Kalau memang benar air mata itu bukan hasil rekayasa manusia, maka bagaimana
penjelasannya?

Memang benar semua fenomena berawal dari batin dan pikiran, tapi juga jangan
lupa bahwa di alam ini tidak hanya hidup makhluk yang disebut
sebagai manusia, jadi saya memberanikan diri memberi interpretasi, itu bisa
saja perbuatan makhluk alam dewa (yang menetap di bumi ataupun di alam
dewa), yang memiliki kemampuan batin utk mengalirkan air dari mata rupang
Buddha.

Atau, jangan-jangan makhluk alam dewa juga ikut sedih melihat munculnya
atribut dan nama Buddha dalam sebuah bar.

Terlepas mana interpretasi yang benar, kita bisa ambil hikmah dari kejadian
ini, yakni marilah mawas diri serta mendekatkan diri pada nilai-nilai luhur
moralitas dan agama. Kalau budaya Jawa bilang: eling, eling, eling, nyebut,
nyebut, nyebut.

Salam,
siwu

2009/4/11 dh4rm4duta <[email protected]>

>
>
> Kalau begitu boleh saja dianggap bahwa sang patung menangis karena terharu
> di Indonesia masih ada praktisi2 Dharma yang sungguh-sungguh seperti
> kita-kita di dharmajala ini. Semua interpretasi sah-sah saja. Asalkan jangan
> kita kaitkan dengan tahayul. Saya bersyukur dan bangga karena Buddhadharma
> yang indah pada awal, tengah, dan akhirnya tidak dibangun atas dasar
> "mukjizat" sebagaimana halnya agama lain. Saya pernah dengar bahwa di agama
> lain patungnya ada yang menangis mengeluarkan air mata darah. Namun,
> kebenaran Buddhadharma tidaklah bertumpu pada hal-hal seperti itu. Patung
> Buddha mau menangis atau tertawa tidak ada hubungannya dengan kebenaran
> Dharma. Sesungguhnya mukjizat sejati adalah transformasi batin dan pikiran
> umat manusia. Nibanna itulah mukjizat tertinggi.
>
> Metta,
>
> Tan
>
> --- In [email protected] <Dharmajala%40yahoogroups.com>, "Pierre
> Wee" <adhitthan...@...> wrote:
> >
> > --- In [email protected] <Dharmajala%40yahoogroups.com>,
> "dh4rm4duta" <dh4rm4duta@> wrote:
> > Bro...bukankah kalo terlalu bahagia dan terharu kita juga bisa
> mengeluarkan air mata?
> >
> > Positive thinking aja...:)
> >
> >
> > Rgds,
> > Pierre
> > http://iclipping.blogspot.com
> >
> > > MENGAPA PATUNG BUDDHA MENANGIS?
> > >
> > > Ivan Taniputera
> > > 9 April 2009
> > >
> > > Namo Buddhaya,
> > >
> > > Saya mendapatkan kabar dari beberapa rekan Buddhis mengenai patung
> Buddha di Aceh yang meneteskan air mata. Saya tidak mengetahui apakah berita
> itu benar atau tidak. Tetapi jika seandainya benar, mari kita tarik makna
> filosofis bagi peristiwa tersebut.
> > > Air mata adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesedihan atau dukkha.
> Patung yang meneteskan air mata hendak mengingatkan kita bahwa hidup ini
> pada dasarnya adalah dukkha. Patung yang meneteskan air mata menandakan
> bahwa alam sedang menyindir kita. Bagaimana mungkin, patung yang notabene
> adalah sebongkah batu atau logam dapat mengajarkan kita mengenai dukkha?
> (patung itu bukanlah Buddha. Patung ya tetap sebongkah batu atau logam.
> Siapa yang mecari Buddha dalam wujud telah menapaki jalan yang sesat - lihat
> Vajracchedika Prajnaparamita Sutra). Ini adalah sindiran halus pada umat
> manusia untuk lebih menghayati makna kehidupan beserta segenap fenomenanya
> secara lebih mendalam. Masihkan kita menciptakan dukkha bagi diri sendiri
> dan orang lain? Perlukah patung yang hanya sebongkah batu mengajarkan kita
> mengenai hal itu?
> > > Tetesan air mata juga dapat diartikan sebagai kesedihan karena melihat
> penderitaan orang lain. Banyak orang kurang peka terhadap penderitaan orang
> lain. Bahkan mereka malah cenderung menimbulkan penderitaan bagi sesamanya.
> Ada lagi yang hanya meneteskan air mata buaya. Perlukah patung yang benda
> "mati" mengajarkan kita mengenai cinta kasih? Tidakkah kita sebagai manusia
> yang masih "hidup" perlu merasa malu? Bila dunia ini tidak ada cinta kasih,
> maka berbagai bencana sudah siap terjadi di depan mata.
> > > Banyak rekan yang khawatir bahwa fenomena ini merupakan pertanda
> terjadinya bencana. Tetapi, tiadanya cinta kasih dan kepedulian terhadap
> sesama adalah merupakan bencana yang sesungguhnya.
> > > Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita
> semua. Semoga kita tidak diajar lagi oleh sebongkah batu atau logam.
> > >
> > > Salam dalam Dharma,
> > >
> >
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke