelah mengerti duduk perkaranya, perempuan itu berkali-kali minta maaf karena dia tidak tahu bahwa ibu Afuk belum mengetahui meninggalnya Afuk. Entah bagaimana menyikapinya. Pada satu sisi, kami begitu khawatir informasi tersebut dapat membahayakan ibu Afuk, namun pada sisi lain kami bersyukur beban kami untuk memberitahu ibu Afuk telah diselesaikan secara tidak sengaja oleh perempuan itu. Kami, terutama ibu-ibu tersebut berusaha menenangkan ibu Afuk. Dan setelah satu jam lebih, akhirnya kami meluncur menuju kamar mayat tempat Afuk disemayamkan. Sepanjang perjalanan, ibu Afuk tidak hentinya menangis. Untung ada 3 orang ibu-ibu yang terus menerus menguatkan hati ibu Afuk. Saya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa selain sibuk menahan air mata dan mengatur kerongkongan yang tercekat. Memasuki tempat persemayaman Afuk, tangis ibu Afuk semakin tidak tertahan, akhirnya kami semua juga tidak dapat menahan diri lagi ikut meneteskan air mata. Saat ibu Afuk dituntun mendekati keranda, tangisnya meledak, dan suasana begitu memilukan. Dalam isaknya, terdengar beberapa kali ibu Afuk bergumam dalam bahasa Jawa, yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti "bagaimana ini, Fuk? Aku gak bisa kalau gak ada kamu". Sejurus kemudian, ibu Afuk pun ambruk gak sadarkan diri. Untung kami sudah mengantisipasi sebelumnya dengan tidak jauh-jauh dari ibu Afuk, sehingga begitu ibu Afuk terlihat goyah dan ambruk, kami segera menangkapnya dan segera menboyongnya langsung ke mobil. Tidak ada yang dapat kami lakukan lagi. Proses penutupan keranda tetap harus dilakukan segera jam yang sudah demikian mepet. Jam 10 lebih mobil jenazah dengan dua mobil lainnya beriringan bergerak menuju pemakanan umum di daerah sukosari. Karena ibu Afuk belum sadarkan diri, kami putuskan untuk melangsungkan prosesi pemakaman. Namun ketika pemakaman sudah selesai, dan kami kembali ke mobil, ibu Afuk sudah sadarkan diri. Menurut ibu-ibu yang menemani, ibu Afuk tersadar saat pemakaman sedang berlangsung, dan ibu Afuk menyaksikan pemakaman dari jauh. Mungkin itu satu pertanda sudah mengikhlaskan anak satu-satunya. Sabtu malam itu, kami menempati rumah Afuk. Sekitar jam delapan malam, ibu Afuk sudah terlelap, mungkin karena kecapean menangis. Sebelumnya Weiwei sudah menyampaikan pada ibu Afuk bahwa dia akan mengajak ibu Afuk ke Jombang untuk memenuhi pesan Afuk. Kami berjaga dan hingga tengah malam dan akhirnya tidur dalam kondisi seadanya di ruang tengah. Minggu sekitar pukul 9 pagi, teman-teman Madiun pamit pulang, demikian juga saya. Saya nunut mobil teman-teman madiun dan diantarkan sampai terminal bus Seloaji. Weiwei masih bertahan hingga sorenya dengan menggunakan jasa travel. Weiwei meyakinkan saya untuk pulang dulu karena sudah tidak banyak lagi yang perlu diurus. Hanya packing beberapa barang ibu Afuk, karena memang sudah tidak ada apa-apa yang bisa dibawa. Lalu bagaimana dengan rumah tersebut? Setelah saya tanyakan Weiwei, ternyata rumah itu bukan rumah milik keluarga Afuk. Rumah itu adalah milik orang yang dipinjamkan untuk ditempati (sekaligus dirawat) oleh Afuk dan ibunya. Rumah itu akan dikembalikan pada pemiliknya. Seluruh dana hasil penggalangan tahap 2 sebesar 8 juta rupiah, saya serahkan pada ibu Afuk. Oya, seluruh biaya pemakaman ditanggung oleh bos tempat Afuk bekerja dulu. Demikian sedikit update yang bisa saya sampaikan. Ini sungguh pengalaman yang menguras air mata dan perasaan. Bahkan ketika menuliskan kembali semua ini, mata saya memerah dan basah dan saya harus beberapa kali berhenti agar tidak menangis di kantor. Terima kasih pada semua yang telah memberi perhatian dan bantuan dalam kasus Afuk ini. Semoga Afuk terlahir kembali di alam bahagia. Mettacettana, Abin [Non-text portions of this message have been removed]
