"Tumben kamu kelihatan senang" kata Ali kepada Supri ketika melihat
Supri memasuki kamar kontrakannya.

        "Tadi aku dapat tabokan lumayan waktu ngirim barang ke rumah
orang kaya. Untung aku mau waktu disuruh bos biarpun keadaan hujan
deras dan syukur bisa buat bayar utang di warung"katanya sambil
senyum-senyum wajahnya. "Tar malam ajak teman-teman kita makan bareng
di warung nasi bebek, ya" ajaknya lallu masuk ke kamarnya dan
bernyanyi-nyanyi.

        "Oke bos. Siap kerjakan" jawab Ali setengah berteriak melihat
Supri langsung masuk kamar. "Baik. Tapi jangan nagajak orang banyak,
bisa tekor aku" teriak Supri juga dalam kamar.

                   ***************

      Malam itu Sesudah isya' Supri dan teman-temannya ada 5 orang
sudah berada di Warung nasi bebek. Namanya juga mereka orang kampung
dan profesinya Supir tentu banyak canda, cerita, guyonan, dan saling
meledek antar sesama teman. Yang menjadi bahan omongan mereka tentu
saja tak lepas dari dunia sopir-menyopir, tentang barang yang mereka
bawa, tentan orang yang ditemui di jalanan, tentang keluarga mereka,
teman mereka, dan bos mereka. Paling dominan dari pembicaraan mereka
tentu saja tentang wanita, karena mereka semuanya lelaki dan yang
menjadi korban pembicaraan tentu saja si Supri karena masih membujang.

      Mereka bercanda tidak melihat suasana, sebelum makanan nasi
bebek dihidangkan, ketika makan, maupun sesudah makan. Warung Nasi
bebek malam itu menjadi milik mereka biarpun ada beberapa orang yang
membeli makanan, tak dipedulikan mereka bahkan malu sendiri lalu
cepat-cepat keluar. Entah mereka sedang melampiaskan semua unek-unek
dan kekesalan mereka, mereka kaum sopir yang bercanda dengan cara
mereka endiri yang kadang orang melihat canda mereka kadang-kadang
konyol, tak tahu etika, dan jorok.

      "Cukup. Cukup. Sudah malam kasihan mbakyu(penjual warung). Lihat
dia mulai mengantuk" kata Ali melihat teman-temannya yang tak juga
meninggalkan warung.

      "Mbaknya itu gak ngantuk, tapi kebelet sunnah Rasul. Sekarang
khan kamis malam jum'at, waktunya jalankan sunnah Rasul. Bener Mbakyu"
sahut Guntur yang orangnya asal ceplos saja dalam ngomong.

      Mbaknya senyam-senyum aza mendengar Guntur berkata begitu. "Ah
nggak Mas Guntur. Ada-ada saja. Masak mau begituan diceritain, tar
kalau sudah waktunya khan bisa dimulai. Tanya saja sama Mas Pariyin
(suami mbakyu). Nunggu malam dulu, nutup warung, gitu loh Mas" kata
Mbakyu menanggapi omongan Mas Guntur.

      "Ngerti kok. Cuma bercanda. Kita juga kepingin tapi gak ada
lawannya. Lawannya jauh di kampung. Ya terpaksa nganggur deh"jawab
Guntur yang tentu saja gara-gara omongannya ini teman-temannya
tertawa. Entah mereka menertawakan diri mereka sendiri atau memang
omongan Guntur yang lucu.

      "Ada lagi . Nih punya teman tapi gak pernah sunnah rasul,
padahal tuh anaknya ngerti. Heran aku kenapa bisa begitu?" Tiba-tiba
Irfan yang paling gendut ngomong.

      "Kamu nyindir aku ya. Kok jadfi aku melulu, kamu sendiri juga
bujangan gitu" Supri yang sedari tadi diam saja nyerocos ngomong
karewna merasa tersindir.

      "Saya sih gak nyindir, cuma ngomong kenyataannya. Buktinya
boro-boro punya bini, pacar saja gak punya. Sementara umur sudah tua.
Kalau aku khan masih muda tiap malam minggu ada yang kuapelin" jelas
Irfan yang emang usianya paling muda diantara teman-temannya.

      "Iya mbak carikan nih temanku pacar, tetangga kampung atau
anaknya atau ponakan" sahut Edi.

      "Anakku masih kecil. Ponakan ada tapi jauh di kampung, kalo
janda ada sih tetangga sebelah. Mas Supri suka tipe yang bagaimana
sih?" jelas Mbakyu yang juga bertanya pada Supri.

      "Ya sementara nggak mikirin dulu, mkir kerja cari duit yang
banyak. lau punya rumah, punya mobil, habis itu nikah" jawab Supri.

      "Kelamaan Lo. Keburu mati. Elo itu cuma sopir kagak mungkin bisa
jadi orang kaya. Ngaca dong. Kalo lihat kaca pion tuh lihat juga
wajahmu" kata Uung dengan ketus.

      "Elo khan tahu sendiri. Aku makan ngutang, baju ngemplang, tidur
numpang, mau buka kutang, ya bisa ditendang. Apa kata dunia sama
Supri. hehehe..."kata Supri menngkis omongan dari Uung. Kontan
mendengar jawaban itu teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

      Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan pukul sebelas.
Mereka pun meninggalkan warung. Sepertinya mereka juga punya rencana
untuk menggunakan waktu di malam hari sesuai dengan keinginan hati
masing-masih. Si Irfan langsung masuk ke kamarnya dan mulai bermain
dengan hp-nya dan ngebel ke pacarnya, sambil tidur-tiduran. Si Guntur
bersama teman-temannya membuka lingkaran lalu mulai main kartu remi.
Si Uung mengambil gitarnya dan bernyanyi lagu-lagu cinta biasanya dia
mojok di ruangan. Si Ali yang mantan anak pesantren mengambil wudhu
dan mulai mengaji surat Yasin, Ashabul Kahfi. Dan Si Edi bersama mbah
Warno ngumpul lalu membeli anggur, bir bintang, mereka mulai pesta
minuman keras.

      Sementara Supri bersiap-siap tidur. Sebelumnya dia mengerjakan
sholat 2 raka'at dan baca qur'an sebentar. Kebiasaannya dulu yang
selalu diingatkan orangtuanya bial mau tidur agar tidak diberi mimpi
buruk dan dilindungi dari gangguan setan, mahluk jahat, serta bencana.
Supri pun yakin akan hal itu. "Supri jangan tinggalkan sholat serta
selalu berdoa" begitu pesan orangtuanya ketika mau berangkat merantau
ke kota besar.

      Tapi malam itu sesudah melaksanakan sholat Supri tidak
mengantuk. Dia hanya berdiam diri dan kebiasaannya bila tidak
mengantuk dia pergi menyendiri naik ke lantai atas rumah, tempat
jemuran pakaian. Mungkin dia pingin melakukan perenungan. Sambil
melihat keadaan sekeliling yang dipenuhi rumah-rumah petak kecil,
jalanan yang lenggang dan sepi dan hanya beberapa orang yang lewat,
suara binatang malam, nyamuk-nyamuk yang berterbangan serta suara
pemuda yang bermain gitar dan bernyanyi. "Oh pemandangan yang
menjemukan. Hidup yang tanpa pernah ada perubahan hanya menjalani dan
menerima hidup" begitu kata dia melihat keadaan lingkungan sekitarnya
yang seperti itu, lingkungan kampung.

        Sementara penglihatannya diarahkan ke atas, ke arah langit
lepas di malam hari. Ada bulan yang bercahaya , bintang yang bersinar
di langit yang kebetulan malam itu tidak mendung, dan sesekali melihat
benda langit yang bergerak. "Sungguh ini suatu pemandangan yang indah.
Menyejukkan hati, Menyenangkan mata. Bulan yang bersinar. Bintang yang
bersinar" kata Supri. Dia pun tak bosan-bosan memandang langit,
melihat pesona langit yang begitu menakjubkan. "Tentu Gusti Allah
bersemayam di atas sana dan Dia pun memandang aku hambanya yang begitu
hina ini. Bersama malaikatnya. Mudah-mudahan Tuhan memperkenankan
permohonan hambanya di malam sepi ini" kata Supri lirih lalu sambil
melihat langit mulutnya komat-kamit seperti berdo'a.

      Malam semakin larut sepertinya supri semakin tenggelam dalam
perjalanan malamnya. Entah jiwanya terbang kemana, pikirannya melayang
kemana, dan Supri pun seperti orang gila atau bodoh yang selalu
memandang langit. Pikirannya kosong, sedang tatap matanya setengah
ngantuk setengah sayu memandang ke atas langit, kadang smabil
mengeluarkan air mata. dia duduk bersandar di sebuah dinding.

      Supri tenggelam dalam hayal dalam fantasi, dalam imajinasinya
yang tidak karu-karuan. Supri berjalan melewati waktu-waktu yang
pernah dilalui dalam kabut gelap. Dia sangat menikmati perjalanan itu,
pun dia ingin berjalan menembus kabut yang gelap itu. Terasa jauh
meninggalkan awal, dia pun menghilang di balik kabut gelap itu.

      "Mas Supri kemana?" tiba-tiba ada suara wanita yang menghentikan
perjalanannya.

      "Gak tahu aku mau kemana. Aku cuma pingin jalan-jalan mencari
sesuatu yang bisa membahagiakan hati" jawab Supri. Dia pun sedikit
kaget melihata wanita yang menyapa adalah anak dari orang kaya yang
ditemui ketika mengirimkan barang. Wanita itu berpakaian dalam pakaian
busanan adat jawa, sangat cantik seperti seorang putri raja, dan Supri
hampiur tidak percaya tiba-tiba dia hadir dan muncul.

      "Kenapa kamu kok disini?" kata Supri sambil terenyum. Mungkin
hati Supri sangat senang dan bangga tiba-tiba bisa bertemu dengan anak
itu. Anak orang kaya yang cantik dan masih sekolah di perguruan tinggi
namanya Ajeng.

      Saat Supri mengirim mobil pada siang harinya. Ajeng itu pertama
kali menemuinya. Supri tentu saja blingatan, serba salah, jaim, serta
ge-er melihat wanita cantik yang tak pernah ditemuinya kecuali di
acara sinetron atau film. Wanita ramah menyapa Supri dan mengajak
masuk ke rumahnya buat nemui orang tuanya, tentu saja Supri tambah
melayang dan bangga. Masuk ke dalam rumah orang kaya yang rumahnya
gedenya gak bisa dibayangkan sebelumnya.

      "Gimana kabar bapakmu. Dimana sekarang?" tanya Supri mencoba
untuk memecah kebisuan.

      "Untuk itu saku datang menemui mas Supri. Aku disuruh papa
mencari mas Supri diundang ke rumah papa" jawab Ajeng.

      "Ada apa. Ada salah apa?" pikir Supri yang merasa dia hanya
orang kecil yang tak pantas bertemu orang kaya.

      "Jangan kuatir dan takut, Mas. Datang saja bersam aku. Cepat
ditunggu" jawab Ajeng yang melihat ada keraguan pada Supri. Lalu tanpa
disadari Supri, tangan Ajeng dengan cepat memegang tangan Supri lalu
terbang ke rumah papanya. Supri pun antara senang dan bingung ketika
tangannya dipegang oleh Ajeng.

      "Baru kali ini tanganku disentuh oleh wanita. Betapa halus
tangannya, dingin" pikir Supri. Sambil terbang di samping Ajeng menuju
ke rumah papanya. "Wangi juga bau Ajeng. Anak orang kaya tentu terawat
semuanya lain dengan anak orang miskin yang ngurus dirinya aja gak
pernah" pikir Supri saat mencium bau wangi dari tubuh Ajeng.

      Perjalanan ke rumah orang tua Ajeng telah sampai di depan pintu
rumah. Di depan pintu rumah ternyata papa- mama Ajeng menyambutnya
dengan iring-iringan musik kebo giro (musik tradisional Jawa untuk
upacara pernikahan). Banyak orang tapi tak satupun Supri kenal. "Wah
ada apa ini" pikir Supri.

      Tak lama Supri pun dihadapkan pada meja penghulu. enatah upacara
pernikahan model apa? tiba-tiba penghulunya cuma bilang sah. Supri
bertambah bingung dan ia seperti kerbau dicocok hidungnya. Duduklah
dia di kursi pengantin dan melihat tamu-tamu pada seliweran dan
hiburan tarian jawa. hingga waktunya dia masuk pada ruasng pengantin.

      Supri tak tahu harus berbuat apa dalam kamar pengantin ketika
hanya ada dia dan Ajeng. Supri hanya takjub melihat sebuah kamar yang
begitu luas, indah,  segar dan membandingkan dengan kamarnya yang
begitu sempit, pengap, dan bau karena dekat dengan kamar mandi.
"Supri. Ayo kita minum-minum dulu. Rasakan minuman ini yang bisa bikin
segar dirimu" tiba-tiba Ajeng berkata dan memecah kebisuan yang
terjadi dalam kamar itu.

      Supri menerima minuman itu dan melihat minuman itu berwarna
hitam segar dalam gelas yang selama ini ada pajang di lemari tamu
rumah bosnya. "Ini bukan minuman keras. hanya minuman yang bisa
menyegarkan dan membangkitkan semangat kita Mas Supri" kata Ajeng yang
sudah berdiri terlalu dekat dengan dengan Supri dan menempelkan
badannya. "Ayo diminum mas Supri".

      Supri pun meneguknya. "Puhbrur...fuh...cuh..cuh...cuh.." Supri
berteriak ketika tahu-tahu dia minum ampas kopi yang telah dingin.
"Hah kok aku ada di sini dia atas loteng. Astaghfirullah aku habis
ngimpi apa?" kata dia pelan dan memperhatikan suasana sekeliling.
Suasana kampung benar-benar sunyi, cuma bunyi dengkuran orang tidur,
dan pemabuk yang bernyanyi lagu cinta tak karua-karuan. Lalu tiba-tiba
dia bergidik, merinding, dan sebuah angin menghembus dirinya.

      "Jangan. jangan aku tadi bertemu dengan........"Supri
cepat-cepat turun, ketakutan, dan masuk ke kamar. Tidur menutupi
wajahnya dengan bantal. Sementara tanpa disadari oleh Supri dan orang
sekitar seorang wanita cantik berwajah pucat dengan rambut terurai
panjang dan memakai baju hitam panjang mengikuti Supri dari tadi. Dia
pun berdiri memandang Supri dari jendela kamarnya. Memandang Supri
dengan tersenyum lalu tiba-tiba menghilang dan hanya ada suara jeritan
dari seorang wanita.

     

 

Bekasi 01 maret 2008
 

Kirim email ke