--- On Thu, 3/19/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Bibit Mangga
To: 
Date: Thursday, March 19, 2009, 7:41 PM

Bibit Mangga



Suatu hari, Ada seorang pemuda sedang berlibur ke rumah neneknya di desa. Saat
tiba di sana, setelah melepas rindu dan beristirahat sejenak, neneknya
menghidangkan sepiring irisan buah mangga yang menggiurkan warna dan aromanya.



"Wah, mangganya harum dan manis sekali nek, sedang musim ya. Saya sudah
lama sekali tidak menjenguk nenek, sehingga tidak tahu kalau nenek menanam
pohon mangga yang berbuah lebat dan seenak ini rasanya" ujar si pemuda
sambil terus melahap mangga itu. 



dengan tersenyum nenek menjawab, "makanya, sering-sering lah menjenguk
nenek, nenek rindu cucu nenek yang nakal dulu. Pohon mangga itu sebenarnya
bukan nenek yang menanam. Kamu mungkin lupa, waktu kecil dulu, setelah
menyantap buah mangga, kamulah yang bermain melempar-lempar biji mangga yang
telah kamu makan. Nah, ini hasil kenakalanmu itu, telah bertumbuh menjadi pohon
mangga dan sekarang sedang kau nikmati buahnya"



"Sungguh nek? Buah mangga ini hasil kenakalan waktu kecilku dulu yang
tidak disengaja? Wah, hebat sekali. Aku tidak merasa pernah menanam, tetapi
hasilnya tetap bisa aku nikmati setelah sekian tahun kemudian, benar-benar
sulit dipercaya" si pemuda tertawa gembira sambil menyantap dengan nikmat
mangga dihadapannya. 



Nenek melanjutkan berkata, "Cucuku, walaupun engkau tidak sengaja melempar
biji mangga di halaman itu, tetapi bila tanah lahannya subur dan terpelihara,
dia tetap akan bertumbuh. Dan sesuai hukum alam, saat musim buah tiba, dia
pasti akan berbuah. Sedangkan rasa buahnya manis atau tidak adalah sesuai
dengan bibit yang kita tanam".



Malam hari, si pemuda merenungkan percakapan dengan neneknya. Karena merasa
penasaran, diambilnya biji buah mangga sisa di meja dan dibelahnya menjadi 2,
dia ingin tahu sebenarnya apa yang ada di dalam biji buah mangga itu sehingga
bisa menghasilkan rasa manis yang membedakan dengan biji buah mangga yang lain.
Ternyata dia tidak menemukan perbedaan apapun. Melihat tingkah si cucu.



sang nenek menyela "Cucuku, semua biji buah, tampaknya dari luar sama
semua. Tetapi sesungguhnya, unsur yang ada di setiap biji buah itu berbeda,
perbedaan itulah yang akan menghasilkan rasa, aroma dan warna setiap pohon
mangga berbeda pula. Semuanya tergantung inti buahnya. Cucuku, Demikian pula
dengan manusia, tampak luar, setiap manusia adalah sama tetapi yang menentukan
dia bisa berhasil atau tidak adalah kualitas unsur-unsur yang ada di dalamnya.
Nah, ternyata alam mengajarkan banyak kepada kita. Bila ingin hasil yang baik,
harus memiliki unsur kualitas yang baik pula, apakah kamu mengerti?".
"Terima kasih nek, saya sungguh bersyukur memutuskan datang kesini, semua
ucapan nenek akan saya jadikan bekal untuk lebih giat belajar dan membenahi
diri agar hidup saya lebih berkualitas". Ucapnya sambil memeluk tubuh
rapuh sang nenek.



Pembaca yang luar biasa…

Hukum alam pada kisah nenek dan cucuknya tadi mengajarkan pada kita 2 hal.

1. Apa yang telah kita tabur, entah disengaja atau tidak, diingat atau
dilupakan, entah kapanpun juga. Hukum alam mengajarkan, apa yang kita tanam
kita pasti akan menuai hasilnya.

2. Bahwa manusia mempunyai kemiripan dengan inti biji buah mangga, tampak luar
sama, tetapi kualitas unsur yang ada di dalam inti buahnya yang membedakan
rasa, aroma dan warna si buah mangga. Demikian juga dengan manusia, Kualitas
mental yang didalamlah yang membedakan dan menentukan keberhasilan manusia di
masa depan.



Mari kita perbaiki sikap, perhalus budi pekerti, jaga kebersihan hati dan
selalu menggali potensi diri agar kesuksesan sejati bisa kita nikmati suatu
hari nanti.



Sumber: Bibit Mangga oleh Andrie Wongso



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke