Dear Bro semua....

Setiap manusia memiliki pemikiran masing-masing, keyakinan masing-masing yang 
tentunya disesuaikan dengan pengalaman hidupnya, lingkungannya dan keterbukaan 
hatinya. Jadi APAPUN YANG DIAJARKAN SESEORANG pasti ada yang puas dan ada yang 
tidak. Bukankah memang tidak pernah bisa memuaskan semua orang di dunia ini 
dengan 1 hal yang sama khan :) buktinya saja adanya berbagai macam agama di 
dunia ini.

Untuk mencapai pembebasan, intinya bukan menghafal kitab suci, berdebat soal 
persepsi dari kata-kata kitab suci... sebaiknya dimulai dari hal simple tapi 
yang susah dilaksanakan saja yaitu :
- sucikan hati dan pikiran
- banyak buat baik

BE Happy...


--- Pada Sel, 3/3/09, Hudoyo Hupudio <[email protected]> menulis:
Dari: Hudoyo Hupudio <[email protected]>
Topik: [Dharmajala] Re: Sehabis mendengarkan Ajahn Brahmavamso ...
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Selasa, 3 Maret, 2009, 4:29 AM




            Dari: LIMCUNSIEN [auj...@yahoo. co.id]


Maaf, saya ingin membagi apa yang saya ketahui dari seorang pribadi Ajahn

Brahm. Saya sudah membaca buku buku beliau dan juga mendengarkan ratusan

ceramah beliau yang saya download lewat internet, dan juga mempraktekkan

meditasi yang beliau ajarkan lewat buku beliau.. saya ingin berkomentar:



- Tentang 4 kesunyataan mulia.. beliau memberikan urutan itu bukan untuk

merevisi ajaran Sang Buddha, tetapi untuk memberikan pengertian yang lebih

sesuai dengan jalan pikiran orang orang sekarang. Kata kata Sang Buddha

tidak lekang aoleh waktu, tetapi manusia kan mengalami pergeseran bahasa,

sehingga kata yang sama pada masa lampau bisa diartikan berbeda pada masa

sekarang. Beliau menyatakan kebahagiaan adalah tujuan karena Sang Buddha

sendiri menyatakan Nibbana adalah Kebahagiaan Tertinggi (Baca Ovada

Pattimokkha) . Jalan menuju lenyapnya dukkha adalah jalan menuju ke nibbana

( yaitu Kebahagiaan tertinggi). Jalan menuju lenyapnya dukkha adalah 8

jalan utama. Kita membaca sendiri dari sutta sutta bahwa para Bhikkhu pada

zaman Sang Buddha juga berusaha membabarkan dhamma dengan berbagai cara

agar pendengarnya bisa mengerti apa yang dimaksudkan dan ini juga

disetujui Sang Buddha.. Jadi cara Ajahn Brahm membabarkan 4 kesunyataan

mulia ini adalah demi pemahaman pendengarnya terutama yang masih awam,

bagi yang sudah mengerti beliau memulai dengan urutan apa yang disebut

dalam sutta.

- Pribadi Ajahn Brahm dalam hemat saya adalah seorang yang luar biasa.

Pernahkah anda2 melihat Bhikkhu yang kemana mana hanya membawa satu tas

tangan dan mangkuk patta? Beliau adalah Bhikkhu 'berkaliber'

internasional, tidak membawa bagasi kemana mana... pernah kejadian ketika

beliau hendak berangkat keluar negeri, pesawat di delay 24 jam, apa

jadinya? Ajahn Brahm hanya berada di sekitar bandara tanpa meminta dayaka

atau siapapun untuk mengantarkan beliau istirahat di hotel atau pulang ke

vihara, tetapi beliau istirahat di bandara karena beliau tidak punya Hand

Phone atau pun credit card... saya curiga beliau juga tidak makan...

dapatkah anda menaruh 'respect'

pada Bhikkhu semacam begitu?

-Ketika beliau di Indo beberapa tahun yang lalu seorang umat hendak

mendanakan amplop berisi uang, beliau bertanya apa isi amplop itu?

Jawabannya : uang untuk dana ke pribadi beliau.. beliau menolaknya..

Ini sesuai dengan Vinaya bukan?

-Ketika ada masalah di vihara di Aussie, ada komplain bahwa WC bau, lantai

kotor dan terjadi perselisihan. .. Beliau dalam ceramahnya menyatakan "

Saya lebih suka lantai kotor, WC bau daripada perselisihan dalam vihara...

pernyataan ini sungguh sesuai dhamma, dengan demikian perdamaian lebih

mudah tercipta.

-Dalam satu ceramah beliau, beliau menyatakan Gossip adalah hal yang patut

dihindari. Beliau bahkan meminta umat yang mendengarkan untuk jangan

membanding-bandingk an viharanya dengan vihara 'sebelah', Buddhisme dengan

'agama sebelah', dirinya dengan Bhikkhu yang lainnya... agar perdamaian

tercipta, umat Buddha mestinya lebih melihat kedalam diri daripada keluar

dan mempraktekkan loving kindness... Bukankah ini sesuai dengan dhamma?

-Dalam satu ceramah beliau tentang meditasi, seorang umat menanyakan

pencapaian beliau. Beliau langsung mengulang isi dari Vinaya yang

menyatakan seorang Bhikkhu tidak boleh memberitahukan pencapaian nya depan

umat awam...

-di vihara beliau, Bhikkhu2 dari sekte lain (mahayana or tantrayana )

pernah memberikan dhammatalk bahkan bimbingan meditasi... ini menunjukkan

kebesaran jiwa seorang Ajahn Brahm untuk menerima perbedaan dan

menganjurkan umatnya untuk jangan hanya mendengar apa kata beliau dan find

out for themselves apakah kebenaran yang diceramahkan oleh berbagai Guru.

-Gaya beliau yang selalu memberikan jokes karena beliau ingin memunculkan

kebahagiaan bagi umat dan orang yang berada di sekitarnya.. dalam

pendangan beliau dengan perasaan bahagia, seseorang akan lebih cepat

menyerap apa yang akan disampaikan, dalam hemat saya beliau menteladani

Guru Kita Sang Buddha yang membabarkan dhamma setelah batin seseorang siap

-Dalam banyak ceramah beliau menganjurkan kita jangan memelihara "FAULT

FINDING MIND" karena itu akan menghambat perkembangan batin kita dan juga

menciptakan perpecahan.

- Masih banyak hal hal positif dalam diri Ajahn Brahm yang patut menjadi

teladan bagi kita semua.. Saya menganjurkan anda anda untuk mendengar

sendiri ceramah ceramah beliau yang dapat di download langsung dari

www.bswa.org agar dapat menikmati dhamma yang beliau babarkan dan

membuktikan apa yang saya sampaikan di atas. Bukan merupakan hal yang

sederhana beliau sampai bisa terkenal di seluruh dunia. Beliau memiliki

kualitas batin sebagai seorang yang patut diteladani.



Demikian komentar dari saya, semoga membawa kebaikan dan perenungan bagi

kita semua..



Mettacittena,

Aujadi



============ ========= =========



HUDOYO:



Rekan Limcunsien, terima kasih atas tanggapan Anda terhadap posting saya.



Saya tidak mempermasalahkan kehidupan pribadi Ajahn Brahm sebagai bhikkhu.

Bila yang Anda ceritakan itu benar, tentu beliau adalah seorang bhikkhu

yang patut diteladani dalam hal ketaatan kepada Vinaya.



Yang saya kritisi adalah Dhamma yang diajarkan oleh Ajahn Brahm. Karena

Anda sudah mendengarkan ratusan ceramah beliau, maka pemahaman Dhamma

Andalah yang saya pakai contoh bagaimana dampak ajaran Ajahn Brahm

terhadap pendengarnya.



Tapi sebelumnya, lebih dulu saya ingin mengomentari pernyataan Anda:



<<...bukan untuk merevisi ajaran Sang Buddha, tetapi untuk memberikan

pengertian yang lebih sesuai dengan jalan pikiran orang orang sekarang.

Kata kata Sang Buddha tidak lekang oleh waktu, tetapi manusia kan

mengalami pergeseran bahasa, sehingga kata yang sama pada masa lampau bisa

diartikan berbeda pada masa sekarang.>>



O, begitu? Jadi menurut Anda rumusan Empat Kebenaran Mulia dari Buddha

2500 tahun lalu sekarang ini perlu diubah karena "manusia kan mengalami

pergeseran bahasa, sehingga kata yang sama pada masa lampau bisa diartikan

berbeda pada masa sekarang"? Sebagaimana dilakukan oleh Ajahn Brahm?



Kalau jalan pikiran Anda diikuti secara konsekuen, apakah rumusan Empat

Kebenaran Mulia dalam buku-buku agama Buddha pada abad ke-21 ini perlu

disesuaikan dengan apa yang diajarkan oleh Ajahn Brahm "untuk memberikan

pengertian yang lebih sesuai dengan jalan pikiran orang orang sekarang"?



Hebat sekali, kalau begitu. Jadi nanti di dunia ini ada dua versi Empat

Kebenaran Mulia: yang satu bisa disebut ajaran Buddhisme, dan yang lain

bisa disebut ajaran Brahmavamsoisme.



<< Jadi cara Ajahn Brahm membabarkan 4 kesunyataan mulia ini adalah demi

pemahaman pendengarnya terutama yang masih awam, bagi yang sudah mengerti

beliau memulai dengan urutan apa yang disebut dalam sutta. >>



Jadi buku-buku Buddha Dhamma untuk orang yang masih "awam" (menurut

Anda)--termasuk buku-buku untuk sekolah minggu dsb--perlu diisi dengan

"Empat Kebenaran Mulia" versi Ajahn Brahm? Lalu, pada titik mana "orang

yang masih awam" itu dianggap "sudah mengerti", sehingga dianggap pantas

diberi Empat Kebenaran Mulia dari Buddha? Seperti apa "mengertinya" itu?



Menurut hemat saya, mengajarkan Nibbana sebagai "Kebahagiaan Tertinggi"

tanpa berangkat dari Dukkha sebagai hakikat eksistensi ini adalah

pengajaran Dhamma yang tidak bertanggung jawab, maaf saja.



Apalagi kalau kita baca bagaimana pendekatan Ajahn Brahm terhadap Nibbana:

"Kita semua menginginkan kebahagiaan, dan jika kebahagiaan tertinggi yang

ditawarkan, maka itulah yang kita maui. Jadi ajaran yang tak lekang waktu

dari Buddhisme adalah bagaimana untuk menjadi lebih bahagia dan lebih

bahagia lagi, sampai kita meraih puncak dari segala kebahagiaan dalam

hidup ini juga: Nibbana." (Superpower Mindfulness, hlm 306)



Maaf saja, saya tidak menganut "Buddhisme" ajaran Ajahn Brahm seperti ini.



Dalam Anguttara Nikaaya IX,iv,3, terdapat percakapan pendek antara YM

Saariputta dan YM Udaayi yang berkaitan dengan apa maksud Buddha ketika

mengatakan "Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi". Perakapan ini SANGAT

PENTING dipelajari oleh umat Buddha yang mengira bahwa Nibbana adalah

kebahagiaan atau kenikmatan tertinggi yang bisa dialami dengan 'vedana'

(perasaan):



"YM Saariputta berkata, 'Nibbana adalah kebahagiaan, para Sahabat, nibbana

adalah kebahagiaan. ' Setelah ini dikatakan, YM Udaayi bertanya kepada YM

Saariputta, 'Tapi, apakah kebahagiaan itu, Sahabat Saariputta, karena di

sini tidak ada apa-apa lagi yang terasa (n'atthi vedayitan'ti) ?' - 'Justru

itulah bahagia, Sahabat, ketika tidak ada apa-apa lagi yang dirasakan.'

[jawab YM Saariputta]. "



Hanya seorang pemeditasi vipassana--bukan pemeditasi jhana--bisa memahami

apa yang dimaksud oleh YM Saariputta ketika ia berkata, "Justru itulah

kebahagiaan ketika tidak ada apa-apa lagi yang dirasakan."



<< Kita membaca sendiri dari sutta sutta bahwa para Bhikkhu pada zaman

Sang Buddha juga berusaha membabarkan dhamma dengan berbagai cara agar

pendengarnya bisa mengerti apa yang dimaksudkan dan ini juga disetujui

Sang Buddha.. >>



Tetapi jelas Buddha tidak akan pernah menyetujui bila ada bhikkhu yang

mengutik-ngutik Empat Kebenaran Mulai yang diajarkannya. ... Dan preseden

seperti itu belum pernah saya lihat dilakukan oleh seorang bhikkhu mana

pun sepanjang sejarah selama 2500 tahun terakhir ini--bahkan Buddhaghosa

pun tidak--kecuali sekarang!



Rekan Limcunsien, Anda lupa menampilkan salah satu kehebatan Ajahn Brahm:

beliau adalah seorang bhikkhu pemeditasi yang telah mencapai jhana! (entah

sampai jhana keberapa) - Itu tidak saya ingkari, Ajahn Brahm adalah

meditator yang telah mencapai jhana. Berdasarkan pengalaman pribadi--bahwa

jhana memberikan kebahagiaan luar biasa--itulah beliau mengajarkan agar

para meditator mencapai jhana. (Ini terlepas dari teori bahwa

'kebahagiaan' (sukha) dalam jhana itu LENYAP mulai jhana keempat dan

seterusnya!)



Lalu, melangkah lebih jauh dari itu, beliau mengklaim bahwa jhana mutlak

perlu untuk mencapai pembebasan. Jelas klaim seperti itu bukan berasal

pengalaman pribadi Ajahn Brahm! Bagaimana mungkin beliau bisa mengklaim

seperti itu berdasarkan pengalaman pribadi? Taruhlah seandainya saya

mencapai jhana, tetap saya tidak bisa mengklaim bahwa jhana mutlak perlu

bagi pembebasan SETIAP ORANG di luar saya. Klaim seperti itu hanya bisa

berasal dari INTERPRETASI TERTENTU atas sutta-sutta, bukan berdasarkan

pengalaman pribadi, melainkan berdasarkan tafsiran kitab suci, yang bisa

disanggah oleh orang lain berdasarkan kitab suci juga. (Mungkin hanya

seorang Buddha yang bisa mengklaim seperti itu berdasarkan pengalaman

pribadi, dan saya tidak pernah membaca Buddha mengklaim seperti itu secara

eksplisit!)



Terlepas dari klaim beliau tentang perlu-tidaknya jhana untuk pembebasan,

kenikmatan/kebahagi aan yang beliau rasakan di dalam jhana itulah yang

mendorong beliau mengajarkan Dhamma dengan paradigma "Kebahagiaan

Tertinggi". Ini sangat jauh dengan Buddha yang mengajarkan Dukkha.



Bahkan Ajahn Brahm sampai mengklaim bahwa kebahagiaan jhana adalah "sangat

dekat" dengan "kebahagiaan nibbana":



"Dari jhana kita melaju ke suatu kebahagiaan yang sedikit lebih tinggi,

dan itu adalah nibbana." (Superpower Mindfulness, hlm. 307)



Sekali lagi, maaf saja, saya lihat ini adalah pendistorsian

terang-terangan terhadap Buddha Dhamma! Ajahn Brahm yang terobsesi dengan

kebahagiaan jhana mengajarkan bahwa kebahagiaan nibbana "sedikit lebih

tinggi" daripada kebahagiaan jhana. Jhana diangkat tinggi-tinggi

sedemikian rupa sehingga nibbana hanya "sedikit lebih tinggi" daripada

jhana.



Tampaknya Ajahn Brahm melupakan nasehat guru beliau, Ajahn Chah. - Saya

ingin menutup posting ini dengan  beberapa nasehat dari Ajahn Chah, guru

Ajahn Brahm:



TANYA: Perlukah masuk ke dalam jhana dalam latihan kita?



AJAHN CHAH: Tidak, jhana tidak perlu. Anda harus mengembangkan ketenangan

dan pemusatan perhatian secukupnya. Lalu Anda menggunakannya untuk

memeriksa diri Anda. Tidak diperlukan sesuatu yang istimewa. Jika jhana

muncul dalam praktik Anda, itu juga OK. Cuma jangan melekat padanya.

Beberapa orang terobsesi dengan jhana. Bisa sangat menyenangkan main-main

dengan jhana. Anda harus tahu batas-batasnya. Jika Anda arif, Anda tahu

kegunaan dan keterbatasan jhana, seperti Anda tahu keterbatasan anak kecil

dibandingkan orang dewasa.



(A Dhammatalk by Ajahn Chah, Questions and Answers)



TENTANG BAHAYA SAMADHI/JHANA



Samaadhi dapat merugikan atau bermanfaat bagi pemeditasi; Anda tidak bisa

bilang itu hanya merugikan atau hanya bermanfaat. Bagi orang yang tidak

memiliki kearifan samaadhi merugikan, tetapi bagi orang yang memiliki

kearifan samaadhi bisa bermanfaat, bisa menghasilkan pencerahan.



Yang bisa merugikan bagi pemeditasi adalah jhana, yakni samaadhi dengan

ketenangan yang mendalam dan terus-menerus. Jhana ini menghasilkan

kedamaian mendalam. Bila terdapat kedamaian, terdapat kebahagiaan. Bila

terdapat kebahagiaan, muncullah keterikatan dan kelekatan terhadap

kebahagiaan itu."



(Ajahn Chah, "A Taste of Freedom")

Kirim email ke