>     Pada suatu hari, Kardiman kecil sedang mandi bareng ibunya,
>     Bu mukidi. Kemudian dia bertanya sama mamanya, "Ma, apaan
>     tuh yang ada di dada mama?" Bingung menjawab, sang ibu bilang, "Tanya
>     saja sama papamu besok waktu sarapan..."
>     (dengan harapan si kardiman lupa). Keesokan harinya ketika sedang
>     sarapan bareng bapaknya pak mukidi, kardiman ternyata ndak lupa dan
>     bertanya " Pa! Papa tau ndak benda apa yang ada di dada mama?" Papanya
>     walaupun bingung cepat menjawab "Ooh...itu balon, sayang, nanti kalo
>     mama meninggal, kita bisa meniupnya supaya mamamu
>     bisa terbang ke surga." Kardiman mengangguk-angguk mengerti. Beberapa
>     minggu kemudian, pak Mukidi pulang lebih awal dari kantor, dan di
>     depan rumah melihat anaknya Kardiman lari ke arahnya sambil menangis.
>     "Papa..Papa! Mama mau meninggal.."
>     Setelah menenangkan anaknya, pak Mukidi bertanya "Mengapa kau mengira
>     mama mau meninggal?"
>     Anaknya menjawab " tadi om Mukijan sedang meniup balon mama,
>     dan mama berteriak 'oohh Tuhann!!! ayo terus, aku hampir sampai..!'"
>
>
>
>     ======================================================================
>     Abun, baru beberapa hari berada di Bangkok ditugaskan oleh kantornya.
>     Abun penasaran banget, di samping hotel tempat penginapannya ada
>     tempat cukur khusus bulu kemaluan. "Koq ada ya di sini tempat cukur
>     bulu kemaluan?" gumamnya dalam hati.
>     Dengan rasa penasaran akhirnya Abun masuk juga ke tempat itu. Sambil
>     lihat-lihat, akhirnya Abun bertanya ...
>     Abun : "Ongkos cukur pria kok lebih murah dari wanita?"
>     Tukang cukur : "Iya sir, punya pria lebih mudah nyukurnya, soalnya ada
>     pegangannya... "
>
>
>     ======================================================================
>
>     Seorang wanita muda datang ke Bank Untung Selalu di kawasan jalan
>     Thamrin dengan membawa sebuah tas. Kepada teller, dia minta untuk
>     dilayani langsung oleh direktur bank tersebut.
>
>     "Tapi nyonya, direktur sedang sibuk..." jawab teller tersebut.
>
>     "Hmm, saya akan menabung sejumlah 300 juta rupiah, apakah jumlah itu
>     kurang banyak untuk bisa menemui langsung direktur ?"
>
>     Akhirnya wanita tersebut menemui sang direktur. Direktur itu terkejut
>     melihat seorang wanita membawa cash dalam jumlah yang besar.
>
>     Direktur itu bertanya, "Nyonya, kalau boleh tahu, bagaimana Anda bisa
>     memperoleh uang sejumlah ini?"
>
>     "Dengan taruhan," jawab wanita muda itu.
>
>     "Hmmm... taruhannya bagaimana?" tanya direktur dengan antusias.
>
>     "Misalnya... saya berani bertaruh dengan Anda sejumlah 75 juta, bahwa
>     'bola' Anda bentuknya kotak."
>
>     "Hahaha... dengan bertaruh seperti itu Anda tidak akan pernah mendapat
>     untung... "
>
>     "Jadi Anda bersedia bertaruh ?" tanya wanita itu.
>
>     "Boleh, saya bertaruh bahwa 'bola' saya tidak bundar" jawab sang
>     direktur.
>
>     "Ok, tapi karena ini taruhan yang jumlahnya besar, besok saya akan
>     membawa saksi untuk menyaksikan taruhan ini"
>
>     Direktur berpikir sejenak, tapi membayangkan bahwa dirinya pasti
>     menang, dia kemudian setuju.
>
>     Keesokan harinya sang wanita itu datang dengan seseorang laki-laki.
>
>     "Dia yang akan jadi saksi," kata wanita muda itu.
>
>     "Ok."
>
>     Sang direktur lalu membuka celananya.
>
>     "Saya belum yakin, saya mau memegang 'bola' Anda untuk meyakinkan
>     bentuknya." kata sang wanita. Sang wanita kemudian memegang 'bola'
>     sang direktur.
>
>     "Anda lihat sendiri, saya menang," kata direktur itu sambil tertawa,
>     "Tapi, omong-omong, siapakah saksi Anda itu?"
>
>     "Ya, Anda menang kali ini. Laki-laki itu adalah direktur kantor
>     sebelah. Saya bertaruh 200 juta dengan dia, bahwa siang ini saya bisa
>     memegang 'bola'-nya direktur Bank Untung Selalu."
>


Kirim email ke