Setuju dengan Capt. Indra..

Memang safety kapal ex-Binuangeun kuraaaanggg sekali.. jauh dibanding
kapal Pak Bobby Halim.. terus terang 100%%%%%%% salut buat Pak Bobby..
mungkin cuman radar aja yang nggak ada di kapal Pak Bobby, tapi kan ada
teropong infrared ya Pak? bayangin Radio ada 3, GPS ada 2, Depth Sounder
(1 apa 2 Pak?), belum hitung life raft, pelampung, dan life raft yang
masih bulet.. plus accu bawa 2 ya Pak?? Salut!!!!  Mungkin ada flare gun
segala ya... he..he..

Makanya saya kalau ke Binuangeun selalu pilih kapal yang minimal ada VHF
radionya.. plus saya sendiri bawa VHF handy talkie.. sebagai backup
safety saya.. dan Handheld GPS, pelampung (khusus untuk Saya.. sapa tau
pelampung kapal kaga ngambang).. Saya juga lagi mikir2 beli Depth
Sounder, karena di kapal Binuangeun hanya Aristo yang ada Deth Sounder..
yang ada VHF radio kalau nggak salah hanya Aristo, Jabrik, Surya Darma,
Karmila, apa lagi lupa.. eh kapal Pak Erik deh.. Kapal yang Pak Greg
naikin memang nggak ada kalau nggak salah..

Mungkin benar menurut analisa Pak Eric bahwa capt. Binuangeun kurang
update masalah ini karena backgroundnya dari nelayan.

Ada kejadian lucu sekali, waktu Syarinta & Mawar contact2 Syalina
mengenai lokasi karang tengah melalui VHF, Syalina 5 (Pak Holil) coba
memberikan ancar2 mengenai lokasi.. waktu itu Syarinta masih di Karang
Jajar, Mawar sudah di tengah laut antara UK - Binuangeun.  Masalahnya
Syalina hanya bilang bahwa lokasi arah Pulau Deli.. kemudian Capt.
Jabrik (kapal saya) kasih update bahwa kita sudah di karang tengah
bersama 8 kapal lain.. Syarinta & Mawar bolak balik tanya arah.. Mawar
bahkan sudah dekat P Deli tapi nggak ketemu karang tengah, maka tanya
lagi ke Syalina dan Jabrik.  Jawaban Syalina masih mending.. coba arah
150 derajat.. tapi jawaban Capt. Jabrik.. Arahkan ke arah matahari
(bener juga sih.. tapi kan ribet).. yang kasian Syarinta.. dia bingung..
akhirnya saya nyalakan GPS saya.. trus saya kasih lokasi kita ke Capt.
Jabrik.. masalahnya dia nggak ngerti bacanya.. repot!  Untung akhirnya
Mawar bisa tiba ke lokasi, tapi itu juga setelah melihat lampu yang
dinyalakan kapal Aristo, kalau nggak mungkin nyasar ke samudra kali...

Capt. Jabrik juga mulai menyadari pentingnya alat2 tsb.. dia cerita
pengalaman yang ada kapal tengelam seperti Capt Indra cerita itu..
menurut dia, waktu itu ada 2 kapal di karang impres, 1 kapal yang
tengelam, satu lagi kapal Jabrik.  Waktu itu Capt. Jabrik melihat udara
tidak baik, maka bilang kepada tamu untuk pindah.. Dalam perjalanan
berlindung ke P. Deli kapal jabrik  ketemu badai.. di badai hujan
tersebut sangat sulit melihat lokasi pulau, untung tamu yang dibawa
memiliki Dept Sounder.. tiba2 kedalaman sudah 3 meter!!! tamu langsung
bilang ke Capt bahwa sudah 3 meter.. buru2 sang Capt memutar arah.. Dia
bilang ke saya, kalau saja tamunya tidak bawa depth sounder pasti mereka
sudah menabrak Pulau Deli!!!  Kalau menurut Capt Jabrik, kapal yang
tengelam telat menyadari badai.. sehingga belum sempat pindah udah kena
badai.

Makanya jangan main2 deh sama laut... (begitu juga sama wanita.. katanya
kan hati wanita sedalam lautan.. sapa yang tahu isi hatinya.. apa
coba???)

Saya juga punya pengalaman mengenai jaga2 ini..  Waktu itu saya hobby
sekali jetski.. trus kita selau main antar pulau (nggak pernah di
ancol).. Saya setiap pergi selalu membawa tas besar kedap air yang
isinya 2 buah tambang, busi, toolbox, baju kering, marine VHF radio
handytalkie, GPS, First Aid kit, minuman, dan cadangan pelampung).
Bahkan saya sempet order Flare Gun dan klakson tabung dari US, tapi
berhubung alat2 tsb tidak boleh dikirim via pesawat saya nggak bisa
beli.. Nah setiap saya pergi saya pasti diketawain temen2 jetski..
katanya mo piknik.. Saya biarin aja.. satu saat, saya pergi ke Pulau
Air.. 4 Jetski.. dari sana kita mau ke P. Edam (yang ada mercusuarnya
itu lho).. nah ditengah jalan, kabut turun.. biasanya dengan kecepatan
jetski kita cuman butuh 15 - 20 menit untuk sampai ke Pulau tersebut..
tapi ini udah 30 menit nggak sampai-sampai.. Untung bawa GPS.. ternyata
kita sudah melenceng ke arah utara!.. Setelah menyadari kekeliruan dan
kondisi udara kita memutuskan untuk kembali ke P. Air.. dalam perjalanan
kembali ke Pulau Air dua jetski rusak! dari ke 4 jetski hanya saya yang
bawa tambang.. 2 lagi.. jadi menggunakan tambang tsb kita tarik kedua
Jetski tsb.. coba kalau cuman 1 tambang artinya hanya 1 jetski yang bisa
ditarik!  Setelah pengalaman tersebut teman2 dekat saya selalu mengikuti
jejak saya dengan membeli GPS, tambang, dll... mereka menyadari penuh
arti keselamatan setelah kejadian itu! kalau aja saya nggak bawa GPS /
cadangan tambang, mungkin mereka sudah terkatung2 di tengah laut
jawa....

Untuk info teman2 pemancing yang suka pakai kapal nelayan, Marine VHF
gampang didapat di website US mulai dari harga US$ 100 sampai US$ 500..
jadi kalau bisa beli joran mahal, kan bisa juga beli alat2 safety yang
mahal.. Untuk pelampung, setuju anjuaran Pak Bobby.. beli aja yang ada
bantalan.. (saya masih pakai pelampung Jetski saya, nggak ada bantalan..
tapi itu US Cost Guard Approved! dan saya punya 6 !!!).. Handheld GPS
lebih banyak lagi.. di Indonesia juga ada.. dari yang US$99 sampai yang
mahal2 deh..

Salam keselamatan juga!

Indra P


---------------------------------------------------------------------
Millis ini terselengara berkat dukungan PT. KreatifNet - The WebDesign Company
http://www.kreatif.com
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Website mancing-l at http://www.kreatif.com/mancingl  --> Fishing information, online 
chat, forum discusion, clasifiedads, etc  
MancingL Archive at http://www.mail-archive.com/[email protected]

** Save Bandwidth... potong berita yang tidak perlu **






Kirim email ke