Belajar Agama Buddha, Untuk Apa *sih???*


*Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri; jika kamu ingin
berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama. *



Apa Benar Bisa Membahagiakan Semua Makhluk?

Belajar agama Buddha itu untuk apa sih? Apa manfaatnya bagi kita? Sudah
banyak artikel yang membahas topik satu ini, tapi masih banyak pula umat
yang tidak mengerti bagaimana dan manfaat apa yang sebenarnya bisa diperoleh
dari agama Buddha. Apakah ini berarti Buddha Dharma/Dhamma (ajaran Buddha)
itu sulit dipahami? Atau karena ajarannya sangat kompleks dengan jumlah
Kitab Suci yang sangat banyak?

Sebagian besar umat mengatakan bahwa ajaran Buddha itu adalah ajaran luhur
yang bertujuan membahagiakan semua makhluk. Tetapi ironisnya, banyak umat
yang tidak tahu bagaimana cara merealisasikan tujuan mulia ini, bahkan tak
sedikit yang dengan skeptis menanyakan, “Apa benar kita bisa membahagiakan
semua makhluk?”

Ada pula yang mengatakan tujuan belajar Buddhisme adalah untuk menjadi
Buddha dan mencapai pembebasan Nirvana/Nibbana. Tetapi kapan kita bisa
mencapainya? Dalam kehidupan saat ini? Satu kehidupan setelah kehidupan ini?
Tampaknya tak semudah dan secepat itu. Lantas kalau begitu, belajar agama
Buddha itu untuk apa kalau masih tetap harus menempuh ‘perjalanan’ yang
sangat panjang?



Pengendalian Diri

Sebenarnya tujuan belajar agama Buddha itu sederhana dan tidak ruwet, cukup
dua patah kata saja: pengendalian diri. Dua patah kata ini sudah bukan hal
asing bagi para praktisi tradisi Zen (Chan) yang berlatih hidup ‘di saat
ini’ ataupun praktisi Bhavana (Samatha - Vipassana) yang selalu berfokus dan
berusaha sadar pada setiap hal yang sedang dilakukan.

Dengan pengendalian diri ini maka perjalanan panjang yang kita tempuh
relatif menjadi tidak terasa panjang, pun sebenarnya mutlak jauh lebih
pendek dibanding makhluk yang tidak menerapkan pengendalian diri. Seperti
ibaratnya pelari maraton yang membagi jarak lari yang amat jauh menjadi
bagian-bagian yang lebih pendek, lalu dengan berfokus pada sub-tujuan yang
pendek itu setahap demi setahap mencapai garis finish. Demikian pula makna
dari pengendalian diri itu dalam pencapaian jalan menuju Pantai Seberang
Nirvana.

Pengendalian diri dapat direalisasikan dengan tekun berlatih menjaga pikiran
agar selalu ‘waspada’, sebuah metode yang telah menjadi budaya dalam
falsafah Jawa dengan istilah ‘*eling lan waspada’* (ingat dan waspada). Jadi
tujuan belajar agama Buddha juga bisa dilukiskan dengan satu patah kata:
waspada! Ya, waspada dalam arti mawas diri.

Masa lalu telah berlalu, kita tidak dapat mengubahnya, yang dapat kita
lakukan adalah menuai buah dari perbuatan (karma) masa lalu itu. Sedang masa
depan masih belum tiba, dan ia merupakan buah dari karma masa lalu dan masa
kini. Orang yang waspada akan selalu sadar atas perbuatannya, pun tidak
kehilangan kendali ketika menuai buah perbuatannya.

Salah satu cara efektif dalam melatih pengendalian diri dan kewaspadaan
adalah praktik meditasi. Namun berlatih meditasi tidak selalu harus dalam
posisi duduk. Meditasi yang benar itu seharusnya dilakukan dalam berbagai
kondisi dan aktivitas, baik saat berjalan, berdiri, duduk ataupun berbaring.
Dengan kata lain, selalu menjaga kewaspadaan, itulah meditasi dan itulah
pengendalian diri menuju kebahagiaan sejati.

Dengan selalu waspada maka perbuatan kita akan terkendali, dengan
pengendalian diri maka noda-noda batin akan sedikit demi sedikit terkikis,
kebiasaan dan karma buruk pun akan lambat laun berkurang, demikianlah terus
berlangsung dalam setiap kehidupan, dan pada akhirnya kita akan mencapai
Pencerahan Sempurna, menjadi Buddha merealisasikan kondisi Pantai Seberang
Nirvana.

Dhammapada XVII:6 (syair 226) mengatakan: “Mereka yang senantiasa sadar,
tekun melatih diri siang dan malam, selalu mengarahkan batin pada kedamaian
Nibbana, maka semua noda batin dalam dirinya akan musnah.”

Inilah makna pengendalian diri. Waspada dalam setiap aktivitas ‘saat ini’,
itulah kunci kebahagiaan sejati.



Mengapa *kok* Pengendalian Diri?

Selama ini kita mengenal bahwa tujuan belajar agama adalah untuk mendapat
keselamatan atau hidup yang kekal. Tetapi belajar Buddha Dharma *kok* cuma
untuk mengendalikan diri? Adakah hubungan antara keselamatan dan
pengendalian diri itu?

Setiap individu ingin merealisasikan kebahagiaan sejati, namun dalam
kenyataannya tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama mengenai makna
kebahagiaan sejati. Banyak orang yang beranggapan bahwa keselamatan atau
hidup kekal itulah kebahagiaan sejati.

Agama Buddha tidak mengajarkan bahwa keselamatan itu datang dari pemberian
atau anugerah. Mendambakan suatu kondisi hidup yang kekal itupun sebenarnya
tidaklah kekal, ia hanya satu kondisi menyenangkan yang berlangsung sangat
panjang namun satu ketika juga akan berakhir ketika kondisi pendukungnya
berakhir. Dengan kata lain, kebahagiaan seperti itu masih tidak terlepas
dari subjek perubahan (tidak kekal). Kekeliruan persepsi akan hidup yang
kekal itu merupakan salah satu bentuk jebakan dualisme akibat pengejaran
kenikmatan panca skandha (lima kelompok kehidupan) yang terkemas dalam
dimensi waktu yang berlangsung relatif panjang dibanding kehidupan alam
manusia.

Kebahagiaan sejati adalah keadaan mutlak yang terbebas dari subjek dualisme,
di mana tiada lagi kelahiran dan kematian, yang dalam agama Buddha disebut
sebagai Nirvana atau Pantai Seberang.

Kembali pada pengendalian diri, metode penerapan yang paling mendasar dalam
agama Buddha adalah pelaksanaan *Panca Sila *(Lima Disiplin Moral -
menghindari diri dari pembunuhan makhluk hidup, pencurian, perilaku seksual
menyimpang, kebohongan dan konsumsi makanan/minuman yang memabukkan) dan
Delapan Jalan Mulia (Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan
Benar, Mata Pencaharian/Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar,
Konsentrasi Benar).

Pandangan Benar adalah faktor pertama dalam Delapan Jalan Mulia, menunjukkan
betapa pentingnya faktor satu ini. Lalu, apakah yang dimaksud dengan
Pandangan Benar itu? Pemahaman terhadap hakekat sejati itulah yang disebut
dengan Pandangan Benar. Apa pula hakekat sejati itu? Mengetahui dengan jelas
tentang Empat Kebenaran Mulia, yaitu kebenaran tentang penderitaan, asal
mula penderitaan, lenyapnya penderitaan dan jalan menuju lenyapnya
penderitaan. Jadi, pengendalian diri yang diawali dengan Pandangan Benar
akan mengantar kita pada kondisi kebahagiaan sejati.

Dhammapada VI:14 (syair 89): “Mereka yang telah menyempurnakan pikirannya
dalam Faktor Penerangan, yang tanpa ikatan, yang bergembira dengan batin
yang bebas, yang telah bebas dari kekotoran, yang bersinar, maka
sesungguhnya mereka ini telah mencapai Nibbana dalam kehidupan sekarang ini
juga.”

Demikian pula Dhammapada II:1 (syair 21): “Kewaspadaan adalah jalan menuju
kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak
akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.”

Inilah hubungan antara pengendalian diri dengan keselamatan mutlak (baca:
kebahagiaan sejati).



Terkendali Menghadapi Kematian

       Selangkah lebih lanjut, tujuan belajar agama Buddha adalah
pengendalian diri saat menghadapi kematian. Tidak dipungkiri bahwa
karma-karma baik yang kita lakukan akan membawa pada kelahiran kembali yang
lebih baik, namun apabila di saat menjelang kematian kita lepas kendali
dengan munculnya *akusala javana citta* (impuls batin yang buruk), ini akan
mengantar pada kelahiran di alam yang buruk, meski mungkin timbunan karma
baik akan segera menyusul dan berbuah.

Ibarat sapi-sapi yang berada di dalam sebuah kandang, apabila pintu dibuka,
sapi-sapi yang berada di dekat pintu, betapapun lemah atau tua, akan keluar
mendahului sapi-sapi yang lebih kuat yang berada agak jauh dari pintu. Akan
tetapi, apabila sapi-sapi yang berdiri dekat pintu kandang terlalu lemah dan
tidak dapat menempuh perjalanan panjang, maka tak lama sapi-sapi yang muda
akan segera menyusul dan meninggalkan mereka di belakang.

Pikiran menjelang ajal, meski hanya sesaat, ibarat sapi tua di ambang pintu
kandang, sedang timbunan karma yang dilakukan selama hidup adalah bagaikan
sapi kuat. Dari perumpamaan ini bisa diketahui bahwa betapa pentingnya
menjaga pikiran saat menjelang kematian, sama pentingnya dengan pengendalian
diri dalam setiap aktivitas hidup sehari-hari.

Di samping tidak berpikiran buruk, saat menghadapi kematian kita juga harus
melepaskan pikiran yang melekat. Kemelekatan terhadap kehidupan di dunia ini
dapat menciptakan ketakutan ketika menghadapi kematian yang penuh dengan
ketidakjelasan, atau sedih dan takut karena harus meninggalkan orang/sesuatu
yang disenangi.

Kematian tidak akan ditakuti atau membuat sedih orang yang memahami
kebenaran hakekat alam semesta dan yang selama hidupnya terkendali dalam
pikiran, ucapan dan perbuatan. Karena kematian hanyalah sebuah proses alami
dari fenomena alam semesta, pun bukan untuk yang pertama kalinya, karena
lingkaran kelahiran dan kematian itu telah kita jalani dalam hitungan yang
tak terhingga.

Mereka yang terkendali tidak akan larut dalam kesedihan akibat perpisahan,
pun yakin karma baik yang dilakukannya akan membawanya pada kehidupan yang
lebih baik. Oleh karena itu, pikiran yang terkendali adalah sangat penting
untuk terus dipertahankan dengan impuls batin positif hingga akhir hidup
kita. Pengendalian diri dan tekad kuat akan mengantar diri kita pada
kehidupan yang akan selalu berjodoh dengan Buddha Dharma dan para orang
bijaksana, yang sangat bermanfaat bagi pelatihan kesempurnaan batin.



Bersama Kita Bisa

       Dalam *Samyutta Nikaya I:227* dikatakan: “Sesuai dengan benih yang
telah ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebaikan akan
mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula.
Taburlah biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah
darinya.”

       Sedang Dhammapada XII:9 (syair 165): “Oleh diri sendiri kejahatan
dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh diri sendiri
kejahatan tak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci
atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorang pun yang dapat
mensucikan orang lain.”* *

       Dari kedua ayat di atas bisa diketahui bahwa para Buddha,
Bodhisattva, Arhat dan para suciwan lainnya hanya berperan sebagai guru
penunjuk Jalan, hanya jika setiap makhluk bersedia menapak Jalan itu maka
barulah kebahagiaan bagi diri sendiri dapat terwujud.

Selain itu, ada dua pepatah indah yang mengatakan :

       “Kegembiraan menjadi berlipat ganda karena saling berbagi, kesedihan
berkurang separuh karena saling berbagi.” - anonim

       “Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri; jika kamu ingin
berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.” – pepatah Afrika

       Demikian juga dengan para siswa Buddha, mereka juga menjadi penunjuk
jalan dengan cara berbagi dan mengajak para makhluk untuk bersama-sama
menerapkan ajaran luhur agar semua makhluk dapat berbahagia. Perbuatan
berbagi yang tanpa pamrih ini pada akhirnya juga akan bermanfaat bagi diri
sendiri. Inilah konsep luhur Bodhisattva/Bodhisatta (makhluk hidup yang
tersadarkan). Inilah langkah awal dalam perealisasian ikrar agung ‘semoga
semua makhluk berbahagia’.

       Kembali pada pertanyaan: “Mungkinkah semua makhluk berbahagia?”,
tahulah kita sekarang bahwa jawabannya bergantung pada: sudahkah kita dan
semua makhluk saling berbagi, belajar dan menerapkan ajaran Buddha? Jelaslah
sudah, *Bersama Kita Bisa*!



Di Mana Eksistensi Cinta Kasih dan Welas Asih dalam Buddhisme?

       Keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, itulah tiga racun noda
batin (akar buruk) yang menyeret semua makhluk dalam lautan
penderitaan. Disiplin
Moral, konsentrasi dan kebijaksanaan, itulah tiga latihan (latihan berfaktor
tiga) yang dapat mengikis tiga racun dan mengantar makhluk pada pembebasan
Nirvana. Dengan kata lain, pengendalian diri yang benar harus dicapai dengan
berlandaskan pada latihan moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan.

       Dengan menjalankan Delapan Jalan Mulia sebenarnya kita juga sedang
menerapkan tiga latihan. Ucapan Benar, Perbuatan Benar dan Mata
PencaharianBenar, ketiganya mewakili moralitas (
*sila*); Usaha Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar, dikenal sebagai
konsentrasi (*samadhi*); sedang Pandangan Benar dan Pikiran Benar adalah
kebijaksanaan (*prajna/panna*).

       Tapi agama Buddha *kan* juga ajaran cinta kasih universal yang
berikrar membahagiakan semua makhluk, lalu di mana bisa kita temukan
eksistensi cinta kasih itu dalam Buddhisme? Tepatnya, kenapa tidak
disebutkan adanya cinta kasih dalam pelaksanaan Panca Sila ataupun Delapan
Jalan Mulia?

Kalau kita perhatikan lebih seksama, pelaksanaan Panca Sila ataupun
moralitas dalam Delapan Jalan Mulia adalah bertujuan menghindarkan kita dari
berperilaku buruk terhadap makhluk lain. Inilah landasan utama dari cinta
kasih (maitri/metta - membahagiakan makhluk lain) dan welas asih (karuna -
mencabut penderitaan, empati).

Bukan hanya tidak menyakiti makhluk lain, ajaran Buddha juga menganjurkan
untuk berinisiatif membahagiakan semua makhluk. Ini bisa terlihat dari *Dana
Paramita* yang mengawali Enam Paramita (Enam Kesempurnaan untuk Tiba di
Pantai Seberang). Secara keseluruhan, Enam Paramita adalah *Dana *(berdana)*,
Sila *(moralitas)*, Ksanti/Khanti *(kesabaran)*, Virya/Viriya* (semangat)*,
Dhyana/Jhana *(pemusatan pikiran)*, Prajna/Panna *(kebijaksanaan). Sedang
makna *Dana Paramita* adalah perbuatan luhur menuju kesempurnaan dengan
berdana tanpa pamrih, baik materi (harta, organ tubuh) maupun non-materi
(Buddha Dharma, bimbingan, pengetahuan).

Demikianlah, maitri karuna adalah dasar dari semua perilaku benar para siswa
Buddha.



Non Dualisme

       Moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan, adalah tiga hal yang saling
melahirkan, mengisi dan melengkapi. Pelatihan moralitas akan membuahkan
konsentrasi, dari konsentrasi berkembanglah kebijaksanaan, hingga akhirnya
tercapai kebijaksanaan tertinggi *Samyak Sambuddha* (Pencerahan Sempurna).

       Berbicara tentang kebijaksanaan, maka dengan sendirinya kita akan
membicarakan pula faktor kebalikannya, yakni kebodohan. Kalau dikatakan
tujuan agama Buddha adalah pengendalian diri untuk mencapai kebijaksanaan
sejati, apa ini berarti setiap makhluk pada dasarnya adalah bodoh?

Buddha mengajarkan kita bahwa kebijaksanaan sejati itu terbebas dari
cengkeraman dualisme. Bijaksana - bodoh, baik - jahat, indah – buruk, dan
sebagainya, itu adalah bentuk-bentuk dualisme. Demikian pula dengan serakah,
benci, cinta, kemelekatan dan sebagainya, itu juga dualisme. Dengan kata
lain, batin setiap makhluk ibaratnya adalah permukaan air yang tenang (tidak
mendua), tetapi karena bertiupnya angin (kondisi duniawi) maka bergolaklah
permukaan air itu dan timbullah gelombang (terjebak dalam dualisme).
Permukaan air itu tak lagi menemukan sifat semulanya yang tenang.

Demikian pula batin itu ibaratnya cermin yang bersih, seiring dengan
lemahnya pengendalian diri terhadap debu-debu duniawi, maka cermin yang
bersih itu akhirnya menjadi berdebu dan kehilangan kebersihannya, meski
sifat semulanya yang bersih masih tetap ada.

Dari dua perumpamaan di atas dapat diketahui bahwa pada dasarnya tidak ada
yang disebut sebagai makhluk baik dan jahat. Baik dan jahat itu hanya
menyatakan sampai di mana tingkatan ketidaktahuan dan kemampuan pengendalian
diri setiap individu. Dengan kata lain, tidak ada orang jahat, yang ada
hanyalah orang yang tidak sadar akan keburukan perbuatannya, atau orang yang
kurang mampu mengendalikan diri dari cengkeraman keserakahan, kebencian dan
kebodohan batin.

Ketidaktahuan bisa diobati dengan pengetahuan Dharma atau pengetahuan yang
bermanfaat, sedang kekurangmampuan pengendalian diri bisa diatasi dengan
pelatihan moralitas dan konsentrasi. Pengetahuan adalah penunjuk jalan agar
kita tahu mana yang benar dan salah, sedang pelatihan moralitas dan
konsentrasi ibaratnya ‘*invisible hand*’ yang berperan mencegah kita
melakukan perbuatan yang tidak bajik/bermanfaat. Orang yang tahu tidak
berarti tidak akan melanggar batas-batas kebenaran, hanya mereka yang tahu
dan mampu mengendalikan diri adalah orang yang tidak akan melanggarnya.
Akhir kata, mencapai keBuddhaan adalah tujuan jangka panjang para siswa
Buddha. Tujuan yang mulia ini direalisasikan dengan membaginya dalam bentuk
tujuan jangka pendek: selalu waspada dan penuh pengendalian diri. Inilah
makna Dhammapada VIII:4 (syair 103): “Walaupun seseorang dapat menaklukkan
beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk
terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.” Karena itu,
marilah kita belajar mengendalikan diri dan selalu waspada.

Majalah Sinar Dharma


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke