Dear kaum mancing-l nampaknya saya gagal mengakses
attachment cerita trip mancing tgl 4 April lalu ke
mailis mancing-l, jadi saya copy aja versi tipografi
internet.......selamat membaca dan semoga membiru.

                      
               "KRAKATAU~ARDIKA"
      
oleh; Siti Nur Aisyiyah

"Sepasang kapal�.terbang diatas rumput biru�. Seakan
membawakan pesan kepada ibu bumi�..tentang rindunya
berharap dengan menatap pancingan mendapat ikan yang
dipikirkan�.sungguh ibu bumi mengajarkan kami akan
makna ketabahan dan pesona dibalik gemerlap
ikan-ikannya�.."

              Jakarta di sore hari. Senin, tanggal 3
April 2000. Langit yang cantik berubah gelap dan hujan
turun dengan deras. Saya berpikir dalam lamunan.
"Langit�.menangislah sepuas hatimu dengan tetesan air
mata  hujanmu itu�.langit menjeritlah seperih jiwamu
dengan petir mu itu�..agar tiada lagi beban kemarahan
mu kepada mahluk perusak bumi ini�.hingga kami dapati
wajah cantik mu ketika terbang bersama kapal-kapal
kami di esok hari�.". Lalu lamunan saya terhenti
ketika kendaraan yang saya tumpangi berhenti tepat di
pintu masuk tempat Pudjo Basuki berdinas. Saya menuju
lantai 20 dan mendapati Pudjo Basuki yang lebih akrab
dipanggil "abah" oleh kaum mancing-l itu sedang
menerima tamu yang nampaknya sangat serius. Ketika
tamu itu keluar saya tertegun. Nampaknya memori saya
mengidentifikasikan sosok laki-laki hitam ini adalah
sang kapten ARDIKA. Saya tersenyum kepada kapten Sam
ini dan tak dapat menyembunyikan rasa heran saya
kepadanya yang nampak rapi dengan baju batiknya. Ia
nampak berbeda, tetapi pancaran biru laut dalam
tatapan matanya membuat saya lupa untuk berjabat
tangan dengannya dan Pudjo Basuki menyaksikan adegan
ini dengan senyum. Lalu saya menghampiri Pudjo Basuki
dan nampak buku yang dijanjikannya kepada saya berada
diatas meja yang seakan lelah menanti seseorang yang
ditunggunya. Dan saya berharap buku itu sejak lama
menanti saya menyentuhnya dan merasakannya dalam
pikiran dan perasaan saya untuk kemudian  mengajari
saya tentang betapa gagasan dan pemikiran ilmiah dan
teoritis dari eksplorasi dan eksperimen pengalaman
empiris dan riset berpuluh hingga ratusan tahun
lamanya adalah sumbangan pemikiran yang sangat
historis untuk gagasan pemikiran dunia praktis dan
dunia teoritis tentang mancing dan dunia air bagi
generasi selanjutnya. Saya tertegun menatap sampul
coklat merah batanya dan tulisan emas "McClane's. New
Standard Fishing Encyclopedia". (And International
Angling Guide). Buku ini awalnya dicetak pada tahun
1965, setebal lebih dari 1156 halaman dengan diameter
21 cm dan panjang 29 cm.  Pikiran saya berbisik bahwa
jejak guratan tangan yang nampak di buku itu adalah
milik pikiran dari beberapa orang yang pernah membaca
buku ini dengan segala hatinya. Dan tatapan buku itu
seakan bertanya tentang apakah saya akan terilhami
dengan pikiran-pikiran yang tertulis di tiap lembar
halamannya dan apakah saya dapat menepati janji untuk
menambahkan lembaran pemikiran lain?��dan ketika saya
melihat tiap lembarannya secara acak dan mendapati
gambar foto dan lukisan diantara susunan huruf, angka,
garis dan warna seakan mengatakan sesuatu�..tentang
betapa luasnya pengetahuan Tuhan dan rahasia bumi ini.
Dan rahasia itu melainkan hanya setetes air ditengah
luasnya lautan di bumi ini. Saya pikir buku
ensiklopedi ini telah merintis dan mengilhami banyak
pemikiran lain tentang dunia laut dan mancing, baik
berupa tulisan, buku, pikiran, sikap, tindakan dan
moral pemancing dan mereka yang terlibat dengan dunia
air. Saya menatap buku itu dengan resah di setiap
lembar  halamannya seakan mencari sesuatu yang harus
saya temukan dan Pudjo Basuki membimbing saya dengan
kesabarannya membuka lembar demi lembar hingga mungkin
ratusan lembar demi mencari tulisan yang ternyata
berada di halaman 112-113 yang menerangkan tentang
bahwa dahulu diabad ke lima belas. Ada perempuan
bernama "Dame Juliana Berners", asal Inggris. Seorang
"hunting writers/penulis lepas dan compiler/penyusun.
Dia adalah seorang perempuan, legenda tentangnya
mengilhami dan menjadi bagian dari pencarian misteri
lain dibalik dunia mancing. Dia adalah seorang
"author" penulis buku tentang mancing di tahun 1496.
Sebelumnya di tahun 1486, nama Dame Juliana Berners
sangat dekat dengan syair/sajak/puisi yang bersifat
didactic/mendidik di "Book of St.Albans" (1486 ) yang
merupakan buku sporting pertama yang dicetak di
Inggris. Proses perjalanannya menjadi penulis tentang
dunia mancing penuh dengan intrik dan liku dimana
eksistensinya selama beberapa abad dipertanyakan dalam
sejarah dunia mancing mengingat ia adalah seorang
"author" (fishing writers and librarians) perintis
dunia mancing dengan pikiran hunting dan penanya. Hal
yang paling tidak terduga tentang "Dame Juliana
Berners" bahwa ia adalah seorang biarawati. Setelah
mendapatkan pengetahuan ini saya terdiam. Pudjo Basuki
membesarkan hati saya bahwa perempuan mempunyai tempat
dan jejak dalam sejarah  mancing dunia. Pikiran saya
mengembara seakan menyalahkan mitos  dan sugesti
tentang kesan dunia mancing yang identik dengan dunia
maskulin. Lalu kemudian terdengar bunyi telepon dari
meja kerja Pudjo Basuki yang ternyata berasal dari
Bobby Halim. Setelah berbicara sejenak dengan Pudjo
Basuki yang menyinggung betapa lebatnya hujan jakarta 
di sore hari itu dan harapan Pudjo Basuki tentang
semoga laut dikeesokan harinya ketika kapal Krakatau
bersandingan dengan Ardika langit cerah cemerlang,
lalu saya berbicara dengan Bobby Halim yang
membesarkan hati saya bahwa pikiran mabuk laut itu
harus segera saya hilangkan dalam memori.             
                                     
              Jakarta, 4 April 2000. Saya (Aiz), Selvi
Riana Tambunan dan Ansyoria (anggota baru mancing-l).
Sampai di dermaga 16 marina ancol sepuluh menit dari
pukul 6.00 wib. Saya khawatir kami terlambat, ternyata
di pagi yang cerah itu toleransi keberangkatan adalah
30 menit dari pukul 6.00 wib. Saya berjanji dalam hati
untuk tidak terlalu panik jika ingin memancing karena
para pemancing juga memiliki toleransi waktu yang
lebih dari cukup untuk ukuran seorang pemancing pemula
yang perempuan, terlebih saya harus menjadi guide bagi
dua orang perempuan yang baru pertama kalinya mancing
laut bersama Ardika. Dari perkara membangunkan mereka
pukul 4 pagi hingga mengingatkan sarapan dan jaket.
Nampak ekspresi Selvi dan Ria berpikir dan menduga
banyak tentang apa yang akan terjadi dalam perjalanan
mancing nanti. Lalu Bobby Halim datang menghampiri
Ardika dan kami tersenyum melihatnya. Bobby Halim
memberikan kami "Dramamine" obat untuk mengantisipasi
mabuk laut dan saya meminumnya dengan sugesti bahwa
jika saya mabuk maka orang yang pertama kali akan saya
jadikan kambing hitam adalah Bobby Halim. Lalu
datanglah Pudjo Basuki dan yang lainnya. Kami dari
kaum anggota mancing-l di bagi menjadi dua bagian. Di
kapal Krakatau terdapat nama ; Bobby Halim (Kapten
flamboyan), Sulaeman (gareng/pemancing senior), Indra
P (moderator mancing-l), Taufik, Moko, Sigit, dan tiga
orang ABK. Dikapal Ardika terdapat nama ; Pudjo Basuki
(sang legenda), Sam (kapten), Selvi (koordinator
mancing-l), Nursasongko Anwar (majalah Mancing),
Irwin, Agus Subekti, Andi, Sunu, Uli, Rahmat, Greg,
Adit (putra pak Greg), Ria, saya (Aiz), dan ABK tiga
orang. Sebelum kapal berangkat Selvi, koordinator
mancing-l itu saya pertemukan dengan Indra P moderator
mancing-l. Yang menarik dari keduanya adalah mereka
memiliki latar belakang yang sama, yaitu "Tehnologi
Informasi".

              Langit nampak cerah, secerah bidadari
yang menunggu kekasihnya kembali. Perjalanan mancing
laut dari komunitas mancing-l kali ini sangat menarik
karena inilah pertamakalinya kami merencanakan
perjalanan dengan dua kapal terpisah dan Greg
menyebutnya "Krakatau gandengan dengan Ardika". Lokasi
mancing pertama kami di sekitar karang kaimun dimana
di lokasi itu sejajar kapal Ardika, Krakatau, kapal
Pak Edi, dan perahu nelayan tradisional. Sebelum
berangkat dari dermaga kami sibuk berpikir tentang
ngotrek (mancing untuk umpan), maka di lokasi yang
banyak ditemui ikan tenggiri itu kami sibuk ngotrek
dengan diiringi lagu dangdut yang nampaknya akhir ini
sangat populer. Inilah pertama kalinya saya, Selvi dan
Ria dibimbing oleh Pudjo Basuki dari cara memegang
joran hingga kepekaan dalam merasakan umpan di makan
ikan. Beberapa lama nampaknya kami tidak juga
mendapatkan ikan yang kami pikirkan dan bahkan
ngotrekpun menjadi acara mancing yang paling serius
bagi kami yang pemula. Sementara itu kapal Edi cacing
yang juga mancing itu dengan mudahnya mendapatkan ikan
tenggiri didepan kami, nampaknya laut ingin menguji
kami dengan kemampuannya memberikan keberuntungan ikan
yang kami pikirkan dan kami harapkan. Dan Bobby Halim
tidak menunggu lama lalu pergi mencari lokasi baru.
Dan akhirnya kami pun pindah. Dilokasi baru, kami
mulai memancing dan Adit putra Greg menjadi sosok yang
populer diantara kami karena keberuntungannya
mendapatkan banyak ikan. Umpan saya seringkali habis
dimakan ikan, saya tidak mengerti, kemanakah feeling
saya itu!?. Mungkin karena saya terlalu menikmati
suasana mancing tampa mabuk laut maka pikiran saya
yang terlalu gembira itu menyamarkan kepekaan saya
terhadap umpan yang dimakan ikan. Selagi kami
memancing mata saya ditangkap oleh botol beling yang
mengambang di depan saya�."Lihat abah ada botol!" ujar
saya kepada Pudjo Basuki yang sedang mengajari cara
mengendalikan alat pancingnya kepada saya. Berapa
menit kemudian ombak mengadu lagi kepada saya dan
memperlihatkan puntung rokok, dan ketika saya
berpindah posisi mancing. Andi disebelah saya
terheran-heran dengan bayangan putih didalam air yang
dikiranya ikan dari umpan saya. Setelah kami sadar itu
adalah plastik. Lagi-lagi ombak mengadu kepada saya
dan lagi-lagi saya teringat Bobby Halim yang benci
dengan sampah laut, saya tidak tahu mengapa jika
mengingat sampah laut dan mabuk laut maka saya akan
teringat Bobby Halim guru mancing laut pertama saya
itu. Ketika memancing beberapa kali Irwin mengingatkan
saya agar kenur pancingan harus terjaga dalam keadaan
tegang agar saya dapat merasakan jika ikan memakan
umpan. Uli profil yang paling sering menjadi bahan
joke kami karena paling tidak diasumsikan mendapatkan
ikan ternyata justru dialah orang pertama yang
mendapatkan ikan dalam perjalanan mancing kali ini.
Demikian juga dengan Agus Subekti dan Andi yang
terobsesi agar dapat mengunakan gacho jika mendapatkan
ikan besar kali ini justru harus merelakan gacho tetap
ditempatnya. Sedangkan Coco dari majalah mancing kali
ini nampak kalem dan kami tidak mendengar jokenya yang
terkenalnya itu "Bisa mancing nggak sih!?"��karena
mungkin dia sadar bahwa cuaca kali ini terlalu cerah
untuk berdebat tentang mengapa ikan-ikan besar tidak
memakan umpan kami. Tapi nampaknya saya curiga dengan
lagu dangdut yang mengiringi perjalanan kami sehingga
ikan-ikan lebih suka bergoyang daripada  makan umpan
dan menemani ombak yang juga bergoyang demi mendengar
syair dangdut yang sedih tapi harus tetap
diekspresikan sambil bergoyang. Ketika memancing Ria
berkata bahwa ketika memancing entah mengapa dia
teringat semua yang didarat termasuk dosa-dosanya di
darat. Saya tersenyum lalu menghiburnya dengan
perkataan "Setidaknya kalau kita mau menghindari
kenyataan di darat dan atau ingin menyadari kalau kita
banyak dosa, salah satu medianya adalah mancing di
laut!"�..Ria tersenyum. Lalu ia berkata lagi betapa
seorang Pudjo Basuki ternyata sangat sabar dan
kebapak-an. Saya tidak terkejut dengan perkataannya.
Namun pikirannya bahwa "pemancing itu sabar" mengusik
wawasan saya bahwa apakah sugesti atau mitos bahwa
"pemancing itu sabar" adalah benar!?. Saya akan
mencari tahu jawabannya suatu saat nanti. Perjalanan
mancing kali ini sangat indah untuk ukuran seorang
seperti saya yang baru kali ini tidak mabuk laut dan
merasakan dalam hati dan pikiran betapa nikmatnya
mancing  sekalipun itu adalah ngotrek. Anehnya Selvi
mengalami kasus yang terbalik dari saya, jika pertama
kali saya mabuk laut karena terkunci dalam toilet,
maka kali ini kasusnya adalah Selvi mengunci dirinya
di toilet untuk mengatasi mabuk lautnya��hihihihihihi.
Dalam perjalanan kembali ke dermaga Selvi masih dalam
toilet dan Coco seperti dugaan kami di mailist bahwa
ia memang "sleeping man"��dia nampak kalem kali ini
dan sesampainya kami di dermaga 16. Mereka yang
mengikuti kapal Krakatau bercerita betapa bahagianya
mereka mendapatkan tenggiri dan Bobby halim kali ini
merelease kembali seekor marlin. Saya gembira
mendengarnya karena itu juga berarti kegembiraan kaum
mancing-l ini dan lalu saya tertegun dan berpikir
cepat tentang hikmah dibalik semua ini. Akhirnya saya
menemukan jawabannya, yaitu ternyata "keberuntungan"
bukan hanya sekedar mendapatkan ikan tetapi
keberuntungan tentang pengetahuan dan kesadaran bahwa
mancing laut juga bisa menyadarkan orang tetang arti
daratan dan dosa-dosanya seperti cerita Ria dikapal
atau Adit putra Greg yang pertama kali mancing kali
ini bersama kami justru adalah yang paling banyak
mendapatkan ikan, atau Uli yang paling tidak
diasumsikan mendapatkan ikan mancing dengan Ardika
justru dialah yang pertama kali mendapatkan ikan, atau
obsesi Agus dan Andi agar suatu saat dapat menggunakan
ganco karena mendapatkan ikan besar itu ternyata harus
di tunda dulu karena "berharap" itu sebenarnya adalah
proses yang paling "indah" sebelum ikan besar itu
benar-benar didapatkannya tapi mereka beruntung karena
masih memiliki harapan yang orisinil, atau juga kasus
Selvi yang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi
mabuknya dengan mengunci di toilet, dan Selvi pun
beruntung karena memiliki pengalaman yang pasti tidak
pernah dibayangkan oleh kebanyakan pemancing dunia
sekalipun. Dan saya beruntung karena sekalipun tidak
mendapatkan ikan besar tetapi saya mandapatkan lumayan
banyak ikan kecil dan yang lebih penting adalah saya
tidak mabuk sehingga dapat merasakan nikmatnya pepes
ikan Pudjo Basuki yang sensasi pedasnya itu melupakan
saya dengan sendok dan makan dengan jemari tangan.
Akhirnya tercapai obsesi saya  merasakan makan nasi
dan pepes ikan Pudjo Basuki ditengah lautan  diiringi
lagu dangdut dan ombak yang bergoyang.
Indahnya�..nampaknya inilah hikmah dari cara kita
melihat, mendengar, menyaksikan dan memahami kata
"keberuntungan" yang didekati dengan kesadaran
meninjau ulang makna dibalik kata itu dan ini adalah
pengalaman yang paling berharga karena legenda Pudjo
Basuki dan Bobby Halim ada diantara kami dan dengan
cara mereka sebagai figur dan guru, kita diberikan
pengertian bahwa memancing adalah serangkaian proses
pengalaman yang berulang dan tidak sesederhana
penampakkannya. Ini adalah pengalaman mancing yang
indah bagi saya secara pribadi karena saya benar-benar
hadir di sana, dikapal Ardika, di tengah birunya laut
dalam keadaan sadar dan tidak mabuk. Nampaknya orang
yang akan saya kenang jika mabuk laut adalah Bobby
halim, karena dialah orang pertama yang mengenalkan
saya dengan mancing laut lengkap dengan mabuk lautnya
itu dan obat dramamine dan karena kali ini saya tidak
mabuk maka saya tidak menjadikannya kambing hitam
sekalipun guru yang juga abang kita ini mencurigai
saya menyabotase acara mancing kali ini dengan membawa
telor dan pisang �.hihihiihihi. Mungkin suatu saat
nanti kita perlu mendiskusikan hal-hal yang lebih dari
sekedar tinjauan praktis dari tata cara memancing
tetapi juga esensi filosofi dari pandangan kita
melihat dunia mancing diantara mitos dan sugestinya
yang indah tapi terlalu banyak yang aneh itu. 


          



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

---------------------------------------------------------------------
Millis ini terselengara berkat dukungan PT. KreatifNet - The WebDesign Company
http://www.kreatif.com
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Website mancing-l at http://www.kreatif.com/mancingl  --> Fishing information, online 
chat, forum discusion, clasifiedads, etc  

** Save Bandwidth... potong berita yang tidak perlu **





Kirim email ke