--- In [email protected], imcw <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kalau nggak begitu mereka juga nggak bisa hidup, Mbah. Karena nggak
> ada yang mampu beli. :)

Ah rasanya gak geetu Bli .... menurut Simbah kuatir kalah bersaing
dengan pesaing kuat aza lalu latah ikut-ikutan. Itu kan persis seperti
yang terjadi di dunia pertelevisian Indonesia. Begitu ada satu satu
setasimun ... eh ... stasiun, sukses menayangkan "beranak dalam kubur"
lalu lainnya latah bikin "bersenggama dalam kubur". Jadinya antar
setasimun cuman membesarkan nafsu saling membunuh saingan aza tanpa
perlu susah-susah membangun ide kreatif. Contoh laen adalah penjualan
surat kabar Tempo seharga serebu perak di setasimun sepur mBogor dan
di atas kereta .... nah kuatir kalah bersaing lalu yang sekelas Kompas
pun bikin Kompas update seharga serebu perak. Lalu apa bedanya ???

Mbah Dukun Manew

Kirim email ke