Perjalanan ke Medan

Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Polonia Medan. Bapak A, umat yang 
mengundangku menjemput sendiri. Karena sikapku yang  friendly monk, beliau tak 
sungkan beranjali, menggenggam dan menggandeng tanganku menuju mobil. Sikap 
yang sebenarnya mengungkapkan kerinduannya akan pertemuan ini.

Kami pertama bertemu saat bencana alam terjadi di Sumatra, saat aku baru pulang 
dari Myanmar. Komunikasi yang baik membuat hubungan berjalan baik. Beberapa 
kali beliau menelepon memintaku berkunjung lagi, hingga akhirnya kali ini aku 
turuti permintaannya.

Sebelumnya, beliau juga menawarkan tanahnya yang banyak untuk aku bangun center 
dan menetap. Namun aku tak menerima karena tahu kebikuanku masih muda, dan 
belum sanggup melakukan hal sebesar itu. Di sisi lain, aku menyadari kondisi 
meditasiku yang masih setengah jalan, masih mencari what happening with me. 
Karena dalam waktu dekat akan mengikuti Youth Bodhisatva Training di Thailand, 
saat itu aku mempunyai cukup alasan tak menerima permohonannya.

Sebagai orang terkaya di daerahnya, yang memiliki mal dan beberapa jenis usaha, 
sikap beliau terhadapku sangat rendah hati. Beliau menjemputku sendiri ke 
bandara, setelah itu kami ke tempat saudaranya menjemput anak dan istri beliau 
untuk kembali ke kota asalnya di pesisir Medan.

Berlima, Bapak A yang menyetir, aku yang duduk di sebelahnya dan istri beserta 
kedua anaknya duduk di belakang, mobil kami melaju.

Sebagaimana cerita aku sebelumnya dalam The Last Moment at Myanmar, masalahku 
berhubungan dengan mual bila berada dalam mobil dengan orang banyak, seiring 
waktu bisa aku atasi sedikit-sedikit. Yakni dengan mempertahankan kesadaran 
melalui meditasi akan sikap dudukku.

Dengan bersikap mindful atas tubuh, aku bisa merasakan udara berputar kencang 
di dalam kepalaku, lalu tersedot keluar keluar melalui ubun-ubun. Setelah itu 
isi kepalaku menjadi plong, kosong. Mual itu hilang.

Hal ini ada positif dan negatifnya. Positifnya, aku tak merasa mual lagi. 
Negatifnya, saking plongnya, kadang benar-benar tak ada lagi pikiran dalam 
kepala aku. Jadi aku bisa seperti orang ling lung tak tahu harus mengucapkan 
apa, bayangkan bila ini terjadi saat aku harus mengisi ceramah. Dan ini 
benar-benar pernah terjadi dalam sebuah kunjunganku di sebuah daerah, umat 
Mahayana terheran-heran melihat aku hanya memegang mic dalam waktu lama tanpa 
mengucap sepatah kata pun.Ini bukan mau menunjukkan ajaran Zen `tanpa kata', 
tapi memang kepalaku benar-benar blank, kosong!

Dengan latihan perhatian penuh saat duduk, berdiri dan berjalan maupun makan, 
perlahan juga aku menyadari segala bentuk pikiran yang berkecamuk itu bukan 
milikku. Bahkan pikiran itu juga bukan milikku. Bagaimana bisa menjadi milikku, 
sedangkan pikiran itu sendiri tak ada. Yang ada hanya bentuk-bentuk udara yang 
terus berputar.

Yang ada hanyalah tubuh ini, udara yang terus berputar, dan kesadaran yang 
menyadari proses yang terus berproses. Kesadaran ini juga selalu 
timbul-tenggelam. Anicca, dukkha, anatta.Tidak kekal, tidak ada aku, dukkha 
oleh kesadaran yang tak konstan. Ketika kesadaran kuat, dukkha dan sukkha 
hanyalah sikap batin yang bertamu, tapi ketika kesadaran lemah, dukkha dan 
sukha seolah menjadi `pemilik' rumah, kita tenggelam dalam ilusi. That's the 
real suffering.

Adapun halnya tubuh kasar ini, dibentuk sekian banyak bentuk kehidupan, 
mikroorganisme, kuman positif dan kuman negatif yang memiliki kehendak sendiri. 
Yang terus bertarung sepanjang hidup kita, di dalam tubuh kita. Bahkan saat 
nafas sudah pergi dari tubuh ini pun, mereka masih berproses untuk 
menghancurkan tubuh ini.

Apakah tubuh ini benar-benar milikku? Tentu saja tidak, karena di dalam tubuh 
ini juga hidup beragam mikroorganisme yang memiliki willnya sendiri, dengan 
kata lain di luar kontrol kita dan bukan milik kita. Tubuh kita hanya seperti 
lahan kehidupan bagi mereka sama seperti kita merasa bumi ini adalah lahan 
kehidupan kita. Saat kondisi batin yang tenang kita bisa merasakan 
gerakan-gerakan berproses dalam tubuh kita. Kalau dikatakan kita pemilik tubuh 
ini, bagaimana dengan ekosistim di dalam tubuh ini? Sekian banyak kehidupan 
yang ada di dalam tubuh ini, apakah mereka cuma numpang? Sepertinya tidak. 
Mereka adalah bagian dari tubuh ini, tanpa ada kehidupan dalam tubuh, berarti 
tubuh ini sendiri tak eksis lagi, jadi tubuh ini sendiri juga merupakan sebuah 
kumpulan kehidupan. Kita bukan pemilik tubuh ini, tapi kita betugas menjaga dan 
merawat tubuh ini, memakainya untuk melatih mencapai tingkat kesadaran yang 
lebih baik.

Kembali ke perjalanan aku bersama keluarga Bapak A di dalam mobil. Seperti 
biasa sepanjang perjalanan beliau banyak bertanya tentang Dharma, juga 
berkonsultasi yang aku jawab semampuku.

"Agama Buddha kita memang paling baguslah Bhante. Apa yang bhante jelaskan 
sangat bisa saya terima," katanya. Kemudian beliau membandingkan 
penjelasan-penjelasan yang sudah beliau dapat dari agama lain.

"Ini Bhante, ada kasetnya kalau Bhante mau dengar penjelasan dari agama mereka, 
gak apa-apakan kalau Bhante dengar ini?" katanya sambil menyetir memperlihatkan 
pada aku sebuah kaset dari eve angelis.

"Gak papa," kataku ketawa, menarik juga pikirku. Lalu beliau memasukkan kaset 
ke dalam tape mobil.

Ssst… tiba-tiba ada putih asap dan bau menyengat kabel terbakar muncul di dalam 
mobil.

"Pa, kebakaran Pa, ada bau kabel terbakar…bisa meledak Pa…" teriak anak dan 
istrinya dari belakang. Pak A buru-buru memberhentikan mobil dan kami semua 
keluar dari mobil.

"Pa… menjauh aja Pa.. bisa meledak Pa.." teriak istrinya. Asap putih makin 
banyak dan bau kabel terbakar makin tajam. Kami berdiri menjauh sepuluh meteran 
dari mobil.

Namun, instuisi dan pola orang lapangan membuat beliau kembali mendekati 
mobilnya untuk mencari sumber asap dan bau terbakar itu. Ternyata bersumber 
dari  kabel-kabel lampu asesoris yang ada di pijakan rem.

Segera beliau mencabut kabel-kabel itu, yang hasilnya perjalan kembali bisa 
kami lanjutkan.

Saat melanjutkan perjalanan, beliau mengurungkan niatnya untuk memutar kaset 
ceramah eve angelis itu.

"Jangan diputarlah. Memang tidak pantas memutar itu di depan Bhante," katanya 
serius.

"Tidak apa-apa, kok" kataku.

"Janganlah. Maaf yah Bhante udah lancang tadi," katanya, aku cuma tertawa.

Kami terus melanjutkan perjalanan. Hingga kemudian menjelang tengah malam, kami 
tiba di tujuan, beliau mengantar aku lebih dulu untuk menginap di Wihara 
Avalokitesvara.

Meski berjubah Theravada, tapi belakangan hari aku menyadari sepertinya jodoh 
aku lebih dekat dengan Avalokitesvara, hehe. Om Mani Padme Hum.

Gg.Melati, Jakarta 10 September 2009

Harpin R

Sumber: Harpin.wordpress.com

Kirim email ke