® -----Original Message----- From: [email protected]
Date: Fri, 24 Jul 2009 09:14:38 To: Milis SamaggiPhala<[email protected]>; Buddha Vacana<[email protected]> Subject: [buddhavacana] Update Penggalangan Bantuan untuk Sidarta, Lumajang Namo Buddhaya, Berikut update dana untuk Sidarta, Lumajang (Ibu Nissa) per 24 Juli 2009. Terima kasih untuk perhatian besar dari para donatur dan respon yang begitu cepat untuk kasus ini. Kamis, 23 Juli 2009 sempat konsultasi dengan dosen mata kuliah psikologi faal yang juga seorang dokter mengenai penyakit Sidarta tersebut, dan dokter menyatakan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan persentase kesembuhan karena itu perlu pertimbangan medis (berdasarkan hasil diagnosa lebih lanjut), namun dengan beberapa pertimbangan non-medis (terutama faktor usia dan gejala yang tampak), kemungkinan untuk sembuh masih sangat besar, walaupun dosen saya tidak mau memberikan perkiraan dalam persentase. Namun dosen saya mengingatkan saya bahwa pengobatan akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Saya juga telah meminta rekomendasi rumah sakit terdekat yang bisa dirujuk untuk pengobatan selanjutnya, dosen saya mengatakan bahwa terapinya mungkin bisa ditangani oleh rumah sakit di Lumajang. Jika semisal rumah sakit di Lumajang tidak cukup fasilitas, harusnya rumah sakit di Malang bisa. Saya sendiri kebetulan sedang mencari distributor majalah di kota-kota kabupaten di Jawa Timur, termasuk Lumajang walau Lumajang sebetulnya belum masuk jadwal, namun terkait kasus Sidarta ini, jadwal Lumajang dimajukan. Kemungkinan besar tanggal 2 Agustus 2009 saya akan kembali ke Lumajang, karena ada umat yang ingin berdana makanan organic yang berkhasiat melawan pertumbuhan kanker. Sekalian saya menyelesaikan urusan di Lumajang. Sekali lagi, anumodana atas dana parami para donatur. Mohon bantuannya juga untuk menforwardkan pada rekan-rekan lainnya. +++++++++++++++++++++++++++++ 22/Jul/2009 Dana dari Kel. Thio Ie Kong 200,000 22/Jul/2009 Dana dari Adiharta 300,000 23/Jul/2009 Dana dari Tjhia Jhohan 100,000 23/Jul/2009 Dana dari Amin Untario 500,000 23/Jul/2009 Dana dari Kel. Suhairi 500,021 23/Jul/2009 Dana dari Lie Mei Ling & Audrey T 100,005 23/Jul/2009 Dana dari N.N. 201,250 23/Jul/2009 Dana dari Lily Sumiko 370,000 23/Jul/2009 Dana dari Sushan Gazali & Kel. 200,000 23/Jul/2009 Dana dari Darma Sanjaya 200,000 23/Jul/2009 Dana dari Hasan Gunawan 100,003 23/Jul/2009 Dana dari Mijanna 200,000 23/Jul/2009 Dana dari N.N. 50,168 23/Jul/2009 Dana dari Liong Lie Ching 200,008 23/Jul/2009 Dana dari Wiwin M. 150,000 24/Jul/2009 Dana dari Santi Widjaya Oei 150,000 Total per 24 Juli 2009 3,521,455 ++++++++++++++++++++++++++++ Please support. MOHON DITERUSKAN PADA PARA DONATUR LAINNYA.... ++++++++++++++ Namo Buddhaya, Hari minggu kemaren, hari terakhir UAS semester 6. Pukul 12.00 ujian sudah selesai dan aku bergegas pulang ke Sidoarjo. Setelah makan siang dan mandi, aku meluncur menuju ke arah Lumajang, Jawa Timur. Sebelumnya saya sempat bingung, harus meluncur ke Lumajang atau meluncur ke Madiun, karena ada 2 kasus yang harus saya survey. Yang pertama ada di Madiun, sedang yang kedua ada di Lumajang. Namun, karena saya sudah beberapa kali bantuan digalangkan untuk Madiun, kali ini saya coba melongok ke arah yang berbeda. Dan lagi dari informasi yang saya terima, kasus di Lumajang ini lebih menarik perhatian saya. Saya meluncur bersama teman saya yang bernama Frans. Sepanjang perjalanan menuju Lumajang tidak ada yang cukup menarik untuk diceritakan, selain beberapa kali kami berhenti untuk ngopi, ada sedikit diskusi tentang orang yang sedang kami tuju di Lumajang, yakni seorang janda satu anak, sebut saja ibu Nissa (bukan nama sebenarnya). Anak ibu Nissa bernama, Sidarta, berusia 10 tahun. Suami ibu Nissa bernama pak Warsito, meninggal dalam sebuah kejadian di perkebunan tempatnya bekerja sekitar 2 tahun lalu. Saya lebih tertarik pada kasus Lumajang ini, karena dari nama orangnya saja, terkesan kalau ibu Nissa pasti bukan beragama Buddha, tetapi nama anaknya sangat terkesan beragama Buddha. Ibu Nissa pindah dari agama sebelumnya menjadi beragama Buddha sejak menikah dengan Pak Warsito. Hal ini membuat ibu Nissa dibuang dari keluarganya dan tidak lagi diakui sebagai anak oleh orang tuannya. Sejak pak Warsito meninggal, ibu Nissa berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya. Ibu Nissa bekerja sebagai buruh pabrik kerupuk, dan kadang membantu di perkebunan tembakau. Selama beberapa lama semua berlangsung cukup dengan tidak terlalu banyak masalah, namun kemudian muncul masalah-masalah yang kemudian membuat ibu Nissa dipecat dari pabrik kerupuk, lalu kemudian tidak diperkenankan membantu-bantu di perkebunan tembakau. Hari menjelang sore ketika kami sampai di tempat bu Nissa, tempat yang cukup jauh dari keramaian kota. Kami menemui ibu Nissa dan berbincang-bincang dengannya, dan akhirnya mendapatkan beberapa informasi. Ibu Nissa dipecat tanpa ada kesalahan, pihak pabrik sempat menyatakan bahwa tidak berdaya dan harus memecat ibu Nissa demi kepentingan pabrik. Ibu Nissa tidak diperkenankan membantu di perkebunan tembakau hanya dengan alasan bahwa tenaganya sudah tidak dibutuhkan. Walau tidak ada bukti, namun dapat saya simpulkan bahwa ibu Nissa kehilangan pekerjaannya karena campur tangan pihak ketiga. Menurut ibu Nissa, seminggu setelah dia kehilangan pekerjaannya, pihak keluarganya mendatanginya dan menawarkan bantuan, tapi dengan syarat bahwa dia harus kembali ke agamanya yang dulu, juga anaknya. Namun ibu Nissa bertahan pada agama yang dipeluknya sekarang, terutama karena dia merasa sejak menganut ajaran Buddha, dia tidak punya banyak beban batin. Merasa lebih damai. Informasi lain yang saya dapat adalah bahwa Sidarta memiliki seorang adik perempuan bernama, Mita. Ibu Nissa sempat terdiam beberapa saat ketika berkisah tentang Mita. Perlahan namun pasti matanya memerah dan basah. Mita meninggal setahun lalu karena DBD. Ibu Nissa berjuang sendiri menyelamatkan Mita, namun Mita akhirnya meninggal. Kisah Ibu Nissa ini membuat saya merinding waktu mendengarkan. Tengah malam gelap hingga subuh, ibu Nissa berjalan kaki menggendong Mita mencari pertolongan ke puskesmas, namun Mita tidak tertolong. Sebuah pelepasan yang sangat berat. Ketika bercerita tentang Mita, ibu Nissa berusaha menahan air matanya jatuh, namun tetap saja banjir di matanya tidak dapat dibendungnya. Sejak tidak bekerja di pabrik krupuk dan perkebunan tembakau, ibu Nissa hanya menggantungkan hidupnya dari berjualan apa saja yang bisa dihasilkan dari halaman rumahnya. Dagangan tidak seberapa dijajakan ke rumah rumah penduduk atau ke pasar yang cukup jauh. Namun, kini ibu Nissa nampaknya membutuhkan uluran tangan, karena anaknya Sidarta telah divonis menderita leukemia type LLA. Gejala yang sudah tampak adalah cepat lelah dan nyeri perut. Saya berusaha berpikir logis, tidak mau emosional. Karena urusan ini akan membutuhkan biaya dalam jumlah besar. Saya sarankan pada ibu Nissa untuk memenuhi apa yang disyaratkan oleh keluarganya yakni kembali pada agamanya yang lama asalkan keluarganya itu mau membiayai pengobatan Sidarta. Namun, ibu Nissa bersikukuh bahwa dia tidak akan kembali pada agama lamanya. Apalagi syarat dari keluarganya, Sidarta harus juga pindah agama. Kalaupun ia mau, belum tentu Sidarta mau. Dan benar, Sidarta tidak mau. Karena alasan norma, kami tidak dapat menginap di rumah ibu Nissa. Langit sudah gelap ketika saya dan Frans meluncur memasuki pusat kota Lumajang. Kami mencari penginapan seadanya untuk beristirahat. Keesokan siangnya kami kembali ke Surabaya. Walau kita sangat sadar bahwa kemampuan kita sangat terbatas. Mereka yang kita bantu juga endingnya tragis dan tidak selamat. 2 hari saya memikirkan hal ini, berusaha memecahkan dengan cara lain, namun akhirnya hari ini saya kembalikan ke forum. Karena saya sedang memasuki masa liburan kuliah hingga awal September 2009, memungkinkan saya untuk pergi sewaktu-waktu. Akan tetapi saya pasti kembali ke ibu Nissa pada 16-17 Agustus 2009. Memasuki masa Vassa ini, bagi yang ingin berdana, seperti biasa dana bisa dikumpulkan via account bro Edi Sugino. Bank International Indonesia (BII) Ac. 1174113160 An. Edi Sugino Bank Central Asia (BCA) Ac. 5270348523 An. Edi Sugino Jika mentransfer dana bantuan, mohon menginformasikan pada saya atau bro Edi Sugino via SMS. abin: abin_a...@app. co.id (085746138868) atau edi sugino: edi_sug...@app. co.id (081513001808) Mettacettana, Abin Nagasena [Non-text portions of this message have been removed]
