®

-----Original Message-----
From: [email protected]

Date: Wed, 22 Jul 2009 16:08:42 
To: Milis SamaggiPhala<[email protected]>; Buddha 
Vacana<[email protected]>
Subject: [buddhavacana] Please Support. Bantuan Untuk Sidarta, Lumajang


Please support.
MOHON DITERUSKAN PADA PARA DONATUR LAINNYA....

++++++++++++++

Namo Buddhaya,

Hari minggu kemaren, hari terakhir UAS semester 6. 
Pukul 12.00 ujian sudah selesai dan aku bergegas pulang ke Sidoarjo. 
Setelah makan siang dan mandi, aku meluncur menuju ke arah Lumajang, Jawa 
Timur.

Sebelumnya saya sempat bingung, harus meluncur ke Lumajang atau meluncur 
ke Madiun, karena ada 2 kasus yang harus saya survey. Yang pertama ada di 
Madiun, sedang yang kedua ada di Lumajang. Namun, karena saya sudah 
beberapa kali bantuan digalangkan untuk Madiun, kali ini saya coba 
melongok ke arah yang berbeda. Dan lagi dari informasi yang saya terima, 
kasus di Lumajang ini lebih menarik perhatian saya.

Saya meluncur bersama teman saya yang bernama Frans. Sepanjang perjalanan 
menuju Lumajang tidak ada yang cukup menarik untuk diceritakan, selain 
beberapa kali kami berhenti untuk ngopi, ada sedikit diskusi tentang orang 
yang sedang kami tuju di Lumajang, yakni seorang janda satu anak, sebut 
saja ibu Nissa (bukan nama sebenarnya). Anak ibu Nissa bernama, Sidarta, 
berusia 10 tahun. Suami ibu Nissa bernama pak Warsito, meninggal dalam 
sebuah kejadian di perkebunan tempatnya bekerja sekitar 2 tahun lalu.

Saya lebih tertarik pada kasus Lumajang ini, karena dari nama orangnya 
saja, terkesan kalau ibu Nissa pasti bukan beragama Buddha, tetapi nama 
anaknya sangat terkesan beragama Buddha. Ibu Nissa pindah dari agama 
sebelumnya menjadi beragama Buddha sejak menikah dengan Pak Warsito. Hal 
ini membuat ibu Nissa dibuang dari keluarganya dan tidak lagi diakui 
sebagai anak oleh orang tuannya.

Sejak pak Warsito meninggal, ibu Nissa berusaha memenuhi kebutuhan 
hidupnya dan anaknya. Ibu Nissa bekerja sebagai buruh pabrik kerupuk, dan 
kadang membantu di perkebunan tembakau. Selama beberapa lama semua 
berlangsung cukup dengan tidak terlalu banyak masalah, namun kemudian 
muncul masalah-masalah yang kemudian membuat ibu Nissa dipecat dari pabrik 
kerupuk, lalu kemudian tidak diperkenankan membantu-bantu di perkebunan 
tembakau.

Hari menjelang sore ketika kami sampai di tempat bu Nissa, tempat yang 
cukup jauh dari keramaian kota. Kami menemui ibu Nissa dan 
berbincang-bincang dengannya, dan akhirnya mendapatkan beberapa informasi. 


Ibu Nissa dipecat tanpa ada kesalahan, pihak pabrik sempat menyatakan 
bahwa tidak berdaya dan harus memecat ibu Nissa demi kepentingan pabrik. 
Ibu Nissa tidak diperkenankan membantu di perkebunan tembakau hanya dengan 
alasan bahwa tenaganya sudah tidak dibutuhkan. Walau tidak ada bukti, 
namun dapat saya simpulkan bahwa ibu Nissa kehilangan pekerjaannya karena 
campur tangan pihak ketiga.

Menurut ibu Nissa, seminggu setelah dia kehilangan pekerjaannya, pihak 
keluarganya mendatanginya dan menawarkan bantuan, tapi dengan syarat bahwa 
dia harus kembali ke agamanya yang dulu, juga anaknya. Namun ibu Nissa 
bertahan pada agama yang dipeluknya sekarang, terutama karena dia merasa 
sejak menganut ajaran Buddha, dia tidak punya banyak beban batin. Merasa 
lebih damai.

Informasi lain yang saya dapat adalah bahwa Sidarta memiliki seorang adik 
perempuan bernama, Mita. Ibu Nissa sempat terdiam beberapa saat ketika 
berkisah tentang Mita. Perlahan namun pasti matanya memerah dan basah. 
Mita meninggal setahun lalu karena DBD. Ibu Nissa berjuang sendiri 
menyelamatkan Mita, namun Mita akhirnya meninggal. 

Kisah Ibu Nissa ini membuat saya merinding waktu mendengarkan. Tengah 
malam gelap hingga subuh, ibu Nissa berjalan kaki menggendong Mita mencari 
pertolongan ke puskesmas, namun Mita tidak tertolong. Sebuah pelepasan 
yang sangat berat. Ketika bercerita tentang Mita, ibu Nissa berusaha 
menahan air matanya jatuh, namun tetap saja banjir di matanya tidak dapat 
dibendungnya.

Sejak tidak bekerja di pabrik krupuk dan perkebunan tembakau, ibu Nissa 
hanya menggantungkan hidupnya dari berjualan apa saja yang bisa dihasilkan 
dari halaman rumahnya. Dagangan tidak seberapa dijajakan ke rumah rumah 
penduduk atau ke pasar yang cukup jauh. 

Namun, kini ibu Nissa nampaknya membutuhkan uluran tangan, karena anaknya 
Sidarta telah divonis menderita leukemia type LLA. Gejala yang sudah 
tampak adalah cepat lelah dan nyeri perut.

Saya berusaha berpikir logis, tidak mau emosional. Karena urusan ini akan 
membutuhkan biaya dalam jumlah besar. Saya sarankan pada ibu Nissa untuk 
memenuhi apa yang disyaratkan oleh keluarganya yakni kembali pada agamanya 
yang lama asalkan keluarganya itu mau membiayai pengobatan Sidarta. Namun, 
ibu Nissa bersikukuh bahwa dia tidak akan kembali pada agama lamanya. 
Apalagi syarat dari keluarganya, Sidarta harus juga pindah agama. Kalaupun 
ia mau, belum tentu Sidarta mau. Dan benar, Sidarta tidak mau.

Karena alasan norma, kami tidak dapat menginap di rumah ibu Nissa. Langit 
sudah gelap ketika saya dan Frans meluncur memasuki pusat kota Lumajang. 
Kami mencari penginapan seadanya untuk beristirahat. Keesokan siangnya 
kami kembali ke Surabaya.

Walau kita sangat sadar bahwa kemampuan kita sangat terbatas. Mereka yang 
kita bantu juga endingnya tragis dan tidak selamat. 2 hari saya memikirkan 
hal ini, berusaha memecahkan dengan cara lain, namun akhirnya hari ini 
saya kembalikan ke forum.

Karena saya sedang memasuki masa liburan kuliah hingga awal September 
2009, memungkinkan saya untuk pergi sewaktu-waktu. Akan tetapi saya pasti 
kembali ke ibu Nissa pada 16-17 Agustus 2009.

Memasuki masa Vassa ini, bagi yang ingin berdana, seperti biasa dana bisa 
dikumpulkan via account bro Edi Sugino. 

Bank International Indonesia (BII)
Ac. 1174113160
An. Edi Sugino

Bank Central Asia (BCA) 
Ac. 5270348523
An. Edi Sugino

Jika mentransfer dana bantuan, mohon menginformasikan pada saya atau bro 
Edi Sugino via SMS.

abin: abin_a...@app. co.id (085746138868) atau 
edi sugino: edi_sug...@app. co.id (081513001808)

Mettacettana,
Abin Nagasena





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke