--- Pada Jum, 4/12/09, Lauw Sumiwati <[email protected]> menulis:

Dari: Lauw Sumiwati <[email protected]>
Judul: Trs: Fwd: PENIPUAN GAYA BARU
Kepada:
Tanggal: Jumat, 4 Desember, 2009, 2:41 AM



Date: 2009/12/2
Subject: PENIPUAN GAYA BARU


PENIPUAN GAYA BARU

Dear All,

Ini adalah kejadian sebenarnya yang menimpa rekan kami (karyawan Komatsu), yang 
tinggal di Bekasi.

Kejadian berikut ini benar-benar terjadi pada seorang teman pada 24 Juli 2009 
lalu. Semoga cerita ini bermanfaat.

Berawal dari sebuah panggilan melalui telepon rumah (fixed line/PSTN), yang 
menanyakan identitas dan alamat yang sama persis dengan data yang ada di buku 
telepon.  Orang yang mengaku dari "Metro TV" tersebut mengabarkan bahwa sang 
pemilik nomor telepon berhak atas Grand Prize berupa mobil
"Kijang Innova". Karena sudah terlalu sering mendengar penipuan semacam ini, 
maka dijawablah dengan ketus, "... kalau memang benar hadiah mobilnya buat 
saya, kirim aja Pak mobilnya ke sini!".

Singkat cerita, 2 jam kemudian sampailah di depan rumah teman kita ini sebuah 
Kijang Innova yang benar-benar baru, lengkap dengan pelat nomor polisi yang 
masih putih!

Masih dengan perasaan yang ragu, sekaligus surprised, maka dipersilakanlah tiga 
orang yang mengantarkan mobil tersebut masuk ke dalam rumah.
Dengan menunjukkan seberkas dokumen, yang konon berupa Surat Jalan, dokumen 
Pajak, dokumen Asuransi, dan dokumen-dokumen yang lain maka diyakinkanlah bahwa 
ia memang berhak atas mobil yang dibawanya tersebut. Sayangnya, belum sempat ia 
memeriksa dokumen-dokumen tersebut, beberapa orang yang mengaku dari Pajak, 
Asuransi, dan juga Notaris bergantian menghubungi via telepon dan mengucapkan 
selamat atas hadiah yang didapat.

Setelah melihat ia sudah cukup yakin dengan hadiah tersebut, maka pembicaraan 
beralih ke kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang 'Pemenang Grand Prize', 
yaitu membayar pajak hadiah. Menurut si pengantar mobil, jumlah yang harus 
dibayar oleh 'sang pemenang' adalah 25% dari harga mobil atau senilai 42 juta 
rupiah. Menyadari simpanan dana yang ada tidak mencukupi untuk jumlah tersebut, 
maka sempat terfikir untuk mundur.
Namun, tanpa mengenal kata menyerah, si pengantar mobil kembali meyakinkan 
bahwa soal pembayaran pajak adalah hal sepele, bisa ditunda kapan saja, dan 
bisa dibayar dengan dicicil... 10% dulu misalnya. Maka muncullah kembali 
harapan teman kita ini sambil bergumam, "... kalau 10 juta sih saya punya...". 
Gotcha!!

"OK Pak, 10 juta saya kira bisa diterima oleh Pak Notaris", tukas si pengantar 
mobil.

Setelah lebih kurang 2 jam berada di rumah itu, maka tiga orang pengantar 
hadiah mobil pamit untuk menuju ke 'pemenang kedua' sambil lalu mereka pun 
mengajak untuk sekalian bertemu notaris sambil mengendarai 'Grand Prize' yang 
baru dimenangkannya. Dengan sangat meyakinkan sang pemenang
dipersilakan untuk mengendarai mobil yang memang sudah diidamkannya selama ini.
Sebelum berangkat si pengantar hadiah menanyakan apakah uang sudah 
dipersiapkan. . Sempat muncul keraguan, namun rasa gembira mengalahkan keraguan 
yang sempat muncul, hingga dibawalah olehnya uang tunai sejumlah 10 juta 
rupiah. Di tengah perjalanan, si pengantar kembali menanyakan, apakah perlu 
mampir ke ATM. Namun dijawab bahwa saldo di tabungan sudah tinggal sedikit. 
Maka  perjalananpun dilanjutkan, dan melalui jalan bebas hambatan (tol).

Beberapa saat di jalan tol, si pengantar dengan sopan meminta agar kemudi 
diambil alih oleh temannya. Dengan beralasan bahwa kendaraan belum 
diserahterimakan, sehingga bisa merepotkan jika terjadi kecelakaan, maka 
beralihlah kemudi ke orang lain dan ia pun berpindah duduk di samping pak 
sopir. Di saat sedang menikmati kenyamanan kendaraan baru tersebut, tiba-tiba 
dari belakang sepasang tangan membekap mulut dan hidungnya dengan lap atau sapu 
tangan yang beraroma sangat tajam, hingga ia pun tak sadarkan diri......

Setengah tersadar, sekujur badan terasa sangat dingin. Setelah tersadar penuh, 
ia mendapati dirinya berada di tengah padang rumput di pinggir jalan tol. 
Beruntung, dompet dan seluruh isinya hanya diacak-acak hingga ia pun bisa 
pulang kembali ke rumah dengan selamat. 'Beruntung', hanya 10 juta saja yang 
dibawa oleh komplotan penipu yang memanfaatkan kekhilafannya siang itu....

Teman, jika kita cermati kasus ini, maka tampak bahwa modus penipuan 
makin?beragam, makin berotak, dan juga makin bermodal.Kebetulan, komplotan pada 
kasus ini masuk dalam kategori komplotan yang 'sopan', 'baik hati', dan main 
bersih (hampir tidak ada jejak yang ditinggalkan) .
Bukan tidak mungkin di lain kesempatan, bisa saja komplotan seperti ini bermain 
kasar.

Untuk itu selayaknya kita mengingatkan keluarga yang kita tinggalkan di rumah 
saat kita bekerja, dan juga kita sendiri tentunya, untuk lebih berhati-hati.

Regards,

Mujahidin
Purchasing Section
PT Komatsu Indonesia .

---

Ada yg punya kiat2 dalam mengatasi PENIPUAN seperti begini?
?Menurut saya kalo menang hadiah undian seperti ini tidak mungkin di antar ke 
rumah deh, pasti di ambil di tempat penyelenggara dan bayar pajak full dengan 
tanda terima resmi atau langsung bayar di bank a/n penyelenggara.

Kirim email ke