Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 Tahun Mafia Berkeley? 
(Bagian I)
Selasa, 24 Maret 09 
KESIMPULAN DAN RANGKUMAN 

Berbeda dengan kebiasaan, saya akan mulai dengan kesimpulannya sebagai berikut. 

Para akhli ekonomi kelompok tertentu yang secara konsisten menganut faham 
mashab pikiran tertentu, yang dikenal dengan sebutan “Berkeley Mafia” berhasil 
menguasai kendali kebijakan ekonomi sejak tahun 1966. Kendalinya putus selama 
sekitar 2 tahun ketika Gus Dur menjabat Presiden. 
Kelompok Berkeley Mafia tidak menjadi anggota partai politik. Maka mereka tidak 
mencerminkan ideologi partai politik yang manapun juga. Ideologi mereka adalah 
ideologi mekanisme pasar yang sangat condong pada liberalisme yang sebebas 
mungkin dan kapitalisme partikelir. Itulah sebabnya sejak awal mereka sudah 
menganut faham korporatokrasi; hal ini digambarkan sangat jelas dan ilustratif 
oleh John Pilger yang mengutip Jeffrey Winters dan Bradley Simpson. 
Berjayanya kelompok Berkeley Mafia dan stabilitas serta kontinuitas 
kekuasaannya dalam bidang ekonomi diperkuat dengan kenyataan bahwa 
partai-partai politik di Indonesia tidak mempunyai pikiran-pikiran bagaimana 
menyelenggarakan negara yang baik. Semakin menuju pada demokratisasi yang 
disebut era reformasi, orientasinya semakin hanya mencari kedudukan dan 
kekuasaan. Ini terlihat sangat jelas kalau kita amati apa dan bagaimana yang 
sekarang ini sedang berlangsung dalam proses pemilu, baik legislatif maupun 
pemilihan presiden. 
Hasil dari kebijakan ekonomi kelompok Berkeley Mafia sejak tahun 1966 ternyata 
sangat merugikan negara dan bangsa, seperti yang akan diceriterakan 
selanjutnya. 
Kaitan antara kelompok Berkeley Mafia dan lembaga-lembaga keuangan 
internasional yang menurut John Pilger dan Jeffrey Winters de facto didikte 
oleh Kementerian Keuangan AS sangat kuat. 
Dengan meledaknya krisis keuangan di AS yang dilandasi oleh rusaknya moralitas 
dan akal sehat membuat para tokoh fundamentalisme mekanisme pasar, kapitalisme 
partikelir dan Washington Concensus berganti haluan dalam pikirannya secara 
drastis, seperti yang digambarkan dalam cover story majalah Newsweek tanggal 2 
Maret yang lalu. 
Pemerintah-pemerintah AS, Eropa, Jepang dan China telah selesai merumuskan 
kebijakan dan langkah-langkahnya untuk menghadapi dan menanggulangi resesi dan 
depresi ekonomi global. Mereka juga ditopang dengan dana sangat besar yang 
dimiliki oleh pemerintahnya. 
Masih sangat tidak jelas bagaimana Tim Ekonomi Indonesia meminimalkan dampak 
dan pengaruh resesi dan depresi global yang trend-nya terlihat dengan jelas 
dari angka-angka BPS terakhir, yang tertuang dalam buku kecil berjudul “Makro 
Ekonomi Indonesia”, terbitan Lembaga Penelitian Institut Bisnis dan Informatika 
Indonesia (LPE-IBII) yang dapat diperoleh dengan cuma-cuma bagi yang berminat. 
Kebijakannya hanya dalam bentuk stimulus fiskal yang dikatakan sebesar Rp. 73,1 
trilyun, tetapi banyak yang dalam bentuk pengurangan pajak dan bukan 
pengeluaran langsung. Kecuali itu, kalau digabung dengan SILPA tahun 2008, 
netonya hanya Rp. 13,1 trilyun atau sekitar 0,19% dari PDB. Tingkat suku bunga 
diturunkan, tetapi hanya dalam bentuk BI rate yang merupakan indikasi yang 
masih bertengger sangat tinggi menurut ukuran dunia, yaitu sekitar 6%. 
Kebijakan Gubernur BI ini dinetralisir oleh Menteri Keuangan yang menerbitkan 
SUN dalam denominasi dollar AS sebesar US$ 3 milyar dengan tingkat suku bunga 
antara 10 sampai 1 %. 
Harapan perbaikan dalam pola pikir yang mewujud pada kebijakan dan tindakan 
nyata bisa diwujudkan dengan kampanye besar-besaran dalam mengemukakan 
pikiran-pikiran yang teknokratik dan sarat dengan pengetahuan yang didasarkan 
atas akal sehat, nalar dan jiwa yang waras. 

Kita masih mempunyai banyak akhli yang mampu melakukan ini. Tetapi media massa 
kita menjadi sangat tidak peka pada pikiran-pikiran konstruktif yang memang 
lebih sulit dicerna ketimbang berita-berita dan gossip yang sensasional. 
Aka merupakan tantangan besar bagi elit muda Indonesia yang sebagian hadir 
dalam ruangan ini untuk berinovasi tentang bagaimana memasyarakatkan 
pikiran-pikiran yang baik dan konstruktif.


MEKANISME PASAR BUKAN SEGALA-GALANYA 

Tidak dapat disangkal bahwa akhli ekonomi kelompok tertentu yang dikenal dengan 
nama “Mafia Berkeley” mempunyai kepercayaan yang bagaikan agama, bahwa 
mekanisme pasar dengan sendirinya dan senantiasa mewujudkan ketertiban dan 
keadilan. 

Sangatlah jelas bahwa krisis keuangan yang meledak di AS dilandasi oleh 
ideologi dan paham pasar bebas yang ekstrem. Dalam rangka ideologi dan paham 
ini, keserakahan menjadikan demikian banyak orang pandai di Wall Street dan 
para pimpinan hedge funds tidak waras lagi. Malapetaka buatan manusia ini 
sekaligus membuktikan bahwa kemampuan mekanisme pasar mengatur dirinya sendiri 
yang didasarkan atas mengemukakan kepentingan dirinya sendiri (seperti yang 
digambarkan oleh Adam Smith) sama sekali tidak benar. 

Esensi yang paling dasar dari mekanisme pasar memang benar, tetapi dibutuhkan 
moralitas dan pengaturan seperti yang sebelumnya telah ditulis oleh Adam Smith 
dalam bukunya yang berjudul “The Theory of Moral Sentiments.” Kebanyakan akhli 
ekonomi tidak memahami buku ini yang harus dilihat sebagai satu kesatuan dengan 
bukunya yang lebih terkenal, yaitu : “An Inquiry into the Nature and the Causes 
of the Wealth of Nations.” Yang memahaminya Perdana Menteri China Wen Jiabao, 
yang dikemukakannya dalam wawancara dengan Fareed Zakaria di majalah Newsweek. 

Dengan runtuhnya sistem komunis, di semua negara kegiatan produksi, distribusi 
dan konsumsi didasarkan atas mekanisme pasar. Namun demikian berbagai bangsa 
mengenal kadar campur tangan pemerintah yang beragam, dari yang sangat bebas 
sampai yang intervensinya oleh pemerintah sangat banyak. 

Penentuan seberapa besar regulasi oleh pemerintah yang optimal banyak 
ditentukan oleh ideologi yang dihayati dan kepercayaannya pada kemampuan 
alokasi dan regulasi mekanisme pasar seperti yang digambarkan oleh Adam Smith. 

MEKANISME PASAR, KAPITALISME PARTIKELIR DAN “MAFIA BERKELEY”. 

AS adalah negara yang sangat condong pada kepercayaan cukup ekstrem terhadap 
efisiensi dan keadilan yang dapat diperoleh dari bekerjanya daya regulasi pasar 
bebas. 

Pengaruh mashab pikiran AS terhadap Indonesia sangat besar melalui 
lembaga-lembaga keuangan internasional dan korporasi besar. Sejak Presiden 
Soeharto berkuasa, kendali ekonomi selalu ada di tangan para akhli ekonomi dari 
satu kelompok mashab pikiran yang kita kenal dengan sebutan Mafia Berkeley. 

Kekuasaan mereka terganggu sekitar 2 tahun dalam era Gus Dur sebagai Presiden 
RI. Namun demikian, mereka berhasil menyusup ke dalam pemerintahan melalui 
badan-badan ciptaannya yang dipaksakan kepada Gus Dur, yang sebelumnya tidak 
pernah dikenal dalam struktur ketata-negaraan Indonesia. Dua Lembaga ini yalah 
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang ketuanya Emil Salim dan sekretarisnya Sri 
Mulyani, dan Tim Asistensi pada Menko EKUIN yang diketuai oleh Widjojo 
Nitisastro dengan Sri Mulyani sebagai sekretarisnya. Dua lembaga ini bubar 
karena tidak dibutuhkan lagi ketika Megawati menjadi Presiden yang langsung 
saja menyerahkan kekuasaan ekonomi kepada kelompok Mafia Berkeley lagi. Jelas 
bahwa lembaga-lembaga tersebut dipaksakan untuk mengimbangi Tim Ekonomi yang 
tidak akan terlampau patuh pada trio Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF. 

KARAKTERISTIK MAFIA BERKELEY 

Di Indonesia ada satu kelompok ekonom dari satu mashab pikiran ekonomi tertentu 
yang merupakan kelompok yang sangat kompak. Mereka membentuk 
“keturunan-keturunannya” dari generasi-generasi berikutnya yang garis 
kebijakannya selalu konsisten, yaitu selalu sejalan dengan 3 lembaga keuangan 
internasional yang sampai sebelum krisis sedang berlangsung, mereka didikte 
oleh Menteri Keuangan AS. Para anggota kelompok ini tidak perlu harus pernah 
belajar di Universitas California di Berkeley. Faktor pengikatnya adalah 
ideologi dan kepercayaan yang sama. 

Garis kebijakannya dapat digambarkan sebagai fundamentalisme mekanisme pasar 
dan kapitalisme partikelir. 

Mereka juga terkenal dengan sebutan “teknokrat”. Tetapi dalam kiprah dan sepak 
terjangnya sama sekali bukan teknokrat yang bebas nilai dan bebas ambisi 
politik. Mereka mati-matian mempertahankan kedudukannya sebagai penentu 
kebijakan ekonomi, siapapun Presidennya. Ibu Megawati yang putri kandung Bung 
Karno juga berhasil diyakinkan bahwa pengendali kebijakan ekonomi terbaik 
adalah kelompok mereka, walaupun pikiran-pikirannya sangat bertentangan dengan 
pikiran-pikiran Bung Karno. 

Dalam satu sidang CGI, Menko Perekonomian Pemerintah Megawati Soeranoputri 
mengatakan bahwa beliau bukan anggota partai politik. Kalaupun harus menyebut 
“partai”, maka boleh dikatakan “Partai UI di Depok”, yang pengurus-pengurus 
terpentingnya adalah Prof. Widjojo Nitisastro dan Prof. Ali Wardhana. 

PONDASI KEBIJAKAN TIM EKONOMI INDONESIA 

Kekuasaan dan landasan atau pondasi kebijakannya yang konsisten selama 53 tahun 
berawal pada Pemerintah Soeharto yang urut-urutan kronologis sejarahnya sebagai 
berikut. 

Kebijakan ekonomi pemerintah Soeharto diawali dengan konperensi di Jenewa 
antara Tim Ekonomi Indonesia yang dipimpin oleh Prof Widjojo Nitisastro 
bersama-sama dengan para ekonom dari UI, yang dalam suasana konperensi di 
Jenewa itu lahir sebutan “Berkeley Mafia”. Tidak jelas siapa yang menemukan 
istilah ini. Ada yang mengatakan pemimpin counterpart delegasi Indonesia, David 
Rockefeller. Istilah ini dikemukakan dengan nada yang sangat menghargai 
terhadap "the top economists of Indonesia". 

Inzinkanlah saya mengutip gambaran yang diberikan oleh John Pilger, yang pada 
gilirannya mengutip kata-kata Jeffrey Winters sebagai berikut : “Dalam bulan 
November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya 
dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa 
yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para 
pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang 
seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : 
perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical 
Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, 
Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang 
meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut 
"ekonoom-ekonoom Indonesia yang top". 

"Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan 'the Berkeley Mafia', karena 
beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat 
untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai 
peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang 
hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan 
menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam 
….. pasar yang besar". 

Di halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, 
sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey 
Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan 
mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah 
mempelajari dokumen-dokumen konperensi. 'Mereka membaginya ke dalam lima seksi 
: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar 
lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase 
Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan 
yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para 
pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, 
mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada 
dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya 
tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya,
 di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan 
sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi 
mereka ke dalam negaranya sendiri. 

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry 
Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua 
Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. 
Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat 
hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang 
tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto 
membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara 
rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on 
Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, 
Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank 
Dunia". 

Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John 
Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi 
yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia 
selanjutnya. 

Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah 
"korporatokrasi", paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak 
tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya 
captain of industries atau para korporatokrat. 

TONGGAK-TONGGAK KEBIJAKAN EKONOMI SELANJUTNYA 

Setelah kaki-kaki korporatokrasi ditancapkan yang oleh Jeffrey Winters 
dikatakan "pengambil alihan ekonomi Indonesia dalam 3 hari", berbagai istilah 
dan pengertian yang tidak lazim diciptakan dengan maksud memperlancar 
terjerumus dan terjeratnya Indonesia ke dalam utang, yang dijadikan alat 
penekan untuk memaksakan kebijakan yang pro korporatokrasi. 

Perwujudannya yalah organisasi yang khusus diciptakan buat negara-negara 
pemberi utang yang bernama Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI), yang 
kemudian berganti nama menjadi Consultative Group of Indonesia (CGI). 
Koordinatornya Bank Dunia, yang bersama-sama dengan Bank Pembangunan Asia dan 
IMF merupakan trio pemberi utang juga. 

Bentuk-bentuknya antara lain adalah sebagai berikut : 

Anggaran negara (APBN) yang jelas defisit disebut berimbang, yang ditutup 
dengan utang luar negeri, tetapi tidak disebut utang. Sebutannya dalam APBN 
"Pemasukan Pembangunan". 
Utang luar negeri dari IGGI/CGI dan 3 lembaga keuangan tidak disebut "loan" 
atau utang, tetapi disebut “aid” atau bantuan. 
Jumlah defisit APBN dihitung tanpa memasukkan cicilan utang pokok sebagai 
pengeluaran. Yang dihitung hanya pengeluaran uang untuk membayar bunga. 

Memang kebiasaan internasional seperti ini supaya bisa membandingkan dengan 
negara-negara lain. Tetapi kalau jumlah utang ditambah bunga sudah sekitar 25% 
dari APBN, gambarannya lantas menyesatkan, dan perlu memberikan catatan khusus. 
Anggaran pembangunan dibiayai sepenuhnya dari utang luar negeri yang katanya 
untuk menghindari crowding out di dalam negeri. Tetapi ketika krisis dengan 
enaknya membuat utang dalam negeri, yang ditambah dengan kewajiban membayar 
bunga menjadi ribuan trilyun rupiah dalam bentuk BLBI ditambah obligasi rekap, 
yang sebenarnya dapat ditarik kembali sebelum bank-bank yang mempunyai obligasi 
rekap ini dijual dengan harga murah. 
Boediono sebagai Menteri Keuangannya Presiden Megawati menyatakan dengan yakin 
beban utang akan merata dan selesai dalam waktu 8 tahun setelah melakukan apa 
yang olehnya dinamakan reprofiling. Sekarang kedodoran dengan beban sangat luar 
biasa beberapa tahun mendatang, seperti yang diberitakan oleh media massa. 
Tetapi tidak perlu khawatir. Toh bisa ditutup dengan utang baru. Dan karena 
gurunya, Larry Summers dan Tim Geithner sudah mencetak uang besar-besaran, 
mungkin muridnya juga akan melakukan hal yang sama. 
Demikian juga dengan ukuran tentang jumlah utang luar negeri, apakah sudah 
melampaui batas yang aman. Tadinya dinyatakan dalam rasio antara ekspor neto 
dengan pembayaran cicilan utang pokok + bunga utang luar negeri yang disebut 
Debt Service Ratio (DSR). Ketika sudah menjadi sangat tinggi, ukurannya diubah 
menjadi dalam persen dari PDB. 
Dalam menghitung ukuran tentang ambang batas yang aman, dalam DSR cicilan utang 
pokok dihitung sebagai faktor. Tetapi dalam menghitung Defisit dalam APBN 
cicilan utang pokoknya tidak dihitung, karena sudah menjadi sangat besar. 
Subsidi BBM dinyatakan sebagai identik dengan pengeluaran uang tunai oleh 
pemerintah, padahal tidak ada uang tunai yang dikeluarkan untuk memperoleh 
minyak mentah kecuali yang harus diimpor. 
Sekarang ini yang digembar-gemborkan menurunkan BBM tiga kali. Tetapi 
menaikkannya tiga kali tidak disebut. Menaikkannya dari Rp. 2.700 sampai Rp. 
6.000. Menurunkannya hanya sampai Rp. 4.500 saja, tetapi dijadikan bahan 
kampanye dalam iklan yang sangat mahal. 
Harga BBM harus ekivalen dengan harga minyak mentah yang 
dibentuk oleh NYMEX. Tetapi sekarang ini, dengan kurs yang berubah dan harga 
minyak mentah yang sudah berubah pula, harga BBM masih tetap saja dipertahankan 
seperti apa adanya. 

Oleh Kwik Kian Gie
 


      Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. 
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke