Sabtu 1 April 2000, 

Pukul delapan pagi, udara cerah memberi harapan. Mentari mulai menancapkan taringnya 
ke bumi. Mendung yang sebelumnya menggantung pada dini hari, lari terbirit-birit. 
Pukul 08.15 Kapal Krakatau Lagi menderum mengejar mimpi. Di dalamnya, Sang Kapten 
Bobby Halim memegang kendali kapal. Bersama kami, teman-teman Sang Kapten, Pak Tejo, 
Pak Dudy, Pak Tony dan Rudi. Perburuan dimulai.

Setengah jam kemudian, tiba-tiba Pak Bobby menghentikan perahunya. Ternyata ada 
"gunung" karang yang baru saja terlewati. Segera saja kapal memutari karang yang 
menjulang tadi. Kapten kita mencari posisi yang pas. "Turun!" Katanya, dan plontang 
pun dilempar. Teriakan seperti itu terdengar lagi manakala jangkar diturunkan. "Ini 
tandes baru," ungkap Sang Kapten.

Benar ternyata itu tandes banyak ikannya, namun kebanyakan adalah jenis "Harmoko". 
Sekitar setengah jam menimba ikan, Pak Bobby mengusulkan untuk pindah. Lagian bosan 
juga sih nimba ikan kecil-kecil. Maka kapalpun kembali menderum. Sebuah balon 
dilepaskan ke air dan jangkarpun terangkat dengan mudahnya. Kapal melaju dengan 
kecepatan 30 knot. Tandes berikutnya masih sama, isinya ikan Harmoko melulu, sesekali 
kakap merah kecil. 

"Mari kita cari Jumbo!" ajak Bobby. Maka kapal langsung menuju ke sebuah koordinat. 
Ketika sampai, di layar Echo Sounder terlihat tandes buntut, warna merah menukik 
demikian tajam ke bawah. "Ganti" teriak Bobby kapada awak kapal. Saya awalnya kurang 
mengerti apa maksudnya. Tapi segera kupahami manakala awak kapal kemudian mengganti 
rangkaian pancing kami. Tadinya dipasang dua mata pancing, kini cuma satu saja tapi 
ukurannya lebih besar. Umpan cumi diganti dengan selar. Pak Bobby juga mengatur posisi 
pemancing. 

Saya disuruhnya memancing dari samping pintu kapal sebelah kiri. Benar saja. Baru 
sekitar lima menit saya turunkan, terasa ada kedutan kecil di ujung joran saya. Segera 
saya sentak joran ke atas. "Ugh�berat nih�.gede nih!" 

"Jumbo!" kata Bobby.

Sementara saya memompa joran, berkali-kali ikan mengadakan perlawanan. Setelan drag 
yang tadinya terlalu kendor segera kukencangkan sedikit hingga pas. Setelah lima menit 
bergulat dengan perlawanannya, akhirnya ikan menyerah, dan badannya segera terlihat di 
permukaan. Seekor Kakap Jumbo pertama telah terangkat. Ketika ditimbang beratnya 
mencapai 4,25 kg. Lumayan.

Selang beberapa menit kemudian Rudi yang sangat pendiam, diam-diam sedang terlibat 
dengan pertarungan menaklukkan ikan yang liar. Posisinya yang cukup sulit di muka 
kapal memperlama proses ajar ini. Akhirnya tujuh menit kemudian seekor kakap jumbo 
berhasil diangkat. Beratnya sekitar 5 kg. 

Sepuluh menit kemudian terasa joranku ditarik ikan. Ketika kusentak ikan segera 
memberi perlawanan maksimal hingga penggulungku tampak berderit. Kali ini terasa lebih 
berat dan besar ikan yang memangsa. Sambil memompa, kepongahan mulai muncul di diriku. 
Gaya santai dan keyakinan penuh ikan akan naik ke kapal, malah membuat aku harus 
kehilangan sebuah jumbo. Senar putus, dan ikan pun menghilang. Setelah itu kami tidak 
lagi mendapatkan jumbo.

"Kita cari tenggiri!" ajak Kapten Bobby. Maka kapal pun segera melaju ke lokasi yang 
disebutnya Karang Kaimun. Ketika sampai di sana, Bung Bobby yang ternyata lebih suka 
memandu kami ini, segera memerintahkan kami mengganti rangkaian kail khusus untuk 
tenggiri. Umpan diganti dengan ikan Tembang. Lima menit kemudian Bung Dudi 
menyentakkan jorannya, tapi hanya sebentar ia terlibat dengan kemelut liar ikan. Ikan 
terlepas. Umpan kembali di pasang. Begitu dilempar, seekor tenggiri langsung 
melahapnya. Hanya membutuhkan kurang dari lima menit untuk menaikkan tenggiri pertama 
itu. Skor 1 untuk Pak Dudi.

Tetapi tidak berapa lama kemudian Pancingku terasa ada yang menyambar. Segera 
kusentak, dan ikan pun melompat ke atas air. Seekor tenggiri lagi. Aku terasa gugup 
menghadapi tenggiri pertamaku ini. Pak Bobby berkali-kali menyuruh aku kalem saja. 
Untunglah akhirnya bisa kudaratkan sang pemangsa ganas ini ke pinggir kapal. Ganco pun 
ditancapkan oleh awak kapal. Tenggiri pertamaku telah naik. Selanjutnya berturut-turut 
kudapatkan lagi dua ekor tenggiri. 

Pikiranku malai iseng lagi. Sengaja aku pasangkan seekor Kembung ukuran besar sebagai 
umpan. "Mudah-mudahan dimakan ikan besar," kataku. Dan baru saja umpan yang kulempar 
jauh itu menyentuh air, terasa ada yang menyambar. Joran kusentak dan akupun segera 
terlibat dengan kemelut menundukkan ikan yang rasa-rasanya lebih besar daripada 
sebelum-sebelumnya. Tapi�"Wah�.putus!" teriakku. Rasa kecewa kembali menyerang hatiku, 
seperti kecewanya jumbo yang juga tadi terlepas. Kenapa kepongahan selalu berakibat 
lepasnya ikan?

Hari sudah sore, sekitar pukul 16.00. Sang Kapten segera mengajak kami untuk 
meninggalkan lokasi tenggiri, sekalipun kemungkinan kami masih akan dapat tenggiri 
jika diteruskan mancing di situ. Ternyata Bung Bobby membawa kami ke "Karang Rahasia". 
Menurutnya ini salah satu tempat yang diketemukannya dan belum direlease untuk umum 
(kecuali kalau mau bayar lima juta kali, ya?). "Di sini kalau nggak Marlin ya Tenggiri 
besar," ungkap Kapten Bobby.

Segera awak kapal memasang minnow sebagai umpan, perahu dijalankan perlahan lahan. 
Hanya dua joran yang dipasang di buritan kapal, di kanan dan kiri. Tali joran sebelah 
kiri dipendekkan dan yang kanan dipanjangkan. Saya berada di dekat Bung Bobby yang 
sedang mengendalikan kapal, sambil memperhatikan arah belakang.

Hanya sekitar sepuluh menit kami berputar-putar di karang itu, ketika rel di joran 
sebelah kiri berderit. Sang Kapten segera memacu kapalnya sebentar, sambil berteriak 
"Angkat!".

Tapi hampir semua orang yang ada di belakang tampak belum menyadari bahwa kail itu 
dimakan ikan. Setelah teriakan kedua barulah Pak Tejo yang ada di dekat joran itu 
mengangkatnya. "Lho kok enteng�" teriaknya. "Sampah kali ya�." Lanjutnya tak 
henti-hentinya heran. Ia tampak tidak yakin bahwa itu ikan. Kenur terus digulung tapi 
kok ikan tak ada perlawanan. "Ah sampah kali�." ulang Pak Tejo, semakin nggak yakin 
dengan joran ditangannya. Bahkan sambil menggulung ia tampak tetap duduk santai.

Tiba-tiba kenur nampak mendahului kapal dan melesat sangat cepat�dan�."Cepraaaat��" 
bunyi kenur putus. Semua bengong. Apalagi Pak Tejo, mukanya sulit dilukiskan dengan 
kata-kata. Hilanglah seekor ikan besar, entah akibat menganggap enteng atau entah 
karena nasib.

Ingin rasanya tetap melanjutkan mancing, tetapi tampaknya hari sudah semakin sore. Pak 
Bobby segera memacu Krakatau Lagi ke pulau Bintang. Pukul 18.00 kami mendarat di pulau 
Bintang untuk menginap dan istirahat.

Minggu 2 April 2000

Esoknya kami menimba lebih banyak kakap merah. Dan kami mendatangi lagi lokasi-lokasi 
kakap merah. Puluhan ekor kakap merah ukuran 1-2 kg berhasil diangkat. Awak kapal yang 
menggunakan pancing Ranggong dengan mudahnya setiap kali angkat dua ekor kakap 
mendarat.

Di sebuah lokasi, akhirnya seekor kakap merah seukuran lebih dari 5 kilo kembali bisa 
diangkat, kali ini oleh Pak Tejo yang sejak memutuskan kenur di Karang Rahasia selalu 
menjadi bahan ejekan. Setelah Pak Tejo berhasil mengangkat Jumbo rupanya angin 
berbalik arah karena jumbonya ternyata paling besar dibanding sebelumnya.

Perjalanan mancing dua hari, Sabtu-Minggu, 1-2 April 2000 akhirnya berakhir dengan 
puluhan ekor kakap merah, 3 kakap jumbo, 4 ekor tenggiri, 1 kerapu sekitar 2 kg (yang 
diangkat oleh Pak Tony) dan puluhan ekor ikan lainnya. 

Terimakasih Kapten Bobby. Anda benar-benar pemandu yang hebat.

Jakarta, 6 April 2000

Bambang Setiawan

Kirim email ke