MENOLONG SATU JIWA IDENTIK MENJADI DHARMA DUTA
Oleh : Suhu Dutavira
Pengertian menolong satu jiwa yang mempunyai nilai lebih dari membangun tujuh
pagoda adalah menolong jiwa orang ke arah yang lebih baik, mengajari orang
untuk lebih maju, memberikan motivasi agar orang dapat mengalahkan sifat jelek
yang ada di dirinya, serta membimbing orang untuk menjadi manusia yang berguna.
Dalam Buddhisme, menolong jiwa orang lain tidak dilakukan dengan cara
pemaksaan, melainkan dengan cara memberitahu, sehingga tidak terjadi suatu
pertengkaran. Jika terjadi pertengkaran berarti anda sudah berada diluar batas,
karena ajaran Buddha didasarkan kepada kesadaran (ajaran Buddha mudah diterima
dan dijalankan dengan kesadaran). contoh : Kotbah Dharma yang dihadiri oleh
lebih dari 100 orang. Pembabar Dharma telah berbuat baik, dia telah mengajarkan
kebaikan, mengajak orang untuk sadar dan berada dijalan kebenaran. Tidak
masalah bila ternyata hanya ada satu orang yang sadar, karena hal itu pun sudah
merupakan suatu kebajikan. Menolong dapat dilakukan dimana saja dan dengan
berbagai cara, seperti saat berbincang-bincang dengan teman, sampaikan mana hal
yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, selalu mengingatkan hal-hal yang
baik kepada teman atau orang yang kita kenal. Bila setelah kita mengingatkan,
dia tidak menjalankan, kita tidak perlu
memaksa.
Buddha mengatakan bahwa ada enam perbuatan yang tercela dan sering menghambat
orang-orang yang berupaya menolong orang lain. Enam perbuatan yang harus
disingkirkan adalah :
1. keserakahan atau keinginan yang berlebihan yang tidak terkendali, yaitu
keinginan untuk mendapatkan suatu yang lebih, ingin mendapat yang mewah-mewah.
Karena, orang serakah adalah orang yang tak berguna.
2. Kebencian yang muncul dari keinginan tidak tercapai akan berkembang menjadi
kemarahan. Rasa ini dapat muncul saat orang melihat, mendengar atau merasa
suatu hal yang membuatnya tidak senang. Kebencian yang telah berkembang menjadi
kemarahan akan terwujud dalm bentuk fitnah, gossip, dan lain sebagainya.
3. Perbuatan Bodoh, tercela, dan sifat malas. Dalam kondisi mampu atau sehat
tidak berbuat baik disebut bodoh. Terlebih lagi, masih melakukan perbuatan yang
tercela, itu disebut bodoh. sebagai manusia kita harus rajin membina diri.
Malas adalah bodoh. karena orang yang malas tidak punya jiwa untuk maju, hanya
bersikap pasrah saja.
4. Kesombongan, karena orang yang sombong dekat dengan kemunduran. Kesombongan
dapat membuat diri merasa congkak, merasa diri telah menjadi orang yang paling
berpotensi. Dengan sifat itu orang tersebut tidak akan pernah maju dalam segala
tindakannya.
5. Irihati: kondisi jiwa dari orang yang iri hati adalah tidak gembira. sudah
tahu diri sendiri tidak mampu, tetapi masih memiliki sifat iri. Itu adalah
suatu hal yang bodoh.
6. Pandangan salah / berjiwa sempit, dikatakan ketakutan yang tidak pada
tempatnya. Misal: saya berdagang tekstil dan barang dagangan saya laku keras.
Di sisi lain, tetangga sebelah membuka toko tekstil pula dan kita takut
tersaingi. Hal itu dikatakan bodoh. kenapa ? karena setiap orang memiliki karma
dan rejeki yang berbeda. Bila kita kuatir pelanggan kita beralih atau direbut
kompetitor, atau kita cemas tidak ada orang yang mau membeli tekstil di toko
kita, kita takut tidak dikerumuni pembeli, dan lain-lain, maka semua itu
merupakan suatu pandangan yang salah.
Sabda Buddha " Orang harus berinisiatif, membina diri serta tidak boleh pasif
". Orang yang berjiwa penolong tidak boleh menunggu bola, melainkan ia harus
menyambut bola. Artinya, menolong bukan dilakukan pada kejadian tertentu saja,
tetapi dalam hal apapun jikalau kita sanggup, maka tolonglah orang tersebut.
Teman se-Dharma, menolong jiwa orang lain tidak dilakukan dengan pemaksaan,
melainkan dengan cara memberitahu, mengajari dan memberi contoh berbagai hal
yang bermanfaat dan dapat menyadarkan mereka untuk menjadi orang berguna.
Omitofo.
[Non-text portions of this message have been removed]