Kita adalah Karma. Sesederhana itu. Sebenarnya, Karma adalah kata sanskerta yang secara umum di terjemahkan sebagai sebab dan akibat. Apa artinya ini ? Sesuatu terjadi dalam kesadaran kita kemarin dan hari ini kita mengalami akibatnya, termaksud juga lingkungan kita; orang tua seperti apa, situasi dan kondisi hidup seperti apa - segala sesuatu yang mempengaruhi diri kita.
Selagi menjalani kehidupan, apa pun yang kita lakukan setiap hari, setiap saat, selalu ada rantai sebab dan akibat, sebab dan akibat, sebab dan akibat dalam kesadaran kita; itulah Karma. Selama kita memiliki tubuh ini, selama kita berinteraksi dengan dunia indrawi, selama kita membeda-bedakan - ini baik, itu buruk - maka secara otomatis kesadaran kita menciptakan karma, sebab dan akibat. Karma bukanlah hanya filsafat yang bersifat teori, melainkan sains, ilmu pengetahuan Buddhis. Karma menjelaskan cara kehidupan berevolusi; wujud dan perasaan, warna dan sensasi, kebiasaan membeda-bedakan; seluruh kehidupan kita, siapa diri kita, dari mana asal kita, bagaimana kesadaran kita berlanjut, dan hubungan kita dengan kesadaran kita. Karma adalah penjelasan Buddhadharma Mengenai evolusi secara ilmiah. Kita adalah karma, seluruh kehidupan kita dikendalikan oleh karma, dan kita hidup dalam medan energi karma. Energi kita berinteraksi dengan energi lain, Kemudian energi yang lain berinteraksi dengan energi lainnya, begitu seterusnya sehingga seluruh kehidupan kita terjadi. Baik fisik maupun mental, semuanya adalah karma. Karena sifat keberadaan dari Citta dan tubuh, kita terus menerus berputar dalam enam alam keberadaan, terlepas apakah kita percaya karma atau tidak. Dalam dunia fisik, ketika faktor-faktor tertentu bergabung - bumi, laut, empat elemen, panas dan sebagainya - dengan sendirinya akan menghasilkan akibat; tidak perlu ada unsur percaya untuk mengetahui hal ini. Sama halnya dengan dunia internal kita, khususnya ketika kita berinteraksi dengan dunia indrawi; kita bereaksi secara terus menerus. Sebagai contoh, tahun lalu kita menikmati coklat lezat dengan penuh ketertarikan dan sejak itu kita belum mendapatkan coklat lagi sehingga kita begitu menginginkannya: " Oh, saya benar-benar ingin coklat". Kita teringat pengalaman sebelumnya mengenai coklat, memory tersebut menyebabkan kita begitu menginginkan coklat dan mencengkeramnya. Reaksi terhadap pengalaman sebelumnya itu adalah karma; pengalaman adalah penyebabnya, keinginan untuk mendapatkan coklat adalah akibatnya. Sumber : Sebening Dasar Lautan - Lama Yeshe ® ------------------------------------ ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org **Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
