--- On Thu, 3/12/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Tak Ada Yang Sempurna Di Mata Ego Kita
To:
Date: Thursday, March 12, 2009, 7:43 PM


Selama kita menggunakan kacamata “persepsi��?kita, di dunia ini tidak akan ada 
orang yang sempurna di mata kita..
Bila sudah ada persepsi dan cara pandang yang baku dalam diri kita,
selalu saja kita dapat melihat kesalahan dan kekurangan orang lain,
Selalu saja saya dapat menemukan sesuatu yang saya “anggap��?sebagai
kelemahan-kelemahan dalam diri orang lain. Dan kelemahan2 mereka,
kesalahan dan kekurangan dalam diri mereka sungguh mengganggu pikiran
saya. Saya menjadi gelisah dan tidak tenang. Dan di kepala saya selalu
muncul gambaran-gambaran akan kesalahan2 dan kekurangan2 mereka.
Terutama hal semacam ini terjadi kepada mereka yang terlalu
intelektual, dan lebih cenderung menggunakan logika daripada perasaan.
Aku ingat sekali waktu itu aku hampir marah-marah kepada ayah saya,
entah kenapa, setiap kali saya mandi, dia selalu mematikan pompa air
sanyo, sehingga air mandi menjadi macet dan saya harus keluar dan
teriak2 untuk minta dinyalakan kembali. Hal ini terjadi berulang-ulang
dan sering terjadi. Di mata saya, Ayah saya adalah seorang yang “bodoh��?dan 
tidak tanggap terhadap situasi dan kondisi. Dia tidak lulus sekolah
sd. Kecerdasan emosional sungguh rendah dan daya empatinya juga rendah.
Sehingga saya selalu merasa kewalahan menghadapi orang semacam ini.
Seharusnya saya tidak mempunyai ayah yang demikian. Itulah pemikiran
saya.
Baru saja, saya mau marah.. Dan saya mencoba menenangkan diri, tiba2
dalam sepersekian detik, saya teringat.. selama sehari-sehari, ayah
sayalah yang mencuci piring saya.. saya telah makan & minum, dia
yang mencuci piring dan gelas saya.. dia sering tidak mengizinkan saya
untuk mencuci piring.. dia juga yang menyetrika baju dan celana saya,
dan saya tinggal pakai saja. Ia telah melakukan ini selama bertahun-tahun. Dan 
seolah-olah dia telah menjadi pembantu di rumah ini.
Mengapa aku sangat jarang memperhatikan hal-hal semacam ini, Mengapa
aku tidak berterima kasih atas usaha dan jerih payahnya untuk menjadi
seorang “ayah��?menurut caranya. Walaupun bukan itu sebenarnya yang aku
inginkan. Ia telah berusaha semampunya sebatas kemampuannya. Ia memang
tidak sempurna.. begitu juga dengan diriku.. anaknya yang tidak
sempurna.. Apa yang telah aku berikan kepada dia sebagai sang Ayah ? Di
rumah aku hanya makan & minum, meletakkan piring & gelas dan
kemudian pergi keluar.. Aku mandi dan memakai baju yang telah disetrika
dan meletakkan baju kotor itu di tempat cucian dan kemudian pergi..
pulang2 ke rumah untuk tidur. Aku jarang menghibur dirinya. Jarang juga
memberikan sesuatu atau uang. Bahkan apa yang telah aku lakukan tidak
sebanding dengan apa yang telah ia lakukan. Lalu kenapa aku marah2 ?
Tidak terasa, air mata telah menetes di pipiku ini.. Aku telah
terbiasa dimanja.. dan ini adalah kesalahan kedua belah pihak.. Mulai
kini aku berjanji untuk mengintropeksi diri, bukan untuk orang lain,
tapi untuk kebaikan diriku sendiri. Sifat menghakimi ini sungguh egois.
Masalah pompa air sanyo pun terselesaikan begitu saja, semenjak saya
merasa enjoy aja.. apakah air sanyo itu dimatikan atau tidak. Bila
dimatikan, saya tidak lagi marah2. Paling2 saya keluar dan ngomong
baik2, atau saya sendiri turun menyalakan air sanyo itu. Sejak itu,
tidak ada lagi peristiwa air sanyo yang dimatikan waktu mandi. Heran
juga.. terselesaikan begitu saja.

Kirim email ke