Salam saya untuk semua Bodhisattva,

Mari semua kita hati-hati dalam menuliskan kata-kata. Pertama jangan mudah 
mengatakan orang bakal masuk neraka aviji atau karma buruk gara-gara sesuatu 
hal apalagi kalau sedang mendiskusikan dhamma. Kalau tidak ada niat buruk dari 
mana bisa ada akibat karma buruk.

Kedua, Buddha Sakyamuni sendiri menganjurkan agar orang harus ragu-ragu, 
kritis, menguji dan beragumentasi sampai seseorang dapat mendapat insight atau 
pemahaman yang valid menurut kebijaksanaannya. (baca Kalama Sutra)

Ketiga, umat harus mengetahui Vinaya dengan demikian memahami mana guru yang 
pantas ditelandan dan diminta nasehat atau bimbimgan dharma. Dengan melihat 
pada kedisplinan Bikhu menjalankan Vinaya, maka ini adalah sebuah clue bagi 
umat untuk mengambil kesimpulan pintas (probabilitas) bahwa Bikhu tersebut 
dapat dijadikan teladan dan guru dharma.

Keempat, Mengapa kita menyebut Venerable atau Yang Mulia kepada Bikhu? Saya 
sering bertanya kepada teman-teman pengusaha. Bisakah anda merasa damai atau 
internal peace selama 1 jam saja? 100% dari mereka menjawab tidak bisa. Kalau 
begitu semua yang Anda miliki sia-sia dong. 100% senyum kecut dan menganggukkan 
kepala. Jadi berapa nilai 1 jam internal peace? Priceless! Bikhu adalah orang 
yang telah atau berusaha mencari internal peace itu melalui dhamma dan praktek 
bukan hanya 1 jam akan tetapi seluruh kehidupannya. Orang karena itu sangat 
pantas disebut Venerable. Karena dia selalu melatih itu, maka residu latihan 
mengakibatkan orang-orang disekitarnya akan merasa damai. Dan karena itu juga 
membuat orang ingin mengetahui bagaimana mencapai hal yang priceless itu.

Buddha melarang "keras" Bikhu mempertontonkan kesaktian. Dikisahkan bagaimana 
Buddha memecah mangkok kayu cendana gara-gara muridnya mengambil mangkok itu 
dengan kesaktian. Sejak hari itu dilarang BIkhu mempertontonkan kesaktian. 
Mengapa dilarang? Ini disebabkan karena mereka itu "Venerable". Internal peace 
itu priceless. Kesaktian nilainya dibawah itu. Internal Peace adalah kunci 
menuju Nibbana. Kesaktian selain memperkuat ego juga dapat menciptakan unpeace 
disekitarnya.

Kelima, Kita tidak boleh mudah mengambil kesimpulan akhir dari attribute, 
pengakuan orang lain, atau siapapun kecuali kita telah sampai diposisi itu. 
Hanya Arya yang mengetahui Arya.

Mudah-mudahan ini dapat membuat kita berdiskusi dharma dengan baik.

Be Compassionate

Akino W. Azzaro

Kirim email ke