Aku terusin ya Bud, ke milis asalnya budi anto wrote: > leukimia itu bukan penyakit yang gampang di sembuh kan, di indo ada > duit pun susah di obatin, > sebaiknya jangan hanya dana yang di kumpulkan, biaya operasi nga akan > di hitung (karena bisa di ajukan SKTM(surat keterangan tidak mampu)), > tapi kumpulkan juga relawan yang punya struktur sum2 darah yang sama > karena di dunia hanya ada kemungkina yang sama itu hanya 1 : 1.000.000 > saat ini yang ogut tau cuma tzuchi taiwan yang mengumpulkan relawan > sum2 darah (sama nga seh sum2 tulang belakang) , ohut taunya bagian > leukimia az > kalo emang niat mo membantu yang forward genean ke milis , silahkan > hubungi santi bag pengobatan : 021-6016332 > moga2 mereka bisa memberikan jawaban > > ------------------------------------------------------------------------ > *From:* Khaidi Wong <[email protected]> > *To:* Kongtai <[email protected]> > *Sent:* Wednesday, August 5, 2009 5:21:49 PM > *Subject:* [kongtai:9065] [Fwd: [samaggiphala] Update Bantuan dan > Kunjungan ke Sidarta, Lumajang] > > > > Hari Jumat siang, 31 Juli 2009 lalu saya berangkat menuju ke arah > Selatan. > Tujuan saya hari ini adalah kota Malang dan sekitarnya untuk mencari > distributor/ agen/toko buku untuk konsiyasi. Setelah berkeliling beberapa > tempat di Malang (namun tidak mendapatkan hasil), akhirnya saya pun > menginap di Malang di sebuah penginapan sederhana bergaya Bali di daerah > Blimbing. > > Keesokan harinya saya bergerak menuju Probolinggo. Di Probolinggo saya > mendatangi beberapa toko buku, namun sayang toko-toko tersebut adalah > outlet saja dan bukan distributor. Selepas tengah hari, saya mampir ke > sebuah rumah sakit swasta di Probolinggo untuk mendapatkan masukan > pengobatan dan biaya-biayanya. > > Tidak banyak informasi yang bisa saya dapatkan karena dokter hanya > menjelaskan secara umum dan garis besar saja. Hal ini disebabkan karena > tidak adanya pasien yang hadir untuk diperiksa dan sehingga dokter tidak > dapat memutuskan jenis therapi yang bisa dipakai. Setelah mendapatkan > perkiraan besaran angka, saya pun meninggalkan rumah sakit. Tentu saja > sesi konsultasi ini adalah sesi berbayar layaknya orang sakit berkunjung > ke dokter. > > Saya segera bergegas menuju Lumajang. Walau tidak banyak yang dapat saya > lakukan karena hari sudah sore. Saya hanya sempat menyerahkan sebotol > besar makanan organic titipan dari Sis. Neli yang sengaja dikirimkan dari > Jakarta. Thanks a lot. Saya jelaskan cara konsumsinya persis seperti > catatan Sis Neli. Setelah janjian besoknya saya akan mengajak Sidarta > jalan-jalan (sekaligus ke rumah sakit tentunya), saya bergegas menuju ke > arah kota Lumajang. Saya bermalam di sebuah penginapan kecil. Begitu > masuk > ke kamar, saya merebahkan diri sebentar di tempat tidur... saya langsung > terlelap... mohon maaf nih, tidak sempat mandi. Cape banget. > > Esoknya, hari Minggu, pagi-pagi sekali saya keliling-keliling sekitar > penginapan. Sekedar menghirup udara pagi, ngopi, sarapan dan merokok. > Sekitar jam 8 saya sudah kembali meluncur di jalan, mendatangi > agen/distributor buku. Menjelang jam 10 saya mengarah ke kediaman Ibu > Nissa (Sidarta). Siang itu saya mengajak Sidarta jalan-jalan lalu > menjelang tengah hari kami makan siang di sebuah warung. Walau kami baru > bertemu tiga kali, tapi nampaknya Sidarta cukup adaptif dan tidak > malu-malu lagi. Sidarta ternyata cukup lucu dan suka bercanda. > > Setelah makan dan beristirahat (saya khawatir kalau Sidarta kecapean, > karena dia cepat sekali lelah), kami meluncur menuju sebuah rumah sakit > swasta di tengah kota Lumajang. Setelah registrasi, kami bertemu dengan > dokter MS. Setelah saya menceritakan semua, dan memberikan beberapa > catatan medis yang saya pinjam dari Ibu Nissa, dokter meminta kami > memanggil seorang dokter lain untuk ikut dalam konsultasi ini. Konsultasi > ini berlangsung cukup lama, (walau banyak hal yang saya tidak paham > ketika > kedua dokter bertukar pendapat), tapi pada bagian akhir, dokter > menyatakan > bahwa perlu dilakukan pemeriksaan dan test lebih lanjut, namun dokter > berpendapat bahwa secara fisik berdasarkan gejala yang ada, kondisi > Sidarta masih sangat baik untuk menjalani perawatan. > > Setelahnya, saya menanyakan perkiraan biaya perawatan. Dokter tidak bisa > memberi angka pasti, hanya saja dokter menjelaskan, tanpa menghitung > biaya > pemakaian fasilitas rumah sakit (hanya biaya obat dan tenaga medis), > sudah > akan mencapai angka belasan juta. Kebanyakan biaya karena mahalnya obat > dan medical lab test. Ditambah dengan fasilitas rumah sakit bisa mencapai > dua puluh hingga tiga puluh juta. Dokter juga mengingatkan bahwa tahapan > pengobatan akan memakan waktu sampai sekitar 2 tahun hingga benar-benar > sembuh. (so, ini merupakan sebuah komitmen besar untuk terus memantau). > > Berdasarkan referensi dari dokter, hari itu juga dilakukan test lab > dengan > mengambil sampel darah Sidarta. Dalam beberapa hari akan didapatkan > hasilnya. Karena saya belum pasti dapat kembali ke Lumajang minggu depan, > maka saya minta dokter untuk dapat menginformasikan hasil test lewat > telpon ataupun lewat email. Akhirnya saya meninggalkan nomor handphone > saya dan alamat email saya. (Rencana semula untuk berkunjung kembali pada > 16-17 Agustus menjadi tentatif karena ada undangan peliputan Jambore > Nasional club motor di Blitar, Bali dan Lombok (Lombok saya tidak bisa > hadir, terlalu jauh). > > Untuk tahap awal, dokter memberikan resep beberapa obat yang harus > diminum > oleh Sidarta untuk menjaga kestabilan dan staminanya. Keluar dari ruangan > dokter, saya menuju kamar obat untuk menebus resep tersebut. Obat yang > lumayan banyak dan mahal. Untuk biaya test lab dan menebus obat saja, > hampir mencapai 2 juta rupiah. Leukimia memang bukan penyakit murah. > > Keluar dari rumah sakit, sudah hampir jam 4 lebih sedikit. Cuaca agak > mendung. Khawatir hujan, akhirnya kami mampir di sebuah rumah makan > kecil. > Sekalian kami cari makan dan saya juga pengen ngopi. Hujan yang > dikhawatirkan turun, ternyata tidak turun. Akhirnya pas jam 5 sore, saya > mengantarkan Sidarta pulang. Lagian dia kelihatan cape dan mulai > mengantuk. Saya memintanya untuk berpenganan kuat-kuat pinggang saya. > Sepanjang jalan saya mengajaknya ngobrol. Jika pegangannya mengendur, > saya > segera menepuk tangannya karena khawatir dia tertidur di boncengan. > > Sampai di rumah Ibu Nissa, saya segera menyerahkan kembali Sidarta > beserta > obat-obatan. Medical record dibawa oleh dokter rumah sakit. Setelah > menjelaskan aturan minumnya dan memastikan ibu Nissa mengerti, saya juga > menyerahkan 3 juta rupiah pada Ibu Nissa dengan bahwa itu adalah biaya > untuk pengobatan Sidarta dan selama saya belum kembali ke Lumajang, uang > itu boleh digunakan untuk kondisi emergency menyangkut kesehatan Sidarta. > Lalu saya segera pamit. Karena hari sudah gelap, saya berpikir untuk > bertahan di Lumajang, namun mengingat hari besoknya saya ada > tanggungan di > kantor, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Surabaya saat itu juga. > > Perjalanan pulang cukup padat, mungkin karena banyak orang yang keluar > kota pada akhir pekan juga bergegas pulang karena besok sudah hari kerja. > Beberapa kali hampir saja celaka karena berada dalam posisi yang tidak > menguntungkan. Kecepatan tinggi dengan pandangan yang tidak jelas karena > jalan yang gelap dan silau oleh lampu kendaraan dari arah yang > berlawanan. > Saya akhirnya mengurangi kecepatan laju motor saya dengan resiko waktu > tempuh menjadi lebih lama. Alhasil saya baru sampai di rumah menjelang > tengah malam. > Perjalanan yang cukup melelahkan, namun pantas untuk ditempuh. > > Berikut update rekapan bantuan hingga hari ini 5 Agustus 2009. > Bagi yang sudah mentransfer dana, mohon untuk memeriksa rekapan di bawah > ini untuk memastikan dananya sudah diterima. > Jika ada yang salah atau tidak cocok, tolong untuk dapat menghubungi saya > atau bro Edi. > Bagi yang ingin berdana kesempatan masih terbuka. (caranya lihat bagian > akhir posting ini). > > Mettacettana, > Abin Nagasena > > ============ ========= ========= ========= ========= > > 22/Jul/2009 Dana dari Kel. Thio Ie Kong 200,000 > 22/Jul/2009 Dana dari Adiharta 300,000 > 23/Jul/2009 Dana dari Tjhia Jhohan 100,000 > 23/Jul/2009 Dana dari Amin Untario 500,000 > 23/Jul/2009 Dana dari Kel. Suhairi 500,021 > 23/Jul/2009 Dana dari Lie Mei Ling & Audrey T 100,005 > 23/Jul/2009 Dana dari N.N. 201,250 > 23/Jul/2009 Dana dari Lily Sumiko 370,000 > 23/Jul/2009 Dana dari Sushan Gazali & Kel. Samarinda 200,000 > 23/Jul/2009 Dana dari Darma Sanjaya 200,000 > 23/Jul/2009 Dana dari Hasan Gunawan 100,003 > 23/Jul/2009 Dana dari Mijanna 200,000 > 23/Jul/2009 Dana dari N.N. 50,168 > 23/Jul/2009 Dana dari Liong Lie Ching 200,008 > 23/Jul/2009 Dana dari Wiwin M. 150,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Kel. Santi Widjaya & Gunawan Halim 100,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Kel. Lalan & Djaja 50,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Lauw Siu Lie 100,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Suherman Then 500,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Tan Siau Ming 500,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Jaya 100,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Tjahja Setiawati 100,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Thio Hendra Wijana 200,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Yulia Pannasiri 200,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Lie Kam Lok 100,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Agus Salim 100,008 > 24/Jul/2009 Dana dari N.N. 200,000 > 24/Jul/2009 Dana dari Herman 200,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Lita 100,007 > 27/Jul/2009 Dana dari Kasman 200,002 > 27/Jul/2009 Dana dari IR Hadi Pramana 100,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Jogiani 100,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Kurniadi Tjahya 250,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Ilphin 100,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Wi - Se 500,008 > 27/Jul/2009 Dana dari Johny 100,088 > 27/Jul/2009 Dana dari N.N. 50,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Sufinocoyo Halim 200,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Dana Sosial Perawang 1,000,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Obi Wan Kenobi 500,006 > 27/Jul/2009 Dana dari Pan Pernan 100,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Sufenwati 200,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Petty Mulyawan 150,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Martin Norhaini 100,000 > 27/Jul/2009 Dana dari Dharmamitta 500,000 > 28/Jul/2009 Dana dari Chayadi 500,000 > 28/Jul/2009 Dana dari Hanny & Kel. 50,000 > 28/Jul/2009 Dana dari Lucilia Handojo 100,000 > 28/Jul/2009 Dana dari Ir. Yulistina 100,000 > 28/Jul/2009 Dana dari Vera Jessica Tjian 100,005 > 28/Jul/2009 Dana dari Nelly Winata 20,000 > 29/Jul/2009 Dana dari Wiryanto Widjaja 100,001 > 29/Jul/2009 Dana dari Juliani 104,555 > 29/Jul/2009 Dana dari Jeffry Halim 200,000 > 29/Jul/2009 Dana dari 魏信女 500,000 > 29/Jul/2009 Dana dari Arman Ali 250,000 > 29/Jul/2009 Dana dari Juliarni 500,000 > 29/Jul/2009 Dana dari Lisa Adi Cahyadi 50,008 > 29/Jul/2009 Dana dari N.N. 100,001 > 29/Jul/2009 Dana dari Tahadi Sun 200,008 > 30/Jul/2009 Dana dari Yanna Harianto 200,008 > 30/Jul/2009 Dana dari Henry Chen 300,089 > 31/Jul/2009 Dana dari Sumber Rusi Handono 100,009 > 3/Aug/2009 Dana dari Hendra 50,008 > 3/Aug/2009 Dana dari Ang Thian YU 50,000 > 3/Aug/2009 Dana dari Lunarty 100,000 > 3/Aug/2009 Dana dari Hendra Jaya 100,000 > 3/Aug/2009 Dana dari Suzan 50,000 > 3/Aug/2009 Dana dari Hemawati Nurhalim 100,469 > 4/Aug/2009 Dana dari Surjani 100,000 > 4/Aug/2009 Dana dari Karman Tjandra 100,000 > 4/Aug/2009 Dana dari Hendri 100,000 > 4/Aug/2009 Dana dari In Lie 200,000 > 4/Aug/2009 Dana dari Ramli 100,000 > 4/Aug/2009 Dana dari Fut Sian 30,002 > 5/Aug/2009 Dana dari Liony Wiguna 200,000 > 5/Aug/2009 Dana dari henny Setiawan 50,000 > 5/Aug/2009 Dana dari Imelda 50,099 > 5/Aug/2009 Dana dari Lie Njoek Fie 10,009 > Total per 5 Agustus 2009 Rp 14,936,845 > ============ ========= ========= ========= ======= > > Bantuan dana Untuk Sidarta - Lumajang > Please support. > MOHON DITERUSKAN PADA PARA DONATUR LAINNYA.... > > ++++++++++++ ++ > > Namo Buddhaya, > > Hari minggu kemaren, hari terakhir UAS semester 6. Pukul 12.00 ujian > sudah > selesai dan aku bergegas pulang ke Sidoarjo. > Setelah makan siang dan mandi, aku meluncur menuju ke arah Lumajang, Jawa > Timur. > > Sebelumnya saya sempat bingung, harus meluncur ke Lumajang atau meluncur > ke Madiun, karena ada 2 kasus yang harus saya survey. Yang pertama ada di > Madiun, sedang yang kedua ada di Lumajang. Namun, karena saya sudah > beberapa kali bantuan digalangkan untuk Madiun, kali ini saya coba > melongok ke arah yang berbeda. Dan lagi dari informasi yang saya terima, > kasus di Lumajang ini lebih menarik perhatian saya. > > Saya meluncur bersama teman saya yang bernama Frans. Sepanjang perjalanan > menuju Lumajang tidak ada yang cukup menarik untuk diceritakan, selain > beberapa kali kami berhenti untuk ngopi, ada sedikit diskusi tentang > orang > > yang sedang kami tuju di Lumajang, yakni seorang janda satu anak, sebut > saja ibu Nissa (bukan nama sebenarnya). Anak ibu Nissa bernama, Sidarta, > berusia 10 tahun. Suami ibu Nissa bernama pak Warsito, meninggal dalam > sebuah kejadian di perkebunan tempatnya bekerja sekitar 2 tahun lalu. > > Saya lebih tertarik pada kasus Lumajang ini, karena dari nama orangnya > saja, terkesan kalau ibu Nissa pasti bukan beragama Buddha, tetapi nama > anaknya sangat terkesan beragama Buddha. Ibu Nissa pindah dari agama > sebelumnya menjadi beragama Buddha sejak menikah dengan Pak Warsito. Hal > ini membuat ibu Nissa dibuang dari keluarganya dan tidak lagi diakui > sebagai anak oleh orang tuannya. > > Sejak pak Warsito meninggal, ibu Nissa berusaha memenuhi kebutuhan > hidupnya dan anaknya. Ibu Nissa bekerja sebagai buruh pabrik kerupuk, dan > kadang membantu di perkebunan tembakau. Selama beberapa lama semua > berlangsung cukup dengan tidak terlalu banyak masalah, namun kemudian > muncul masalah-masalah yang kemudian membuat ibu Nissa dipecat dari > pabrik > > kerupuk, lalu kemudian tidak diperkenankan membantu-bantu di perkebunan > tembakau. > > Hari menjelang sore ketika kami sampai di tempat bu Nissa, tempat yang > cukup jauh dari keramaian kota. Kami menemui ibu Nissa dan > berbincang-bincang dengannya, dan akhirnya mendapatkan beberapa > informasi. > > Ibu Nissa dipecat tanpa ada kesalahan, pihak pabrik sempat menyatakan > bahwa tidak berdaya dan harus memecat ibu Nissa demi kepentingan pabrik. > Ibu Nissa tidak diperkenankan membantu di perkebunan tembakau hanya > dengan > > alasan bahwa tenaganya sudah tidak dibutuhkan. Walau tidak ada bukti, > namun dapat saya simpulkan bahwa ibu Nissa kehilangan pekerjaannya karena > campur tangan pihak ketiga. > > Menurut ibu Nissa, seminggu setelah dia kehilangan pekerjaannya, pihak > keluarganya mendatanginya dan menawarkan bantuan, tapi dengan syarat > bahwa > > dia harus kembali ke agamanya yang dulu, juga anaknya. Namun ibu Nissa > bertahan pada agama yang dipeluknya sekarang, terutama karena dia merasa > sejak menganut ajaran Buddha, dia tidak punya banyak beban batin. Merasa > lebih damai. > > Informasi lain yang saya dapat adalah bahwa Sidarta memiliki seorang adik > perempuan bernama, Mita. Ibu Nissa sempat terdiam beberapa saat ketika > berkisah tentang Mita. Perlahan namun pasti matanya memerah dan basah. > Mita meninggal setahun lalu karena DBD. Ibu Nissa berjuang sendiri > menyelamatkan Mita, namun Mita akhirnya meninggal. > > Kisah Ibu Nissa ini membuat saya merinding waktu mendengarkan. Tengah > malam gelap hingga subuh, ibu Nissa berjalan kaki menggendong Mita > mencari > > pertolongan ke puskesmas, namun Mita tidak tertolong. Sebuah pelepasan > yang sangat berat. Ketika bercerita tentang Mita, ibu Nissa berusaha > menahan air matanya jatuh, namun tetap saja banjir di matanya tidak dapat > dibendungnya. > > Sejak tidak bekerja di pabrik krupuk dan perkebunan tembakau, ibu Nissa > hanya menggantungkan hidupnya dari berjualan apa saja yang bisa > dihasilkan > > dari halaman rumahnya. Dagangan tidak seberapa dijajakan ke rumah rumah > penduduk atau ke pasar yang cukup jauh. > > Namun, kini ibu Nissa nampaknya membutuhkan uluran tangan, karena anaknya > Sidarta telah divonis menderita leukemia type LLA. Gejala yang sudah > tampak adalah cepat lelah dan nyeri perut. > > Saya berusaha berpikir logis, tidak mau emosional. Karena urusan ini akan > membutuhkan biaya dalam jumlah besar. Saya sarankan pada ibu Nissa untuk > memenuhi apa yang disyaratkan oleh keluarganya yakni kembali pada > agamanya > > yang lama asalkan keluarganya itu mau membiayai pengobatan Sidarta. > Namun, > > ibu Nissa bersikukuh bahwa dia tidak akan kembali pada agama lamanya. > Apalagi syarat dari keluarganya, Sidarta harus juga pindah agama. > Kalaupun > > ia mau, belum tentu Sidarta mau. Dan benar, Sidarta tidak mau. > > Karena alasan norma, kami tidak dapat menginap di rumah ibu Nissa. Langit > sudah gelap ketika saya dan Frans meluncur memasuki pusat kota Lumajang. > Kami mencari penginapan seadanya untuk beristirahat. Keesokan siangnya > kami kembali ke Surabaya. > > Walau kita sangat sadar bahwa kemampuan kita sangat terbatas. Mereka yang > kita bantu juga endingnya tragis dan tidak selamat. 2 hari saya > memikirkan > > hal ini, berusaha memecahkan dengan cara lain, namun akhirnya hari ini > saya kembalikan ke forum. > > Karena saya sedang memasuki masa liburan kuliah hingga awal September > 2009, memungkinkan saya untuk pergi sewaktu-waktu. Akan tetapi saya pasti > kembali ke ibu Nissa pada 16-17 Agustus 2009. > > Memasuki masa Vassa ini, bagi yang ingin berdana, seperti biasa dana bisa > dikumpulkan via account bro Edi Sugino. > > Bank International Indonesia (BII) > Ac. 1174113160 > An. Edi Sugino > > Bank Central Asia (BCA) > Ac. 5270348523 > An. Edi Sugino > > Bank Sinar Mas (Simas) > Ac. 0002028317 > An. Edi Sugino > > Jika mentransfer dana bantuan, mohon menginformasikan pada saya atau bro > Edi Sugino via SMS. > > abin: abin_a...@app. co.id (085746138868) atau > edi sugino: edi_sug...@app. co.id (081513001808) > > Mettacettana, > Abin Nagasena > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ > Anda menerima email ini karna Anda diregister ke Google Groups > "kongtai" group. > Untuk posting email, silahkan kirim ke [email protected] > Untuk keluar dari grup atau milis ini, kirim email kosong ke > [email protected] > Untuk pengaturan lainnya, kunjungi (atau klik) > http://groups.google.com/group/kongtai?hl=en > -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- >
