--- Pada Jum, 2/10/09, Kevin Suryaatmaja <[email protected]> menulis:
Dari: Kevin Suryaatmaja <[email protected]> Judul: Profesor yang menjadi supir-Kisah mengkhawatirkan Kepada: "Joey Hoei Beng" <[email protected]>, "Santy Chen" <[email protected]>, "Budiyono Tantrayoga" <[email protected]> Tanggal: Jumat, 2 Oktober, 2009, 11:11 PM Catatan untuk semua, sangat perlu diperhatikan kisah dibawah ini !! agar tidak terjadi pada anda Kisah pilu dari Negeri Singa Gejala yang terjadi di Singapura dan AS ini, sudah lama terjadi juga di Eropa, khususnya di U.K. Spesialisasi yg sangat sempit, memang bisa menjadi senjata ampuh untuk karir yang istimewa, bila sedang beruntung, dalam arti belum banyak orang mendalami ilmu yg sangat spesifik tsb. Tapi, kehidupan di era global ini berubah dgn cepat dan serba tak terduga. Karena itu, memang diperlukan fleksibilitas tinggi dalam menghadapi perubahan ini. Banyak bidang2 pendidikan tertentu yg sekarang dianggap jenuh. Yayasan AMINEF dari AS sudah lama tidak memberi beasiswa untuk bidang linguistics dan TEFL, walau kenyataannya guru bahasa Inggris masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Seorang teman saya, orang Inggris lulusan Manchester Metropolitan University jurusan English Teaching, terpaksa kerja di restauran untuk beberapa tahun, sebelum akhirnya menjadi pengajar bahasa Inggris di sebuah kursus di Hongkong. Untuk mengantisipasi hal tsb, universitas2 di Inggris kini membuka jurusan2 gabungan seperti yang disebutkan dalam artikel Dr Cai tsb, semisal: Mathematics with Business, English with Accounting, Mechanical Engineering with Management, dsb. Sayang, dunia pendidikan di Indonesia sering terlalu lambat merespons perubahan2 seperti itu. Kita masih terpaku pada pembagian bidang keilmuan tradisional yang kaku, semisal Sastra Inggris, Teknik Elektro, Akuntansi, dsb. Bahkan untuk melanjutkan ke S2 pun latar belakang S1 sangat menentukan. Padahal di Inggris untuk seorang lulusan jurusan bahasa sekalipun, bisa melanjutkan ke S2 bidang Information Technology misalnya. Kalau kita mau jujur, berapa orang sih, sebenarnya dari lulusan Sastra Inggris yg benar-benar menjadi penulis dalam bahasa Inggris? Jurusan kita (Pendidikan Bahasa Inggris) masih lebih dari lumayan. Sebagian besar lulusannya masih bekerja di bidang pendidikan bahasa Inggris, tapi Sastra Inggris? Di Inggris tidak ada yang namanya jurusan atau fakultas Sastra. Jurusan yg terkait dgn bahasa, biasanya terbagi dalam bidang linguistiks dan bahasa2 modern (Modern Languages). Di jurusan bahasa modern (semisal Inggris, Perancis, Jerman, dsb) inilah mahasiswa diajari sastra sebagai bagian dari bahasa modern tertentu yg dipelajari, jadi bukan di jurusan yang bernama sastra. Sementara itu, untuk linguistiks sendiri mereka sudah mendekati dan mengarah ke dunia artificial intelligence atau teknologi informatika. Untuk masuk jurusan linguistiks, calon mahasiswa harus memiliki nilai Math tertentu dalam ujian A-Level mereka, karena IT dan mathematicslogic akan merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran mereka nantinya. Kesimpulannya, dunia pendidikan sdg mengalami perubahan yg sangat cepat dan di dunia Barat sudah mengantisipasinya. Bagaimana dgn kita? Kalau soal karir dan pekerjaan, saya pernah terlibat sebagai koordinator bidang rekrutmen dan kerjasama di Student Advisory Center ( semacan Student Career Service) ITS. Pengalaman menunjukkan, bahwa mereka yg cepat mendapat pekerjaan adalah mereka yg memiliki soft-skills bagus dan beragam (kemampuan komunikasi, teamwork, organisasi, kepemimpinan, dsb) bukan mereka yg hanya punya IP tinggi. Juga ternyata banyak dari manajer2 perusahaan besar yg menduduki jabatan tidak sesuai dengan bidang studi yg ditekuninya di bangku kuliah dulu. Diatas itu semua, untungnya, ternyata kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris masih sangat mendominasi keputusan perekrutan karyawan baru di perusahaan2 besar. *Lulusan PhD Stanford Itu, Kini Jadi Sopir * Ia telah menghabiskan 16 tahun sebagai peneliti di Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB). Tapi akhirnya, nasib menjadikannya seorang supir. Cai Ming-jie tak pernah berpikir sebelumnya, jika kehidupannya berbalik 180%. Maklum, pria berkacamata ini sebelumnya adalah seorang ilmuwan dengan reputasi bagus. Pendidikan terakhir PhD bidang biokimia diselesaikan dari universitas ternama, Stanford University. Namun pria yang pernah menjadi kepala peneliti bidang genetika sel di IMCB ini pergi meninggalkan institusi bergengsi itu dan memilih menjadi sopir taksi. "Saya dipaksa keluar dari pekerjaan riset di saat karir saya berada di puncak, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan alasan yang hanya bisa saya katakan sebagai "keunikan dari Singapura", ujarnya dalam sebuah situs blog miliknya. “Akibatnya, saya mengemudi taksi untuk membuat hidup dan menulis kisah kehidupan nyata ini hanya untuk membuat pekerjaan yang membosankan sedikit lebih menarik. Saya berharap bahwa kisah-kisah yang menarik untuk Anda juga", ujar Dr. Cai. Berita mengenai Dr. Cai ini sangat mengejutkan masyarakat Singapura, sebuah negara yang tingkat kemajuan pendidikan dianggap tinggi dan tidak diragukan lagi. Seorang pekerja kerah putih yang sangat terkejut mengatakan, sebelumnya ia sangat yakin bahwa gelar setingkat doktoral dan pengalaman segudang merupakan jaminan untuk memiliki pekerjaan yang mapan dan kesuksesan abadi. "Jika ia akhirnya harus menjadi sopir taksi, maka kesempatan apa yang dimiliki orang-orang biasa seperti kami ini?" tanyanya. Saya pernah bertemu dengan sejumlah sopir taksi yang memiliki kualifikasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk mereka yang dulunya adalah manajer dan insinyur. Seorang sopir yang ceria, suatu hari mengejutkan saya, karena memberikan penjelasan lengkap mengenai saham apa yang sebaiknya dibeli dan mana yang harus dihindari. Ternyata ia dulunya seorang pialang saham. "Pada masa seperti sekarang ini, mungkin hanya bisnis taksi yang masih aktif menerima pegawai di Singapura, kata Dr. Cai. Bagi saya, perubahan hidup Dr. Cai itu membawa Singapura ke dalam babak baru. "Saya mungkin satu-satunya sopir taksi dengan gelar PhD dari Stanford dan memiliki pengalaman yang diakui di bidang sains...", tulis Dr. Cai dalam blog nya. *Gelar Doktoral * Kisahnya Dr. Cai ini segera menyebar di dunia maya. Kebanyakan orang Singapura menyatakan penghargaan mereka atas kemampuannya beradaptasi begitu cepat dengan kehidupan barunya. Dua orang pemuda Singapura menanyakan nomor taksinya, berkata bahwa mereka akan sangat senang sekali, jika bisa berkeliling dengan taksinya dan berbincang-bincang. "Banyak (pelajaran) yang bisa ia berikan kepada saya", kata seseorang. Lainnya bertanya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan mengajar, mengingat pengalaman ilmiahnya yang begitu mengagumkan. Keluarnya ia dari pekerjaan lama, sebenarnya lebih disebabkan, karena alasan pribadi (ia dituduh membuat kekacauan oleh para pemimpin penelitian) dan bukan karena lesunya proyek bidang bioteknologi di Singapura, yang masih bisa bertahan di masa krisis ini. Kasusnya itu menjadikan kelemahan umum di bidang R & D (research and development) Singapura mendapat sorotan. "Kondisi ekonomi yang buruk, artinya tidak banyak perusahaan yang mampu membayar ilmuwan profesional", kata seorang peselancar dunia maya. "Gelar akademik tidak banyak membantu, sejarah membuktikan banyak orang yang bergelar PhD berburu mencari pekerjaan." Sementara citra sopir taksi menjadi terdongkrak tinggi, tidak demikian keadaannya dengan proyek biomedika Singapura, khususnya upaya mereka untuk menumbuhkan bibit talenta peneliti baru di dalam negeri. "Semakin banyak orang Singapura yang menjauh dari karir di bidang sains", kata seorang blogger. Seseorang menulis, "Menurut saya, gelar PhD tidak berguna, terutama di Singapura. Itu hanya selembar sertifikat, tidak lebih." Lainnya menambahkan, "Di Amerika Serikat keadaannya lebih parah. Banyak yang datang ke sini untuk mencari pekerjaan." "Saya tidak ingin anak saya bertahun-tahun sekolah, akhirnya hanya menjadi sopir taksi," kata seorang ibu rumah tangga yang memiliki putri remaja. Kasus yang menimpa warga negara Singapura, yang menjalani penelitian PhD-nya di Universitas Stanford dengan subyek penelitian seputar protein pengembang itu, sebenarnya tidak unik. Ilmuwan peneliti Amerika, Douglas Prasher, yang berhasil mengisolasi gen yang bisa menghasilkan protein bersinar hijau -- dan baru saja gagal meraih penghargaan Nobel 2008, menghadapi situasi yang sama. Prasher pindah dari sebuah lembaga penelitian ke lembaga lain, ketika dana penelitiannya habis. Pada akhirnya ia berhenti menggeluti sains, dan beralih menjadi sopir antar-jemput di Alabama. "Meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan bahagia dan kelihatan senang dengan pekerjaan mengendarai minivan-nya, " kata seorang peselancar internet. Dengan berubahnya pasar dunia kerja yang tersedia, dan semakin banyaknya pemilik usaha yang menginginkan beberapa pekerjaan bisa dilakukan oleh satu orang dengan kontrak kerja yang singkat, maka semakin banyak orang Singapura yang mengejar gelar yang berbeda. Misalnya akuntansi dengan hukum atau komputer dengan bisnis. Sebagian orang mulai menghindari gelar pascasarjana atau bidang-bidang ilmu khusus. Mereka lebih memilih bidang keilmuan yang lebih umum atau lintas sektor. "Pengalaman adalah raja", itulah semboyannya sekarang. Dan orang-orang berbondong-bondong mencari tempat magang tanpa bayaran. "Di masa datang, yang dibutuhkan, adalah para lulusan dengan keterampilan yang beragam dan karir yang fleksibel, orang-orang yang bisa menyesuaikan diri dengan berbagai pekerjaan yang berbeda", kata seorang pengusaha. Selama beberapa tahun terakhir, dimana globalisasi semakin dalam, ada ketidaksinkronan antara apa yang dipelajari oleh orang Singapura di universitas dengan karir yang dijalaninya. Singapura mengikuti trend di dunia maju, dimana bisnis-bisnis lama bisa hilang sekejap dalam satu malam, kemudian muncul bisnis yang baru, yang menjadi masalah bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri. Saya mengenal seorang pemuda, insinyur sipil dari universitas terkemuka di Amerika, yang menelantarkan dunia konstruksi untuk menggeluti dunia mengajar. Seorang insinyur lainnya yang saya temui, mengurus kedai kopi ayahnya yang sangat menguntungkan. Lainnya, pengacara yang kemudian menjadi musisi atau jurnalis, dan lain sebagainya. Kasus dimana orang-orang melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan mereka, semakin hari semakin banyak. Sehingga para pewawancara yang menanyai calon pegawai tidak lagi bertanya, "Mengapa seorang ilmuwan berpengalaman seperti Anda mau bekerja sebagai pegawai tingkat rendah?" Di masa lampau, orangtua pusing memikirkan bidang studi apa yang harus ditempuh oleh anaknya, akuntansi atau hukum, atau teknik, bidang-bidang yang menjanjikan kesuksesan. Dan mereka akan menentukan satu bidang, dan terus mengejar dan menggelutinya hingga menjadi profesi. Seorang dokter akan bekerja menjadi dokter, seorang ahli biologi akan bekerja di laboratorium, dan pengacara akan sibuk berdebat di pengadilan. Dr. Cai adalah pria kelahiran China yang kemudian menjadi warga negara Singapura, setelah memperoleh PhD dalam bidang biologi molekuler dari Universitas Stanford tahun 1990. Dia bergabung di IMCB dua tahun kemudian dan bekerja sebagai kepala peneliti di bidang genetika sel sampai kepergiannya. Ia dihentikan dari Institut Molekuler dan Biologi Sel (IMCB) di ASTAR Singapore, tempat dimana dia sudah bekerja selama 16 tahun dan tak dapat menjamin pekerjaan lain sampai penghentiannya bulan Mei 2008. Menjelang November 2008, dia memutuskan menjadi seorang sopir taksi. Kini, pria dengan seambrek kurikulum vitae dan pengalaman universitas, lembaga pemerintah, dan perusahaan menjadi sopir kendaraan Toyota Crown. “Pada saat seperti ini, bisnis taksi mungkin satu-satunya usaha di Singapura yang masih aktif merekrut orang", katanya. Windows Live: Make it easier for your friends to see what you’re up to on Facebook. Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ [Non-text portions of this message have been removed]
