--- On Fri, 3/27/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: Mengkritik Atas Kebiasaan Mengkritik
To:
Date: Friday, March 27, 2009, 5:23 PM



Mengkritik seperti sudah menjadi budaya sebagian besar orang dalam
masyarakat kita. Bahkan kemampuan mengkritik terkadang dijadikan ukuran
tingkat kecerdasan seseorang. Semakin mampu seseorang mengkritik,
semakin cerdas pula orang tersebut dianggap.
Kalau dipikir-pikir sepertinya kita memang dibesarkan dan dididik
untuk menjadi manusia-manusia kritikus. Dari kecil kita sering terlibat
dalam mencari letak kesalahan daripada mencari solusi, lebih sering
mencari siapa yg harus bertanggungjawab daripada bekerjasama
menyelesaikannya bersama-sama. Lebih sering membicarakan kekurangan
daripada memuji kelebihan pihak lain. Kebiasaan-kebiasaan seperti
itulah yg sedikit banyak berperan menciptakan manusia terbiasa fokus
pada sisi yg buruk saja.
Apabila orang lain mengemukakan suatu ide, pendapat atau konsep yang
kelemahannya terlihat oleh kita, langsung kita “gatal��?kalau tidak
mengkritik. Bukan memberi ide yang lebih baik atau ide untuk melengkapi
dan menyempurnakan, tetapi sebaliknya kita selalu memikirkan dan
mengangkat sisi negatifnya. Mengapa demikian ? karena sadar atau tidak,
kritis sudah menjadi bagian dari diri kita.
Saya bukan anti terhadap “tukang kritik��? Karena kritik mengkritik
sebenarnya bukanlah hal yang buruk, malah sebaliknya bisa menjadi
vitamin dan motivator bagi pihak yg dikritik. Kritik yang disampaikan
dengan baik, tepat waktu dan tepat sasaran adalah kritik yang sangat
bermanfaat. Istilahnya orang-orang “kritik membangun��?
Tapi kalau kita dipikir-pikir lebih jauh lagi, menyempurnakan ide
yang kurang sempurna atau yang tidak sesuai dengan pola pikir kita,
tidak selalu harus menggunakan kritik, apalagi kritik menjatuhkan. Bisa
dengan cara sebaliknya yaitu memberi ide lain yg benar-benar baru /
orisinil yang lebih baik. Atau bisa juga hanya dengan membantu memberi
ide yang bersifat memperbaiki bagian yang menurut kita kurang baik.
Ironisnya, lebih banyak “orang cerdas��?yang hanya pandai mengkritik
tetapi tak mampu memberikan ide yang lebih baik daripada ide yang
sedang ia kritik. Entah orang-orang jenis

ini sebenarnya hanya pandai melihat sisi negatif orang lain atau memang
benar-benar pintar, hanya saja kreatifitas dia sering tertutup oleh
kebiasaan kritik mengkritik, sehingga bukan mustahil dirinya juga
menjadi kurang percaya diri untuk mengemukakan ide. Takut berbuat
salah, malu kalau ternyata idenya tidak diterima, keliru dan lantas
dikritik habis-habisan. Jadi hanya melontarkan kritik tanpa dasar,
tanpa penjelasan, tidak ada uraian dan masukan apapun yang bisa dia
angkat.
Budaya dan lingkungan seperti ini cenderung membuat kemampuan
kreatifitas seseorang dan lingkungannya sulit berkembang, bahkan
mematikan. Tidak heran kita lebih gampang mendapat orang-orang “pintar��?-yang 
memperoleh predikat pintar karena kemampuan mengkritiknya- , tapi
tidak kreatif dalam solusi apalagi inovatif.
Dalam berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun maya, semuanya perlu
belajar untuk melihat semua hal dari sisi positif. Perlu belajar
berkontribusi memberi ide positif yang mencerahkan daripada menebar
kritikan semata-mata yang semakin membuat kita menjadi manusia-manusia
yang terbiasa melihat dari sisi negatif dan memenuhi pikiran dengan
muatan negatif.
Meskipun tidak dapat dikatakan kebiasaan dan karakter yang terbentuk
dari kebiasaan ini sepenuhnya jelek, tetapi berhati-hatilah dengannya.
Kalau tidak, kebiasaan seperti ini bisa menjadi sumber penderitaan,
ketidakbahagiaan hidup. Karena kemana dan dimanapun dia berada, sisi
negatif setiap hal selalu dicari, terlihat lebih jelas dan lebih
penting baginya,

bahkan menutupi sisi positif yang sesungguhnya lebih besar. Kemampuan
menghargai dan bersyukur atas kelebihan yang dimiliki pun semakin lemah
dan cenderung pesimistis.
Sekali lagi, bukan bermaksud anti terhadap kritikan dan tulisan ini
pun adalah bukti saya juga sedang melakukan kritik. Tetapi sekedar
ingin mengingatkan diri sendiri sekaligus mengajak teman-teman (yg
barangkali merasa seperti saya yang pintar kritik) untuk membiasakan
diri berpikir dan menggunakan kalimat positif.
Diakhir kritikan ini saya akan mulai dari sendiri menawarkan solusi
yang dengannya mudah-mudahan kita bisa mengemukan kritikan sekaligus
memberi ide. Misalnya dengan membiasakan pertanyaan : “Mengapa tidak
menggunakan cara ��?, sebab setahuku.. ?��?atau “Mengapa tidak lewat ��?
karena berdasarkan pengalamanku ��?��?atau “Apakah tidak sebaiknya .. ?��?
“Apakah tidak lebih baik lebih baik.,menurutku bla bla ��? ?��?dst.
Dan sebagai latihan awal, cobalah cari sisi positif / baik dari
tulisan ini daripada mencari kelemahannya. Oleh karena itu, jangan ada
yang mengkritik tulisan ini. Hahaha��?relaks.jangan terlalu serius.







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke