"BERSYUKUR"
 
diambil dari kotbah Suhu Dutvira Sthavira 
Lokasi : Vihara Avalokitesvara
JL.Mangga Besar Raya NO.58
Jakarta Barat 
(Seberang Lokasari)
 
Hidup manusia akan sulit memperoleh kebahagiaan bila dalam dirinya tidak 
memiliki rasa syukur . Sayang sekali pengertian syukur selalu diidentikkan 
dengan apa yang ia peroleh, padahal manusia juga harus mensyukuri apa yang 
telah dilakukan, suatu perbuatan yang berguna bagi orang lain.
 
Alkisah ada seorang pemuda berusia 40 th, namanya Afa. Ia merasa hidupnya hampa 
sekali, tidak tentram, sangat tidak berguna , akan tetapi karena punya uang ia 
berusaha mengatasi kekosongan jiwanya dengan pergi shopping, main golf, bahkan 
kehidupan malam dan berjudi ia jalani. Tapi ia tidak merasa gembira, selalu 
merasa jiwanya kosong.
 
Kemudian ia pergi ke desa, disitu ia melihat sekelompok petani sedang bercocok 
tanam dengan riang gembira. Hari berikutnya ia melihat seseorang menanam sayur 
dengan gembira, semuanya menjalankan pekerjaannya dengan penuh rasa gembira 
sehingga ia tertarik , kemudian ia bertanya,
 
Afa          :" Pak Tani, apakah hidup kamu gembira?"
Pak Tani :" Tuan ada-ada saja, tentu saja saya gembira . Liat tanaman sayurku 
subur-subur!"
 
Afa menafsirkan penghasilan petani ini lebih kurang 2 juta perbulan, belum lagi 
menghadapi kondisi yang tidak menentu mungkin bisa berkurang, tapi Afa tidak 
mengerti kenapa kehidupan petani ini gembira sekali.
 
Kemudian saat melanjutkan perjalanan ia melihat sebuah Vihara, lalu ia menemui 
seorang guru yang ada disitu.
 
Afa          : "Suhu, Vihara ini nampak sepi?"
 
Suhu       : "Iya, Vihara ini jauh dari kota jadi tidak banyak umat yang datang 
, aku hanya tinggal bersama 6 muridku tapi kami semua bergembira."
 
Afa          : " Suhu, apa kuncinya agar bisa gembira?"
 
Suhu        : " (Tertawa) Harta dunia ini hanya untuk keperluan hidup, bukan 
untuk kebutuhan hidup."
 
Buddha memberitahu, keperluan hidup manusia tidak banyak, hanya untuk makan, 
pakaian, tempat tinggal, dan biaya tidak terduga.
Kalau hal ini sudah terpenuhi tidak layak kalau seseorang tidak merasa gembira. 
Coba melihat para penanam sayur dan petani, hidupnya gembira sekali.
 
Hidup ingin gembira atau tidak, senang atau susah itu pilihan sendiri. Pilihan 
perbuatan itu harus dimulai dari batin yang gembira, ingin  memperoleh 
kegembiraan tiada jalan lain  harus mempunyai rasa syukur.       
 
 Afa    : " Aku juga sudah bersyukur Suhu, pada Tuhan bahkan pada 
karyawan-karyawanku dengan memberikan bonus dan aku juga berdana pada Vihara 
serta memberikan bantuan kepada fakir miskin."
 
Suhu   : " (Geleng kepala). Afa, Buddha telah memberitahu, batin kedalam adalah 
Buddha, batin keluar adalah setan. Maksudnya seseorang bersyukur karena dapat 
sesuatu, pasti suatu saat bertemu kondisi yang tidak menyenangkan , karena itu 
memang suatu kondisi hidup. Sekarang terkenal nanti ada orang yang lebih 
terkenal dari pada kita. Tidak terasa kehidupan terus berputar, oleh sebab itu 
kamu harus bersyukur ke dalam batin".
 
Afa     :" Ya Suhu! Sekarang hatiku sedang kesal, dulu aku terkenal sebagai 
orang yang punya uang dan dermawan, tapi di lion club sekarang muncul 
perkumpulan baru yaitu master club dan namanya ini lebih terkenal dari pada 
lion club. Aku disuruh pindah tapi aku tidak mau karena aku sudah terbiasa 
berbuat baik di lion club dan aku merasa berbuat baik dimanapun sama saja."
 
Suhu    :" Oleh karena itu kenapa kamu pusingkan bendera, orang mau dengan lion 
club ok, orang mu dengan master club ya sudah." 
 
Afa       :" Aku selalu resah Suhu, kenapa sekarang liion club cahayanya suram 
sekali?"
 
Suhu    :" Oleh karena itulah Fa..!!! Bersyukur jangan hanya karena saat 
mendapat, tapi harus belajar bersyukur karena masih ada kesempatan berbuat 
baik. Bersyukur karena bisa menjadi manusia berguna, bisa kerja dan bisa 
mencintai pekerjaan kita. Coba lihat para petani, hidupnya bisa gembira karena 
telah mensyukuri apa yang telah mereka perbuat dan hal inilah yang membuat 
mereka gembira."
 
Sejak itulah Afa hidup dengan gembira , batinnya tidak kosong dan resah ia bisa 
menikmati hidup dan bersyukur masih bisa berbuat  baik, dia tidak peduli 
bagaimana perbuatan orang terhadap dia.
 
 Teman-teman yang berbahagia, semoga kisah ini bisa membantu saudara memperoleh 
kehidupan yang hakiki, gembira, tentram, damai dan bahagia. Omitofo....
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke