Mancing Kuwe di ANYER
(Ralat)
Peserta mancing ke Anyer akhirnya terbentuk setelah bolak-balik bongkar pasang nama.
Berangkat dari Jakarta jam 17.00, selain Bst ada E. Sumarno, Kiki, Nono, dan Joko.
Ikut juga dua gadis yang ingin berlatih mancing, yaitu Giant Trevally (Gi) dan Gresi.
Sampai di Anyer jam 21.30 karena ngisi perut dulu di Saung Kuring Cilegon sambil
leyeh-leyeh.
Kami masih menunggu satu mahluk kurus tinggi putih yang dikenal dengan julukan Si
Penakluk Kakatua alias Kornelius. Dia datang dari mana entahlah...tapi jam 01.00
mendadak ada berita bahwa ia sudah sampai Serang (Lho tujuannya Anyer kok nyasar ke
Serang?) Alhasil kita tuntun dengan ilmu nujum agar arah jorannya lempeng lagi. Pk
02.00 mahluk aneh ini muncul dengan sumringah...meski kesasar. Rupanya ia sudah
sepenuh hati untuk melaut sekarang...setelah mendapat jawaban "Yes!...Yes!...Yes!"
entah berapa kali menjelang tengah malam dari istrinya.
Pukul 06 pagi baru kita start ke laut karena urusan tetek sama bengek ternyata menyita
banyak waktu...termasuk mengusahakan cumi segar, buang air dulu (maklum cewek jadi
urusan ini nomer satu), dan angkut-angkut barang yang seabreg banyaknya ke kapal.
Laut berombak menerpa perahu, gelombang meski hanya sekitar 1 meter tetapi sungguh
membuat kebat-kebit takut rencana nimba kuwe gagal hari ini. Benar saja, ternyata
tidak hanya gelombang, bahkan arus demikian kuat menghanyutkan timah seberat 1/2 kg
ketika pertama kali kami menyelupkan joran pada sekitar pukul 07.00 di Tandes
Panggerongan 1. Betul-betul membuat frustasi, arus demikian kencang. Kiki memilih
tidur, Gresi juga terlelap, Joko apalagi (life jacket dipeluk habis-habisan sambil
nahan muntah..eh akhirnya muntah juga...). Menjelang siang, tanda-tanda ombak dan arus
mulai reda tidak juga mampu mengangkat semangat beberapa peserta.
"Wuuuut!!" (kayak cerita Cin Mi saja) tiba-tiba joran Kornelius melengkung tajam.
Teriakan beberapa orang di dekatnya yang menyemangati mahluk nyasar ini membangunkan
beberapa orang (Tapi Kiki tetap pulas tuh..). Satu prestasi yang lumayan. Kuwe pertama
seberat 3 kg terangkat dengan sempurna...pantat sang kuwe yang bahenol berhasil
dielus-elus oleh Sang Penakluk (ada fotonya).
Berikutnya sungguh pemandangan yang menyakitkan. Betapa tidak, Koernelius diapit
dengan ketat kanan kiri oleh Nono dan Kiki, tetap saja tidak berhasil membuat joran
mereka terangguk-angguk. Kornelius terus melaju bagai Pangeran Samber Nyawa.
Saya sempat menaikkan 4 ekor kuwe + 1 kuwe yang seharusnya jadi milik Gi tetapi karena
ia menganggap nggak ada ikannya dan udah merasa keberatan dengan joranku yang
dipegangnya, maka akhirnya menyerahkan kepadaku. Ketika diangkat baru ketahuan bahwa
itu ada ikan kuwenya.
Mbah Marno sempet narik, demikian juga ABK. Nono dan Kiki entahlah mereka menaikkan
apa...atau naikin siapa. Tetapi yang jelas total ikan kuwe yang kemudian kami
bagi-bagi tidak kurang jumlahnya dari 25 ekor.
Menjelang pulang pada pukul 17.00 kami dikejutkan oleh kemelut tongkol di dekat kami.
Segera saja beberapa orang menyiapkan peralatan untuk casting tongkol. Kapal terus
berputar-putar mengejar kawanan tongkol yang berkecamuk. Lagi-lagi Kornelius berjaya
dengan hasil 2 ekor tongkol yang dicasting dengan metal jig 20 gr. Yang lain, termasuk
gue cuman melongo padahal udah gonta-ganti umpan.
Takut keburu malam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
Beberapa jenis kuwe yang memenuhi 2 box adalah dari jenis: GT, Rambe, Lilin, Rambut
dan Cepa.
Diduga ada kuwe ukuran besar di sana. Kapan-kapan Sang Penakluk berencana akan
menggunakan tongkol segar untuk umpan GT besar. Kita tunggu kiprahnya.
Selidik punya selidik, ternyata Kornelius menggunakan rangkaian kumis panjang untuk
memancing kuwe, ketika ada arus. Kalau arus mati, kumis dipendekkan. Panjang pendek
kumis tergantung arus.
Foto-fotonya entar nyusul.
Bst
Sorry atas kesalahan laporan terdahulu...habis ngantuk sih.
Di laporan terdahulu tertulis tengiri, padahal maksudnya tongkol. Dasar lieur...