> BEBERAPA KEPRIBADIAN KAUM BERIMAN > > > Dalam Kitab Suci terdapat banyak penuturan tentang kepribadian kaum beriman. >Penuturan itu juga mengandung isyarat tentang bagaimana seharusnya orang yang beriman >itu bertingkah-laku dan menampilkan diri. > > Berbagai penuturan itu antara lain ialah yang terdapat dalam Al-Qur'an surah >Al-Furqan (QS 23 : 63-74). Pertama-tama disebutkan bahwa hamba-hamba Tuhan Yang Maha >Pengasih itu ialah mereka yang jika berjalan di atas bumi, berjalan dengan rendah >hati. Dan jika diajak berbicara oleh orang-orang yang bodoh, mereka menjawab atau >mengucapkan "Salam!" > > Mereka itu rajin beribadat kepada Allah. Mereka menyadari bahwa dirinya selalu >terancam oleh kesengsaraan, maka dengan tulus memohon kepada Allah untuk dihindarkan >daripadanya. Dalam menggunakan harta, mereka itu tidak bersikap boros, juga tidak >kikir, melainkan pertengahan antara keduanya. > > Mereka tulus dalam beribadat kepada Allah semata (tidak melakukan syirik, yang dapat >memecah tujuan hidup hakikinya), dan menghormati hak hidup orang lain yang memang >dilindungi oleh Allah itu, dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya. Mereka tidak >membuat kesaksian palsu, dan jika bertemu deangan hal-hal yang tidak berguna, mereka >menghindar dengan harga diri. > > Kemudian, jika diingatkan akan ajaran-ajaran Tuhan, mereka tidak bersikap masa bodo, >seolah-olah tuli dan buta. Mereka juga mempunyai tanggungjawab keluarga yang tinggi >(mencintai teman hidupnya, yaitu suami atau isteri, serta anak keturunannnya). >Mereka mempunyai rasa tanggungjawab sosial, dengan keinginan kuat, yang dinyatakan >dalam doa kepada Allah, untuk dapat melakukan sesuatu yang bersifat kepemimpinan, >yakni sikap hidup dengan memperhatikan kepentingan orang banyak). > > Kalau kita renungkan lebih mendalam, maka penuturan dalalm Kitab Suci itu >bersangkutan dengan rasa kemanusiaan yang amat tinggi dari kaum beriman. > Karena rasa kemanusiaan itu mereka tidak sombong, sedemikian rupa bahkan ketika >harus berurusan dengan orang "bodoh"-pun tidak kehilangan kesabaran, tetapi malah >mengharapkan kebaikan atau kedamaian atau kesentosaan (salam) untuknya. Seolah-olah >dia mengatan, "Ya, barangkali kita memang tidak bisa bertemu pendapat sekarang. Akan >tetapi semogalah kita tetap damai, aman dan sentosa dalam pergaluan kita." > > Tidak secara berlebihan atau pun berkekurangan dalam menggunakan hartanya adalah >jenis rasa kemanusiaan dan tanggungjawab sosial yang tinggi. Sebab jika berlebihan, >seperti yang terjadi pada gaya hidup konsumerisme dan "demonstration effect", hal itu >akan mengundang masalah sosial. Akan tetapi begitu pula sebaliknya kalau orang hanya >menumpuk kekayaan tanpa mau menggunakannya: kelancaran ekonomi masyarakat akan >terganggu. > > Rasa kemanusiaan itu juga dicerminkan dalam sikap menghormati hak hidup orang >laindan lingkungan hidup secara keseluruhan serta dalam menjaga kehormatan diri >sendiri. Kesaksian palsu adalah tindakan yang amat tak bertanggung jawab, karena >akan mencelakakan orang lain, maka tidak akan dilakukannya. Bahkan jika harus >berurusan dengan hal-hal yang muspra, seperti "gosip" omong kosong lainnya, dia akan >menolak untuk terlibat, karena dia hendak menjaga harga dirinya. Rasa kemanusiaannya >yang tinggi itu juga membuatnya bersikap serius dalam keinginan belajar dan menemukan >kebenaran. Dan juga menunjukkan "genuine concern" terhadap kebahagian keluarganya, >begitu pula masyarakatnya. > > > Note : Uraian di atas dipetik dan dimodifikasi dari buku Dr.Nurcholish Madjid >"Pintu-pint Menuju Tuhan" >
