Save the Children • Join With Us :

- Kasih Dharma Peduli - Anak Asuh :

Source :  http://groups.yahoo.com/group/Kasih-Dharma-Peduli

May All Beings Be Happy

Anumodana !

®

-----Original Message-----
From: "felix thioris" <[email protected]>

Date: Thu, 13 Aug 2009 08:09:20 
To: ¤Email Kasih-Dharma-Peduli<[email protected]>
Subject: [Kasih-Dharma-Peduli] [artikel] Masa Kecil Yang Hilang ( sumber : Kick 
Andy - Metro TV )



Namo Buddhaya,

Di bawah ini merupakan kutipan kisah dari acara Kick Andy ( Metro TV ), tentang 
perjuangan anak2x yang tidak mampu bersekolah di karenakan kondisi ekonomi... 
Sungguh memprihatinkan! 

Semoga anak2x asuh Kasih Dharma Peduli dapat terus melanjutkan pendidikannya 
hingga tamat dan meraih masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarga 
serta masyarakat luas.

Kami Mengucapkan anumodana atas dukungan donatur dan sahabat2x Kasih Dharma 
selama ini, Harapan kami kedepannya Kasih Dharma Peduli dapat membantu lebih 
banyak lagi anak-anak yang kurang mampu.

Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada guru2x sekolah Dharma Widya, 
Deli Tua dan Boddhicitta yang selalu berusaha memberikan pendidikan yang baik 
kepada anak2x asuh.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta !

- Masa Kecil yang Hilang :

Seorang anak selayaknya menghabiskan masa kecilnya dengan cara-cara yang 
menyenangkan. Bebas melakukan apa saja yang diinginkannya, belajar atau 
sekolah, hingga bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Namun apa jadinya 
jika masa kecil yang harusnya dilalui dengan bahagia itu, terampas karena 
karena harus sibuk bekerja? 

Hal inilah yang harus dialami sejumlah tamu Kick Andy episode ini. Lukman, Agus 
dan Soleman contohnya. Tiga sekawan ini, harus menghabiskan hari-harinya di 
bengkel sepatu dan sandal di kawasan sentra industri alas kaki Jawa Barat. Dari 
pagi hingga malam hari. Di saat teman-teman sebayanya ceria pergi sekolah, 
Lukman sudah harus membanting tulang sejak usia 8 tahun. Lukman yang kini 
berusia 15 tahun, hanya bisa mencicipi indahnya masa sekolah sampai kelas 6 SD. 
Itupun tidak sampai tamat. Begitu juga kakak beradik Agus (13 tahun) dan 
Soleman (12 tahun). Mereka berdua lebih beruntung, mampu mengenyam bangku SMP, 
meski hanya sampai kelas 1 pertengahan. Cita-cita mereka bertiga menjadi 
pengusaha, dokter dan tentara harus kandas. Kondisi ekonomi keluarga yang 
sangat pas-pasan, memaksa mereka memilih bekerja menghidupi diri sendiri dan 
membantu orang tua. Putus asakah mereka? Tidak. Mereka tetap semangat bekerja 
dan menunggu kesempatan untuk bisa bersekolah lagi dan menggapai cita-citanya.

Masih banyak sektor lain yang melibatkan pekerja anak. Mulai dari anak-anak 
jalanan, pembantu rumah tangga, perkebunan dan pertambangan, hingga pekerja 
seks komersial. Kaminah misalnya. Ia menjadi salah satu bagian dari fenomena 
gunung es pembantu rumah tangga di bawah umur. Kaminah menjadi korban tradisi 
di kampungnya di Serang, yang terbiasa membiarkan anak perempuan setamat SD 
untuk bekerja sebagai PRT atau TKW. Pada usia 12 tahun, Kaminah pun pergi ke 
kota Tangerang untuk melamar menjadi PRT.

Dan itulah awal penderitaanya. Setelah sempat bekerja selama 1 tahun 9 bulan, 
keberuntungan Kaminah berakhir. Majikan keduanya ternyata tidak 
memperlakukannya dengan wajar. Siksaan mulai dari kata-kata kasar, hingga 
pukulan fisik harus menderanya setiap saat. Bahkan seterika panas pun pernah 
singgah di tubuhnya. Jatah makannya hanya diberikan sekali pada malam hari, 
setelah ia harus bekerja keras dari pagi hingga malam tanpa istirahat. Kaminah 
pun selalu dikurung di rumah dan gajinya ditahan. Tak tahan dengan semua itu, 
Kaminah nekat melarikan diri meloncati tembok rumah setinggi 3 meter, hingga 
ditemukan tetangga sekitar majikannya. Kini, berkat bantuan LSM Jala PRT, 
Kaminah memperkarakan kasusnya ke pengadilan.

Sementara kisah Rina, tak kalah tragis. Sebagai anak korban broken home, Rina 
harus berjuang mencari uang untuk kebutuhan diri sendiri dan sekolahnya, serta 
membantu sang ibu dan kedua adiknya. Bidang pekerjaan yang dipilihnya pun, 
membuat kita mengurut dada. Rina yang kini duduk di kelas 2 SMA, menjadi 
pekerja seks komersial di sebuah klub malam. Sejak usia 14 tahun atau SMP! 

Pergaulan dengan teman-teman yang kurang tepat, membuat tertarik Rina melakukan 
pekerjaan itu. Mudah (baginya) dan enak (tempat dan mendapatkan uangnya). Yang 
lebih mengherankan, seluruh teman-teman sekelasnya mengetahui profesinya itu. 
Dan Rina mengaku, mereka mampu merahasiakan ihwal pekerjaannya dari guru maupun 
sekolah. Sampai kapan Rina mampu merahasiakan pekerjaannya itu? 

Sementara Ibrahim (14 tahun) dan Sofie (15 tahun), adalah saksi hidup pekerja 
anak yang pernah mati-matian bekerja di Jermal. Jermal adalah sebuah bangunan 
kayu di lepas pantai, yang digunakan untuk menangkap ikan laut. Jermal sempat 
menjadi isu besar pada era tahun 1990-an, karena banyaknya eksploitasi pekerja 
anak di dalamnya. Sistem kerja yang berat, tanpa istirahat dan upah rendah 
serta potensi kekerasan fisik dan seksual, membuat pekerja anak di jermal 
seakan diperbudak. 

Cerita soal jermal ini jugalah, yang menarik perhatian sutradara Ravvi Bharwani 
dan Rayya Makarim, untuk menuangkannya dalam film layar lebar. Film yang 
berjudul sesuai namanya, Jermal, dibintangi oleh aktor watak senior Didi Petet. 
Bagaimana upaya Didi Petet menghayati perannya sebagai mandor jermal Melayu, 
yang bekas pembunuh dan berkarakter ”egois, kejam dan bangsat”? 

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu,
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, 
dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal 

- Source : http://www.kickandy.com/?ar_id=MTQ5Mg==&screen=11
®

------------------------------------

Yahoo! Groups Links





------------------------------------

** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia **

** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke