Mudah-mudahan nggak ada masalah di ban, mesin nggak mbrebet, sopir nggak
ngantuk dan melèng..
salam..


Jum'at, 10 Oktober 2008 , 07:06:00
Saatnya Indonesia Nyalip di Tikungan
Catatan Dahlan 
Iskan<http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=7544#>

 Dahlan Iskan

Tepat sekali langkah pemerintah Indonesia menghentikan perdagangan saham di
Bursa Efek Indonesia kemarin. Terlambat sedikit kita bisa lebih kacau.
Inilah saatnya kita mendahulukan nasib bangsa sendiri. Kita tahu, perusahaan
asing lagi perlu uang untuk menutup lubang mereka yang dalam di negeri
masing-masing. Karena itu mereka perlu uang cepat. Salah satu caranya adalah
menjual apa saja yang dimilikinya, termasuk yang di Indonesia. Dan yang
paling cepat bisa dijual adalah saham di bursa.

Saking banyaknya pihak yang mau jual itulah yang mengakibatkan harga saham
jatuh 10 persen kemarin. Mereka berani jual murah, jual rugi, asal bisa
segera mendapat uang *cash.* Sebenarnya sekaranglah saatnya untuk membeli
kembali saham Indosat, Telkomsel, atau apa pun, tapi kita belum cukup kaya
untuk melakukan itu.

Penutupan sementara bursa itu juga penting untuk mengamankan
perusahaan-perusahaan nasional kita. Yakni perusahaan yang terlibat hutang
besar di luar negeri yang jaminannya berupa saham. Misalnya Bumi Resource
dan enam perusahaan milik Bakrie Group lainnya. Termasuk kebun sawitnya yang
besar. Kalau harga sahamnya terus merosot, maka nilai jaminan utangnya
langsung tidak cukup. Dalam keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi *hostile
take over*! Sangat bisa terjadi, tiba-tiba saja tambang batubaranya yang
bergitu besar disita dan menjadi milik asing. Demikian juga perkebunan
sawitnya.

Karena itu, bursa tidak perlu cepat-cepat dibuka kembali. Apalagi kalau itu
hanya karena tekanan asing. Harus dihitung benar untung ruginya bagi
kepentingan nasional. Memang Bumi Resource adalah milik Bakrie, tapi
batubaranya dari bumi Indonesia (Kaltim). Kita juga berkepentingan
mengusahakan Bakrie agar tetap jaya –antara lain agar bisa menuntaskan kasus
Lapindo di Sidoarjo. Apalagi Bakrie pernah jadi contoh perusahaan yang
hancur oleh banyaknya utang saat krismon 1997 yang tiba-tiba mampu bangkit
menjadi orang terkaya di Indonesia. Jangan sampai, kini menjadi korban *hostile
take* *over* asing akibat tidak mampu bayar hutang! Nilai saham Bakrie itu
kini memang tinggal 20 persennya. Sangat mudah bagi asing untuk mengambil
secara *hostile!*

Kini negara yang paling men-Tuhankan pasar bebas pun hanya berpikir
menyelamatkan negaranya masing-masing. Apalagi negara yang masih miskin
seperti kita. Saya cukup bangga atas ketegasan dan kecepatan pemerintah
mengambil langkah ini. Penduduk kita cukup besar untuk bisa menjadi pasar
kita sendiri. Kita masih bisa menanam jagung!

Sampai kemarin memang baru Rusia dan Indonesia yang mengambil langkah
menghentikan perdagangan saham. Islandia (Iceland) sudah lebih dulu membuat
keputusan mem-*peg* mata uangnya ke dolar karena terjun bebas. Kemarin sore
WIB, Inggris membuat keputusan yang lebih konsepsional daripada Amerika.

Delapan bank raksasa direkapitalisasi sebesar Rp 700 triliun dengan
syarat-syarat tertentu. Misalnya harus untuk menjaga kelangsungan fungsi
utama bank, termasuk memberi pinjaman pada pengusaha yang bergerak di sector
riil. Di dalamnya termasuk bank-bank kelas dunia seperti HSBC, RBS, dan
Standard Chartered. Inggris yang dulunya pelopor swastanisasi, kini di arah
sebaliknya.

"Ini jalan keluar yang tujuannya untuk memulihkan kepercayaan, sekaligus
memperkokoh sistem perbankan," ujar Perdana Menteri Gordon Brown.

Menurut Brown, dalam mengatasi kesulitan yang begitu serius, jalan keluarnya
memang harus komprehensif. Juga harus kreatif dan tidak sekadar dogmatis.
Menaikkan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia, menurut saya termasuk
yang hanya dogmatis dan kurang kreatif itu. Yakni satu dogma bahwa untuk
menahan orang agar tidak ramai-ramai menukarkan uang ke dolar haruslah
memberi rangsangan pada pemegang rupiah. Ya, menaikkan suku bunga tadi. Tapi
dampak yang lain sangat berat. Untung naiknya hanya kecil (25 basis poin).

Kita punya batubara bermiliar ton dan hasil bumi lainnya. Ini yang harus
diamankan lewat kebijaksanaan nasional. Mestinya, masih lebih baik nasib
kita yang memiliki hasil bumi tersebut daripada negara yang hanya punya
kertas saham atau *commercial paper* dengan nilai yang hancur saat ini. Kita
memang tidak punya cadangan saham di mana-mana. Karena itu jangan pula yang
masih kita punya itu hilang pula. Saatnya nasionalisme dipertahankan. Sambil
lihat-lihat perkembangan dunia. Kalau kita pintar, kita bisa menyalip di
tikungan! **

Kirim email ke