SULITNYA MENCARI “SETETES’ DARAH
Kompas, Senin, 24 Agustus 2009
 
Mencari darah untuk keperluan transfusi bukan perkara mudah.
Jika persediaan darah di PMI tidak ada,
orang harus pontang-panting mencari sendiri siapa pun yang bersedia menjadi
donor ( Oleh Budi Suwarna)
 
Kunto (38), karyawan sebuah perusahaan penerbitan buku di Yogyakarta ,
pernah mengalaminya. Tahun 1993, dia mengalami kecelakaan sepeda motor di
Kaliurang, Sleman, yang membuat kaki kanannya patah.
Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan, kaki Kunto
harus dioperasi sesegera mungkin. Jika terlambat, kaki itu terancam diamputasi.
Vonis itu disampaikan pagi hari beberapa saat setelah Kunto dirawat.
Namun, operasi tidak bisa segera dilakukan karena pihak
rumah sakit tidak memiliki persediaan darah golongan AB yang sesuai dengan
golongan darah Kunto. Keluarga Kunto pun menghubungi unit tranfusi PMI .
Sialnya, persediaan darah AB di sana 
sedang kosong.
“Keluarga saya lalu mencari donor ke sana 
kemari. Mereka menghubungi kerabat,
teman, hingga kenalan di Seminari Kentungan” tutur Kunto, Selasa(18/8)
Sore hari,
barulah keluarga Kunto berhasil mengumpulkan beberapa donor bergolongan darah
AB. Dari mereka terkumpul lima kantong darah yang digunakan untuk operasi sore
itu juga. ”Berkat kedermawanan mereka, kaki saya tidak diamputasi”tambah Kunto.
Situasi serupa
dialami Nurmala (70) seorang ibu rumah tangga di Kebayoran Lama Jakarta.
Seperti diceritakan anaknya, Kiki (30), Nurmala terkena demam berdarah pada
tahun 2007.
Ketika masuk
rumah sakit, kondisinya buruk. Pukul 10.30 dokter memutuskan Nurmala harus
mendapatkan tranfusi darah. ”Kami langsung mencari darah A untuk ibu ke PMI. 
Ternyata stok darah A habis.” tutur kiki
Jumat (21/8).
Kiki pun panik. Ditengah kepanikannya, dia menelepon teman
sekantornya untuk minta tolong dicarikan donor. Teman-teman Kiki pun bergerak 
cepat. Tengah Malam,
mereka berhasil mengumpulkan 10 pendonor darah. Darah merekalah yang akhirnya
menyelamatkan nyawa ibunda Kiki. 
”Saya sangat
terharu dengan kejadian itu. Bayangkan, para pendonor itu tidak kenal saya,
Tapi, mereka mau datang ke PMImalam-malam untuk menyumbangkan darah buat ibu
saya ”
Buat Kunto dan
Kiki, pengalaman mencari darah waktu itu tidak akan pernah terlupakan ”Ternyata
mencari darah itu susah. Mudah-mudahan, kejadian seperti itu tidak akan pernah
terulang lagi,” ujar Kunto

Kurang Stok
 
PMImemang sering mengalami defisit persediaan darah. Pasalnya, antara persediaan
dan pemintaan darah memang jomplang. Pada dialog peringatan Hari Donor Darah 
Sedunia Tahun 2008 terungkap,
kebutuhan darah di Indonesia per tahun rata-rata 4,3 juta kantong. Namun, 
persediaan rata-rata hanya 1,2
juta. Artinya, ada defisit 3,1 juta kantong darah per tahun.
Persediaan yang
ada pun, kata Ketua Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) Jakarta Pamudji R
Soetopo, bisa merosot pada saat-saat tertentu, seperti menjelang dan setelah
lebaran.
”Biasanya, dua
pekan sebelum dan setelah Lebaran , persediaan darah PMImerosot 50-60 persen 
karena para pendonor
banyak yang pulang kampung atau sibuk menyiapkan hari raya lebaran . Padahal,
orang yang butuh darah saat itu justru meningkat karena banyak kecelakaan lalu
lintas.” kata Pamudji yang juga Ketua Forum Komunikasi Dermawan Darah
(Fokuswanda).
Persediaan darah
yang minim di PMItidak pelak membuat Kunto dan Kiki masih sering waswas. ”Saya 
khawatir kalau
saya suatu ketika sakit dan butuh transfusi darah lagi. Soalnya darah AB
seperti yang mengalir di tubuh saya ini susah didapat,” ujar Kunto
Oleh karena itu,
ketika Kunto membaca surat pembaca yang ditulis Imam Maulana tentang perlunya
membuat komunitas orang bergolongan darah AB, Kunto langsung menghubungi Imam,
Pada akhir 2007, mereka pun berhasil membentuk komunitas AB.
Saat ini, jumlah anggotanya
sekitar 300 orang, tersebar di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Jakarta, 
Jepara dan Klaten. Mereka siap mendonorkan darah pada situasi darurat.
”Kami membentuk
konunitas ini karena orang bergolongan darah AB di Indonesia tergolong 
minoritas. Dari 100 irang, hanya satu
atau dua yang bergolongan AB,” kata Imam (28)
Selain komunitas
AB ada komunitas orang dengan golongan darah ”rhesus negatif-golongan darah yang
sangat langka di Indonesia. Ada pula Fokuswanda yang anggotanya 3500 orang di
seluruh Indonesia. Mereka adalah pendonornya yang telah menyumbangkan darahnya
lebih dari 100 kali.
Sekretaris
Jendral Fokuwanda Ariman Kusman. Jumat, mengatakan organisasinya memiliki data
pendonor dan golongan darahnya, ” Kalau ada orang yang butuh darah , kami
tinggal menghubungi anggora yang golongan darahnya cocok,”kata Arman.

Kami
mengadakan acara donor darah di Vihara Satrya Dharma, Teluk Gong Raya
No. 1. Minggu, 30 Agustus 2009 jam 10-12.. Kami tunggu kehadirannya..

Salam hangat,

Eric Hermanto
021-92728962
0816 117 447 8



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke