Cerita ini benar adanya, dikirimkan oleh rekanku yang dulu aktif di Impala dan sekarang ada di Honolulu, mudah-mudahan ada manfaatnya buat kita semua. -- dg http://www.gurnadi.f2s.com ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> Subject: cerita dari honolulu > Kawan-kawan, > Berikut ini adalah secuil kisah pandangan mata dariku. Jika berminat, silakan diforward kepada rekan-rekan yang lain. > > CERITA DARI HONOLULU > > Pagi itu aku kesiangan bangun. Aku bergegas mandi untuk kemudian berangkat kerja. Waktu sudah hampir pukul 7:45 AM. Tiba-tiba telepon berdering, ketika diangkat, dari ujung yang lain terdengar suara seorang, yang langsung menyeru, "Sudah dengar belum.., gedung WTC New York ditabrak pesawat?! Cepat, nyalakan TV!". Dan kemudian muncullah di layar NBC gambar gedung WTC Tower I yang sedang terbakar. > Kekagetanku belumlah apa-apa. Saat Tower II juga diterjang pesawat kedua, tak terbendung meluncurlah dari mulutku "O, my God..!". Dan ketika kusaksikan gedung-gedung itu collapse, aku terpana. Terlintas di pikiranku, "Oh, OK, this is just an preview of the Die Hard Part III'. Tapi kemudian kupandangi footage di TV, yang menyebut Ala Moana Shopping Center (pusat perbelanjaan terbesar di Honolulu, mall tempatku bekerja) ditutup. Cepat kusadar, ini bukanlah cuilan adegan film buatan Hollywood. > Sejam kemudian kudapatkan konfirmasi dari call center, bahwa Malama Spa (perusahaan tempatku bekerja) diliburkan hari itu. Dari TV aku juga tahu bahwa bandara ditutup, beberapa sekolah tutup, dan pusat pangkalan militer Hickam, 1 kilometer luar kota Honolulu, mencanangkan kode siaga satu (Delta). > Aku sempat ke New York awal tahun ini. Dalam kunjunganku yang sepuluh hari itu, hampir tiap hari aku naik subway, dan dalam perjalananku ke Liberty Statue, sempat kulintasi menara kembar WTC yang menjulang itu. Terbayang kini, di antara orang-orang bermuka tirus tanpa senyum, berjaket kulit nan panjang berwarna gelap, yang kujumpai sepanjang jalan itu, kini ada di antara 5.400 orang yang hilang atau mungkin di antara 400-an jenazah yang sudah ditemukan. Betapa ngilu. > Selasa itu sendiri kuhabiskan di depan TV, menyaksikan gambar orang-orang berlarian, Bush menangis, gedung runtuh, Osama, Afghan, Palestina, Pentagon, firefighters, bandara, dan lainnya. Dari enam saluran TV yang ada, tak satupun yang menayangkan program biasa, semuanya soal liputan "Teror on America". Beragam kebingungan berkecamuk, cuma satu yang membuatku giris, "sekali lagi kebencian atas sesama merayakan kemenangannya". > Di asrama tempatku tinggal, para mahasiswa asal berbagai negara penerima beasiswa East-West Center, sebagian memenuhi ruang TV kabel, mata mereka nyalang menatap layar CNN, MSNBC, atau lainnya. Sebagian lagi ngobrol seru soal tragedi itu. Puncaknya ketika jam makan malam, dapur penuh dengan mahasiswa yang sedang makan malam (atau yang sedang masak). Dan perdebatan segera mengalir antar-meja, mulai soal "why they did that" sampai teori CIA, Laden, aliran sesat, dan lain-lain. Biasanya sambil menikmati makan malam (aku tinggal di lantai teratas, lantai 12) aku asyik menyaksikan angkasa Honolulu yang dipenuhi lalu lalang pesawat komersial, namun malam itu langit cuma kelam diselimuti awan. > Betapa sunyinya suasana di jalanan, di bis, di mall, di tempat kerja. Orang-orang berwajah kaku, tanpa secuil senyum. Koran-koran ber-headline "US Under Attack" laku keras. Bahkan sebuah harian pagi, mengeluarkan halaman ekstra di siang harinya. > Ketika seorang pejabat di Washington menjuluki tragedi ini sebagai "Pearl Harbor II", hatiku jatuh pada masyarakat Amerika keturunan Jepang di Hawaii (yang sangat besar populasinya). Kubayangkan, betapa mereka terpukul dengan julukan itu, ibarat mengungkit luka lama saat militer Jepang menyerang pangkalan perang AS di Hawaii tersebut di jaman PD II. > Ketika esoknya kupastikan mall kembali buka, aku berangkat ke tempat kerja. Orang-orang mulai mengibarkan bendera Amerika di tiang bendera, di berbagai kendaraan, di kaca jendela, juga ikat kepala dan pin di dada. Aku sendiri menyemat pita kecil di dada, yang kudapat saat menyumbang $5 melalui Red Cross. Pos-pos penerimaan sumbangan untuk korban juga dibuka oleh Salvation Army, dan Blood Bank membuka posnya 24 jam. Semboyan "God Bless America" pun terpancang di mana-mana. > Tempatku bekerja tetap dibanjiri clients yang sebagian besar wisatawan Jepang. Di antara mereka adalah penumpang pesawat transit yang baru saja mendarat (dikawal pesawat militer) dan terjebak di Honolulu karena tak satupun pesawat penumpang yang diijinkan terbang meninggalkan kota ini. Dari pada terjebak kedua kalinya di hotel yang sangat penuh oleh penumpang puluhan pesawat bernasib sama, mereka memilih pergi ke spa, dan belanja di Escada, Neiman Marcus, St.John, atau di outlet mewah lainnya. > Keesokan harinya, Kamis, 13 September, suasana semakin sepi. Beberapa toko sengaja menutup pintunya selama tiga jam, antara 10 pagi sampai 1 siang, sekalian mengikuti hari berkabung dan doa nasional. Di berbagai tempat orang melakukan march dan berkumpul di lapangan untuk doa bersama. March yang diadakan di kampus University of Hawaii sendiri kabarnya melibatkan 2.500 orang. Lagu-lagu gerejani yang miris hampir tak hentinya didengungkan stasiun radio. TV menayang ulang gambar reruntuhan WTC, para lelaki yang menangis, kisah-kisah sejati, juga siaran langsung dari gereja episkopal di DC yang jadi pusat penyelenggaraan doa nasional. Menjelang petang, aku bergabung dengan para mahasiswa grantee bertemu dan berdiskusi tentang tragedi dengan pimpinan EWC, ditutup penyalaan lilin dan doa bersama. > Jumat minggu lalu adalah hari yang penuh dengan reaksi. Bush mencanangkan perang terhadap teroris, media menampilkan berbagai wawancara dengan tokoh-tokoh politik, ekonomi, keselamatan pekerja, dan lain-lain. Satu yang menarik adalah saat Peter Jennings (anchor stasiun TV ABC, favoritku) menangkap komentar seorang wartawan, anggota termuda dari editor board New York Times : "Bagiku, juga mungkin bagi orang muda se-generasiku, sudah saatnya AS lebih ber-koneksi dengan bangsa lain". Alangkah sejuknya kata-kata itu menyeru di antara rasa marah dan kebencian bertubi sebagian orang Amerika terhadap Afghan-Pakistan-Taliban-Islam saat itu. > Hari berikutnya, ketika stasiun TV lain masih bicara soal 'mourning' dan berkutat dengan slogan "America is No.1", stasiun TV ABC justru sudah mulai mengantar program bernada kebangkitan. Sebuah acara diskusi mirip acara Bu Kasur yang menghadirkan 30-an anak-anak Amerika dari berbagai ras (termasuk gadis kecil berjilbab, kuduga asal dataran Timur Tengah) ngobrol kritis tentang tragedi, sangat memikat perhatianku. Namun di antara pendapat bernada analisa dan introspeksi itu, terbersit pertanyaan di benakku 'akankah mereka tetap sekritis dan serendah diri itu, jika mereka besar nanti?'. Nobody knows. Sebuah program lain yang amat memikat adalah bertajuk "Memphis Dream", mencoba mengajak masyarakat Amerika menengok kembali apa yang sudah digurat Elvis Presley dan Dr.Marthin Luther King. Di tahun 40-50 an keduanya menorehkan kisah penting di kota itu dan dipercaya sebagai tokoh pembaharu yang paling berpengaruh dalam sejarah Amerika baru. > Minggu kemarin, saat bergabung dengan kelompok koor di gereja seperti biasa, saat syair "O, heal our land.. Father, heal our land.. " dikumandangkan, kutemui beberapa pasang mata basah air mata. Usai misa, sebagian umat menuliskan ungkapan doa dan dukungan semangat di sepotong kain perca untuk kemudian disambung-sambung menjadi sebilah kain yang akan dikirim untuk masyarakat New York. > Sementara itu, Bush mengunjungi Islamic Center, sebagai upaya meredam aksi kekerasan yang ditujukan pada orang-orang Islam, Syikh dan keturunan arab di Amerika yang dilancarkan individu-individu yang tak bertanggung jawab beberapa hari terakhir. > Hari ini suasana berangsur normal, meski saham di Dow Jones, anjlok mencapai nilai terendah sepanjang sejarah. Program radio dan TV mulai kembali seperti biasa, disibukkan gosip selebritis, iklan sedan, dan games gila-gilaan. Mungkin semuanya memang akan kembali normal, tapi aku setuju dengan pendapat yang berkata, Amerika tak akan pernah kembali sama, seperti saat sebelum "911" (September 11, 2001). > > NO MORE VIOLENCE ON THE EARTH. ENOUGH IS ENOUGH. > > Honolulu, September 17, 2001 > Angela H. Wahyuningsih --------------Hapus Footer Ini Jika Mereply-------------- Arsip Milis ada di : http://www.mail-archive.com/[email protected]
