--- On Tue, 3/31/09, Juan Ek Halim <[email protected]> wrote:
From: Juan Ek Halim <[email protected]>
Subject: 13 Hal Tentang Kanker Serviks
To: 
Date: Tuesday, March 31, 2009, 8:51 PM


Semoga Bermanfaat





 


Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penyakit kanker serviks
merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Di dunia, setiap dua menit
seorang wanita meninggal dunia akibat kanker serviks. Jadi, jangan lagi
memandang ancaman penyakit ini dengan sebelah mata. Berikut 13 hal yang
wajib Anda ketahui tentang kanker serviks. 

 

 1. Apa itu kanker serviks?

 Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah jenis penyakit kanker yang
terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu, bagian rahim yang terletak di bawah,
yang membuka ke arah liang vagina. Berawal dari leher rahim, apabila telah
memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di
seluruh tubuh. 

 

 2. Seberapa berbahaya penyakit ini?

 Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks
menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan
kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi
lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan kira-kira sebanyak 8000 kasus
di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan
negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia.
Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti
musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai
stadium lanjut. 

 

 3. Apa penyebabnya?

 Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus
ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak
berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan
kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan
18. Namun, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher
rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia
yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama. 

 

 4. Bagaimana penularannya?

 Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang
dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi
baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral
ke genital, maupun secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom
saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan
virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah
melalui sentuhan kulit. 

 

 5. Apa saja gejalanya?

 Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati.
Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk
melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan
penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium
lanjut. Yaitu, munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim
(contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan
di luar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan drastis. Apabila
kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri
punggung, hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal. 

6. Berapa lama masa pertumbuhannya?

 Masa preinvasif (pertumbuhan sel-sel abnormal sebelum menjadi keganasan)
penyakit ini terbilang cukup lama, sehingga penderita yang berhasil 
mendeteksinya
sejak dini dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya. Infeksi
menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah
pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun,
mulai dari tahap infeksi, lesi pra-kanker hingga positif menjadi kanker
serviks. 

 

 7. Benarkah perokok berisiko terjangkit kanker serviks?

 Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan merokok
dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks.
Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska Institute
di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada tahun 2001.
Menurut Joakam Dillner, M.D., peneliti yang memimpin riset tersebut, zat
nikotin serta "racun" lain yang masuk ke dalam darah melalui
asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia
atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. "Cervical neoplasia adalah
kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang,"
ujarnya. 

 

 8. Selain itu, siapa lagi yang berisiko terinfeksi?

 Perempuan yang rawan mengidap kanker serviks adalah mereka yang berusia
antara 35-50 tahun, terutama Anda yang telah aktif secara seksual sebelum
usia 16 tahun. Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan
risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan
yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun. Kanker leher rahim
juga berkaitan dengan jumlah partner seksual. Semakin banyak partner seksual
yang Anda miliki, maka kian meningkat pula risiko terjadinya kanker leher
rahim. Sama seperti jumlah partner seksual, jumlah kehamilan yang pernah
dialami juga meningkatkan risiko terjadinya kanker leher rahim. 

Anda yang terinfeksi virus HIV dan yang dinyatakan memiliki hasil
uji pap smear abnormal, serta para penderita gizi buruk, juga berisiko
terinfeksi virus HPV. Pada Anda yang melakukan diet ketat, rendahnya konsumsi
vitamin A, C, dan E setiap hari bisa menyebabkan berkurangnya tingkat kekebalan
pada tubuh, sehingga Anda mudah terinfeksi. 

 

 9. Bagaimana cara mendeteksinya?

 Pap smear adalah metode pemeriksaan standar untuk mendeteksi kanker leher
rahim. Namun, pap smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan
untuk mendeteksi penyakit ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan
asam asetat (cuka) yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan.
Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan
terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi
Hybrid Capture II System (HCII). 

 

 10. Bisakah dicegah?

 Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit
kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya
jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya
pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara tidak berhubungan intim
dengan pasangan yang berganti-ganti, rajin melakukan pap smear setiap dua
tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual, memelihara kesehatan
tubuh, dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak
secara seksual. 

 

 11. Haruskah mengambil vaksinasi HPV?

 Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV
tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja
dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki
sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin
ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6 dan
11 yang menyebabkan kutil kelamin. 

Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan
pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual.
Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi,
risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%. Ada kabar gembira,
mulai tahun ini harga vaksin yang semula Rp 1.300.000,- sekali suntik menjadi
Rp 700.000,- sekali suntik. 

 

 12. Apakah vaksinasi ini memiliki efek samping?

 Vaksin ini telah diujikan pada ribuan perempuan di seluruh dunia. Hasilnya
tidak menunjukkan adanya efek samping yang berbahaya. Efek samping yang
paling sering dikeluhkan adalah demam dan kemerahan, nyeri, dan bengkak
di tempat suntikan. Efek samping yang sering ditemui lainnya adalah berdarah
dan gatal di tempat suntikan. Vaksin ini sendiri tidak dianjurkan untuk
perempuan hamil. Namun, ibu menyusui boleh menerima vaksin ini. 

 

 13. Kalau sudah terinfeksi, bisakah disembuhkan?

 Berhubung tidak mengeluhkan gejala apa pun, penderita kanker serviks biasanya
datang ke rumah sakit ketika penyakitnya sudah mencapai stadium 3. Masalahnya,
kanker serviks yang sudah mencapai stadium 2 sampai stadium 4 telah 
mengakibatkan
kerusakan pada organ-organ tubuh, seperti kandung kemih, ginjal, dan lainnya..
Karenanya, operasi pengangkatan rahim saja tidak cukup membuat penderita
sembuh seperti sedia kala. Selain operasi, penderita masih harus mendapatkan
terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi. Langkah tersebut sekalipun
tidak dapat menjamin 100% penderita mengalami kesembuhan. 

Sumber : kompas.com




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke