Setahu pengetahuan saya (mohon dikoreksi jika salah) yang namanya "Lifetime Warranty" yaitu selama model produk tersebut masih diproduksi. Jika ada model yang baru dan model lama sudah tidak diproduksi lagi oleh pabrik, maka Warranty-nya tidak berlaku lagi.
Mengenai Warranty pasti ada persyaratan yang ditetapkan. Pada umumnya, Warranty berlaku apabila produk tersebut error alias tidak berfungsi sebagaimana mestinya yang diakibatkan cacat produksi. Dan yang pasti, Warranty tidak berlaku untuk suatu produk yang error atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya akibat usia pakai. Coba perhatikan baik-baik produk apa saja yang ada Warranty-nya. Pasti ada pasal-pasal seperti KUHP yang menekankan bahwa Warranty tidak berlaku jika ini... jika itu... dan lain-lain. Itupun Warranty-nya dibagi lagi menjadi sub pasal. Contohnya: Ada produk Air Conditioner kelas atas yang memberikan Warranty 5 tahun. Secara awam pasti berpikir bahwa Warranty itu mencakup semuanya, tergiur karena Warranty, keluarkan uang dan beli. Setelah dibaca baik-baik kartu Warranty-nya ternyata berbunyi: Warranty kompresor 3 tahun, Warranty spare part 1 tahun dan Warranty gratis jasa perbaikan 1 tahun. 3 + 1 + 1 = 5 (5 tahun). Luar biasa!!! Itulah tadi penjelasan singkat mengenai tehnik marketing yang dikombinasikan dengan matematikan supaya calon pembeli tergiur oleh Warranty suatu produk lalu beli, dan bukan tergiur oleh fungsi suatu produk yang ditawarkan karena sesuai kebutuhan. Ada cerita: Teman saya membeli DVD Player seharga Rp. 800.000,- dengan fitur melimpah, support USB dan bisa membaca semua jenis kepingan CD dan DVD baik yang resmi maupun bajakan. Produk tersebut setelah dipakai 2 tahun 3 bulan sudah mulai rewel membaca kepingan CD dan DVD. Lalu apabila panas, maka powernya mati sendiri dan tunggu dingin baru bisa dinyalakan lagi. Pada saat mau dibawa ke tempat service center resmi, dia lupa alamatnya karena kartu garansinya hilang. Lalu saya ditelpon hanya untuk menanyakan alamat resmi service center. Karena dia mau mendapatkan spare part original. Saya bilang buang saja ke tong sampah DVD player itu dan beli lagi yang baru. Karena dengan harga yang lebih murah anda mendapatkan DVD player dengan fitur yang jauh lebih melimpah dari sebelumnya dengan daya tahan yang sama. Dia sempat protes dengan mengatakan rugi beli DVD player seharga Rp. 800.000,- tapi setelah 2 tahun 3 bulan dibuang begitu saja karena rusak. Saya bilang sebenarnya kamu tidak rugi. Karena kamu hanya bertindak sebagai penyewa DVD player saja bukan beli. Teman saya sempat diam beberapa saat (saya kira dia kesurupan). Lalu saya mengatakan, coba hitung baik-baik: Diketahui: 1. DVD player yang kamu beli dulu seharga Rp. 800.000,- 2. Masa pakai 2 tahun (digenapkan). Pertanyaannya: Berapa uang sewa perhari ? Jawab: Rp. 800.000,- : (365 hari X 2) = uang sewa perhari. Rp. 800.000,- : 730 hari = Rp. 1.100,- (digenapkan). Jadi uang sewa perhari DVD player kamu adalah Rp. 1.100,- Apakah masih mahal? Lalu dia jawab, "Tidak". Jika dia jawab, "Ya", maka saya harus bertanya dulu kepada rumput-rumput yang bergoyang. Mungkin di sana ada jawabannya. Regards: Mr. Rocco At 01:44 02/06/2010, Dave wrote: >Dear all, > >Perkenalkan, nama saya Dave. Dulu pernah bergabung, namun karena >kesibukan memutuskan untuk unsubscribe. > >Begini, PSU Acbel saya belakangan tewas. Menurut yang jual, dapat >lifetime warranty. Permasalahannya, dulu belinya di Yogya (sekitar 4 >tahun yang lalu), nota entah dimana, dan sekarang saya di Jakarta. > >Kira-kira sebaiknya diklaim nggak ya? Bila iya, adakah rekan-rekan >tahu alamat distributornya? > >Trims, >Dave ---------- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG - www.avg.com Version: 9.0.829 / Virus Database: 271.1.1/2913 - Release Date: 06/02/10 17:57:00 [Non-text portions of this message have been removed]
