��?Kesulitan ekonomi dan kekurangan biaya menyebabkan banyak anak-anak 
terlantar dan tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan - ( Sumber : BPS ) -

Mari membantu pendidikan anak-anak bersama Kasih Dharma Peduli -

Link : http://groups.yahoo.com/group/Kasih-Dharma-Peduli/

Untuk Informasi lebih lanjut, Silahkan Menghubungi :

1. Email : [email protected]
2. YM : [email protected] ( Felix Angkasa - Medan )
3. YM : [email protected] ( Felix Thioris - Makassar )

Kunjungi Friendster & Facebook Kasih Dharma Peduli di:

[email protected]

Terima kasih atas dukungan dan partisipasi sahabat-sahabat Kasih Dharma Peduli.

Semoga Semua Mahkluk Berbahagia.

®

-----Original Message-----
From: "Kasih Dharma Peduli" <[email protected]>
Date: Tue, 19 Jan 2010 04:19:26
To: <[email protected]>
Subject: [Kasih-Dharma-Peduli] Fwd: [Artikel] Selamatkan Generasi Bangsa


ANAK BANGSA

Tulisan ini dibuat berdasarkan beberapa sumber data yang akurat serta 
pengalaman kami dalam pelayanan anak jalanan Yayasan YBK moveta (generasi 
penakluk) mulai tahun 2002 sampai sekarang, di kota semarang.

Untuk apa?.. untuk menggugah kepedulian kita terhadap suatu perubahan manusia 
Indonesia bermula dari usia dini anak bangsa. Kepedulian untuk menyelamatkan 
calon pemimpin Indonesia masa mendatang.

Sebenarnya Pancasila jelas merumuskan tujuan bangsa yang salah satunya untuk 
menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi segenap warganya. Hal ini 
sebenarnya terwujud dari program sosial-kemanusiaan pemerintah dibantu oleh 
lembaga-lembaga yang terkait dan menitik beratkan pada kesejahteraan anak-anak 
bangsa, baik dari segi pendidikan maupun ekonomi. Akan tetapi, yang sering 
terjadi selama ini, program-program kemanusiaan untuk anak-anak masih tidak 
optimal bahkan cenderung terabaikan. Padahal jika kita bebicara permasalahan 
sosial maka masalah anak-anak jalanan, putus sekolah dan anak terlantar mejadi 
bagian yang tidak bisa dihindari.
 
FAKTA MENUNJUKKAN

Data menunjukkan jumlah anak putus sekolah di Indonesia terus meningkat setiap 
tahunnya. Pada tahun 2006 jumlahnya “masih��?sekitar 9,7 juta anak. Namun, 
setahun kemudian sudah bertambah sekitar 20 % menjadi 11,7 juta jiwa.

Menurut catatan Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2007 sekitar 155.965 anak 
Indonesia hidup di jalanan. Sementara pekerja di bawah umur sekitar 2,1 juta 
jiwa. Anak-anak tersebut sangat rawan menjadi sasaran perdagangan anak. Data 
dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan 
Nasional dan sensus nasional tahun 2002 menyebutkan anak Indonesia yang putus 
sekolah di tingkat SD sebesar 1,46 persen, putus sekolah di tingkat SMP/MTs 
sebesar 2,27 persen dan di tingkat SMA sebesar 2,48 persen. Selain itu masih 
ada sekitar 283.990 anak yang buta aksara. Salah satu penyebab anak putus 
sekolah itu adalah gizi buruk. Dari 23,725 juta anak Indonesia, 1,25 juta 
mengalami gizi buruk.. Selain masalah pendidikan, mereka yang kurang beruntung 
akhirnya harus bernasib menjadi anak jalanan, anak yang diperdagangkan, anak 
korban eksploitasi, anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang mengidap 
HIV/AIDS dan anak korban narkoba. Belum lagi anak-anak yang berkonflik dengan 
hukum. Bahwa ada kecenderungan anak semakin dieksploitasi oleh orang tua atau 
terpaksa mencari nafkah, diungkapan Peneliti dari Lembaga Demografi Universitas 
Indonesia, Donovan Bustami, yang mengutip data dari Depnakertrans menyebutkan 
jumlah pekerja anak di Indonesia pada tahun 1995 sebesar 1,6 juta, kemudian 
meningkat menjadi 1,7 juta di tahun 1996 dan meningkat kembali menjadi 1,8 juta 
pada tahun 1997. Tahun 1998 mencapai 2,1juta anak..

Data itu tidak menggambarkan situasi yang sesungguhnya, bahwa jumlah pekerja 
anak jauh lebih besar dari data BPS atau Depnakertrans. Karena laporan 
Depdiknas menunjukkan bahwa antara tahun 1995-1999 tercatat 11,7 juta anak usia 
sekolah yang terpaksa putus sekolah dengan alasan
bekerja.
 
FAKTA ANAK JALANAN

Data terakhir (2008) yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 
bahwa anak jalanan Indonesia berjumlah 154.861 jiwa. Menurut Komisi Nasional 
Perlindungan Anak (Komnas PA, 2007), hampir separuhnya, yakni 75.000 anak 
jalanan berada di Jakarta. Sisanya tersebar ke kota-kota besar lainnya seperti 
Medan, Palembang, Batam, Serang, Bandung, Jogja, Surabaya, Malang,semarang dan 
Makassar.

Anak jalanan dapat dibagi dalam tiga kategori, yakni:
 
1.Children of the Street

24 jam hidup di jalanan. Makan, tinggal, tidur, dan bekerja di jalan.Tidak ada 
lagi kontak dengan keluarga, tidak lagi pulang ke rumah (meskipun ada). Tidak 
bersekolah.
 
2.Children on the Street

Masih memiliki keluarga dan pulang ke rumah, sebagian ada yang bersekolah. 
Kategori inilah yang meroket jumlahnya semenjak krisis 1997 melanda Indonesia, 
berhubung penghasilan orang tua yang menurun karena gelombang PHK dan krisis 
ekonomi yang melanda. Membantu orang tua termasuk membiayai biaya sekolah 
menjadi salah satu alasan mereka bekerja di jalan.
 
3.Children Vulnerable to Be on the Street

Kelompok anak yang berteman dengan 2 tipe di atas & terkadang ikut-ikutan turun 
ke jalan. Yang melihat “asyiknya��?gaya hidup jalanan: bebas, punya uang, dll. 
Tinggal menunggu the “crash��?moment seperti dipukul orang tua, perceraian, 
bencana (kebakaran, penggusuran, banjir, dsb) untuk masuk dalam tipe 1 atau 2.
 
Menurut hasil penelitian di 12 kota besar yang dilakukan Kementerian 
Pemberdayaan Perempuan, jumlah anak jalanan tahun 2003 sebanyak 147.000 orang. 
Dari data tersebut terungkap, sebanyak 60% putus sekolah, 40% masih sekolah. 
Sedangkan sebanyak 18% adalah anak jalanan perempuan yang berisiko tinggi 
terhadap kekerasan seksual. Selain itu, banyaknya anak turun ke jalan tidak 
lain karena kemiskinan yang menerpa keluarga mereka. Berdasarkan survei yang 
dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan, alasan anak bekerja di jalan 
benar karena membantu pekerjaan orangtua sebanyak 71%, dipaksa membantu 
orangtua 6%, menambah biaya sekolah 15%. Sedangkan alasan ingin hidup bebas, 
untuk uang jajan, dapat teman, dan lainnya sekitar 33%.
Tapi dari survey yang dilakukan beberapa LSM-LSM independent termasuk survey 
Yayasan YBK MOVETA (2001-2008) di semarang didapati alasan anak turun ke jalan 
dan menjadi ‘anak jalanan��?adalah 80% masalah ketidak harmonisan dalam rumah 
tangga. Sedangkan sisanya merupakan masalah ekonomi

Secara umum di Indonesia dipercaya alasan utama anak turun kejalan alasan 
ekonomi keluarga masih menjadi pendorong utama anak bekerja di jalan. Akibatnya 
sebanyak 13% anak jalanan mengalami putus sekolah dalam usia sekolah karena 
kekurangan biaya. Ada satu fakta menarik, yaitu si anak bisa menjadi sumber 
ekonomi keluarganya.

Sebab pada umumnya seluruh penghasilan mereka diberikan kepada orang tuanya. 
Artinya, ternyata memang anak jalanan itu menjadi aset ekonomi keluarga. Dan 
hal tersebut yang mempersulit menarik anak dari jalanan dan mengembalikan 
mereka ke dunia anak-anak. Bahkan dalam berbagai kasus malah orang tua anak 
sendiri yang mengharuskan si anak untuk tidak sekolah tapi menganjurkan untuk 
“cari duit��?saja. Buat apa sekolah demikian kata mereka “wong��?dengan ngamen 
saja sudah dapat uang kok.
 
SIAPAKAH YANG BERTANGGUNG JAWAB?

Lalu, ke mana dan kepada siapakah anak-anak ini bisa mengadukan nasibnya? Orang 
tua mereka sendiri tiap hari banting tulang mencari nafkah di sektor informal 
dengan gaji yang hanya cukup untuk makan. Yang lain terlalu sibuk dengan urusan 
mereka sehingga si anak tidak menemukan kasih sayang dirumah. Sesuai bunyi UUD 
1945 pasal 34 ayat 1 “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh 
negara��? maka pemerintah memang menjadi pihak yang paling bertanggung jawab 
dalam menangani nasib anak-anak Indonesia yang terlantar. Program Jaring 
Pengaman Sosial (JPS) pernah diluncurkan, rumah-rumah singgah didirikan dan 
disubsidi, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dihadirkan di sejumlah 
titik, namun belum mampu mengurangi eksodus anak-anak marjinal ini ke jalan.

Tangggung jawab pemerintah sajakah?

Tentu saja tidak. Nasib bocah-bocah kurang beruntung itu adalah tanggung jawab 
kita semua, apalagi Gereja Tuhan. Bahkan bisa jadi kitalah yang membuat mereka 
betah di jalan. Dalam kasus anak jalanan bila kita kalikan jumlah mereka sesuai 
data BPS di atas (150.000 anak) dengan jumlah penghasilan yang mereka peroleh 
perhari berkisar Rp 20.000 (perhitungan paling minim,biasanya 30.000), maka 
setiap harinya rakyat Indonesia membuang receh sebesar 3 milyar rupiah. Satu 
angka dahsyat yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita karena 
mengganggap memberi lembaran seribu tatkala menemui tangan-tangan kecil yang 
menengadah adalah satu filantropi minimal yang bisa kita lakukan.Patut 
disayangkan bila nominal sebesar itu seringkali mereka habiskan ��?sesuai natur 
anak - untuk jajan, bermain dingdong atau tempat penyewaan play station. Bila 
tidak, mereka masih harus menghadapi kemungkinan diperas oleh preman, menyetor 
ke orang tua atau para senior, atau untuk tebusan saat mereka terjaring operasi 
kamtib. Akan lebih baik bila jumlah sebesar itu diperuntukkan untuk bantuan 
yang bersifat jangka panjang, seperti beasiswa sekolah, asupan nutrisi rutin, 
modal usaha bagi orang tua mereka, pembekalan ketrampilan bagi anak putus 
sekolah,dan program-program bermanfaat lainnya.

Penanganan nasib komunitas anak marjinal tidak bisa ditunda lagi dan dibiarkan 
berlarut dengan asumsi ada pemerintah, LSM serta aktivis sosial yang menangani. 
Angka 12,7 juta anak yang putus sekolah (Komnas HAM; 2004), 4,2 juta pekerja 
anak (ILO; 2007), ditambah mereka yang mengalami malnutrisi, korban 
trafficking, korban fedofilia, korban penjualan organ (seperti kasus mutilasi 
bocah yang sempat dikira Asep), dan hal-hal destruktif lainnya adalah satu 
jumlah angkatan besar yang memberi kontribusi signifikan bagi kualitas manusia 
Indonesia di masa depan. Mereka adalah calon ayah, calon ibu, calon pekerja, 
calon pemimpin yang bila kualitasnya sudah demikian buruk di masa sekarang, 
menjadi cerminan bagaimana kualitas mereka 10-20 tahun mendatang. Nasib bangsa 
ini, suka tidak suka, berbagian dengan mereka.

Mari ambil bagian mulai dari sekarang, meski itu hanyalah hal kecil yang bisa 
kita lakukan. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak berbuat sama sekali. 
Daripada memberi uang yang sebagian besar tidak mereka nikmati, mulailah 
memberi sesuatu yang memiliki manfaat langsung ke mereka dan bukan filanteropi 
tanpa manfaat. Salurkan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi melalui 
lembaga yang bisa dipercaya atau bentuk bimbingan belajar di lokasi di mana 
mereka sering berkumpul. Aksi kecil yang positif secara agregat bisa memberi 
kontribusi nyata untuk menyelamatkan tunas-tunas bangsa ini.

(diambil dari berbagai sumber dan apa yang kami alami)

��?KDP®

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke