Rekan2 se-Dharma,

Sehubungan dengan pro kontra kasus Buddha Bar, saya memberanikan diri
mewakili segenap moderator Mabindo menyatakan:

1. Agar para pihak yang terlibat dalam kasus ini berkenan bertanya pada hati
nurani, yang tentu saja hati nurani ini harus ditempatkan di atas
kepentingan bisnis, harta benda dan lain sebagainya yang bersifat duniawi
yang notabene hanya mementingkan diri sendiri tanpa menjunjung tinggi
nilai-nilai harkat manusia dan agama.

2. Segala postingan yang masuk harap didasarkan pada kebenaran informasi
yang obyektif. Opini pribadi harap dicantumkan secara jelas dan tidak
bersifat mengaburkan kebenaran informasi yang ingin disampaikan kepada para
member Mabindo. Pun membuktikan pada dunia bahwa Buddha Dharma itu indah
tidak hanya pada teori saja, namun kita juga bisa mempraktikkannya dengan
tidak terpancing memakai istilah-istilah/komentar-komentar yang dapat
semakin menumbuhkan kegelapan batin, khususnya kebencian.

3. Segala informasi yang disampaikan mohon berfokus hanya pada topik
pemakaian atribut Buddhisme dalam bisnis tersebut, kita tidak menginginkan
opini-opini yang terlalu melebar atau pernyataan-pernyataan yang sengaja
digunakan sebagai taktik pengalihan topik. Kalau ingin menyatakan pandangan
atau informasi yang sedikit melebar, mohon dapat diberikan penjelasan
tentang latar belakang pandangan/informasi tersebut.

Moderator berhak menolak mem-posting hal-hal yang tidak sesuai dengan ke-3
panduan di atas ataupun yang belum tercantum dalam pernyataan ini namun
bertentangan dengan nilai-nilai moral, tanpa memberikan penjelasan lagi
kepada pengirim artikel/opini/informasi.

Sekali lagi, mari kita kembalikan semua ini pada hati nurani. Hendaknya kita
jangan ikut-ikutan terbawa emosi oleh mereka yang hati nuraninya tertutup
kegelapan batin, karena demikianlah ajaran Dharma yang indah dan menyejukkan
itu, bahwa kita justru harus mengasihani mereka itu karena telah secara
sadar/tidak sadar menanam benih karma buruk. Ini bukan himbauan karena saya
tidak memiliki wewenang ataupun kharisma untuk itu, hanya sekedar ajakan
untuk merenung dan kembali pada hati nurani. Setiap makhluk bisa khilaf atau
berbuat salah, tapi setiap makhluk juga bisa memperbaiki
kekhilafan/kesalahan itu.

Pernyataan ini tidak untuk didiskusikan.

Salam,
siwu


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke