Dari: Facebook <[email protected]>
Judul: "Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya" mengirimi Anda pesan di Facebook...
Kepada: "Joe Hoey Beng" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 25 Januari, 2010, 12:49 AM


Wahyudi Ekaputra 林枝��?mengirim pesan kepada anggota Vihara Jakarta Dhammacakka 
Jaya.

--------------------
Judul: Ceramah Minggu Pagi 24 Januari 2010 oleh Bhikkhu Upasamo

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

NINDĀ DAN PASAṀSĀ

Na cāhu na ca bhavissati, Na cetarahi vijjati,
Ekanta��?nindito poso, Ekanta��?vā pasaṁsito’ti.
Tidak akan ada satu orangpun yang akan terus dipuji dan terus dicela,
baik waktu lalu, sekarang, atau akan datang.

(Dhammapada 228)

A.    Semua orang di dunia menerima nindā dan pasaṁsā

Nindā berarti celaan, caci-maki, hinaan, fitnah, kritikan, sedangkan pasaṁsā 
berarti sanjungan, pujian.
Setiap orang sangat mendambakan untuk mendapatkan pasaṁsā dan tidak 
menginginkan untuk mendapatkan nindā. Kita akan sangat senang dan bangga jika 
menerima pasaṁsā, namun akan sangat kecewa dan marah jika kita  menerima nindā. 
Itulah kecenderungan cara kita hidup di dunia ini.
Magandiya yang memiliki dendam kepada Sang Buddha menyewa orang untuk 
mencaci-maki Sang Buddha saat Beliau memasuki kota untuk pindapata. Bhante 
Ananda memohon kepada Sang Buddha untuk pergi ke tempat lain.
Sang Buddha menolak dan berkata, ”Di kota lain kita  mungkin juga dicaci-maki 
dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang 
dicaci-maki.
Ketika kita hanya menginginkan pasaṁsā dan menolak nindā, maka kita akan 
menderita karena perilaku kita masih belum sempurna, dan walaupun perilaku kita 
sudah sempurna seperti Sang Buddha sendiri, Beliau tidak selalu menerima 
pasaṁsā dalam hidupnya, tapi masih juga menerima nindā.

B.    Benarkah memberikan celaan dan pujian kepada orang lain?

Seseorang mengkritik apa yang pantas dikritik dan memuji apa yang patut dipuji 
pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran.
(Aṅguttara Nikāya, II, 97).
Ini bukan berarti kita bisa seenak hati mencela dan memuji orang lain, karena 
Sang Buddha berkata: ”Dicela dan dipuji oleh orang bodoh, tidaklah berarti. 
Seseorang akan benar-benar tercela jika ia dicela oleh orang bijaksana, dan 
seseorang benar-benar terpuji jika ia dipuji oleh orang bijaksana��?

C.    Cara memberikan celaan dan pujian

Alasan orang memuji:
1.    Manusia juga membutuhkan makanan batin.
2.    Memberikan kebahagiaan.

Cara memberikan pujian:
1.    Pujian itu harus sungguh-sungguh dan tulus.
2.    Pujilah perbuatannya, bukan pelakunya.

Alasan orang mengkritik:
1.    Untuk menunjukkan kesalahan orang lain.
2.    Untuk melampiaskan ketidak-senangan.
3.    Untuk membuat orang lain nyaho (kapok).

Cara memberikan kritikan:
1.    Kecaman harus di ruang tertutup, tidak ada pintu yang terbuka, suara 
tidak tinggi, dan tidak ada orang.
2.    Dahului kecaman dengan pujian, dengan menciptakan suasana bersahabat.
3.    Kecaman bukan untuk menenggelamkan pribadinya, tapi perbuatannya.
4.    Jika memberi kritikan, berikan juga jawaban bagaimana seharusnya.
5.    Minta kerjasama bukan menuntut.
6.    Satu kecaman untuk satu pelanggaran.
7.    Selesaikan kecaman dengan nada bersahabat.
--------------------

Kirim email ke