Empat Jalan Bahagia

Oleh: Fayen

*… diri kita adalah orang lain … orang lain adalah diri kita … **orang lain
adalah orang lain ... diri kita adalah diri kita...***



Jeram Surga. Tak heran disebut sebagai Jeram Surga, karena memang jeram itu
begitu mempesona, apalagi kala pelangi menampakkan senyumnya seusai
berakhirnya tetesan air hujan. Namun di balik indahnya nama dan pemandangan
jeram itu, masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai Jeram Kematian.

Tak sedikit wisatawan luar daerah yang datang menikmati keindahan panorama
Jeram Surga, namun tak sedikit pula yang tak pernah keluar dari dasar jeram
itu. Ketinggian jeram itu merupakan tempat ideal untuk mengakhiri hidup, pun
lembayung senja yang tersenyum mengintip dari belakang punggung gunung
seakan menambah rasa melankolis dan memperdalam keinginan orang-orang pendek
pikiran untuk menerjunkan diri ke dalam jeram.

Tetapi setahun terakhir ini tak ada lagi orang yang mengakhiri hidup di
Jeram Surga. Bukan karena apa, tapi karena di sekitar jeram muncul seorang
lelaki setengah baya yang menghalangi dan menasehati mereka yang ingin bunuh
diri. Ming Shi Shui (Nama – Makanan – Tidur) adalah penduduk asli Surga
Jeram, di usia 20-an tahun dengan berbekal ilmu silat ia merantau ke ibu
kota. Tidak ada yang tahu apa yang dikerjakannya selama di ibu kota
kerajaan. Tak ada angin tak ada hujan, dia tiba-tiba kembali ke Surga Jeram.


Perbuatan mulia Ming Shi Shui akhirnya mendapat sambutan warga setempat yang
kini tak lagi acuh tak acuh dengan para calon korban yang ingin tidur
selamanya di dasar jeram. Mereka secara spontanitas mengikuti jejak Ming.

Hari itu, seminggu menjelang Hari Qing Ming (Ceng Beng, hari membersihkan
makam keluarga) datanglah seorang lelaki tua ke Jeram Surga. Sepanjang pagi
berdiri membisu di tepi jeram, salah satu ciri orang yang berpikiran pendek.
Tetapi di luar kebiasaan, Ming Shi Shui kali itu hanya melihat dari
kejauhan. Bukan hanya itu, yang lebih parah lagi, yang sangat bertolak
belakang dengan perilakunya selama setahun ini, dia bahkan mengancam setiap
orang yang bermaksud menasehati lelaki tua itu.

Semua itu tidak terlepas dari pengamatan Wu Wo, yang sedang dalam perjalanan
menuju ibukota sekembali dari Negeri Ribuan Pagoda. Ketika melangkah
mendekati lelaki tua itu, sebuah tepukan jatuh di pundak kanannya. “Anak
muda, biarkan dia menuntaskan buah karmanya sendiri. Jangan ikut campur!”
Sebuah ucapan yang lembut, namun penuh dengan nada memerintah.

“Membantu orang yang memerlukan bantuan, itu bukan ikut campur namanya.” Wu
Wo merasakan tepukan lembut itu kini berubah menjadi cengkeraman. Wu Wo
tidak mempedulikannya, ia terus berjalan menghampiri lelaki tua itu.
Cengkeraman itu kini berubah menjadi hentakan. Tampaknya bukan hal yang
sulit bagi Ming Shi Shui untuk melontarkan tubuh seseorang dengan satu
hentakan, bahkan dengan berat tubuh dua kali Wu Wo. Namun yang dihadapinya
kali ini adalah Wu Wo, bukan orang lain.

Tangan kiri Wu Wo meluncur menangkap tangan yang mencengkeram pundaknya,
sedang tangan kanannya mengayun ke samping menepis tangan kanan Ming yang
bergerak mendorong pinggangnya. Mereka yang berkerumun di sekitar jeram tak
ada yang menyadari bahwa gerakan yang mirip kanak-kanak bermain dorong
mendorong itu adalah awal pertarungan dua tokoh kelas satu dunia jianghu
(dunia persilatan). Ming tak bermaksud mencelakai Wu Wo, sedang Wu Wo hanya
berkeinginan mendekati kakek tua di tepi jeram, namun dari gerakan dorong
mendorong yang sederhana itu, mereka berdua menyadari bahwa lawan yang
dihadapi bukan sembarang orang.

Ming yang selama ini tidak menemukan lawan yang berimbang, jadi merasa
tertantang untuk menjajaki kemampuan kungfu Wu Wo. Pada awalnya pertarungan
itu berjalan imbang dan alot, namun tak lama kemudian terlihat Wu Wo dengan
toyanya berada di bawah angin. Ming ternyata mempunyai teknis kungfu
pertarungan jarak dekat yang sangat lihai. Keringat membasahi pelupuk wajah
Wu Wo yang tetap berusaha bersikap tenang. Tak terduga di Jeram Surga ini
berdiam seorang tokoh jianghu yang kemampuannya tak di bawah guru Wu Wo,
Bhiksu Wu Zhuo.

Tapi kondisi berat sebelah itu tak berlangsung lama, stamina Wu Wo yang
masih muda berhasil meredam serangan-serangan gencar Ming. Ming yang sadar
kedodoran stamina kini justru melancarkan jurus-jurus mematikan agar dapat
secepatnya mengakhiri pertarungan. Saat itulah terdengar teriakan membahana.

“Lao Ming, ini urusan antara kita berdua, tak ada hubungannya dengan pemuda
ini.” Lelaki tua itu tak tahu sejak kapan telah berdiri di dekat medan
pertarungan. Tanpa dikomando, Ming dan Wu Wo bersamaan menghentikan
pertarungan mereka.

“Anak muda, terima kasih atas perhatianmu. Ini adalah urusan antara saya dan
Ming Shi Shui,” lelaki tua itu mengawali percakapan, “saya dahulu telah
banyak berbuat tidak benar. Hanya kematianlah yang dapat menebus semua itu.”


“Laoqianbei (generasi senior) ...”

“Dengan orang macam ini tak perlu terlalu menghormat, langsung saja sebut
namanya, Cai Se (Harta – Rupa),” Ming memutus dengan ucapan yang ketus.

“Paman Cai, pernahkah mendengar gong-an Chan - siapa yang bisa melepas
ikatan yang membelenggu kita?” Wu Wo berganti memakai panggilan Paman.

“Siapa yang mengikat, dialah yang melepas ...,” Cai Se menjawab dengan
lirih.

“Itulah, dia yang bikin perkara, dia sendiri yang habisi hidupnya, sudah
benar kan? Lalu, kenapa ada yang iseng sok ikut campur?” Ming masih berucap
dengan ketus.

“Memang benar, yang membelenggu kita adalah kita sendiri. Tapi Paman Cai,
alih-alih melepaskan ikatan, bunuh diri itu justru tambah bikin ruwet. Bukan
mengakhiri, tapi melarikan diri dari masalah. Buah karma buruk tetap akan
kita tuai di kehidupan akan datang, ditambah dengan bunganya. Pun itu tidak
memadamkan kebencian dari orang-orang yang kita rugikan. Untuk memadamkan
kebencian dan menebus kesalahan, kita harus membantu orang-orang yang kita
rugikan dengan berlandaskan cinta kasih, welas asih dan kebijaksanaan. Kita
harus memperbaiki kerusakan yang kita sebabkan, bukannya melarikan diri.
Paman, saya yang muda bukannya bermaksud menggurui, tapi memang demikianlah
ajaran luhur Buddha, seperti yang saya dengar dari guru saya tercinta,
Bhiksu Wu Zhuo.” Wu Wo menutup penjelasannya dengan beranjali di depan dada.

“Wu Zhuo? Kau bilang Bhiksu Wu Zhuo itu gurumu? Pantas saja begitu muda
sudah lihai sekali,” nada ketus Ming mulai lenyap.

“Saya yang muda ini masih harus belajar banyak dari Paman Ming.” Ini bukan
merendah, tapi memang demikian kenyataannya, kungfu Wu Wo masih setingkat di
bawah Ming.

“Anak muda, tidak heran kalau kau kewalahan menghadapi Lao Ming ini, karena
dia adalah ...”

“Jangan ungkit-ungkit masa lalu!” Bentak Ming.

“He .. he .., aku yang tua ini sudah siap melangkah meninggalkan dunia fana
ini, apa yang perlu disembunyikan? Mantan kepala pasukan pengaman istana
pulang kampung menjadi sukarelawan pengaman Jeram Surga menyelamatkan
orang-orang pendek pikiran, ya, ini tidak ada buruknya. Beda dengan Cai Se,
menteri ambisius yang menghalalkan segala cara, yang akhirnya juga harus
mengalami nasib tragis dicopot dari jabatannya.”

Hati Wu Wo tercekat, ternyata dua orang senior di hadapannya ini adalah
tokoh-tokoh kelas atas istana. “Mohon Anda berdua berkenan menerima hormat
dari saya, Wu Wo.” Wu Wo berucap sambil beranjali.

“Wu Wo? Sungguh merupakan kehormatan dapat bertatap muka dengan penyelamat
kaisar.” Ming dan Cai sempat terkejut juga mendengar nama Wu Wo. Mereka
serempak memberi penghormatan balasan. Sebagai petinggi istana, sudah tentu
mereka berdua mengetahui peristiwa penculikan kaisar di Gunung Tiantai
beberapa waktu silam. Orang-orang yang mengerumuni mereka bertiga mulai
ribut berbisik, meski mereka berusaha berbisik tanpa ribut-ribut.

“Ya, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang kedua Laoqianbei tampaknya
kurang begitu bahagia. Sebenarnya kebahagiaan itu tidak perlu dikejar atau
dicari, dia lebih merupakan kemampuan, tepatnya kemampuan untuk menyadari
bahwa bahagia itu sebenarnya ada di sekitar kita,” Wu Wo kembali ke topik
semula.

“Sebagai seorang petinggi yang menghalalkan segala cara demi kepentingan
diri sendiri, bahkan tahun lalu sempat menodai nama baik Ming, boleh
dibilang saya tak pernah menemukan kebahagiaan. Anak muda, tolong jelaskan
lebih lanjut,” Cai berucap lirih.

“Izinkan saya berbagi tentang konsep empat jalan bahagia. Agar diri sendiri
bahagia, juga agar orang lain bahagia, *jalan* *pertama*, anggap bahwa diri
kita adalah orang lain. Waktu kita mengalami hal-hal yang tidak
menyenangkan, benarkah dunia ini akan runtuh? Tidak kan!? Orang lain justru
tak habis pikir mengapa kita begitu bersedih. Itu karena kita sendiri yang
secara semu terlalu membesar-besarkan penderitaan kita.

Dalam sebuah pertandingan, kadangkala penonton lebih bisa berpikir jernih
dan tenang dibanding pemain. Mereka yang menjadi juara sejati adalah
orang-orang yang bisa melepas beban psikologi. Salah satu cara efektif
melepas beban psikologi atas penderitaan kita adalah dengan berganti sudut
pandang, lihatlah dari kacamata orang lain, ternyata permasalahan yang kita
hadapi tidak serumit yang kita bayangkan sebelumnya.

Jadi, kala ditimpa kesusahan, coba pikirkan, kalau orang lain yang ditimpa
kesusahan itu, bagaimana kita melihatnya? Bukankah kita menghibur dan
memotivasi orang itu agar tidak terlalu bersedih hati, lalu kenapa kita
tidak bisa menghibur dan memberi cinta kasih bagi diri sendiri kala
dirundung kesusahan?”

“Sebaliknya, kalau lagi gembira, juga jangan dibesar-besarkan agar tidak
membuat orang lain sirik. Kita harus berusaha untuk selalu berada di jalan
tengah,” seorang nenek yang duduk di belakang Ming menambahkan. “Benar,
itulah *jalan bahagia yang pertama*. Kalau mampu menerapkan jalan pertama
ini, beban ketidakbahagiaan akan berkurang drastis.” Cai tampak mengangguk
membenarkan.

“*Jalan kedua*, orang lain adalah diri kita. Begitu pula kala orang lain
dalam kesusahan, bayangkan bagaimana kalau kita yang mengalaminya? Kita
harus bersimpati dan berempati, tebarkan welas asih, serta berikan bantuan
secara bijaksana untuk mengurangi bebannya. Dia senang, kitapun juga
bahagia.” “Ming telah memberikan contoh selama setahun ini,” masih nenek itu
yang menyambung. Wu Wo sekilas menatap Ming. “Kecuali pagi ini agak berbeda.
”

“*Jalan ketiga*, orang lain adalah orang lain. Ini adalah konsep menghormati
dan menghargai orang lain. Kalau melihat orang lain bahagia, jangan menjadi
sirik, itu adalah buah dari karma baiknya. Merampas atau menghancurkan
kebahagiaan orang lain hanya akan menyeret pada penderitaan yang lebih
dalam. Pun, melihat orang lain berbuat bajik, kita juga harus bersenang
hati, kebajikan itu bukan hanya hak paten kita seorang diri. Bila semua
orang berbuat bajik maka dunia ini akan menjadi lebih baik dan lebih
bahagia.”

“*Jalan keempat*, diri kita adalah diri kita. Ini adalah yang terakhir dan
tertinggi dari empat jalan bahagia. Masalah kita haruslah kita sendiri yang
menyelesaikannya, dengan demikian barulah batin kita dapat berkembang lebih
dewasa. Harus berani menghadapi masalah, menerimanya, menyelesaikannya lalu
melepaskannya, jangan terus menyimpannya di hati, demikianlah hati dan
pikiran akan menjadi tenang. Siapa mengikat, dialah yang melepas. Jalan
pembebasan bergantung pada kita sendiri, bukan pada makhluk lain. Jalan
keempat ini juga merupakan ajaran tertinggi yang mengingatkan kita untuk
selalu sadar dan waspada.

Berapa banyak di antara kita yang mampu hidup menjadi dirinya sendiri?
Berapa banyak orang yang pikiran, ucapan dan perbuatannya tidak terseret
oleh hal-hal eksternal? Satu ketika demi harta (Cai), satu ketika lagi demi
nafsu seksual (Se), sesaat kemudian demi nama (Ming), lalu keinginan makan
makanan lezat (Shi), juga kenikmatan tidur (Shui). Ternyata selama hidup
kita tidak pernah menjadi tuan bagi diri sendiri, karena itulah tak pernah
berhasil menemukan kebahagiaan.” Wu Wo mengakhiri penjelasannya dengan
beranjali.

“Benar-benar mempesona, ternyata benar bahagia itu tak perlu dicari-cari,
cukup dilakukan dan disadari. Kalau saja semua orang bisa melaksanakan empat
jalan bahagia ini, masyarakat berbudi luhur, santun, welas asih dan bahagia
bukan lagi impian. Apakah ini ajaran Buddha?” Lagi-lagi nenek itu yang
berucap.

“Sebenarnya apa yang kita bicarakan tadi merupakan penerapan salah satu
ajaran Buddha yang dinamakan Empat Perbuatan Luhur, disebut juga Empat Hati
Tak Terbatas, karena tak ada lagi batasan ataupun hambatan dalam
penerapannya, baik batasan negara, bangsa, agama, status sosial ataupun
jenis kelamin. Karena keluhurannya maka disebut juga Brahma Vihara, yang
artinya dengan berlatih empat hal ini maka akan terlahir di alam Brahma
Rupa. Keempatnya adalah Cinta Kasih (Ci – Maitri), Welas Asih (Bei –
Karuna), Suka Cita (Xi – Mudita) dan Keseimbangan Batin (She – Upeksha).

Cinta kasih bertujuan agar orang atau makhluk lain berbahagia. Tetapi sangat
tidak mudah bagi mereka yang tidak berbahagia untuk membahagiakan orang
lain, karena itu kita harus lebih dulu berlatih membahagiakan diri sendiri.
Tetapi kalau saat kita berbahagia justru melupakan makhluk lain, ini juga
tidak bisa disebut sebagai cinta kasih. Sebab itu, awal dari cinta kasih
adalah menanamkan konsep bahwa diri kita adalah orang lain, bagaimana cara
membahagiakan orang lain, tetapi untuk itu sebelumnya harus bisa memberikan
cinta kasih bagi diri sendiri.

Welas asih adalah membebaskan orang atau makhluk lain dari penderitaan.
Menganggap orang lain sebagai diri kita, bukankah ini jalan welas asih?

Suka cita adalah ikut merasakan kegembiraan atas kebajikan yang dilakukan
orang lain, pun bergembira melihat kesuksesan ataupun kebahagiaan orang
lain. Inilah makna jalan bahagia ketiga: orang lain adalah orang lain.

Keseimbangan batin adalah senantiasa waspada berada di Jalan Tengah. Selalu
berusaha melakukan kebajikan demi kebahagiaan semua makhluk, tegar menerima
buah karma buruk, tidak terlena dalam buah karma baik, menjauhkan diri dari
keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, inilah yang dinamakan melakoni
hidup sebagai tuan bagi diri sendiri.” Kali ini Wu Wo benar-benar mengakhiri
penjelasannya.

Giliran nenek tua yang berkata, “Ada yang mengatakan bahwa bahagia itu bukan
memiliki banyak harta, ada pula yang mengatakan bahagia itu adalah
mengurangi nafsu keinginan, tetapi dari penjelasan saudara muda Wu Wo tadi,
ternyata bahagia itu adalah bisa menerima apa adanya dan membantu
membahagiakan makhluk lain. Bahagia bukan berarti menolak kekayaan, juga
bukan tidak boleh ada keinginan, tetapi kalau beroleh rezeki ya boleh-boleh
saja, tidak ada pun juga tidak apa-apa.”

Senyum kebahagiaan tampak menghiasi setiap wajah para pendengar. Sesaat
kemudian Cai Se dan Ming Shi Shui terlihat saling berangkulan. Kebodohan
batin dan kebencian di antara mereka selama ini mencair, menguap dan lenyap
terhembus angin empat jalan bahagia.

Malam hari itu juga Wu Wo mengutarakan keinginan memohon bantuan kaisar
mengingatkan raja Fotaguo (Negeri Ribuan Pagoda) agar kembali ke Jalan
Dharma tidak melakukan perbuatan amoral terhadap rakyat maupun para anggota
Sangha di negeri itu. Meski tidak lagi menjabat sebagai menteri kerajaan
namun Cai Se menyanggupi untuk membantu maksud mulia Wu Wo itu, pun berjanji
mengembalikan nama baik Ming Shi Shui di mata kaisar.
Tiga hari kemudian mereka bertiga berangkat menuju ibu kota.

(Sinar Dharma)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke