05. Mengendalikan Kemarahan
 
Orang yang marah membuka mulutnya dan menutup matanya.
 
Seorang janda kaya aristokrat, yang terkenal murah hati di mata masyarakat, 
memiliki seorang pembantu rumah tangga yang rajin dan setia. Suatu hari, 
didorong oleh rasa ingin tahu, pembantu ini memberanikan diri menguji 
majikannya. Ia ingin tahu adakah majikannya sungguh-sungguh baik hati, atau 
hanya sekadar berpura-pura di muka kalangan elite belaka. Esok hari, ia sengaja 
bangun siang. Maji­kan menegurnya. Hari berikut­nya, pembantu itu bangun 
terlambat lagi. Kali ini nyonya rumah memarahi dan memukulnya dengan tongkat. 
Kabar ini segera berhembus dari satu tetangga ke tetangga lain. Janda kaya 
kehilangan nama baiknya dan juga pembantunya yang setia.
Layaknya masyarakat masa sekarang, orang menjadi baik dan rendah hati jika 
keadaan di sekitar mereka baik dan memuaskan. Jika keadaan berubah menjadi 
tidak menyenangkan, mereka marah dan tersinggung. Ingat pepatah, "Tatkala yang 
lain baik, kita juga dapat menjadi baik. Tatkala yang lain tak bermoral,  kita 
juga mudah  menjadi tak bermoral."
Kemarahan adalah emosi yang buruk dan merusak. Setiap orang dapat marah dalam 
satu atau lain bentuk di kehidupan sehari-hari. Kemarahan adalah emosi negatif 
yang bersembunyi di dalam diri kita, ia menunggu saat yang tepat untuk membakar 
dan menguasai kehidupan kita. Kemarahan bisa diumpamakan sebagai kilatan cahaya 
yang menyilaukan sesaat dan menyebabkan kita berperilaku tidak masuk akal. 
Kemarahan yang tidak terkendali dapat membawa kehancuran pada fisik maupun 
mental. Seperti emosi-emosi yang lain, kemarahan juga bisa dikendalikan.
 
Bahaya Yang Disebabkan oleh Kemarahan
Makhluk-makhluk tertentu tak bisa melihat pada siang hari, sementara yang lain 
buta pada malam hari. Orang yang memiliki kadar kebencian dan kegetiran hingga 
tingkat tertentu, tidak bisa melihat apa pun dengan jelas, baik pada pagi 
maupun malam hari. Ada ungkapan bahwa orang yang marah membuka mulut dan 
menutup matanya.
Dikatakan bahwa akibat kemarahan, orang yang marah meng­alihkan dirinya sendiri 
dengan merusak akal sehatnya. Seperti uang di bank yang berbunga, kemarahan di 
dalam pikiran juga akan memetik buahnya yang pahit. 
Sebenamya dengan siapa atau apa kita ber­tempur pada saat marah? Kita bertempur 
dengan diri sendiri, yang menjadi musuh terjahat. Kita harus berusaha 
terus-menerus untuk mengikis bahaya laten di dalam pikiran ini, dengan cara 
memahami situasi dengan tepat.
Kemarahan tumbuh semakin berkobar jika disiram minyak emosi, terutama jika 
keserakahan berada di balik emosi itu. Di saat-saat kemarahan menguasai, 
manusia berhenti menjadi manusia: ia berubah menjadi binatang buas yang tidak 
hanya memiliki kecenderungan untuk merusak orang lain, tapi juga menghancurkan 
diri sendiri. Kemarahan bisa melenyapkan reputasi, pekerjaan, kawan, kekasih, 
kedamaian pikiran, kesehatan, bahkan diri sendiri.
Buddha menjelaskan kejinya kemarahan dan bersabda bahwa pada saat seorang 
diliputi kemarahan, tujuh hal menimpanya; tujuh hal yang cuma mengabulkan 
hasrat musuh-musuhnya dan membuat mereka bersenang hati. Apakah ketujuh hal itu?
1.    Ia akan kelihatan buruk walaupun berpakaian dan bertata rias baik. 
2.    Ia akan terbujur kesakitan, walaupun ia  tidur di atas kasur yang empuk 
dan hangat. 
3.    Ia akan melakukan perbuatan yang hanya akan membawa kerusakan dan 
penderitaan, karena menganggap yang baik sebagai yang buruk dan yang buruk 
sebagai yang baik, dan karena selalu gelisah dan tidak lagi memakai akal sehat.
4.      la akan menghabiskan kekayaan yang diperolehnya dengan susah payah, 
bahkan melanggar hukum. 
5.    Ia akan kehilangan reputasi dan nama baik yang dicapai dengan ketekunan.
6.    Teman-teman, famili, dan orang yang dikasihinya akan menghindari dan 
mengambil jarak darinya. 
7.    Setelah mati ia akan dilahirkan di alam yang tidak menyenangkan, karena 
orang yang dikuasai kemarahan melakukan perbuatan yang tercela yang hanya 
membawa akibat buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran.
- Anguttara Nikaya -
 
Nasib buruk seperti di atas adalah yang di­harapkan oleh musuh seseorang. Dan 
semua itu ada­lah nasib sangat buruk yang akan menimpa orang yang dikuasai 
kemarahan.
 
*****
 
 
Mengatasi Kemarahan
Cara terbaik mengendalikan kema­rahan adalah dengan berlaku seolah-olah 
pikiran-­pikiran yang tidak diinginkan tidak muncul dalam pikiran. Dengan 
kekuatan tekad, kita pusatkan pikiran pada sesuatu yang bermanfaat dan dengan 
cara inilah emosi-emosi negatif dikalahkan. Tidak mudah bersikap damai pada 
orang yang menghina kita. Meskipun fisik tidak disakiti, ego terasa 
direndahkan, sehingga ada keinginan untuk menyerang balik. Sungguh tidak mudah 
membalas hinaan dengan rasa menghargai dan memaklumi. Namun ujian karakter 
seseorang justru dinilai dari sikap­nya dalam menghadapi situasi yang 
memojokkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak kecil juga sudah dapat dilihat 
bahwa kita suka membalas dendam demi kepuasan diri sendiri.
 
Ia menghinaku, menyakitiku, mengalahkanku, merampokku. Dalam diri orang yang 
dipenuhi pikiran seperti itu, kebencian tak akan berakhir.
 - Buddha -
 
Kegelapan tidak dapat diatasi dengan kegelapan, melainkan dengan terang. 
Demikian juga, kebencian tak dapat dikalahkan dengan kebencian, melainkan 
dengan cinta kasih.
Mengenai hal ini, Buddha mengibaratkan sebagai berikut: ”Ada orang yang 
diibaratkan laksana aksara terukir di atas batu; mereka cepat menyerah pada 
kemarahan dan menyimpan kemarahan itu di dalam hati untuk waktu lama. Ada juga 
orang seperti laksana goresan surat di atas pasir; mereka juga marah, namun 
kemarahan  itu cepat berlalu. Orang yang laksana huruf  yang ditulis di 
permukaan air; mereka tidak menyisakan goresan huruf yang datang. Tapi orang 
yang sem­purna laksana surat yang tertulis di angin; mereka tak mengacuhkan 
hal-hal menyakitkan dan yang berupa penghinaan; pikiran mereka senantiasa murni 
tak terusik.”
Bahkan jika kita merasa marah pada ketidak­adilan yang menimpa orang lain, kita 
tetap harus mengatasi kemarahan itu, karena kita tak mungkin dapat berbuat 
sesuatu yang bermanfaat dalam keadaan pikiran yang ter­ganggu. Ketika kita 
sedang marah, hendaknya kita dapat  menyadari keadaan itu. Pandanglah kemarahan 
itu sebagai satu keadaan mental, tanpa mengarahkannya pada obyek yang 
menyebabkan kemarahan itu timbul.
Kita harus belajar mengamati dan meneliti emosi-­emosi kita pada saat sedang 
marah. Dengan terus menerus mempraktikkan analisa diri terhadap gairah‑gairah 
yang timbul dalam pikiran, kita akan lebih percaya diri dalam mengendalikan 
diri sendiri dan tidak akan berlaku dungu dan tak masuk akal. 
 
Nasihat Buddha:
Sungguh baik mengendalikan perbuatan;
sungguh baik mengendalikan ucapan;
sungguh baik mengendalikan pikiran;
sungguh baik terkendali dalam segalanya.
Orang suci yang terkendali dalam segalanya
Akan terbebas dari kesedihan.
 
Tidak semua orang menggunakan metode yang sama untuk mengatasi kemarahannya.. 
Salah satu cara yang efektif adalah dengan menerapkan metode 'mengulur waktu'. 
Thomas Jefferson meringkas metode ini dalam kata-katanya. "Jika marah, hitung 
sampai sepuluh sebelum melepaskan kata-kata. Jika sangat marah, hitunglah 
sampai seratus."
Salah satu resep untuk mengembangkan pengendalian watak yang lebih baik adalah 
dengan mengulang-ulang di dalam hati kata-kata di bawah ini setiap hari..
 
"Saya mampu mengendalikan kemarahan,
 saya mampu mengatasi gangguan,
saya akan tetap sejuk dan tak akan terbakar,
saya akan kokoh seperti karang, 
tak goyah oleh kemarahan,
saya berani dan penuh dengan harapan."
 
Dengan mengulangi kalimat-kalimat itu, kita bisa menguatkan pikiran dengan 
meraih kepercayaan diri dan ketenangan pikiran. Pada saat menghadapi perbuatan 
tidak benar yang dilakukan orang lain, kita juga bisa mengingat kata-kata 
Buddha.
"Jika orang dengan kedunguannya berbuat salah terhadapku, aku akan membalas 
dengan perlindungan tirai kasihku yang tak terbatas; semakin ia berbuat jahat, 
se­makin baik yang harus kuberikan; harum kebajikan akan datang padaku, dan ia 
hanya akan menuai karma buruk.
Orang bertemperamen jahat berusaha melukai orang bajik, seperti orang yang 
meludah ke langit; ludah tak pernah mengotori langit. Bahkan wajah sendiri yang 
terkena percikan itu. Orang penfitnah laksana orang yang menebar debu melawan 
angin. Debu akan berbalik menimpah kepada orang yang menebarkannya. Orang bijak 
tak bisa dilukai; kesengsaraan akan berbalik kepada orang yang suka men­fitnah."
 
*****
 
Disadur dari buku Best Seller Karaniya "Hidup Sukses dan Bahagia",
karya. Dr. K. Sri Dhammananda,
Penerbit: Yayasan Karaniya
Hub: 021-5687929 atau 081-315-315-699
email: [email protected]
online order: www.karaniya.com
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke