Media Indonesia , Minggu, 03 Juli 2005
Ketidakadilan Mengetuk Nurani Mereka BETAPA beruntungnya orang yang mati muda! Kalimat itu pernah diungkapkan Soe Hok Gie dalam buku Catatan Harian Seorang Demonstran yang diterbitkan setelah dia meninggal. Potongan kalimat yang tertulis di buku hariannya itu ternyata menjadi kenyataan. Gie--demikian dia biasa disapa--mati muda di tengah perjuangan melawan generasi tua yang dia sebut telah mengacau. Sementara itu, Che Guevara menemukan kegelisahan sekaligus pencerahan diri saat melakukan perjalanan keliling Amerika Selatan. Sejak saat itu dia merasa dirinya telah berubah. Memilih bergabung dengan gerilyawan Kuba, menjadi saksi sejarah keberhasilan revolusi Kuba, dan akhirnya meninggal sebelum usianya mencapai 40 tahun. Che Guevara Sosok seperti Soe Hok Gie dan Che Guevarra selalu ada di setiap bangsa. Dan Ernesto 'Che' Guevara merupakan salah satu tokoh muda dari Kuba yang melakukan perlawanan terhadap sesuatu yang dia anggap tidak adil. Perjuangannya bergaung melintasi batas geografis negara. Che menjadi simbol perlawanan kaum muda. Foto dirinya sudah diperbanyak jutaan kali. Sebagai ikon, wajahnya tertera di kaus-kaus, poster, hingga pin. Buku-buku tentang dirinya dicetak ulang. Salamnya kepada Castro saat meninggalkan Kuba, Hasta la victoria siempre menjelma menjadi salam heroik di antara kaum muda. Kisah perjalanannya mengelilingi Amerika Selatan diabadikan dalam film manis berbingkai panorama cantik, La Diaros Motocicleta atau The Motorcicle Diaries. Film itu mengangkat sebagian kecil kisah hidup Che bersama sahabatnya Alberto Granado. Petualangan dua anak muda naif yang senang sepak bola itu ternyata berbuntut panjang. Awalnya hanya sekadar senang-senang, berpetualang menggunakan motor tua untuk merayakan ulang tahun Granado ke-30. Namun, perjalanan itu memberi pengaruh besar pada sisa kehidupan Che, mahasiswa kedokteran ganteng, anak seorang bangsawan yang digandrungi banyak perempuan. Hatinya terketuk ketika menjumpai kemiskinan dan kesulitan hidup. Jiwanya yang peka tergores pada kontradiksi kehidupan yang ditemui sepanjang perjalanan. Saat dia bersenang-senang, dua orang tua yang ditemuinya mengaku telah berjalan jauh dari desa hanya untuk mencari pekerjaan. Che tersentuh. Dia mencatat apa yang dialami dan dilihat sepanjang perjalanan. Di akhir petualangan, dia mengatakan, semua kekontrasan, kesenangan, dan penderitaan yang dilihat telah mengubah dirinya. Che dan Granado berpisah di Venezuela. Granado memilih bekerja, sedangkan Che terus bergulat dengan kegelisahan sekaligus pencerahan diri yang dijumpai sepanjang perjalanannya mengelilingi Amerika Selatan. ''Begitu banyak ketidakadilan yang saya lihat. Saya telah berbeda dengan yang kemarin,'' tulisnya. Akhirnya, Che memutuskan bergabung dengan gerilyawan Kuba melawan rezim Batistuta. Dia menjadi salah satu saksi sejarah kemenangan revolusi Kuba. Keteguhan sikap dan perlawanannya memberi inspirasi kaum muda seantero dunia. Dia menjadi ikon, meski tubuhnya tidak lagi hangat. Che mati muda, terbunuh di Bolivia pada usianya yang belum genap 40 tahun. Soe Hok Gie Soe Hok Gie memang tidak setenar Che. Dalam keseharian, dia juga berbeda. Datang dari keluarga sederhana dengan gaya hidup yang sederhana pula. Sebelum catatan hariannya dijadikan film dengan pemeran utama bintang muda masa kini Nicholas Saputra, barangkali namanya hanya bergaung di sebagian komunitas anak muda dan generasi tua. Meski demikian, kisah dua orang yang mati muda ini memiliki benang merah jelas. Soe Hok Gie juga memiliki kepekaan sosial tinggi. Dia terus gelisah menghadapi keadaan di sekelilingnya. Sikap kritis dan kekuatan karakternya terlihat sejak usia muda. Saat ada anjuran mengganti nama China dengan nama Indonesia, Soe Hok Gie menolak. Argumennya, nasionalisme tidak diukur dari nama. Sejak kecil Gie suka membaca. Bersama kakaknya sosiolog Arief Budiman, putra redaktur surat kabar, Salam Sutrawan itu terbiasa melalap bacaan sastra dan filsafat bermutu. Dia berkembang menjadi remaja sensitif. Baca saja catatan perasaannya saat melihat seseorang yang terpaksa makan kulit mangga karena kelaparan. Ironisnya, kejadian itu tidak jauh dari istana negara tempat para petinggi yang disebutnya tengah tertawa dan makan bersama para istrinya yang cantik. ''Kini mereka telah mengkhianati perjuangannya sendiri. Kita generasi muda ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau,'' tulis Gie mengomentari Soekarno, Hatta, Syahrir, dan pejabat lain pada masa itu. Kekritisannya juga dituangkan dalam tulisan yang dimuat di berbagai media cetak. Gie yang puitis juga mengalami proses pencarian sepotong cinta. Ia pun dikenal sebagai seorang pecinta alam. Dalam pergulatan batin yang sering dialaminya, Gie sering kali mengutip pernyataan seorang filsuf. Dalam buku hariannya dia menulis, beruntunglah orang yang dikaruniai mati muda. Dan akhirnya, pada usia kurang satu hari menjelang ulang tahunnya ke-27, Gie tewas tersedak gas beracun Gunung Semeru, tepatnya 16 Desember 1969. Ernesto dan Gie memang berbeda. Tapi keduanya berangkat dari sepotong hati yang peka pada nasib sesama. Dalam kemasan berbeda, mereka menjadi bagian penting dari sejarah. Agaknya, kegelisahan kaum muda selalu menjadi bagian penting dalam setiap perubahan sistem. (CA/M-2). ========================================== MILIS MAJELIS MUDA MUSLIM BANDUNG (M3B) Milis tempat cerita , curhat atau ngegosip mengenai masalah anak muda dan islam . No Seks , No Drugs , No Violence Sekretariat : Jl Hegarmanah no 10 Bandung 40141 Telp : (022) 2036730 , 2032494 Fax : (022) 2034294 Kirim posting mailto:[EMAIL PROTECTED] Berhenti: mailto:[EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/majelismuda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
