® -----Original Message----- From: [email protected]
Date: Wed, 5 Aug 2009 15:43:09 To: Milis SamaggiPhala<[email protected]>; Buddha Vacana<[email protected]> Cc: <[email protected]> Subject: [buddhavacana] Update Bantuan dan Kunjungan ke Sidarta, Lumajang Hari Jumat siang, 31 Juli 2009 lalu saya berangkat menuju ke arah Selatan. Tujuan saya hari ini adalah kota Malang dan sekitarnya untuk mencari distributor/agen/toko buku untuk konsiyasi. Setelah berkeliling beberapa tempat di Malang (namun tidak mendapatkan hasil), akhirnya saya pun menginap di Malang di sebuah penginapan sederhana bergaya Bali di daerah Blimbing. Keesokan harinya saya bergerak menuju Probolinggo. Di Probolinggo saya mendatangi beberapa toko buku, namun sayang toko-toko tersebut adalah outlet saja dan bukan distributor. Selepas tengah hari, saya mampir ke sebuah rumah sakit swasta di Probolinggo untuk mendapatkan masukan pengobatan dan biaya-biayanya. Tidak banyak informasi yang bisa saya dapatkan karena dokter hanya menjelaskan secara umum dan garis besar saja. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pasien yang hadir untuk diperiksa dan sehingga dokter tidak dapat memutuskan jenis therapi yang bisa dipakai. Setelah mendapatkan perkiraan besaran angka, saya pun meninggalkan rumah sakit. Tentu saja sesi konsultasi ini adalah sesi berbayar layaknya orang sakit berkunjung ke dokter. Saya segera bergegas menuju Lumajang. Walau tidak banyak yang dapat saya lakukan karena hari sudah sore. Saya hanya sempat menyerahkan sebotol besar makanan organic titipan dari Sis. Neli yang sengaja dikirimkan dari Jakarta. Thanks a lot. Saya jelaskan cara konsumsinya persis seperti catatan Sis Neli. Setelah janjian besoknya saya akan mengajak Sidarta jalan-jalan (sekaligus ke rumah sakit tentunya), saya bergegas menuju ke arah kota Lumajang. Saya bermalam di sebuah penginapan kecil. Begitu masuk ke kamar, saya merebahkan diri sebentar di tempat tidur... saya langsung terlelap... mohon maaf nih, tidak sempat mandi. Cape banget. Esoknya, hari Minggu, pagi-pagi sekali saya keliling-keliling sekitar penginapan. Sekedar menghirup udara pagi, ngopi, sarapan dan merokok. Sekitar jam 8 saya sudah kembali meluncur di jalan, mendatangi agen/distributor buku. Menjelang jam 10 saya mengarah ke kediaman Ibu Nissa (Sidarta). Siang itu saya mengajak Sidarta jalan-jalan lalu menjelang tengah hari kami makan siang di sebuah warung. Walau kami baru bertemu tiga kali, tapi nampaknya Sidarta cukup adaptif dan tidak malu-malu lagi. Sidarta ternyata cukup lucu dan suka bercanda. Setelah makan dan beristirahat (saya khawatir kalau Sidarta kecapean, karena dia cepat sekali lelah), kami meluncur menuju sebuah rumah sakit swasta di tengah kota Lumajang. Setelah registrasi, kami bertemu dengan dokter MS. Setelah saya menceritakan semua, dan memberikan beberapa catatan medis yang saya pinjam dari Ibu Nissa, dokter meminta kami memanggil seorang dokter lain untuk ikut dalam konsultasi ini. Konsultasi ini berlangsung cukup lama, (walau banyak hal yang saya tidak paham ketika kedua dokter bertukar pendapat), tapi pada bagian akhir, dokter menyatakan bahwa perlu dilakukan pemeriksaan dan test lebih lanjut, namun dokter berpendapat bahwa secara fisik berdasarkan gejala yang ada, kondisi Sidarta masih sangat baik untuk menjalani perawatan. Setelahnya, saya menanyakan perkiraan biaya perawatan. Dokter tidak bisa memberi angka pasti, hanya saja dokter menjelaskan, tanpa menghitung biaya pemakaian fasilitas rumah sakit (hanya biaya obat dan tenaga medis), sudah akan mencapai angka belasan juta. Kebanyakan biaya karena mahalnya obat dan medical lab test. Ditambah dengan fasilitas rumah sakit bisa mencapai dua puluh hingga tiga puluh juta. Dokter juga mengingatkan bahwa tahapan pengobatan akan memakan waktu sampai sekitar 2 tahun hingga benar-benar sembuh. (so, ini merupakan sebuah komitmen besar untuk terus memantau). Berdasarkan referensi dari dokter, hari itu juga dilakukan test lab dengan mengambil sampel darah Sidarta. Dalam beberapa hari akan didapatkan hasilnya. Karena saya belum pasti dapat kembali ke Lumajang minggu depan, maka saya minta dokter untuk dapat menginformasikan hasil test lewat telpon ataupun lewat email. Akhirnya saya meninggalkan nomor handphone saya dan alamat email saya. (Rencana semula untuk berkunjung kembali pada 16-17 Agustus menjadi tentatif karena ada undangan peliputan Jambore Nasional club motor di Blitar, Bali dan Lombok (Lombok saya tidak bisa hadir, terlalu jauh). Untuk tahap awal, dokter memberikan resep beberapa obat yang harus diminum oleh Sidarta untuk menjaga kestabilan dan staminanya. Keluar dari ruangan dokter, saya menuju kamar obat untuk menebus resep tersebut. Obat yang lumayan banyak dan mahal. Untuk biaya test lab dan menebus obat saja, hampir mencapai 2 juta rupiah. Leukimia memang bukan penyakit murah. Keluar dari rumah sakit, sudah hampir jam 4 lebih sedikit. Cuaca agak mendung. Khawatir hujan, akhirnya kami mampir di sebuah rumah makan kecil. Sekalian kami cari makan dan saya juga pengen ngopi. Hujan yang dikhawatirkan turun, ternyata tidak turun. Akhirnya pas jam 5 sore, saya mengantarkan Sidarta pulang. Lagian dia kelihatan cape dan mulai mengantuk. Saya memintanya untuk berpenganan kuat-kuat pinggang saya. Sepanjang jalan saya mengajaknya ngobrol. Jika pegangannya mengendur, saya segera menepuk tangannya karena khawatir dia tertidur di boncengan. Sampai di rumah Ibu Nissa, saya segera menyerahkan kembali Sidarta beserta obat-obatan. Medical record dibawa oleh dokter rumah sakit. Setelah menjelaskan aturan minumnya dan memastikan ibu Nissa mengerti, saya juga menyerahkan 3 juta rupiah pada Ibu Nissa dengan bahwa itu adalah biaya untuk pengobatan Sidarta dan selama saya belum kembali ke Lumajang, uang itu boleh digunakan untuk kondisi emergency menyangkut kesehatan Sidarta. Lalu saya segera pamit. Karena hari sudah gelap, saya berpikir untuk bertahan di Lumajang, namun mengingat hari besoknya saya ada tanggungan di kantor, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Surabaya saat itu juga. Perjalanan pulang cukup padat, mungkin karena banyak orang yang keluar kota pada akhir pekan juga bergegas pulang karena besok sudah hari kerja. Beberapa kali hampir saja celaka karena berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Kecepatan tinggi dengan pandangan yang tidak jelas karena jalan yang gelap dan silau oleh lampu kendaraan dari arah yang berlawanan. Saya akhirnya mengurangi kecepatan laju motor saya dengan resiko waktu tempuh menjadi lebih lama. Alhasil saya baru sampai di rumah menjelang tengah malam. Perjalanan yang cukup melelahkan, namun pantas untuk ditempuh. Berikut update rekapan bantuan hingga hari ini 5 Agustus 2009. Bagi yang sudah mentransfer dana, mohon untuk memeriksa rekapan di bawah ini untuk memastikan dananya sudah diterima. Jika ada yang salah atau tidak cocok, tolong untuk dapat menghubungi saya atau bro Edi. Bagi yang ingin berdana kesempatan masih terbuka. (caranya lihat bagian akhir posting ini). Mettacettana, Abin Nagasena ================================================ 22/Jul/2009 Dana dari Kel. Thio Ie Kong 200,000 22/Jul/2009 Dana dari Adiharta 300,000 23/Jul/2009 Dana dari Tjhia Jhohan 100,000 23/Jul/2009 Dana dari Amin Untario 500,000 23/Jul/2009 Dana dari Kel. Suhairi 500,021 23/Jul/2009 Dana dari Lie Mei Ling & Audrey T 100,005 23/Jul/2009 Dana dari N.N. 201,250 23/Jul/2009 Dana dari Lily Sumiko 370,000 23/Jul/2009 Dana dari Sushan Gazali & Kel. Samarinda 200,000 23/Jul/2009 Dana dari Darma Sanjaya 200,000 23/Jul/2009 Dana dari Hasan Gunawan 100,003 23/Jul/2009 Dana dari Mijanna 200,000 23/Jul/2009 Dana dari N.N. 50,168 23/Jul/2009 Dana dari Liong Lie Ching 200,008 23/Jul/2009 Dana dari Wiwin M. 150,000 24/Jul/2009 Dana dari Kel. Santi Widjaya & Gunawan Halim 100,000 24/Jul/2009 Dana dari Kel. Lalan & Djaja 50,000 24/Jul/2009 Dana dari Lauw Siu Lie 100,000 24/Jul/2009 Dana dari Suherman Then 500,000 24/Jul/2009 Dana dari Tan Siau Ming 500,000 24/Jul/2009 Dana dari Jaya 100,000 24/Jul/2009 Dana dari Tjahja Setiawati 100,000 24/Jul/2009 Dana dari Thio Hendra Wijana 200,000 24/Jul/2009 Dana dari Yulia Pannasiri 200,000 24/Jul/2009 Dana dari Lie Kam Lok 100,000 24/Jul/2009 Dana dari Agus Salim 100,008 24/Jul/2009 Dana dari N.N. 200,000 24/Jul/2009 Dana dari Herman 200,000 27/Jul/2009 Dana dari Lita 100,007 27/Jul/2009 Dana dari Kasman 200,002 27/Jul/2009 Dana dari IR Hadi Pramana 100,000 27/Jul/2009 Dana dari Jogiani 100,000 27/Jul/2009 Dana dari Kurniadi Tjahya 250,000 27/Jul/2009 Dana dari Ilphin 100,000 27/Jul/2009 Dana dari Wi - Se 500,008 27/Jul/2009 Dana dari Johny 100,088 27/Jul/2009 Dana dari N.N. 50,000 27/Jul/2009 Dana dari Sufinocoyo Halim 200,000 27/Jul/2009 Dana dari Dana Sosial Perawang 1,000,000 27/Jul/2009 Dana dari Obi Wan Kenobi 500,006 27/Jul/2009 Dana dari Pan Pernan 100,000 27/Jul/2009 Dana dari Sufenwati 200,000 27/Jul/2009 Dana dari Petty Mulyawan 150,000 27/Jul/2009 Dana dari Martin Norhaini 100,000 27/Jul/2009 Dana dari Dharmamitta 500,000 28/Jul/2009 Dana dari Chayadi 500,000 28/Jul/2009 Dana dari Hanny & Kel. 50,000 28/Jul/2009 Dana dari Lucilia Handojo 100,000 28/Jul/2009 Dana dari Ir. Yulistina 100,000 28/Jul/2009 Dana dari Vera Jessica Tjian 100,005 28/Jul/2009 Dana dari Nelly Winata 20,000 29/Jul/2009 Dana dari Wiryanto Widjaja 100,001 29/Jul/2009 Dana dari Juliani 104,555 29/Jul/2009 Dana dari Jeffry Halim 200,000 29/Jul/2009 Dana dari 魏信女 500,000 29/Jul/2009 Dana dari Arman Ali 250,000 29/Jul/2009 Dana dari Juliarni 500,000 29/Jul/2009 Dana dari Lisa Adi Cahyadi 50,008 29/Jul/2009 Dana dari N.N. 100,001 29/Jul/2009 Dana dari Tahadi Sun 200,008 30/Jul/2009 Dana dari Yanna Harianto 200,008 30/Jul/2009 Dana dari Henry Chen 300,089 31/Jul/2009 Dana dari Sumber Rusi Handono 100,009 3/Aug/2009 Dana dari Hendra 50,008 3/Aug/2009 Dana dari Ang Thian YU 50,000 3/Aug/2009 Dana dari Lunarty 100,000 3/Aug/2009 Dana dari Hendra Jaya 100,000 3/Aug/2009 Dana dari Suzan 50,000 3/Aug/2009 Dana dari Hemawati Nurhalim 100,469 4/Aug/2009 Dana dari Surjani 100,000 4/Aug/2009 Dana dari Karman Tjandra 100,000 4/Aug/2009 Dana dari Hendri 100,000 4/Aug/2009 Dana dari In Lie 200,000 4/Aug/2009 Dana dari Ramli 100,000 4/Aug/2009 Dana dari Fut Sian 30,002 5/Aug/2009 Dana dari Liony Wiguna 200,000 5/Aug/2009 Dana dari henny Setiawan 50,000 5/Aug/2009 Dana dari Imelda 50,099 5/Aug/2009 Dana dari Lie Njoek Fie 10,009 Total per 5 Agustus 2009 Rp 14,936,845 ============================================== Bantuan dana Untuk Sidarta - Lumajang Please support. MOHON DITERUSKAN PADA PARA DONATUR LAINNYA.... ++++++++++++++ Namo Buddhaya, Hari minggu kemaren, hari terakhir UAS semester 6. Pukul 12.00 ujian sudah selesai dan aku bergegas pulang ke Sidoarjo. Setelah makan siang dan mandi, aku meluncur menuju ke arah Lumajang, Jawa Timur. Sebelumnya saya sempat bingung, harus meluncur ke Lumajang atau meluncur ke Madiun, karena ada 2 kasus yang harus saya survey. Yang pertama ada di Madiun, sedang yang kedua ada di Lumajang. Namun, karena saya sudah beberapa kali bantuan digalangkan untuk Madiun, kali ini saya coba melongok ke arah yang berbeda. Dan lagi dari informasi yang saya terima, kasus di Lumajang ini lebih menarik perhatian saya. Saya meluncur bersama teman saya yang bernama Frans. Sepanjang perjalanan menuju Lumajang tidak ada yang cukup menarik untuk diceritakan, selain beberapa kali kami berhenti untuk ngopi, ada sedikit diskusi tentang orang yang sedang kami tuju di Lumajang, yakni seorang janda satu anak, sebut saja ibu Nissa (bukan nama sebenarnya). Anak ibu Nissa bernama, Sidarta, berusia 10 tahun. Suami ibu Nissa bernama pak Warsito, meninggal dalam sebuah kejadian di perkebunan tempatnya bekerja sekitar 2 tahun lalu. Saya lebih tertarik pada kasus Lumajang ini, karena dari nama orangnya saja, terkesan kalau ibu Nissa pasti bukan beragama Buddha, tetapi nama anaknya sangat terkesan beragama Buddha. Ibu Nissa pindah dari agama sebelumnya menjadi beragama Buddha sejak menikah dengan Pak Warsito. Hal ini membuat ibu Nissa dibuang dari keluarganya dan tidak lagi diakui sebagai anak oleh orang tuannya. Sejak pak Warsito meninggal, ibu Nissa berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya. Ibu Nissa bekerja sebagai buruh pabrik kerupuk, dan kadang membantu di perkebunan tembakau. Selama beberapa lama semua berlangsung cukup dengan tidak terlalu banyak masalah, namun kemudian muncul masalah-masalah yang kemudian membuat ibu Nissa dipecat dari pabrik kerupuk, lalu kemudian tidak diperkenankan membantu-bantu di perkebunan tembakau. Hari menjelang sore ketika kami sampai di tempat bu Nissa, tempat yang cukup jauh dari keramaian kota. Kami menemui ibu Nissa dan berbincang-bincang dengannya, dan akhirnya mendapatkan beberapa informasi. Ibu Nissa dipecat tanpa ada kesalahan, pihak pabrik sempat menyatakan bahwa tidak berdaya dan harus memecat ibu Nissa demi kepentingan pabrik. Ibu Nissa tidak diperkenankan membantu di perkebunan tembakau hanya dengan alasan bahwa tenaganya sudah tidak dibutuhkan. Walau tidak ada bukti, namun dapat saya simpulkan bahwa ibu Nissa kehilangan pekerjaannya karena campur tangan pihak ketiga. Menurut ibu Nissa, seminggu setelah dia kehilangan pekerjaannya, pihak keluarganya mendatanginya dan menawarkan bantuan, tapi dengan syarat bahwa dia harus kembali ke agamanya yang dulu, juga anaknya. Namun ibu Nissa bertahan pada agama yang dipeluknya sekarang, terutama karena dia merasa sejak menganut ajaran Buddha, dia tidak punya banyak beban batin. Merasa lebih damai. Informasi lain yang saya dapat adalah bahwa Sidarta memiliki seorang adik perempuan bernama, Mita. Ibu Nissa sempat terdiam beberapa saat ketika berkisah tentang Mita. Perlahan namun pasti matanya memerah dan basah. Mita meninggal setahun lalu karena DBD. Ibu Nissa berjuang sendiri menyelamatkan Mita, namun Mita akhirnya meninggal. Kisah Ibu Nissa ini membuat saya merinding waktu mendengarkan. Tengah malam gelap hingga subuh, ibu Nissa berjalan kaki menggendong Mita mencari pertolongan ke puskesmas, namun Mita tidak tertolong. Sebuah pelepasan yang sangat berat. Ketika bercerita tentang Mita, ibu Nissa berusaha menahan air matanya jatuh, namun tetap saja banjir di matanya tidak dapat dibendungnya. Sejak tidak bekerja di pabrik krupuk dan perkebunan tembakau, ibu Nissa hanya menggantungkan hidupnya dari berjualan apa saja yang bisa dihasilkan dari halaman rumahnya. Dagangan tidak seberapa dijajakan ke rumah rumah penduduk atau ke pasar yang cukup jauh. Namun, kini ibu Nissa nampaknya membutuhkan uluran tangan, karena anaknya Sidarta telah divonis menderita leukemia type LLA. Gejala yang sudah tampak adalah cepat lelah dan nyeri perut. Saya berusaha berpikir logis, tidak mau emosional. Karena urusan ini akan membutuhkan biaya dalam jumlah besar. Saya sarankan pada ibu Nissa untuk memenuhi apa yang disyaratkan oleh keluarganya yakni kembali pada agamanya yang lama asalkan keluarganya itu mau membiayai pengobatan Sidarta. Namun, ibu Nissa bersikukuh bahwa dia tidak akan kembali pada agama lamanya. Apalagi syarat dari keluarganya, Sidarta harus juga pindah agama. Kalaupun ia mau, belum tentu Sidarta mau. Dan benar, Sidarta tidak mau. Karena alasan norma, kami tidak dapat menginap di rumah ibu Nissa. Langit sudah gelap ketika saya dan Frans meluncur memasuki pusat kota Lumajang. Kami mencari penginapan seadanya untuk beristirahat. Keesokan siangnya kami kembali ke Surabaya. Walau kita sangat sadar bahwa kemampuan kita sangat terbatas. Mereka yang kita bantu juga endingnya tragis dan tidak selamat. 2 hari saya memikirkan hal ini, berusaha memecahkan dengan cara lain, namun akhirnya hari ini saya kembalikan ke forum. Karena saya sedang memasuki masa liburan kuliah hingga awal September 2009, memungkinkan saya untuk pergi sewaktu-waktu. Akan tetapi saya pasti kembali ke ibu Nissa pada 16-17 Agustus 2009. Memasuki masa Vassa ini, bagi yang ingin berdana, seperti biasa dana bisa dikumpulkan via account bro Edi Sugino. Bank International Indonesia (BII) Ac. 1174113160 An. Edi Sugino Bank Central Asia (BCA) Ac. 5270348523 An. Edi Sugino Bank Sinar Mas (Simas) Ac. 0002028317 An. Edi Sugino Jika mentransfer dana bantuan, mohon menginformasikan pada saya atau bro Edi Sugino via SMS. abin: abin_a...@app. co.id (085746138868) atau edi sugino: edi_sug...@app. co.id (081513001808) Mettacettana, Abin Nagasena [Non-text portions of this message have been removed]
