Minggu, 23 Mei 2010 , 10:42:00
Rasa Kemanusiaan
Oleh : Saiman, S.S.

SEBUAH kisah dalam tradisi Zen 
mengungkapkan bagaimana religiusitas mungkin berhadapan dengan peraturan formal 
agama. Kisah dua orang Biksu, Tanzan dan Ekido namanya, ketika 
bertemu dengan seorang wanita yang membutuhkan pertolongan untuk 
menyeberangi sungai yang deras arusnya. Wanita itu kesulitan untuk 
menyeberang sungai dan Biksu Tanzan secaran spontan  menolong dengan 
cara  menggendong wanita itu hingga ke tepi seberang. Lalu kedua biksu 
tersebut melanjutkan perjalanan sebagaimana yang dituju. Lewat setengah 
hari kemudian, Biksu Ekido yang titak dapat lagi menahan perasaannya 
menegur temannya, “Engkau telah melanggar peraturan ” Bukanlah seorang 
biksu tidak boleh menyentuh wanita ?” Kemudian Biksu Tanzan menjawab 
”Yang menggendong wanita itu ke seberang sungai tidak menyentuh dengan 
nafsu, ia berlaku spontan dan tidak terpengaruh  olehnya sehingga ia 
tidak lagi memikirkan tentang apa yang telah diperbuatnya. Apa yang ia 
lakukan hanya sebatas rasa ingin menolong mereka yang sedang dilanda 
kesulitan.

Buddha menekankan bahwa segala sesuatu dilakukan melalui  menyadaran 
dengan mental yang jeli tentang sesuatu perbuatan yang dilakukannya, 
karena perbuatan yang dilakukan akan membawa dampak atau membawa karma. 
Tanpa adanya suatu kehendak dari kesadaran  maka,  karma itu tidak akan 
membuahkan apa-apa. Sebagaimana dalam ajaran Buddha yang menyebutkan 
bahwa  suatu perbuatan yang tidak didasari dengan kehendak atau cetana 
maka, perbuatan itu dapat dikategorikan nihil atau tidak menghasilkan 
karma baru atau ahosi karma. Agama dan kemanusiaan  dapat dikelompokan 
sebagaimana apa yang disebut dengan Religiusitas. Para ahli menyebutkan 
bahwa Religiusitas  ditandai dengan sikap moral yang luhur, ketulusan, 
dan kepekaan yang membuat seseorang bersedia korban untuk mengekpresikan 
keimanannya terkait dengan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Orang sering menafsirkan bahwa apa yang disebut religius adalah  agama, 
padahal apa yang disebut sebagai agama lebih menunjuk kepada 
kelembagaan, kebaktian dalam aspeknya yang formal, ajaran termasuk 
tafsir kitab-kitab suci, peraturan atau hukum-hukumnya, dan keseluruhan 
perangkat organisasi yang melingkupi segi-segi kemasyarakatan. 
Sedangkan  religius, mengatasi atau lebih dalam dari agama yang tampak 
formal.  Romo Mangun  panggilan akrab dari Mangunwijaya menjelaskan 
religius lebih melihat aspek di dalam lubuk hati, getaran hati nurani 
pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, 
karena bernafaskan intimitas jiwa, cita rasa yang mencakup totalitas 
kedalaman isi pribadi manusia, termasuk rasio dan rasa manusiawinya.
Dalam ajaran Mahayana  suatu aliran dalam Buddhisme menyebutkan bahwa 
cita-cita religius Bodhisatva  adalah melenyapkan penderitaan semua 
makhluk secara tuntas. Konon bahwa Bodhisatva tidak mau mencapai Nibhana selagi 
masih ada makhluk yang menderita. Hal ini memungkinkan 
terbebasnya  belenggu nafsu duniawi, bebas dari penyakit yang dinamakan 
ketidak tahuan, dan bebas dari kelahiran kembali. Demikian disebutkan 
dalam Kitab Majjhima-nikaya. (Majjhima –nikaya; I: 38-39)
Tercatat dalam percakapan antara Kaisar Tiongkok yang bernama Ling Wu  
dengan Bodhidharma (527 M), percakapan itu memberikan gambaran bahwa 
sikap dan praktik formal keagamaan tidak identik dengan religuisitas. 
Kaisar berkata,  sejak ia naik takhta, ia telah mendirikan banyak 
vihara, menyalin banyak kitab suci, memberi dana yang tidak sedikit 
kepada anggota Sangha. Bukankah ia telah banyak melakukan kebajikan? 
Menurut Bodhidharma, kaisar belum benar-benar melakukan kebajikan. Apa 
yang dilakukan oleh kaisar lebih merupakan kesibukan duniawi. Sedangkan 
kebajikan yang sejati ada dalam kesadaran, kesucian yang sempurna. 
Intinya adalah kekosongan (sunyata), yang tak dapat diraih dengan 
cara-cara duniawi. Kepada orang-orang yang terikat kepada kitab suci, 
Bodhidharma mengatakan bahwa Buddha tidak dapat ditemukan dalam kitab. 
Ia mengajarkan untuk melihat ke dalam  hati sendiri, disitulah kita akan 
bertemu dengan Buddha.
Sebagamana tercatat dalam Ovada patimokha, Buddha mengingatkan adanya 
intisari yang telah diajarkan selama berpuluh-puluh tahun. Apa persoalan 
mendasar dalam ajaran Buddha adalah Tidak melakukan perbuatan yang 
tidak baik apalagi jahat, mengembangkankan perbuatan yang baik, dan 
mengembangkan pikiran yang bersih dan suci, Inilah yang dinamakan 
sebagai Dharma atau ajaran Buddha untuk membangun kemanusiaan di muka 
bumi.** 

  http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=34438



      

Kirim email ke