/   |  _     \ |        | |
                    _o_\_,_;_(_  ,o _\;__,_,_,_; :
                   (    ..      (

Bagi yang sudah merasa mapan......another thoughts that make us realising
what's happening surrounding......

-----Original Message-----
From: BDI BP Indonesia [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, November 28, 2001 11:37 AM
Subject: A Touching Story 


===============================================================
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Jibril mendatangiku seraya berkata; 'Barangsiapa yang mendapati
bulan Ramadhan, lantas tidak mendapatkan ampunan, kemudian mati,
maka ia masuk Neraka serta dijauhkan Allah (dari rahmat-Nya).
'Jibril berkata lagi;'Ucapkan amin' maka kuucapkan, 'Amin.' "
(HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)
================================================================

>From    : Achmad Soendaroe
Subject : A Touching Story

Ass Wr Wb

Mudah-mudahan  cerita ini membuat hati kita lebih peka terhadap lingkungan 
kita semua.

Diambil dari Indopubs.com,  mudah-mudahan bermanfaat
Mohon maaf bagi yang sudah  pernah membacanya....

wassalam

Wass Wr Wb


Dear All,

Rasanya ini baik untuk direnungkan setiap kita yang merasa "berkecukupan" 
dan selalu "dimanja" oleh Tuhan.

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat
lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat
ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap 
keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi
umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu?
Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan

keluarga saya?

Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal
waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa
beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah
dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan
puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua.
Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci
seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi
seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor.

Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah
seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong,
saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu
sampai tidak ada orang yang memergoki?
Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon.
Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang,
pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di 
tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi.

Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang
semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di
samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali
masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan
di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut
jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu.
Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada 
yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah.
Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit
jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki
saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya
ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya.
Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan
sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum
bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.* * *

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan
penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang
membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya 
ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah 
anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf 
dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah 
saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu 
kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu,
mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya
periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya
simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang
berkurang.
Lama sayamelihat dompet itu dan melamun.
Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun
saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang
morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya.
Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih 
dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya
menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang
berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya
seperti ini:

"Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya
mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk
mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak
mampumembayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli
alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim 
itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja.

Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi 
buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan
goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya
membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk
beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras.
Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja
jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang
(sambil hiburan) saya ngamen.
Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan
saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap.

Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini
belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu
tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil
marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir
Bapak.
Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh.

Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung.
Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit
hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh
siapa.
Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang
semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya
memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang
besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa
ke dokter.
Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan
saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu,
di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk
sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak
cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti
bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang.
Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu
memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas
jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil
dompet.

Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih. Saya segera
mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.
Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya
dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya,
atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya
mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai
bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis.
Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin
berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih
sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi
pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan.
Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa
melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya
mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan
tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di
taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun
yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya
menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi
surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang.
Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi
silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah
istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira
biasanya.

Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua
anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau
bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada
lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu 
sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya 
menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali.

Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana
saja.
Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya
sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus
nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi
bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen 
yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan
kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di
mata saya.
Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama."
Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.



Note :
1)Untuk mengirim pesan, artikel, pertanyaan atau tanggapan ke Mailing List 
BDI BP harap dikirim ke alamat [EMAIL PROTECTED] atau mereply surat dari BDI

BP Indonesia
2)Untuk mengikuti Mailing List harap mengisi form Join Mailing List di 
website http://www.bdibp.homestead.com atau mengirim ke [EMAIL PROTECTED]
3)Untuk berhenti mengikuti Mailing List / unsubscribe (Kalau bisa jangan) 
harap mengirim ke [EMAIL PROTECTED]


_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp

Silakan kunjungi website 'moderator' :-)
di http://abuharits.cjb.net

Kirim email ke