*Buddhist Wisdom*

*Dalam*

*Manfaat Hidup Beragama*


Yang terakhir ini lebih penting, karena merupakan mahkota, puncak ajaran
agama Buddha. Ciri khas atau ciri istimewa agama Buddha adalah *THE
BUDDHIST WISDOM* atau *KEBIJAKSANAAN BUDDHIS*. Ada dua hal Kebijaksanaan
Buddhis; yang pertama agak mudah dan yang terakhir agak sukar.

Sering kali kami para bhikkhu mendengar keluhan dari umat: “Bhante, saya
sudah menjaga diri saya, saya sudah berusaha menjalani hidup ini dengan
sebaik ��?baiknya, sejujur ��?jujurnya, saya masih mempunyai kesempatan
mengabdi untuk organisasi, untuk majelis, untuk perkumpulan sosial, untuk
vihara, untuk para bhante dan sebagainya. Tetapi mengapa Bhante, saya masih
mengalami kesusahan ��?kesusahan, kesulitan ��?kesulitan, kadang cacian,
hinaan, fitnah dan bermacam ��?macam kesulitan yang tidak ada habis 
��?habisnya?��?


Lazimnya adalah *Common Wisdom* atau *Kebijaksanaan Umum*. Ada umat yang
bertanya: “Bhante, mengapa ada rumah seseorang yang dijarah sampai habis dan
dibakar ?��?*Common Wisdom* atau kebijaksanaan umum mengatakan sekarang
masyarakat ini sudah tidak punya norma, tidak takut lagi melakukan
kekerasan, benar ��?benar bejat. Orang yang menjadi korban kekerasan akan
marah pada orang yang melakukan penjarahan dan pembakaran. Itulah yang
disebut dengan *common wisdom*, kebijaksanaan umum.



Tetapi kebijaksanaan Buddhis sangat berbeda. Kalau kita sudah hidup hati 
��?hati, sudah melakukan hal ��?hal yang baik, yang benar tetapi masih menjadi
sasaran kejahatan, sasaran kekerasan, maka agama Buddha akan menjawab bahwa
karma kita sendiri sedang berbuah. Kalau bukan akibat perbuatan (karma)
kita sendiri, kita tidak akan mengalami penderitaan seperti yang dialami
sekarang. Satu contoh: mengapa tetangga saya di sebelah kanan dan kiri
rumahnya tidak menjadi sasaran kekerasan tetapi mengapa hanya rumahnya
sendiri? Karena karma buruk sedang berbuah pada dirinya. Buddhist Wisdom
mengajak kita untuk melihat ke dalam diri kita dulu, tidak ke orang lain.



*Common Wisdom atau kebijaksanaan umum selalu melihat ke diri orang lain
dulu*; wah dia jahat, dia tidak punya moral, dia itu bukan manusia, kerjanya
marah terus. *Tapi Buddhist Wisdom mengajak kita melihat ke dalam diri kita
sendiri*. Orang mengatakan *The Buddhist Wisdom* adalah uncommon wisdom,
kebijaksanaan yang tidak umum.



Rumah orang yang menjadi sasaran kekerasan, dijarah bahkan sampai dibakar
karena ada sebab, yaitu: dalam hidup yang lampau dia pasti pernah menjarah
atau membakar rumah orang lain atau melakukan kejahatan lainnya. Kalau tidak
ada sebab atau orang itu tidak membuat sebab, tidak mungkin akhibat akan
datang pada orang tersebut. Jika kita telah mengerti kebijaksanaan Buddhis
ini, maka kita tidak akan marah kepada orang yang melakukan penjarahan,
kekerasan, fitnah, surat kaleng; justru yang timbul adalah *karuna, *rasa
kasihan. “Saya kasihan melihat dia berbuat kejahatan, Bhante. Nanti kalau
perbuatan dia berbuah, dia akan lebih menderita dari saya. Saya kasihan
melihat tingkah laku dia, melihat perbuatan dia.��?
Bukan kemarahan yang keluar, bukan kebencian yang keluar, bukan dendam yang
keluar tetapi rasa kasihan. Kasihan kepada orang yang sudah berbuat jahat,
karena kejahatan itu pasti akan berbuah penderitaan bagi dirinya.



Dulu di daratan Tiongkok ada seorang pejabat tinggi yang sangat tidak senang
dan benci sekali kepada seorang guru meditasi yang sudah tua. Suatu hari
pejabat ini datang ke vihara dimana Bhante, guru meditasi ini sedang berada.
Pejabat itu kemudian bertanya : “Bhante, kalau Guru melihat saya seperti
apa ?  Guru menjawab, “Kalau saya melihat Yang Mulia, Yang Mulia seperti
Buddha.��?Murid ��?murid guru meditasi tersebut sudah menjadi tidak sabar. 
“Orang
 ini sangat membenci kepada agama Buddha, sangat tidak senang kepada guru.
Mengapa guru memuji ��?muji, menyanjung ��?nyanjung dan mengatakan dia seperti
Buddha.��?Itu *common wisdom*, itu kebijaksanaan umum.

Sekarang murid ��?muridnya balik bertanya kepada pejabar tinggi tersebut:
“Nah, kalau Yang Mulia Pembesar melihat guru saya seperti apa ?��?“Oh, gurumu
seperti kerbau��? kata pejabat tersebut. Murid ��?murid guru meditasi menjadi
marah: “Guru saya menghargai Tuan, memuji Tuan, menyanjung Tuan, mengapa
Tuan menghina guru saya? Guru dikatakan binatang, dikatakan kerbau, hinaan
yang luar biasa.��?Itu juga *the common wisdom*, kebijaksanaan umum.
Kebijaksanaan Buddhis berbeda. Kebijaksanaan Buddhis itu *uncommon wisdom*.

Bagaimana kebijaksanaan Buddhis melihat? Kebijaksanan ��?kebijaksanaan umum
melihat bahwa Sang Guru dihina, dilecehkan dan dikatakan kebau oleh
Pembesar. Kebijaksanaan Buddhis mengatakan Pembesar itu berotak kerbau;
kalau tidak berotak kerbau, mulutnya tidak akan berbicara “kerbau��? Karena
di dalam otaknya berisi “kerbau��? dia mengucapkan “kerbau��? Tetapi pikiran
guru meditasi itu pikiran yang murni. Yang dipikirkan selalu yang baik ��?baik 
saja karena itu mulutnya mengatakan: “Yang Mulia seperti Buddha.��?Karena 
pikirannya baik, dari mulutnya akan keluar ucapan yang baik; kalau
pikirannya jelek maka dari mulutnya akan keluar kata ��?kata yang jelek. Itu
*Buddhist Wisdom*. Jadi yang sebenarnya Buddha adalah guru meditasi,
sedangkan yang kerbau adalah Pembesar itu. Kalau kita memakai *Buddhist
Wisdom*, kebijaksanaan Buddhis itu enak, kita tidak perlu marah ��?marah dan
dendam.



Kalau kita mengalami kesulitan, dicaci ��?maki, teman yang dulu baik sekarang
ingin menghancurkan usaha kita, kemudian kita datang kepada para bhikkhu.
Para bhikkhu tidak akan berkata, “Bersabarlah, Anda sedang dicoba.��?Tetapi
akan mengatakan: “Karmamu sedang berbuah.��?Mengapa dikatakan demikian?  Yah,
supaya dia tidak mendendam kepada orang itu, supaya dia tidak membenci
kepada orang itu karena sendiri yang berbuah. Kalau bukan karmanya sendiri
tidak mungkin dia mengalami hal yang seperti itu. Justru dia mearasa
kasihan: “Saya kasihan melihat pegawai saya itu, perilakunya yang jahat akan
membuat dia menderita, mungkin lebih sengsara dari penderitaan atau
kesulitan yang sekarang sedang saya alami.��?


Kita pasti menghibur yang menderita itu: *“Di dunia ini tidak ada yang
kekal, semuanya sementara, penderitaan yang kita alami juga tidak kekal,
jangan membenci: kalau ada kesempatan berbuat baik tambahkan
kebajikan.��?Tetapi sebelum dihibur, pertama kali harus “ditembak��?dulu
dengan
*Buddhist Wisdom*, bahwa karma jeleknya sendiri yang sedang berbuah; supaya
tidak timbul kemarahan, tidak timbul dendam, tidak timbul kebencian.



Kebijaksanaan yang kedua agak sulit untuk dipahami, itulah mahkota
keistimewaan agama Buddha; kalau dibandingkan dengan ajaran ��?ajaran lain.
Apakah kebijaksanaan yang kedua? Agama Buddha meminta kepada kita *“Siapkah
untuk menerima perubahan ?��? Tidak ada yang kekal dialam semesta ini,
semuanya berubah. Apa yang tidak berubah? Apa saja berubah!

Perubahan memang dapat membawa kemajuan. Yang kecil menjadi besar; ang dulu
tidak mampu sekarang hidupnya lebih baik; yang dibawah kemudian bisa naik;
karena perubahan. Kalau tidak ada hokum pperubahan tidak ada kemajuan.
Tetapi hokum perubahan tersebut juga membawa kehancuran; yang muda menjadi
tua; yang sehat menjadi sakit; yang di atas kemudian turun ke bawah; yang
sukses kemudian mengalami kegagalan, itu juga karena perubahan. Tidak ada
yang abadi, tidak ada yang tetap di alam semesta ini.



Menurut agama Buddha, *orang yang paling menderita adalah orang yang sulit
menerima perubahan terutama perubahan yang tidak enak*. Mengapa perubahan
harus bisa diterima? Karena kita tidak bisa menghentikan perubahan.


��?



Dikutip dari:

Buddhist Wisdom dalam Manfaat Hidup Beragama

Oleh: Sri Pannyavaro Mahatera

Ceramah Dhamma, 8 Juni 2003 di Teater Makasar, Makasar.

Diterbitkan oleh: Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya





semoga bermanfaat,


一日不见如隔百��?
It's not what you can get but what you can give that makes you a rich person

Kirim email ke