Mbah Jo, sedang dirawat di rumah sakit karena rasa sakit dan nyeri didadanya serta sesak nafas karena sakit jantung yang dideritanya, sehingga harus memakai selang Oksigen bantuan di mulutnya. Setelah dua hari penyakitnya tambah akut,sehingga Mbah Jo nampak pucat dan lemah serta terkadang bicaranya sudah ngaco, melihat keadaan yang demikian, pihak keluarga, terutama anak-anaknya menduga mungkin sudah saatnya Mbah Jo akan menghadap Sang Kuasa.
Akhirnya pihak keluarga memanggil Kyai (Mudin) untuk berdoa bersama agar dimudahkan segala sesuatanya. Pada saat doa dilaksanakan, tiba-tiba nafas Mbak Jo tersengal dan susah bernafas, tanganya gemetar dan dengan bahasa isyarat dia meminta anaknya untuk diambilkan pulpen dan kertas untuk menulis. Dengan sisa tenaganya Mbah Jo menulis dan diserah kan kepada Pak Kyai. Tulisan Mbah Jo langsung dimasukkan ke saku oleh Pak Kyai, yang dianggapnya "surat wasiat" buat anak-anaknya. dan rasanya kurang tepat jika membacakan surat wasiat disaat Mbah Jo belum meninggal. Kemudian mereka melanjutkan doa bersama. Tak lama kemudian Mbah Jo meninggal dunia. Setelah selesai membaca doa selamatan 7 hari meninggalnya Mbah Jo, Pak Kyai baru ingat akan surat yang pernah diberikan Mbah Jo, dan segera Pak Kyai menyampai kan titipan surat wasiat tersebut kepada keluarga Mbah Jo yang sedang berkumpul. "Saudara-saudara sekalian, sebelum Mbah Jo meninggal beliau menitipkan surat, yang mestinya berisi nasehat dan pesan buat saudara-saudara sekalian, karena ini amanat, maka mari kita baca surat ini bersama-sama". Pak Kyai segera membuka surat dan walaupun masih dirundung duka dan kesedihan keluargapun ikut berdebar-debar ingin segera mengetahui isi suratnya yang ditulis sbb.:"Pak Kyai...... tolong jangan injak selang Oxigen saya.....!!"
