BEC - Buddhist Education Centre Surabaya

Beri Setitik Cahaya untuk Korban Gempa Sumatra Barat

"Catatan perjalanan ke kota Padang 6 - 8 Oktober 2009 :

Bila ingat kata PADANG,secara cepat dalam pikiran kita muncul barisan piring
dengan aneka lauk pauk makanan Padang yang memenuhinya, atau keindahan rumah
gadang yang sudah dikenalkan pada kita sejak bangku Sekolah Dasar atau
cerita istimewa lainnya tentang kota Padang...jujur saja, hal itu sepintas
terbersit pula dalam pikiran saya....tapi jangan berharap hal itu akan
tampak jika kita kunjungi kota Padang dalam 1 bulan ini....

Memasuki kota Padang, sejak Monumen Tugu BINGKUANG (Tugu Selamat Datang)
menyambut kehadiran kami, kota Padang seolah tampak sangat berduka, tampak
sangat kacau...angin bertiup membawa butir-butir debu dari reruntuhan
bangunan yg porak poranda, secara samar angin seolah memperdengarkan di
telinga kita suara2 berat mengharap pertolongan dari sudut-sudut puing
bangunan.. semakin dalam memasuki kota, mata dan hati ini akan semakin miris
menyaksikan ratusan atau bahkan mungkin ribuan rumah yang selama ini menjadi
tempat berlindung seolah sedang murka, hancurkan apapun yang ada di
dalamnya...bangunan2 itu tampak sangat tak berbentuk... toko, sekolah,
rumah-rumah, tempat ibadah tak mampu meredam getaran bumi.... puluhan jiwa
melayang mengenaskan.. tak peduli apa agamanya, warna kulitnya, usia atau
siapapun dia...kota Padang seolah baru saja mengalami peperangan yang maha
dahsyat.. tumpukan puing, mobil2 yang tergencet, barisan orang-orang yang
antri untuk sekedar dapatkan makanan penyambung hidup.. ingin sekali kusapa
setiap orang, ingin sekali kugenggam erat tangan mungil anak2 yang  kini
kehilangan rumah, sekolah bahkan mungkin keluarganya... aku yakin mereka tak
pernah minta hal spt ini terjadi pada mereka.. entah butuh berapa banyak
materi dan berapa lama waktu yg diperlukan mereka untuk kembali seperti
semula.... mungkin kita tak bisa berbuat banyak membantu mereka.. tapi dalam
hati, aku terus berdoa agar ujung2 pohon, anak kaki udara, dan tatap mata
tegas matahari akan mampu merengkuh lembut hati kita semua...

Satukan niat, padukan lantunan doa dan selaraskan hentakan jiwa untuk
meringankan beban mereka... meski mungkin tak banyak yang bisa dilakukan,
tapi setidaknya harus ada yang kita lakukan.. mereka hidup 1 atap yang sama
dengan kita,1 bumi yang sama dengan kita...

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta...Sadhu Sadhu Sadhu"


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke