03 Mei 2010 

Tempo Online 
Utamakan Air Putih 
SUHU tinggi membungkus Jakarta belakangan ini. Malam hari pun, angka pada 
termometer udara tak merosot dari 37 derajat Celsius. Kadang hujan memang masih 
mengguyur, tapi sergapan panas siap menggantikannya. Hal ini terjadi seiring 
dengan transisi menjelang kemarau sejak Maret lalu. "Gelombang matahari 
langsung menyengat," ujar Soetamto, Kepala Bidang Informasi Perubahan Iklim 
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 
 
 
Kondisi semacam itu jelas tidak baik untuk kesehatan. Namun tak banyak orang 
memperhatikannya. Padahal berbagai ancaman penyakit mengintai. "Kualitas udara 
dan air memburuk, daya tahan tubuh menurun," kata Ari Fahrial Syam, dokter ahli 
penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis pekan lalu. 
Penurunan daya tahan terjadi terutama karena tubuh kekurangan cairan akibat 
pengeluaran air yang besar dan tidak diimbangi pemasukan. Apalagi ditambah 
dengan gaya hidup yang penuh muatan stres. 
 
 
Gangguan kesehatan yang paling banyak mengancam adalah infeksi saluran 
pernapasan atas. Infeksi terjadi karena kombinasi aktivitas menghirup udara 
kotor dan reaksi yang salah atas kondisi gerah. "Kesalahan yang umum adalah 
orang justru minum es atau yang dingin-dingin di saat kondisi panas," kata Ari. 
 
 
Air akan melembapkan area dalam tubuh yang mudah diserang bakteri dan virus, 
seperti daerah bronkus (pipa saluran pernapasan), mukosa (lapisan kulit bagian 
dalam), lambung, dan usus. Kondisi lembap di area itu akan mengaktifkan sistem 
kekebalan tubuh. Tapi, jika konsumsi air kurang, membran mukus (lapisan dalam) 
pada bronkus akan mengering, sehingga dahak dan lendir akan menempel menjadi 
tempat virus dan bakteri berkembang biak. 
Kualitas air yang menurun juga memicu penyakit diare. Menurut Ari, pada masa 
transisi musim seperti ini, diare bisa menjadi wabah di suatu daerah, bahkan 
bisa meningkat menjadi kejadian luar biasa. "Tapi pantauan sejauh ini belum 
ada," ujarnya. Nah, selain infeksi dan diare itu, gangguan kesehatan yang 
mengintai adalah iritasi kulit atau sakit kepala karena panas yang menyengat 
langsung. 
 
 
Dalam kondisi seperti ini, langkah antisipasi yang menjadi prioritas untuk 
menjaga kesehatan adalah minum air putih yang banyak demi menghindari 
kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi. "Ini tip umum, tapi kadang orang lupa," 
kata Ari. Kalau biasanya asupan air 6-8 gelas sehari, pada kondisi panas perlu 
ditingkatkan menjadi sekitar 10 gelas. "Lebih banyak lagi kalau aktivitasnya di 
jalanan dengan keringat banyak." 
 
Selain mengganggu keseimbangan dan daya tahan tubuh, dehidrasi parah dapat 
menyebabkan penurunan kesadaran, koma, bahkan kematian. Jika tubuh kekurangan 
air, sirkulasi oksigen ke seluruh sel tubuh terhambat. Air sangat fungsional 
untuk mendukung metabolisme tubuh. 
 
 
Mengenai vitalnya air ini, dalam satu kesempatan seminar, ahli gizi masyarakat 
Institut Pertanian Bogor, Profesor Soekirman, mencontohkan, di Venezuela, air 
sudah masuk piramida gizi seimbang. Dalam susunannya, air minum terletak di 
dasar piramida, sedangkan kelompok karbohidrat, seperti nasi, mi, pasta, dan 
roti, di atasnya. "Menjadi basis dari susunan gizi seimbang," ujarnya. 
 
 
Soal minum air putih, dokter Riani Susanto, ahli naturopati (cara pengobatan 
alami), mencatat masih adanya kekeliruan yang sering dilakukan orang, yakni 
menganggap air putih bisa digantikan minuman seperti es, teh, atau kopi. 
"Minuman manis dengan gula tambahan justru menurunkan daya tahan tubuh hingga 
enam jam ke depan," katanya. Untuk menghadapi cuaca panas, tip dari Riani 
secara umum sama, yakni cukup minum air putih serta memperbanyak asupan sayuran 
dan buah buat menjaga daya tahan tubuh. "Ini kan tidak mahal, tapi orang suka 
menyepelekannya." 
 
 
Konsumsi air lebih banyak masih diperlukan mengingat kondisi cuaca ekstrem 
diprediksi belum akan berakhir cepat. "Secara umum sampai Mei masih terjadi," 
kata Soetamto. Memang, kondisinya berbeda di setiap daerah di Indonesia. 
Harun Mahbub 

Kirim email ke