Perubahan terjadi pada Supri. Supri yang dikenal teman-temannya
bergaya kampungan, ndeso, norak, dan orangnya super cuek dengan
penampilan mendadak menjadi orang yang jaim (jaga imej), mul;ai
berdandan, penampilan rapi, dandy, menjadi bergaya masyarakat urban.
Tiap pulang kerja selalu sempatkan mampir ke mall buat lihat
model-model baju terbaru, kadangkala memandang penanmpilan setiap anak
muda yang berjalan-jalan di sekitar mall, ya kadang orang merasa risih
sih dipandangin Supri yang seperti hendak melakukan sesuatu yang
kurang baik terhadapnya, tapi Supri tak peduli dengan omongan setiap
orang apalagi teman-temannya tentang perubahan yang terjadi pada
dirinya. Supri ingin kelihatan menarik di hadapan Linda. Supri ingin
mengimbangi gaya hidup Linda, anak kaota dan anak orang kaya. Supri
ingin meraih simpati dan cinta dari Linda dengan perubahan dari
dirinya. Dia pun rela melakukan segalanya yang penting keinginannya
tercapai.

          

                    "Elo kalau ingin jalan sama gue, kalo ingin
dampingin gue kemana gue pergi. Elo harus rubah penampilan elo yang
katrok, kampungan, dan ndeso. Bukannya gak suka dengan penampilan elo,
tapi gak enak gue kalo jalan sama elo terus teman-teman gue nglihat
dan dibilang , ini pembantumu atau sopirmu Lin? terus gue jawab apa?
padahal elo khan teman gue bukan pembantu atau sopir gue. Tar gue akan
ngajarin dan dandanin elo biar kelihatan kayak anak kota." tegas Linda
 saat diajak Supri nonton di sebuah cineplex yang telah lama Supri
ingin menonton di sana.

            Mereka akhirnya jadi juga buat bepergian bersama.  Supri
datang ke rumah Linda dan mereka bepergian dengan memakai  mobil APV
milik Linda namun Supri yang menyetirnya. Mereka datang ke sebuah mall
yang cukup terkenal di kota itu namun mereka tidak nonton. Linda
mengajak Supri ke sebuah toko busana dan Linda pun memilihkan Supri
busana yang ngetrend. Linda pun membayar segala harga busana tadi. 
Linda tahu berapa gaji seorang Supri dan tentu gaji Supri tak cukup
buat membayar baju-baju yang telah dibelikan Linda. Setelah membeli
beberapa pakaian buat Supri, Linda mengajak Supri ke sebuah salon
milik penata rambut yang terkenal. Linda ingin Supri memotong dan
merubah gaya rambutnya yang kelihatan agak "jadul". Linda benar-benar
ingin Supri berubah bahkan Linda memberikan beberapa majalah gaya
hidup dan CD-CD lagu sekarang yang hits.    
               

              "Supri kalau kamu ingin mendapatkan Linda. Kamu harus
berubah. Kamu harus bisa mengimbangin gaya hidup Linda dalam hal apa
saja. Ingat dalam hal apa saja! Kamu cukup beruntung bisa berkenalan
dengan Linda, anak seorang kaya dan cantik. Hidupmu akan berubah bila
kamu berhasil menikahinya.  Kamu tak akan lagi menjadi sopir seperti
sekarang ini, kamu dihina, diolokin banyak orang. Sekarang kamu harus
berjuang untuk bisa mendapatkan Linda hingga berhasil menikahinya"
kata Yanto dalam percakapan lewat HP. 

        Supri semenjak mengenal Linda dia pun berusaha untuk bisa
membeli sebuah HP terbaru yang ada kamera dan MP3 nya. Supri ingin
berkomunikasi dengan Linda selalu baik lewat sms atau obrolan.
meskipun dia harus ngebon ke bosnya untuk bisa beli HP yang melebihi
gaj bulanannya. "Dengan punya HP hubunganku dengan Linda akan semakin
dekat. Dimanapun aku berada aku bisa hubungin dia bila kangen. Biar
harus berhutang, biar harganya mahal yang penting bisa dekat dengan
Linda. Siapa tahu ada keberuntungan ketika aku punya HP" pikir Supri
yang membenarkan dirinya ketika mau berhutang ke bosnya untuk beli HP.

             Dengan HP Supri bisa menghubungi tean-teman lamanya di
kampung yang sudah bekerja dan bertempat tinggal di kota.  Salah satu
teman dekat Supri adalah Yanto, temannya semasa sekolah dulu. Yanto
yang terkenal pandai mendapatkan wanita di sekolahnya. Yanto yang dulu
selalu berganti-ganti pasangan. Yanto yang sekarang sudah menikah
dengan salah seorang artis ibukota yang ternyata anak dari seorang
pengusaha.  akhirnya hidup Yanto pun berubah dan akhirnya dia pun bisa
sukses. Supri ingin mengikuti jejaknya agar dia bisa berhasil hidup di
kota.  Yanto memang beruntung dengan bakat alamiah, wajah ganteng,
badan bagus, dan kemampuannya berkata-kata yang bisa memikat
perempuan. Sedang Supri. Oh No???

              "Tapi ngapain ngiri sama si Yanto? biar aza memang dia
begitu adanya. Yang penting aku harus berubah seperti nasehat Yanto
orang yang punya pengalaman, lalu aku akan mendapatkan Linda" demikian
pikir Supri sambil menutup HPnya setelah berbicara dengan Yanto.

              Supri telah berubah. Dia kini menjadi orang yang
romantis. Sekarang dia senang memutar lagu-lagu cinta entah dangdut
atau pop, entah lagu nostalgia atau lagu anak muda jaman sekarang.
Yang penting baginya hatinya bisa tenang, angannya bisa melayang dan
terbuai ke sosok Linda, dan dia jadi lebih semangat untuk mendekati
Linda. Supri pun kadang menyetel laghu-lagu dari koleksi lamanya atau
CD yang diberi Linda dalam radio/tape mobil yang dibawanya. Supri
sangat menikmati suasana orang  orang cinta seperti yang pernah
diceritakan dan dialami oleh teman-temannya. Cinta yang membuat orang
menjadi berubah, menjadi berfantasi, dan melupakan dirinya. Cinta yang
menjadi buta dan gelap. "Antara kita pertama berkenalan. 'tuk dapat
membagi rasa saling cinta. Antara kita saling percaya diri. Yang
seharusnya kita memiliki..." begitulah penggalan lagu "Antara Kita"
Fariz RM yang waktu itu ia dengar dari koleksi lagu lamanya.

                  "Kamu sudah berubah Pri?" tanya Simatupang, seorang
satpam di perusahaan tempatnya ia bekerja. Simatupang mengawasi
gerak-gerik Supri yang seperti orang bengong duduk menyendiri dalam
mobil kirimannya sambil mendengarkan lagu.

                 "Oh bang Simatupang. Maaf bang, sambil menunggu surat
jalan keluar saya duduk dalam mobil mendengarkan musik. Nggak ganggu
khan? " jawab Supri sedikit gugup dan membetulkan posisi duduknya yang
selonjoran dalam mobil.

             "gak ada masalah kok. Cuma kok kamu ada perubahan, kamu
yang dulu paling tidak suka dengerin musik, lagu dari radio/tape mobil
paling dengerin berita kini kok mulai senang dengerin lagu. Kamu
sedang jatuh cinta ya? Tapi bagus itu. Kamu sudah gede, wajar kalau
jatuh cinta sama wanita. Orang-orang di sini juga ngerti kamu sedang
jatuh cinta. Mereka senang berarti kamu berubah, lihat semuanya jadi
berubah dari diri kamu....hehehe" kata Simatupang sambil tersenyum dan
menghisap Dji Sam Soe-nya.

              "Tapi kamu kalau jatuh cinta jangan kayak orang bego,
kamu harus selalu ceria, semangat. Hidup ini bukan buat cinta tapi
cinta buat hidup. Lihat aku ini meskipun sudah punya istri, tapi aku
senang jatuh cinta lagi. hahaha...." lanjut bang Simatupang yang
memang terkenal orang yang doyan wanita meskipun sudah punya istri
tapi kadang suka berselingkuh dengan beberapa wanita diantaranya
karyawati sebuah pabrik.

              "Ya bener Bang. Supri nggak berubah masih seperti dulu,
cuma sedikit menghibur diri sambil menunggu surat jalan keluar. Itu si
Roni mau ke sini bawa surat jalan" jawab Supri sambil bersiap-siap
menghidupkan mobil kirimannya.

               "Oke Supri. Kamu kalau perlu bantuan dan ada masalah
dengan cinta jangan segan datang ke abang nanti saya bantu kamu. Saya
ini orang yang punya pengalaman dalam cinta, kamu harus belajar dari
aku" kata Simatupang sambil berjalan memenjauhi Supri setelah Supri
menjalankan mobil kirimannya. Supri hanya tersenyum dan melambaikan
tanggannya. "Bang Simatupang. ada-ada saja. wong hubunganku dengan
Linda baru tahap pendekatan kok sudah berbicara yang aneh-aneh" kata
Supri dalam hati sambil mengemudikan mobilnya.

           Supri berencana sore itu setelah mengantarkan mobil
kirimannya dia kan mampir ke sebuah toko buku loakan. Supri akan
mencari beberapa buku kumpulan puisi atau novel tentang cinta. Tak
lupa dia akan membeli beberapa buku komputer, dia akan belajar
internet dan dia akan membuat blog tulisan tentang ekspresi cintanya
ke Linda. Membuat tulisan sebagaimana yang dikerjakan para
penulis-penulis yang ingin mengekspresikan cintanya kepada kekasihnya.
Supri berencana membuat judul untuk blog tulisannya dengan judul
"Tuhan Mencintai Supri"

              Sebetulnya telah lama Supri tak mnulis dan tak
berhubungan dengan komputer apalagi internet. Kehidupannya sebagai
sopir yang bekerja dengan setir mobil dan pedal serta rem mobil
membuatnya dia melaupakan sesuatu yang pernah ia lakukan dulu sebelum
bekerja di kota.  Di kampungnya dulu Supri seringkali menulis beberapa
artikel tentang keagamaan di tabloid agama di masjid kampungnya, dan
Supri sering kali mengirim beberapa puisi dan cerpen ke koran meski
seringkali tidak dimuat di koran tapi dari teman-temannya yang melihat
tulisannya mengatakan bagus. 

                    Supri memang menjauhkan diri dari dari dunia
tulis-menulis dan internet ketika bekerja di kota. Pikirnya menulis
puisi, cerpen, dan artikel hanya membuang-buang waktu saja, membuat
dia terbuai, berfantasi, dan mengatakan apa-apa yang seharusnya tidak
ada dan tidak dikerjakan menjadi ada dan seakan-akan dikerjakan.
"Enakan kerja cari duit dan ini adalah kenyataan hidup. kerja keras,
cari duit, buat makan, dan bertahan hidup di kota. bukannya menulis
puisi segala" pikirnya ketika dia berprofesi sebagai sopir saat itu.
Entah itu kekesalan hatinya karena karyanya tidak pernah dimuat di
koran dan karena karya-karya temannya sering dimuat dan bisa hidup
dari dunia menulis. Apalagi harus main internet, mengirim email,
menulis di blog, mencari seuatu, "Sebuah pemborosan. Hidup dengan
dunia maya, dunia mimpi, dan dunia semu. kayak dunia setan" begitu
sengit Supri waktu itu menanggapi dunia menulis dan internet apalagi
setelah mendengar banyak teman-temannya yang berhasil hidupnya hanya
karena menulis dan hidup dengan dunia internet.

                 Namun itu dulu, kini Supri telah berubah. Supri
merombak apa yang dulu pernah ditabukan dan dijauhinya. Supri ingin
kembali menulis puisi cinta dan ingin megumpulkan puisinya dalam
sebuah blog si suatu situs yang Linda aktif di dalamnya. Supri ingin
mengirimkan puisi cinta kepada Linda lewat email, Supri ingin
menunjukkan kepada Linda bahwa biarpun dia sopir dia bisa menulis
puisi dan mengirim email. Supri kembali membuka segala ingatannya
tentang pusi dan kata-kata cinta. Supri pun mulai datang ke warnet
membuka situs pertemanan, mengisi blog dengan puisi cintanya, lalu
puisi itu Supri copy-paste dan ia kirimkan ke email Linda.

              Supri malam itu berada di sebuah warnet dekat dengan
tempat dia bekerja. Berjam-jam depan komputer, mengetik puisi ke
blognya "Tuhan Mencintai Supri" di dalam situs pertemanan yang
terkenal. Depan komputer sambil membuka-buka buku kumpulan puisi karya
pengarang terkenal yang terkenal dengan puisi cintanya, Supri mencoba
menulis puisi cinta. Tak perlu susah ternyata Supri untuk belajar
menulis puisi dan internet karena dia dulu mempunyai dasar untuk itu.
Sekarang tinggal mengingatnya.

                Kata-kata puitis dan cinta tercipta dari ketikan
Supri.  Supri ternyata orang yang melankolis juga dengan berbagai
macam ingatannya tentang cinta dan kerinduan begitu deras meluncur
keluar, meskipun agak berat juga dia harus menyusunnya menjadi sebuah
kalimat yang puitis dan enak dibaca. Kadanga ia terpengaruh juga dari
bacaan buku puisi yang ia baca saat itu dan kadang mengambil sedikit
petikan lirik lagu yang ia dengar. Supri tak peduli pada waktu dia
terus mengeksplorasi segala ingatan dan pengalamnnya tentang cinta
dalam tulisan biarpun malam semakin larut dan warnet mulai sepi. Supri
hanya ingin dia membuatkan sebuah puisi buat Linda di malam itu dan
berharap Linda membacanya serta Linda mau melihat blognya yang telah
ia setting menjadi blog yang sedemikian romantis, penuh bunga.

                Menjelang tengah malam petualangan cinta Supri di
dunia maya  berakhir dan ia telah berhasil menyelesaikan sebuah puisi
buat Linda berjudul "Bunga.  Engkau bagai bunga yang selalu dijilatin
mentari pagi. Angin gerakkan hasrat rindu ingin menyapamu. Membuka
sunyi hati hingga rindu ini tertumpah pada ruang cinta mu yang masih
membeku. Lalu aku pun akan hiasi ruang ini dengan cinta dan canda
kanak-kanak. Oh terpujilah cinta."

                 Malam sesudah Supri selesaikan semua kewajiban dan
tugasnya. Supri selalu melakukan kebiasaan baru yang tak pernah ia
lkukan sebelumnya. Supri selalu megirim sms kepada Linda sekedar
mengucapkan gimana kabarnya? sudah tidur belum? selamat tidur?. Bila
ia pununya pulsa penuh Supri pun kadang langsung mengebel ke Linda,
dia kangen dengan suara Linda yang menurutnya bisa menggugah hatinya.
Supri ingin bercakap-cakap dengan Linda lalu menanyakan kabarnya,
sekedar basa-basi agar tak putus hubungan, demikian pikir Supri.

                 Semenjak kenal dengan Linda Supri ingin selalu dekat
ke orang tuanya ke ibunya, Supri ingin membawa LInda dan
memperkenalkannya ke orang tuanya. Malam itu Supri rasanya juga pingin
nelpon ke orangtuanya di kampung. Supri pun telah punya HP baru jadi
orangtuanya di kampung bisa sekali waktu nelpon ke dia langsung tak
perlu pakai telepon kantor.  "Malam ini orang tuaku mungkin belum
tidur, aku pingin ngebel ke sana. Biar orangtuaku ngerti juga no HPku".

           Selalu bila Supri ngebel ke orang tuanya ibunya hanya
menasehati dia supaya selalu bisa jaga diri, hati-hati di tempat
orang, harus tahu diri, dan selalu ingat sholat dan berdoa. "Supri
kamu sudah besar. Kamu sudah tahu jalan mana yang terbaik untukmu.
Kamu sudah bisa cari  uang. Tentunya kamu sudah waktunya kamu cari
jodoh. Pilih yang rajin sholat, sayang sama kamu, keluarga, dan tidak
boros sama uang, dan tidak pelit sama uang. kalau bisa satu daerah.
Kalau memang kamu suka sama Linda anak orang kaya yang  nurut kamu
orangnya baik, ya gak pa-pa. Ibu setuju saja, asla kamu bisa jaga diri
dan tahu diri kamu itu siapa?" kata ibunya menasehati dalam HP Supri
malam itu.

        "Jaga diri dan tahu diri" Supri faham dengan katya itu dan
tiba-tiba Supri melinangkan air matnya setelah mendengar nasihat
ibunya. Teringat dirinya berasal dari kampung dari kelaurga yang tidak
kaya, hidup sederhana, orang tuanya hanya pekerja biasa dan pendidikan
yang biasa saja. Dibanding dengan Linda dan orang tuanya. "OOOh beda
jauh antara langit dan bumi, ooh mungkinkah menyatu, Oooh Tuhan
satukan aku dengan Linda ini" demikian harapan Supri dalam isak
tangisnya di malam itu. Supri hanya memasrahkan dirinya pada Tuhan,
yang terjadi biarlah terjadi.

00000000000

          Hari itu di akhir bulan waktunya Supri menerima gaji. Supri
menunggu bosnya memanggil dia. Seperti kebiasaan di perusahaannya,
para karyawan selalu menunggu untuk dipanggil bosnya sekalian bosnya
memberikan sedikit penilaian tentang kinerja anak buahnya selama
sebulan.  Supri hanya duduk saja menunggu dengan penuh harapan
sebagaimana harapn pekerja yang lain semoga gajinya ditambah atau
mendapat bonus atau jangan samapai gajinya dipotong karena ada masalah
dalam pekerjaan.

                 Supri berencana dengan uang gaji itu dia akan
membelikan ebuah boneka buat si Linda. Sebuah boneka yang kayaknya
sangat diinginkan oleh Linda. Ketika Supri dan Linda berjalan-jalan di
sebuah mall dan Linda berhenti pada sebuah toko. Pandangan Linda
tertuju pada sebuah boneka, boneka salah satu binatang yang lucu dan
besar. Harganya memang mahal karena barang import dan kualitasnya juga
bagus.  Sebetulnya Linda mau membeli karena ia mempunyai cukup uang
tapi ia mengurungkan niatnya. Linda berharap ada seorang yang baik
hati yang membelikan dia sebuah boneka dan memberikannya sebagai
kenangan. Dia akan sangat bahagia tentunya dan orang yang
membelikannya tentunya orang yang dekat sama dia. Akan bertambah cinta
dan suka Linda ama orang itu.

              Supri berjanji di akhir bulan akan membelikan Linda
sebuah boneka meskipun mahal harganya. Gajinya akan dia buat untuk
membelikan Linda sebuah boneka tentu saja dia akan mengajak Linda,
jalan-jalan, nonton atau makan. Romantis sekali dan cinta Linda
kepadanya akan bertambah erat dengan adanya boneka itu. Linda pun akan
teringat dan terbayang dirinya setiap saat, setiap waktu dengan
kehadiran boneka itu.  Sesudah gajian  Supri akan pergi ke mall itu,
membeli sebuah boneka, lalu membungkusnya dengan amat indah, lalu akan
pergi ke rumah Linda dan memberikan boneka kepadanya, lalu mengajak
Linda jalan-jalan, dan makan, Lalu di malam itu Supri akan menyatakan
cinta pada Linda. Oh hayalan yang sempurna.

           "Supri dipanggil bos" tiba-tiba Roni datang kepadanya dan
membuyarkan hayalan Supri yang saat itu sedang duduk menyendiri dalam
sebuah mobil.

            "Ya Ron. Aku datang" jawab Supri sedikit gugup dan
tergopoh-gopoh bangun lalu keluar dari mobil.

              "Kata bos kamu ada maslah. Nggak tahu masalah apa? yanmg
penting bukan masalah pekerjaan, pokoknya datang saja" kata Roni yang
merupakan manager umum di perusahaan itu.

              Roni pun datang ke ruang kerja bosnya lalu duduk
menghadap bosnya dengan sopan. Bosnya hanya diam sambil melihat-lihat
lembaran buku di mejanya. "Supri kamu gak ada masalah dalam pekerjaan.
Kinerjamu selama sebulan cukup bagus" tiba-tiba bosnya berkata. "Namun
kamu ada sedikit masalah berdasarkan catatan keuangan yang dikirimkan
oleh bagian kasir. Ternyata kamu telah banyak kas bon kepada kantor
untuk banyak hal. Mulai buat ngirim orang tua yang sakit di kampung,
buat beli HP, buat beli Radio-Tape, buat macem-macem yang gak ada
kaitannya dengan pekerjaan. Mungkin bulan kemarin gak kulihat dan
kupikir kamu akan menyicil buat melunasinya namun ternyata tidak" kata
bosnya mempertegas dan Supri nampaknya sudah mulai dagdiddug serta
duduknya pun mulai tidak tenang. Supri merasa dia akan menghadapi
kenyataan yang terburuk entah apa?

                 "Jadi kupikir aku akan memotong gajimu untuk bulan
ini. Tapi cuma kupotong sebagian tidak seluruhnya. Bulan depan kamu
juga mulai menyicil melunasi hutangmu, apalagi kamu ada kabar rencana
mau hutang ke kantor buat nyicil beli motor. Entar dulu nunggu
hutang-hutangmu lunasi dulu. Bagaimana Supri?" tegas bosnya memberikan
keputusan. Bosnya juga memberikan Supri selembart amplop slip gaji
bulanan.

                   "Baik pak. Terima kasih." jawab Supri yang
cepat-cepat mau meninggalkan ruang kerja bosnya.

              "Tunggu dulu Supri. Ada kabar katanya kamu sudah punya
pacar ya" tanya bosnya untuk mencairkan suasana hati Supri yang
tiba-tiba bersedih hati.

              "Ya bos bener. Tuh jadinya sering ngebon, duitnya buat
pacarnya, buat beli macem-macem buat ngejar cewek" tiba-tiba Roni yang
memang orangnya ceriwis nyeletuk berbicara.

              "Bener bos" jawab Supri yang juga tersenyum kepada
bosnya namun kelihatan dipaksakan. Supri pun meninggalkan ruangan
kantor dengan perasaan galau.

              Keluar dari kantor jalanan ramai, kendaraan berlalu
lalang, semua tak ada memberi kesempatan untuk Supri berjalan dan
menyebrang jalan. Supri lau memandang langit yang sangat terik siang
itu. Matahari yang tak memberikan kesempatan kepada dia untuk
mendinginkan pikirannya yang sedang kalut, lalu gambaran Linda bersama
orang tuanya di balik awan-awan. Gambaran mereka entah sedang
tersenyum atau marah kepada Supri. Supri hanya mengantongi sedikit
uang. Taka ada lagi boneka, tak ada lagi uang untuk ngirim orang tua
ke kampung, semua uang gajiannya ludes buat bayar hutang. Belum lagi
utang di warung makan, bayar kontrakan, dan buat yang lain-lain. Ya
gambaran Linda dan orang tuanya kini menghilang entah kemana. Pikiran
Supri menjadi pusing. Supri lalu berjalan cepat pulang ke rumah
kontrakannya. Tak menghiraukan teman-temannya yang pada ngumpul, dan
bergembira setelah menerima gaji. Supri ingin tidur. Supri hanya bisa
menangis dan meratapi kemalangan nasibnya. Tertidur hingga melewati
batas waktu dhur dan ashar.. 

Kirim email ke