Hello [EMAIL PROTECTED],

Sori, ini sedikit cerita saat kejadian gempa di Yogya tempo hari...

Pagi itu, Sabtu 27 Mei 2006, sekitar jam 05.00 gue terbangun mendengar 
pembicaraan ibunda, bude dan istri gue tentang Indonesian Idol yg malamnya 
disiarkan untuk memilih peserta ke-11 dan 12 untuk maju ke ajang Spektakuler. 
Masih terbayang 3 kontestan pre-eliminasi kocak (diantaranya Johny dan Suciati) 
yg malam itu diundang?
?Tessa ama Brinet? teriak gue?
Masih teringat SMS yg belum terjawab dari Didiek, salah satu sobat gue, yg 
malam itu dia dalam perjalanan ke Jakarta? 
Masih teringat rencana Didiek yg akan menghadiri pernikahan Tony, sobat?nya (yg 
juga sobat gue) yg akan berangkat ke Jakarta pagi itu ?
Sayup² tedengar ibunda membangunkan gue untuk mengantar brownies ke kerabat dan 
saudara di daerah Jl. Kaliurang dan Pakem, Sleman?
Sayup² pula gue denger ibunda, istri dan bude gue berencara hendak ke Pasar 
Pathuk untuk berbelanja kebutuhan hari itu?
Memang Sabtu itu rencananya akan diselenggarakan Ekaristi dalam rangka 
memperingati 1000 hari meninggal?nya ayahanda gue?
Ngantuk?
Itu yg gue rasakan?
Walau demikian, gue masih mendengar pembicaraan yg terjadi pagi itu?
Dari masalah di mana gue letakkan kunci mobil pada malamnya?
Juga posisi parkir mobil yg tidak bisa masuk garasi karena terhalang tiang 
tenda sebagai peneduh para tamu nantinya?
Hingga Pasar Pathuk yg baru aktif sekitar jam 06.00?
Gue sempet lihat adik gue tertidur pulas di balai² di atas gue?
Gue lihat istri sudah memegang kunci dan langsung memanaskan mesin Kijang LX 
1999 AB7664PE, yg sengaja disewa untuk kegiatan acara saat itu?
Ibunda dan bude gue sepertinya pun sudah berada di luar rumah?

TIBA²?
Badan gue serasa diinjak dan digoyang² kaki yg sangat besar?
Antara sadar dan tidak sadar gue langsung berusaha berdiri dan mencoba berlari?
Gue belum terlalu menyadari apa yg terjadi?
Sembari berlari menuju pintu depan rumah yg saat itu terbuka lebar, gue masih 
bsia berfikir bahwa saat itu terjadi gempa?
Kali ini sangat besar getaran dan goyangan yg gue rasakan?
Berlari dan berlari?
Tiba² gue mengalami blank spot?
HITAM pandangan gue?
Gue pun terjatuh?
Rupanya 2 lembar eternit terlepas dari dudukannya dan jatuh persis di kepala 
gue?
Sambil berusaha berdiri, gue merasakan perih di lutut sebelah kiri,,,
Pasti pecahan kaca meja ruang tamu pikir gue?
Sebodo amat, yg penting gue harus bisa keluar dari rumah?
Berlari serasa sulit sekali saat itu?
Keseimbangan badan sangat kacau?
Rasanya seperti mabuk setelah meminum minuman keras dan dipaksa berlari di 
kegelapan?

Di luar rumah gue lihat adik gue pun sudah berhasil keluar, walaupun kondisi 
saat itu tangannya sudah terbalut perban karena masalah tulang persendian siku 
yg disebabkan kecelakaan di Jakarta sebelum keberangkatan ke Yogyakarta?
Ibunda dan bude serta keluarga gue lain (Paklik Sugeng dan Bulik Utami serta 
sepupu gue, Raras) sudah berkumpul di depan rumah?
Tapi di mana istri gue ???
Saat itu getaran dan goyangan sudah tak sehebat sebelumnya?
Rupanya istri gue terkunci tanpa bisa berbuat apa² dalam mobil?
Gue langsung berteriak agak dia cepat² keluar dari mobil?
Rupanya dia mengalami kesulitan saat hendak mematikan mesin mobil dan membuka 
pintu?

Seluruh keluarga gue sudah berkumpul tanpa kekurangan?
Termasuk 2 orang pembantu rumah Paklik Sugeng, Kuncoro dan Dalijo?
Seluruh tetangga pun sudah bekumpul di depan rumah masing²?
Kami semua mengira gempa ini disebabkan karena Gunung Merapi?
Tetapi dari pandangan ke arah utara, tak terlihat apa² yg menandakan adanya 
aktivitas Merapi?
Pasti ini gempa tektonik pikir gue?
Pelajaran Geografi yg gue terima selama SMP dan SMA sempat terlintas?
Doa dan sembah pada Yang Maha Kuasa tak henti² kami kumandangkan?
Kami mohon perlidungan padaNya, agar tidak terjadi musibah yg lebih besar?
Gue yg biasa²nya malas banget berdoa, saat itu gue merasakan sekali kalau gue 
ini apalah artinya dibanding kuasa Tuhan?
Terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi perlindungan pada gue dan seluruh 
keluarga gue?

Getaran dan gemuruh kecil masih terasa bbrp kali?
Tapi sudah tidak sedahsyat sebelumnya?
Gue beranikan diri untuk kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil kedua 
ponsel yg gue tinggal?
Juga digital camera, jam tangan dan cincin yg tertinggal?
Juga tas berisi uang milik Ibunda, istri dan bude gue?
Saat itu sekitar jam 06.30?
Sempat gue tengok kondisi tumah gue?
Alamaaaaakkkk?
Garasi mobil hancur berantakan?
Juga ruang tidur utama dan bbrp ruang lain?
Termasuk pagar pembatas keliling rumah yg luluh lantak?
Gue sempat melihat kondisi rumah tetangga gue?
Hancur pula?
Miris sekali rasanya?
Ngga perlulah gue sebut satu persatu?
Banyak media sudah menyiarkan dan memberi gambaran ttg apa dan bagaimana 
kondisi scr umumnya?

Walau digicam sudah di tangan, gue tak tega mengabadikan kerusakan yg ada?
Hanya kondisi rumah gue sendiri saja yg bisa gue ambil bbrp gambarnya?
Benar² tak tega rasanya?
Sembari berkeliling, gue bersyukut pada YME karena semua masih dalam 
perlindunganNya?
Mobil yg biasanya gue masukkan dalam garasi, malam sebelumnya tidak gue lakukan 
karena terhalang tiang tenda yg rencananya akan digunakan dalam acara malam itu?
Coba jika tidak, pasti sudah hancurlah Kijang LX milik Om Isnawan yg disewa 
keluarga gue tsb?

Menit demi menit berlalu?
Tiba² dikejauhan arus lalu lintas kendaraan sangat deras, dari selatan ke utara?
Ada apa ???
Ternyata tedengar kabar bahwa akan ada gelombang pasang atau yg sering disebut 
tsunami?
Gue sempet berfikir kalau hal tsb mungkin saja terjadi?
Tangisan anak kecil dan histeris ibu² terdengar keras pagi itu?
Lutut gue pun sudah tak terasa perih, berganti dengan lemas yg tak terkira?
Adik gue menyarankan apakah tidak sebaiknya kami ikut mengungsi ke utara, ke 
tempat yg lebih tinggi?
Pemikiran dan pemikiran berlalu dan  melalui pertimbangan yg masak, diputuskan 
untuk tidak ikut arus eksodus tsb?
Karena di rasa posisi rumah gue termasuk tinggi dan relatif jauh dari pinggir 
laut (± 25km)?
Doa dan sujud padaNya kami lakukan lagi pagi itu?
Mohon perlindungan dan bimbinganNya?

Jam demi jam berlalu?
Getaran masih terasa walau kecil?
Itu pun masih memberi gue ketakutan yg amat sangat?
Dalam satu siang sempat terjadi 5-6 kali gempa susulan yg dapat dirasakan?
Sempat pula gue terpaksa harus menggendong bude gue yg kerepotan mencari sandal 
saat gempa susulan terjadi?
Sampai kapan hal itu harus terjadi ???
Di mana informasi ttg bencana alam yg tak pernah terjadi sebelumnya itu dapat 
gue peroleh ???
RADIO !!!
Sejak saat itu gue selalu stand by dengan radio di tangan untuk memantau dan 
mencari tau apa saja yg telah dan akan terjadi?
Informasi saat itu amat sangat penting?

Di saat masa penantian tsb, gue sempatkan menghubungi rekan kerja di Jakarta?
Mengabarkan kejadian yg baru saja terjadi dan meminta bantuan untuk perpajangan 
cuti?
Melihat apa yg terjadi pada rumah gue, gue rasakan ibunda harus gue evakuasi ke 
Jakarta?
Selain menghilangkan stress, juga untuk menunggu proses renovasi rumah yg saat 
itu sama sekali sudah tidak layak huni?
Seluruh persendian rumah gue hancur?
Amat sangat membahayakan jika tetap ditinggali?
Thanks a lot buat eXplor yg saat itu menjadi satu²nya provider yg bisa aktif?
Tidak sesibuk provider lainnya?

Dari radio gue dengar kalau tsunami yg diributkan ternyata tidak akan terjadi 
(semoga)?
Gempa yg terjadi bukan seperti di Aceh, di mana episentrum berada di tengah 
laut?
Gempa di Yogya memiliki episentrum sekitar 25 km arah selatan-barat daya 
Yogyakarta?
Menurut perhitungan gue pun, itu masih berapa di pinggir pantai atau malah di 
daratan?
Dicurigai 9dan akhirnya terbukti), penyebar info tsunami tsb ternyata orang tak 
bertanggung jawab yg memanfaatkan keadaan?
Banyak orang hilir mudik mencari tahu di mana kerabat dan keluarganya yg saat 
itu menghilang?
Ada pula yg membantu tetangga lain yg rupanya gempa tsb menyebabkan runtuhnnya 
rumah yg didiami selama ini?
Ada bbrp orang yg belum ditemukan?

Suara sirine ambulan pun mulai meraung² di kejauhan?
Rupanya proses penyelamatan dan evakuasi sudah berlangsung?
Di daerah rumah tinggal ane pun ada bbrp korban?
2 diantaranya meninggal dunia karena terkena runtuhan rumah mereka?
Gue belum tau berapa jumlah total korban saat itu?
Yg gue dengar di radio berkisar 300-400 orang?
Jumlah yg tidak sedikit?
Umumnya para korban meninggal dan luka² karena tertimpa rumah mereka?
Mereka tak sempat menyelamatkan diri mengingat saat kejadian masih pagi, di 
kala masih banyak orang pulas tertidur dan jikalau sudah terbangun pun, belum 
membuka pintu rumah mereka?

Sore?nya, makanan yg awalnya akan menjadi jamuan para tamu didatangkan untuk 
menjadi pasokan pangan bagi gue sekeluarga dan tetangga?
Sisa brownies yg seharusnya gue antar pada pagi harinya pun diantarkan pula?
Paling tidak untuk hari itu keluarga dan juga para tetangga sudah tercukupi 
untuk masalah pangan?
Walau bernasib sebagai pengunsi dari bencana alam, tapi menu malam itu sangat 
mengugah selera, gulai dan sate kambing?
Tapi entah mengapa gue ngga merasa berselera?

Malam harinya. Setelah doa bersama yg dilakukan keluarga dan bbrp tetangga, 
mulailah digelar tikar, karpet dan lainnya sebagai alas tidur?
Semua orang saat itu tidak berani untuk tidur di dalam rumah?
Tenda yg rencana sebelumnya akan digunakan sebagai peneduh dalam acara 
Ekaristi, dijadikan peneduh tidur kami malam itu?
Posisi tidur bersilangan agar semua muat di dalamnya?
Tidak lupa disisakan juga tempat untuk tetangga dan kerabat lain yg membutuhkan?
Tapi rupanya alam pun kurang bersahabat?
Dari gerimis yg dirasakan hingga hujan yg walau menurut BMG tidak dalam skala 
deras, mengguyur tempat pengungsian?
Pelan² alas tidur pun basah oleh rembesan air hujan?
Evakuasi ke-2 harus dilakukan?
Kali ini tujuannya adalah teras depan rumah yg sepertinya masih layak dipakai?
Gue yg tadinya nekat tidak akan memakai selimut, malam itu rasanya selimut 
adalah pelindung diri dari dinginnya malam yg amat sangat

Keesokan pagi?nya, Minggu 28 Mei 2006, gue sekeluarga berkunjung ke pusara 
ayahanda gue. Sepanjang perjalanan gue melihat banyak rumah² rata dengan tanah?
Karena perjalanan melewati RSUD Wirosaban, gue sempatkan mampir untuk 
membagikan brownies yg awalnya untuk hantaran ke tetangga dan kerabat?
Memilukan sekali?
Para korban memilih tidur di pinggir jalan selain karena trauma akan adanya 
gempa susulan, juga karena kondisi rumah sakit yg amat sangat penuh.

Bergerak siang, mulai ada inisiatif untuk membangun dapur umum?
Kebetulan Bulik Utami adalah pengusaha catering?
Semua perabot dan alat masak dikeluarkan?
Berikut 2 tenda yg biasa dijadikan gubug² dalam resepsi pernikahan?
Bahan makanan yg ada pun dikeluarkan?
Dari beras, gula, kopi dllsb?
Daging yg disimpan pun menjadi bahan baku pembuatan lauk pauk untuk seluruh 
pengungsi di daerah gue?
Seluruh keluarga dan tetangga bekerja sama memasak makanan untuk semua?
Tidak pandang bulu?

Berfikir ticket pesawat di tangan juga untuk Senin sore, plus lagi harus 
mengantar adik gue ke Solo untuk penerbangan sorenya, gue, istri dan adik 
ditemani Om Isnawan (sang pemilik Kijang LX AB7664PE) berangkat ke Bandara Adi 
Sumarmo Solo?
Sekaligue membeli ticket tambahan untuk ibunda?
Selama perjalanan bertambah pilu saja hati ini?
Dari lokasi rumah gue di seputaran Mantrijeron, Jl. Parangtritis hingga 
Kartasura, banyak sekali gue lihat rumah² yg menjadi korban?
Manusia memang hanya bisa berencana, tetapi Tuhan-lah yg menentukan?

Selama di bandara yg termasuk mungil tsb, pengurusan re-scheduling dan 
pembelian ticket Adam Air yg gue punya termasuk lancar walau gue harus membayar 
extra sebesar 25% per ticket untuk rescheduling?
Adik gue pun bisa terbang sore itu dari sana dengan Lion Air?
Kondisi bandara termasuk penuk sesak?
Entah karena gelombang eksodus atau memang seperti itu kesehariannya?
Di sana pun gue masih merasakan adanya getaran²?
Gue sendiri bingung?
Apakah ini memang gempa susulan atau gue yg mengalami paranoid dan trauma?

Malamnya, Yogya diguyur hujan lagi?
Semenjak sore, sekitar jam 17.00, sepulang dari Solo, awan sangat kelam sudah 
menyelimuti Yogya?
Gue berkeliling mencari battery untuk lampu senter pun demikian sulitnya?
Mencari kios penjual pulsa pun tak mudah di temukan?
Sekalinya gue temukan, di situ ditawarkan pula jasa recharge ponsel dengan 
tarif 5000 perak per jam?
Sadis?
Semua bisa diperdagangkan?
Situasi teras pengungsian dan dapur umum saat itu sudah tidak gelap lagi?
Gue sempet membantu Paklik Sugeng merangkai kabel dan lampu untuk dijadikan 
alat penerang malam?
Listrik dari PLN belum juga hidup karena trafo yg ada jatuh dari posisinya?
Thanks a lot pula untuk Pak Wahyu ?Wezoen? yg sudah meminjamkan UPS?nya untuk 
recharging bettery kedua ponsel ane?

Senin, 29 Mei 2006, acara dipenuhi dengan evakuasi barang² yg bisa diselamatkan?
Karena kondisi rumah gue sudah tidak memungkinkan dan harus dilakukan 
pembangunan ulang, maka gue, Ibunda, bude dan istri gue mengeluarkan barang² yg 
ada?
Gue juga meminta bantuan Pak Basuki Kurniawan, sebagai Branch Manager RPX 
Yogyakarta dan Solo untuk kardus² yg akan gue pakai untuk packing barang² yg 
ada?
Thanks a lot Pak?
Bantuan logistik berupa beras, air, mie instan dll mulai datang dari kerabat 
dan keluarga?
Malam yg hujan pun kembali menemani?
Walau demikian 2-3 sloki Red Label plus Coca Cola cukup bisa menghangatkan?
Tidur malam gue pun kembali di teras bersama anggota keluarga lainnya dan 
ditemani oleh siaran 24 jam dari Radio Sonora, untuk memantau semua 
perkembangan dan informasi yg ada?

Selasa, 30 Mei 2006, seperti hari sebelumnya, acara repacking dan evakuasi 
barang tetep berjalan? 
Kali ini istri gue akan mengunjungi ayahanda dan ibundanya?
Dengan terpaksa gue ngga bisa menemani karena tetap harus membereskan kondisi 
rumah sebelum gue tinggal ke Jakarta?
Bau kecut dari keringat sampai menusuk hidung gue sendiri?
Sengaja gue mandi sore hari saja, selain irit air yg saat itu termasuk barang 
langka, juga karena suhu Yogya yg termasuk panas di siang hari?
Proses renovasi dari bangunan rumah mulai berjalan?
Bbrp orang tukang yg didatangkan dari Magelang langsung bergerak cepat?
Malamnya, karena hari ini banyak sekali orang yg dijamu oleh dapur umum, gue 
kehabisan makanan?
Jajan adalah solusi?
Bersama Paklik Sugeng dan Raras serta kawannya Tika, gue menuju seputaran 
Malioboro sekedar mencari Nasi Goreng Mbah Mangun yg menjadi kegemaran gue 
selama ini?
Di sana pun ramai sesak?
Walo demikian, sepiring nasi goreng akan menjadi obat pengurang rasa stress yg 
gue alami?
Kondisi kota malam itu sudah mulai ramai walaupun masih jauh dari biasanya?

Rabu, 31 Mei 2006, ini hari terakhir gue di Yogya.
Proses packing dan evakuasi barang harus selesai?
Keluarga mertua gue pun datang bersama istri untuk menjenguk?
Setelah makan siang dan mengantar mertua kembali, gue kembali memeriksa apa 
saja yg akan dibawa?
Jangan sampai ada barang yg belum diselamatkan?
Hitung punya hitung?
Ada 8 tas yg akan menjadi bawaan dan akan masuk bagasi pesawat?
Belum termasuk tas ringan yg menjadi jinjingan?
Untung kali ini Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sudah bisa dilandasi, jadi tidak 
perlu jauh² ke Solo lagi?

Di Bandara ternyata kondisi sangat penuh?
Baik dari para pengungsi yg akan keluar Yogya maupun pejabat pemerintah dan 
kalangan pers?
Di appron gue lihat ada bbrp pesawat asing?
Diantaranya hercules C-135 milik USAF dan juga 1 lagi milik Tentara Germany,..
Belum lagi jet pengangkut tenaga medis dari PBB?
Kendaraan tempur PBB yg dipakai untuk proses dropping bantuan pun terlihat?
Demikian cepat tanggapan dunia akan bencana ini?
Selama proses take off, gue merasakan runway tidak semulus biasanya?
Getaran roda pesawat sangat terasa?
Rupanya landasan yg sebelumnya patah itu masih menyisakan kerusakan sedikit?
Selama penerbangan gue pun berdoa mengucap syukur dan memohon perlindunganNya 
agar selamat sampai Jakarta?
Cuaca buruk pun sempat terjadi?
Adam Air Boeing 737-400 PK-KKV yg gue tumpangi terasa mengalami turbulensi bbrp 
kali sampai akhirnya penumpang dan crew harus memakai sabuk pengaman kembali?

Pendaratan relatif mulus?
Pilot rupanya sudah mahir menghadapi situasi cuaca buruk yg ada?
Permasalahan lain muncul?
Karena bawaan gue, istri dan ibunda termasuk banyak, agak sulit juga mencari 
taxi yg sesuai?
Bude yg rupanya mendapat tumpangan dari kawan seperjalanan di pesawat langsung 
memisahkan diri?
Karena tidak menemukan loket Silver Bird di Terminal Kedatangan 1A, akhirnya 
dengan taxi Blue Bird biasa (nomor pintu KB1113 kalau tidak salah, pengemudi 
Pak Sabar Saidi dari Boyolali)?

Kamis, 1 Juni 2006, rasa capai dan trauma masih gue rasakan walau hari ini gue 
tidak masuk kantor untuk beristirahat?
Sedikit getaran akan membuat pikiran gue hanyut dalam detik² di 05.53 WIB Sabtu 
27 Mei 2006 yg lalu?
Ketakutan masih melanda gue?
Mungkin karena selama ini gue kurang mendekatkan diri padaNya?
Tuhan, maafkan hambaMu yg berdosa ini?
Tak lupa kumohon perlindunganMu untuk seluruh umatMu?
Berikanlah kedamaian dan tempat di sisiMu bagi para korban yg kau panggil 
menghadap hadiratMu?
Berikanlah kesembuhan buat mereka yg terluka?
Berikanlah ketenangan bagi mereka yg ketakutan?
Kami ini manusia biasa yg tak lepas dari dosa?
Ampunilah kami?
Hanya padaMu lah kami memohon dan menyembah?
Semoga ini adalah bencana terakhir yg menjadi peringatan bagi kami atas segala 
kesalahan dan dosa kami?
Amien?
_____________
Best regards,
Mat Gemboel
Using The Bat! 3.71.01



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mailplus/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke