ha! apa sih artinya seorang lius yg bilang:
http://megapolitan. kompas.com/ read/xml/ 2009/03/12/ 07341977/ Demo.Buddha.
Bar.Tak.Mencermi nkan.Nilai. Buddhisme
dan
KOMPAS,
Jumat, 13 Maret 2009, halaman 25 ; LIEUS SUNGKHARISMA : Seorang Buddhis Sejati
selalu mengedepankan dialog dan sifat welas asih
dalam menghadapi perbedaan pendapat. Umat Buddha diminta tidak terjebak dalam
pemahaman Buddha secara elementer
dibandingkan komentar di kompas online tentang dia:
lia @ Kamis, 12 Maret 2009 | 07:45 WIB
Utk Pak lieus, knp nama Budha dicatut utk bikin bar
prihatin @ Kamis, 12 Maret 2009 | 07:34 WIB
Jadi Artinya Pak Lius mengijinkan "Buddha Rupang" yang dihormati umat buddha di
taruh menjadi pajangan di sebuah restaurant yang menyajikan minuman keras.
Perlu dipertanyakan seberapa jauh Bapak menghormati Buddha Dhamma. Demo itu ga
ada hubungan dengan pemilu, cuma kebetulan saja momennya. yang menyebutkan ada
hubungannya baru artikel ini
cyrillus @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:25 WIB
saya bukan umat budha tapi membaca komentar mengenai legalisasi budha bar, saya
jadi berpikir....berapa sih mereka dibayar untuk pro budha bar? Komentar
tentang perpecahan itulah yang sebenarnya menimbulkan perpecahan! nama budha
merupakan nama yang luhur dan benar menodai bila disandingkan dengan institusi
komersial. dirawat bukan berarti menghargai. tapi respek terhadap makna
religius itu sangat penting!
win @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:25 WIB
Salut kepada teman-teman beragama Budha yang sangat mengenal dan mengamalkan
ajaran Budha tentang kasih. Seandainya semua umat beragama mempunyai sikap yang
tenang dan tetap damai ketika merasa kepercayaannya dilecehkan, saya yakin
Indonesia akan makin maju. Kedewasaan bangsa ini diuji ketika merasa harga
dirinya direndahkan. Membela harga diri justru tidak bisa dengan kekerasan.
Sekali lagi salut. Salam.
liubei @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:23 WIB
Budha itu sangat kami agungkan... yang bilang nga ada masalah itu...bukan agama
buddha..jangan yang kita agungkan itu..di jadikan sebuah tempat mesum..giamna
kalo di depan patung buddha..itu di taruh whisky, rokok , sama cewek
panggilan...kalo saya di jakarta ..saya akan ajak semua orang demo juga...
andi @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:10 WIB
Pak, Lieus Sungkharisma ijinkan saya berbeda pendapat dengan anda dalam hal ini
terkait dengan cafe Buddha bar tersebut yang menyatakan bahwa demo bukan jalan
yang baik bahwa hal tersebut penurut saya sah-sah saja selama tidak merusak dan
merugikan orang lain. dalam artian hilangkan kepentingan pribadi demi
kepentingan banyak orang. terima kasih
yotis @ Kamis, 12 Maret 2009 | 09:05 WIB
apa comment seperti ini cukup baik, tergantung penilaian kita
masing-masing.Jika semua tempat boleh pakai nama Buddha, apa nanti diskotek,
panti pijat,dll juga bisa pakai nama Buddha.Emang Dir.Haki atau lembaga apa saj
yang memberi ijin buat cafe/bar ini telah minta tanggapan umat Buddha yang
terwakili dari lembaga yang resmi diakui pemerintah???? Disini kita bisa lihat
mana umat Buddha yang bisa menjaga nama baik agamanya sendiri, bukan malah
membela pihak yang hanya pakai nama Buddha.
tutmar @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:58 WIB
ayo bersatu,,qta kaum cinta kedamaian harus bersatu...jgn mudah
terprovokasi...jgn ngikut kaum yg sukanya kekerasan...
Johny @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:49 WIB
Saya kira Gemabudhi sudah mulai salah kaprah!! Saya secara pribadi mendukung
demo yang damai. Saya ingin bertanya kepada ketua umum Gemabudhi apakah ingin
foto ayahbundanya di taruh di atas kloset kamar mandi, meskipun setiap hari di
sembayangi? Penunjukan sikap menolak dilakukan secara damai adalah bersifat
Budhist dan dengan begitu dapat memberitahukan publik. Saya sendiri tidak tahu
sebelum adanya pemberitaan ini. Demo Budhist damai umum dilakukan di Korea,
Jepang, dan China.
cekRicek @ Kamis, 12 Maret 2009 | 08:34 WIB
Tolong di cek dan ricek apakah pak Lius ini masuk salah satu parpol, solanya
concern banget soal pemilu. Takut kalah kale.........
Hendra @ Kamis, 12 Maret 2009 | 09:32 WIB
Mengapa isunya jadi urusan demo yah? Pak Lius, Buddhis? Mau ada Buddha Bar?
Demikiankah anda menghargai Buddha? Guru junjungan umat Buddha sehingga namanya
layak menjadi nama Bar?
Joe @ Kamis, 12 Maret 2009 | 09:21 WIB
coba yang dibuat nama yang menyangkut agama terbesar di republik ini , gua
pastikan dibakar tuh bar.
hati2 pak @ Kamis, 12 Maret 2009 | 09:15 WIB
sepertinya pendapat anda setengah2.... nama usaha boleh dipakai, namun bila
didalam bar ada patung buddha, org2 bisa melakukan hal2 yng ***..anda tau
sendiri, apa bedanya dgn wihara? hati2...anda terlihat takut akan sesuatu,
tidak konsisten, dan malah kelihatan HIPOKRIT.... menyedihkan
Justin @ Kamis, 12 Maret 2009 | 09:45 WIB
apa bpk dibayar ama pemilik Buddha Bar , sehingga kata2 nya membela BUddha Bar,
bpk tahu kgk apa efeknya Buddha bar kedepan? apabila Buddha Bar menyimpang dari
apa yg sebenarnya bisnis yg dilakukan, ormas diluar sana akan menghakimi Buddha
Bar, sdgkan Buddha adl indentik umat Buddha, mk yg dirugikan umat Buddha
keseluruhannya dan akan menjd permusuhan umat beragama, krn pd dasarnya
Indonesia punya UU nya yg melarang pengunaan nama yg berhubungan dgn nilai2
agama seseorg tdk diperbolehkan.
adika ranggala @ Kamis, 12 Maret 2009 | 11:28 WIB
Keberadaan GEMABUDHI sesungguhnya tidak merepresentasi umat Buddha Indonesia.
GEMABUDHI hanya berisi segelintir umat Buddha yang merasa mewakili umat Buddha
Indonesia. Umat Buddha lebih memilih mengikuti petunjuk Sangha daripada
petunjuk orang-orang oportunis seperti Luis Sungkarisma dan Budiman Sudharma.
Gelar acara "dialog" di hotel Borobudur tidak menghadirkan nara sumber yang
berimbang. Banyak narasumber kompeten menolak hadir karena tahu bahwa ada
permainan yang sudah dipersiapkan.
v @ Kamis, 12 Maret 2009 | 11:13 WIB
Dialog atau monologkah acara ini??? Pengertian Demo yang sebenarnya apa sih???
Demo dengan damai apakah itu disalahkan? Demo yang dilakukan oleh FABB itu sama
sekali bukan demo anarkis atau mengganggu masyarakat lainnya.... Atau dari
pihak gemabudhi nih yang terganggu? Dan perlu diketahui yang protes/kontra sama
sekali tidak terprovokasi dalam suasana politik sekarang ini... Dan yang
jelas... diluar negeri juga ada yang protes terutama di Dubai dan Waikiki...
bisa disearch di google....
justin @ Kamis, 12 Maret 2009 | 09:55 WIB
jgn berbicara dgn konsep ajaran Buddha ,demo apa tdk boleh, coba sebutkan di
Sutra atau Paritta yg mengatakan tdk boleh...., justru kyk bpk2 ini, agama
Buddha di INdonesia akan Rusak dan Tdk dihormati, krn pada tdk mau tahu, siapa
yg egois, mrk yg mendemo atau anda sekalin.
nagasena @ Kamis, 12 Maret 2009 | 11:48 WIB
Salut buat GEMABUDHI yang MAMPU menggelar acara di hotel sekelas hotel
BOROBUDUR. Kucuran dana-nya pasti kenceng banget. AWAS DICIDUK KPK!
abin @ Kamis, 12 Maret 2009 | 11:46 WIB
Sungguh disayangkan seorang Luis Sungkarisma demikian picik. Sungguh
disayangkan Gemabudhi hanya menjadi Generasi Muda Picik Indonesia. Acara di
Borobudur hotel itu hanya menghasilkan nara sumber sepihak. Demo (unjuk rasa)
adalah bagian dari DEMOKRASI. Sejauh menyampaikan aspirasi (lewat demo)
dilakukan dengan tata cara yang benar, berizin polisi, damai, lalu apa yang
ingin anda permasalahkan???
wargakota @ Kamis, 12 Maret 2009 | 21:33 WIB
saya kira ada yang tempat yang lebih mulia untuk meletakkan simbol agama selain
di bar ...
john @ Kamis, 12 Maret 2009 | 17:49 WIB
Pak Lieus dan pendukung Buddha-Bar, Apakah Anda beragama? Jangan-jangan KTP
doang. Demennya ke Bar daripada tempat ibadah ya... Anda tau menjunjung dan
menghormati gak ya? Dari awal berdirinya Buddha-bar, banyak organisasi dan
perwakilan yang sudah melayangkan surat ke pemerintah untuk protes menggunakan
nama Buddha-Bar ini, tapi pemerintah yang tidak berani bertindak. Oleh karena
tidak di tanggapin, maka pihak mahasiswa buddhist melakukan demo damai menuntut
penjelasan dari pihak Buddha Bar.
sent @ Kamis, 12 Maret 2009 | 17:17 WIB
saya bukan Budhist, tapi tidak baik memakai nama Budha untuk "Bar", bar asumsi
saya untuk minum minuman beralkohol atau tempat awal macam macam trus klu
pelanggan mau masuk atau mau merasakan suasana Budha bukankah lebih baik datang
ke Vihara sekalian? dan dijamin "aman". Seperti kata orang muslim "halal",
walaupun minuman beralkohol tidak dilarang dalam ajaran Budhist.
lanhut @ Kamis, 12 Maret 2009 | 14:25 WIB
Halo Pak Lieus gimana sih pemikirannya???patung BUDHA itu layaknya ada di
Vihara dimana umatnya menyembah membaca paritta suci.bukan buat tempat hiburan
Pak?karikatur Nabi Islam saja tidak diperbolehkan.apalagi simbol BUDDHA yg
jelas2 dipajangkan ditempat yg tidak layak gitu????
dokterkwok @ Jumat, 13 Maret 2009 | 00:06 WIB
salut untuk pak Lius, kalau anda merasa mewakili kaum muda budhis Indonesia,
anda salah besar... Bener juga, bagaimana mengadakan acara di hotel sekelas
borobudur? untuk Umat Budha diseluruh Indonesia, tetap damai dan jangan
terprovokasi.. karma akan segera berbuah kok..
Otot @ Kamis, 12 Maret 2009 | 21:41 WIB
Si Lius dan Ketua Gemabudhi itu jelas sangat punya kepentingan. Mereka bicara
jangan sampai digunakan untuk kepentingan politik, tapi justeru mereka itu
berdua sedang melaksanakan politik didalam acara tersebut. Uang darimana mereka
dapat untuk menyewa tempat tersebut? Dari uang kas?
budi @ Jumat, 13 Maret 2009 | 13:32 WIB
Kepada kepala subdirektorat pelayanan hukum dirjen HAKI Dephumkam masalah
menista agama adalah masal yang sangat hakiki dan berdampak karma baik terhadap
anda dan keturunan anda, kasihan mereka !!! dalam pendaftaran izin Biddha bar
anda telah nelanggarUU RI NO 15 tahun 2001 tentang merek pasal 5 poin a UU HAKI
dan anda telah memberikan izin bagi Buddha bar sehingga terjadi penodaan dan
penistaan agama yang melanggar pasal 156 a KUHP.
Anthony @ Jumat, 13 Maret 2009 | 13:32 WIB
Saya hadir dlm acara dialog tsb. Dan memang jelas2 bersfat monolog, mahasiswa
yg hadir sdh memberikan pernyataan
willyam @ Jumat, 13 Maret 2009 | 13:18 WIB
begitu bnyk kontroversi mengenai Buddha bar, ada yg pro ada yg kontra, kalo
saya sih ambil positifnya aj, semua itu menunjukkan kecintaan kita semua umat
Buddha terhadap Buddhisme, peace yo^^
[Non-text portions of this message have been removed]