Bodhisattva Thích Quảng Đức

Selama di Vihara Avalokitersvara aku menyadari perubahan-perubahan tubuhku. 
Karena perubahan-perubahan yang dialami tubuhku. Seperti ada pegas/peer di 
lutut kakiku. Sehingga kakiku tak dapat berdiri lama, bila berdiri lama ia akan 
secara otomatis menekuk/melipat sendiri sehingga aku bisa tiba-tiba terjatuh.

Pernah suatu hari aku berangkat bersama sejumlah umat dan pandita setempat 
mengunjungi seorang Ibu tua yang sakit. Ibu itu hidup seorang diri. Konon, 
usianya sudah tua tapi tak mati-mati, dicurigai beliau punya ilmu yang 
membuatnya susah mati.

Karena bukan ahli upacara, dalam tiap kunjugan saya bersama umat di daerah, 
saya memposisikan hanya mendampingi Pandita setempat, artinya saya meminta 
mereka tetap menjalankan fungsinya memimpin upacara sementara saya hanya 
mendampingi.

Tiap mengunjungi umat sakit parah di rumah sakit dengan selang di sana-sini, 
makan dari selang infus, buang air kecil dan air besar lewat selang, saya 
selalu menkonsentrasikan dalam batin, apabila saatnya sudah tiba, berikanlah 
dia kemudahan untuk `melanjutkan' perjalanan. Sebaliknya apabila bisa sembuh, 
berikanlah kemudahan untuk sembuh dan mengakhiri penderitaannya yang 
berlarut-larut.

Dalam banyak kesempatan mengunjungi orang sakit, doa yang kami panjatkan saya 
rasa cukup efektif. Selama menjadi samanera dulu di Ekayana, pernah dalam 
sehari bersama Ibu Chaifung cs kami mengunjungi tiga orang yang sakitnya parah. 
Keesokan hari, menjelang makan siang aku mendengar kabar dari B.Aryamaitri 
Mahasthavira, ketiga pasien yang kami kunjungi kemarin sudah `lewat'.

Kembali pada semua persendianku yang lentur. Karena ada perubahan di 
persendianku ini, aku tak bisa berdiri lama. Saat mendoakan Ibu tua di pesisir 
Sumatra ini pun, karena baca doanya cukup panjang, dalam hatiku sudah was-was, 
takut kakiku menekuk sendiri. Dan dugaanku benar, saat tengah membaca doa, 
kakiku tiba-tiba menekukkan dirinya, hasilnya bisa ditebak: aku terjatuh dengan 
sukses berikut bonusnya keseleo. Aku segera diberikan kursi untuk duduk. Ibu 
tua itu beberapa hari kemudian kalau saya tak salah, memang `lewat'.

Keesokan hari kakiku membengkak. Ada umat vihara mengatakan suaminya bisa urut. 
Ia minta suaminya mengurut aku di kantin belakang vihara. Sebelum menjadi 
samanera, saat bekerja dulu, aku belajar otodidak pijat refleksi, yang hasilnya 
suka dimintai pijat oleh teman-teman sekantor,hehe. Jadi sedikit banyak tahulah 
aku tentang ilmu pijit.

Sepengetahuanku pijat refleksi menghindari memijat daerah yang membengkak, 
melainkan sisi-sisinya saja. Tapi apa yang dilakukan umat ini, mungkin bukan 
pijat refleksi. Daerah tapak kakiku yang keseleo dan membengkak, dipijat 
habis-habisan oleh beliau. Waduh-waduh, beberapa orang ibu yang melihat 
mengatakan kalau mereka yang mengalami mungkin akan menangis berurai air mata.

Sebelum memijit, Acek itu mewanti-wanti, dulu anaknya pernah jatuh dari tangga 
dan ia pijiti, sakitnya minta ampun, anaknya sambil menangis dan menjeri-jerit, 
tapi kemudian sembuh. Jadi aku harus siap menahan sakit.

Aku iya-iya sajalah. Sambil berpikir, sepertinya ada moment untuk berlatih. 
Lets me try,hehe.

Maka mulailah Acek itu mengeluarkan ilmu memijitnya. Tapi setelah sekian lama, 
agaknya beliau harus `kecewa' dan terbelalak heran. Meski beliau memijit 
pengbengkakan di kakiku habis-habisan. Tak secuilpun erangan atau ringisan, 
apalagi jeritan yang tampak di wajahku. Wajahku hanya senyum, dan biasa saja.

Ini tak lain bisa terjadi karena aku mindfull pada titik-titik yang sakit 
selama beliau memijit kakiku. Saat tak diamati, atau saat kita tak mindfull, 
rasa sakit sepertinya ada pada seluruh tubuh. Atau tepatnya rasa sakit 
menguasai pikiran kita. Tapi begitu kita mindfull, dengan jelas kita bisa 
mendeteksi bagian yang sakit seperti menggunakan kaca pembesar. Makin dekat- 
makin detail. Kita tahu yang sakit ada di kaki. Setelah didekati lagi, ada di 
tapak, setelah didekati lagi, ada di satu titik. Setelah titik itu diamati 
lagi, ada molekul-molekul kecil berlarian di titik itu. Ketika molekul-molekul 
kecil itu diamati… mereka menjadi bias. Hasilnya sama sekali tak ada sakit yang 
kita rasakan.

Sebenarnya berangkat dari pengalaman ini aku bisa mengerti apa yang terjadi 
pada biku yang membakar diri di Vietnam, Yang Mulia Biku Thích Quảng 
Đức dimana masyarkat Vietnam mengenalnya sebagai Bodhisattva Thích 
Quảng Đức.

Yang Mulia Bodhisattva Thích Quảng Đức lahir di tahun 1897 dan 
meninggal 11 Juni 1963. Beliau adalah seorang Biku Mahayana, Master Meditasi 
yang mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di keramaian jalan utama kota 
Saigon.

Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk protes atas ketidakberdayaan Umat Buddha 
menghadapi tekanan dan penindasan dari penguasa Vietnam Utara yang tampaknya 
non Buddhist.

Di tahun 1963 itu, apa yang beliau lakukan sontak menarik perhatian dunia akan 
kondisi di Vietnam dan mendatangkan tekanan pada rejim yang berkuasa. Malcolm 
Browne yang mengabadikan moment itu dengan kameranya mendapatkan hadiah 
bergengsi di bidang jurnalistik dunia Pulitzer Price, demikian juga David 
Halberstam dengan laporan jurnalistiknya.

Uniknya, para saksi mata dan film dokumenter yang ada menunjukkan, selama 
proses pembakaran itu, beliau duduk dalam posisi meditasi dengan ketenangan tak 
tergoncangkan dari awal sampai akhir.

Jenazahnya kemudian dikremasi ulang. Lebih unik lagi, sisa pembakarannya berupa 
hatinya yang tetap utuh, dengan kata lain, terdapat relik berupa hati beliau. 
Ini adalah simbol belas kasih beliau yang luar biasa, masyarakat Vietnam 
kemudian menghormatinya sebagai bodhisattva. Atau secara Theravada Buddhism 
mengatakan, kalau ada relik sudah pasti Arahanta.

Pengorbanan beliau mendatangkan tekanan dunia internasional yang luar biasa 
pada rezim berkuasa, untuk merubah kebijakan yang mendiskreditkan umat Buddha 
di Vietnam. Akibat tekanan dunia internasional Rezim yang berkuasa merubah 
beberapa kebijakan, tapi tak sepenuh hati, sampai akhirnya terjadi kudeta 
militer, dimana rezim yang berkuasa Ngô Đình Diệm dibunuh militer 
dalam kudeta itu.

Jakarta, 24 Oktober 2009

Sumber:http://harpin.wordpress.com

Kirim email ke