Dengan konsep tanpa atta, orang boleh menyangkal eksistensi 'diri'nya, cita-cita duniawinya, keinginan-keinginan yang timbul dari respon panca-indriyanya, tetapi tidak boleh menyangkal eksistensi hidupnya dan kehidupan. Dalam artian dalam usahanya untuk memahami ketanpa-akuan dia bisa bertindak diluar kebiasaan orang-orang pada umumnya (seperti bekerja dan berumahtangga) tetapi tidak sampai mengakhiri hidupnya. Seorang nihilisme bisa bertindak ekstrim seperti katakanlah membunuh semaunya karena menganggap apapun tidak eksis, mungkin bisa lebih ekstrim melebihi seorang atheis. Jika seseorang dengan sengaja mengakhiri hidupnya di dalam perjalanannya mencari pemahaman ke-tanpa-aku-an terinspirasi ketiadaan eksistensi maka dapat dipastikan dia telah memiliki pandangan yang keliru. Seorang pengikut Buddha dan/atau pencari Nibbana tidak akan bertindak ekstrim terhadap kehidupan, sekalipun kehidupan tampak ekstrim di matanya. YG
--- In [email protected], "Doraemon. N" <doraemon.n...@...> wrote: > > > > Dengan adanya konsep nibbana tanpa sisa dan konsep tanpa atta dalam ajaran > Theravada, > sekarang diluaran sedang beredar isu-isu bahwa ajaran Theravada lebih condong > ke nihilisme. > Ajaran nihilisme jelas-jelas menyimpang dari ajaran Buddha yang murni. > Wah ini bisa gawat loh. So gimana nih. Kepada para ahli-ahli komen yang paham > ajaran Theravada di milis ini, kiranya sudi memberikan sedikit penjelasan > demi mempertahankan ajarannya yang murni nan sempurna. > > Please ........ > > > > > Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. > Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! > > > Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan > mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! > http://id.messenger.yahoo.com/invite/ > > [Non-text portions of this message have been removed] >
